Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Mulai Berakting


__ADS_3

Rasa bahagia memang sedang di rasakan oleh Rani karena rekayasa cek kesehatan telah berhasil untuk meyakinkan Tian bahwa dirinya mempunyai riwayat penyakit yang parah.


Akan tetapi Tian tetap fokus di rumah Cantika. Ia bahkan ke rumah Rani hanya sesekali saja, tak pernah bermalam. Hal ini membuat Rani sangat kesal.


"Aku senang, karena usahaku untuk mempertahankan rumah tanggaku berhasil. Tapi aku tetap sedih dan kecewa, karena sikap Mas Tian tetap berubah padaku. Dia bahkan tak pernah menyentuh diriku lagi, apa lagi bermalam di sini. Jika seperti ini aku tidak akan tinggal diam!" gumamnya kesal.


Selagi sedang di bicarakan di dalam hati, Tian datang.


"Rani, apakah kamu sudah makan? ini aku bawa masakan dari rumah. Makanlah, supaya kesehatanmu membaik. Ini Cantika yang memasaknya, enak loh. Dia pintar sekali memasak beraneka menu masakan." Ucap Tian memuji Cantika di hadapan Rani yang membuat Rani semakin kesal.


"Mas, kamu sadar nggak? apa yang kamu katakan sangat menyakitkan hatiku?" tegur Rani ketus.


"Kenapa pula kamu memuji istri sirimu di hadapanku bahkan membawakan ini untukku! aku tak butuh belas kasihan istri sirimu, mas! dan aku juga tak suka jika kamu membicarakan dirinya di hadapanku! sakitku tidak akan berkurang malah bisa menjadi parah dengan segala pujianmu terhadapnya di depanku!" ucap Rani kesal.


"Bawa kembali makanan itu, aku nggak mau makan hasil masakan istri sirimu. Jangan-jangan di tarok racun supaya aku mati sekalian, kan nggak ada yang tahu," ucap Rani menolak makanan pemberian dari Cantika.


"Aku minta maaf, tapi setidaknya kamu jangan berprasangka buruk pada, Cantika. Karena ia tak seperti itu, ia wanita yang sangat baik," kembali lagi Tian memuji Cantika.


"Mas, kamu bilang dia wanita baik? jika baik, ia tak menjadi pelakor seperti sekarang ini. Aku tahu mas, kenapa ia mau menikah denganmu walaupun hanya sebatas istri siri. Karena ia haus akan harta kekayaan yang kamu miliki. Tapi kamu tak sadar akan itu, karena ia pandai berakting hingga membuatmu terperdaya dengan segala yang di katakannya," ucap Rani.


"Rani, aku tak suka jika kamu terus berkata buruk tentang Cantika. Sebaiknya aku pergi saja jika kamu seperti ini."


Tian melangkah akan pergi, akan tetapi Rani menghalanginya dengan mencekal lengan Tian.

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf ya. Aku berkata seperti itu karena aku cemburu dan iri. Kamu selalu berada di rumahnya, tak pernah kamu bermalam di sini. Apa kamu nggak kasihan padaku yang sedang sakit ini? bukankah sudah aku katakan, supaya di sisa umurku ini kamu ada di sampingku?"


"Mas, kenapa kamu tidak bisa bersikap adil pada kedua istrimu? setidaknya kamu bermalam di sini walau hanya tiga hari, dan empat hari kamu di rumahnya."


"Mas, sudah lama pula kamu tak pernah nyentuhku. Apa memang benar kamu sudah tak ada sedikitpun rasa cinta padamu? padahal dulu kamu selalu menginginkan diriku."


Tian sejenak diam mendengarkan apa yang di katakan oleh Rani. Dan ia pun membalas semua yang di katakan olehnya.


"Jujur saja ya, Rani. Aku tak bisa lagi untuk menyentuh dirimu. Karena bagiku kita sudah bukan muhrim, walaupun kita gagal bercerai secara resmi. Tapi di dalam hatiku sudah terucap kata talak padamu."


"Aku juga sudah tidak ada rasa cinta sedikitpun padamu. Yang tersisa hanya rasa iba saja melihat kondisimu yang seperti ini."


"Jadi kamu jangan pernah berharap aku akan kembali seperti sediakala kala. Cintaku padamu sudah terkikis habis sejak kamu tetap pergi ke luar negeri waktu itu, tanpa mengindahkan diriku. Bahkan selama di luar negeri kamu juga tak pernah menghiraukan aku."


Rani sangat kesal mendengar apa yang di katakan oleh Tian, akan tetapi ia berusaha menahan rasa marahnya.


"Mas, memangnya kesalahan aku begitu fatalnya? sehingga kamu seperti ini? menurutku kesalahanku masih bisa di perbaiki, kecuali aku ini selingkuh dan kamu memergoki diriku."


"Aku ini setia padamu, mas. Tak pernah aku jalan dengan pria lain. Hanya karena aku begitu fokus dengan karirku, kamu langsung menikah dengan wanita lain."


Rani belum juga sadar akan kesalahannya yang ia lakukan pada Tian. Ia justru terus membela dirinya.


"Rani, setia itu bukan hanya di ukur dengan dirimu tidak berkhianat dengan pria lain. Jika kamu tak tahu arti kesetiaan yang sebenarnya, kamu itu tak pantas untuk menjadi seorang istri."

__ADS_1


"Kamu itu tak bisa memahami arti kesetiaan di dalam sebuah mahligai pernikahan."


"Seorang istri setia itu benar-benar memperhatikan segala kebutuhan suaminya, bukan hanya kebutuhan di atas ranjang saja."


"Tapi segala kebutuhan pribadinya. Apa kamu pernah memperhatikan segala kebutuhan pribadiku? sama sekali tidak, Rani."


"Kita menikah, dan berstatus suami istri. Tapi aku merasakan kita tak seperti suami istri pada umumnya. Yang aku rasa itu kamu hanya sebatas teman tidur saja. Apa pernah kamu meluangkan waktu sejenak hanya untuk bercengkrama denganku di kala waktu luang?"


"Tidak ada waktu luang sedikitpun darimu untukku. Setiap hari kamu pergi pagi pulang malam, bahkan kadang kamu pulang pagi dengan alasan banyak sekali pemotretan."


Rani diam mendengarkan suaminya yang terus saja berkata panjang lebar.


"Kenapa diam, apa kamu sudah mulai menyadari kesalahanmu padaku? walaupun kamu sudah menyadarinya itu percuma dan sudah telat. Karena sudah tidak ada ruang di hatiku untukmu," ucap Tian.


"Ya mas, aku minta maaf ya atas segala salahku dulu. Aku memang sadar aku salah, makanya aku ingin di sisa umurku ini memperbaiki kesalahanku padamu. Karena aku tak ingin menyesal di akhirat nanti belum menebus semua salah dan dosaku padamu, mas," ucap Rani pasang wajah sedih.


"Ya sudah, tak usah di bahas lagi. Aku tak ingin sakitmu bertambah parah karena terlalu banyak pikiran. Sekarang kamu fokus untuk kesembuhan dirimu," ucap Tian.


"Mas, aku itu tidak akan sembuh. Justru semakin bertambah hari semakin cepat waktu berlalu semakin cepat pula umurku berkurang, mas."


"Jujur, aku sangat sedih pada saat tahu diriku punya penyakit parah seperti ini. Padahal aku sudah berniat akan berubah menjadi istri yang baik, tapi malah seperti ini."


Rani menangis sesenggukan tapi ini tak membuat Tian iba padanya. Ia hanya diam saja seraya melirik ke arah Rani.

__ADS_1


"Sialan, Mas Tian sama sekali tak tergerak hatinya dengan segala aktingku ini!" batin Rani kesal.


__ADS_2