
Sore menjelang, Tian tak biasanya pulang ke rumah. Ia heran karena mendapati kondisi rumah sepi. Tidak ada suara tangisan Salsabila ataupun sambutan hangat dari Cantika.
"Aku sengaja pulang lebih dini, tetapi kenapa rumah sepi sekali? kemana penghuni di rumah ini?"
Tian masuk ke dalam rumah, Iya memeriksa ruangan demi ruangan yang ada di dalam rumahnya, tetapi tetap tidak ditemui satu orang pun.
Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan ritual mandi sorenya dan pada saat ia membuka almari pakaian untuk mengambil ganti baju yang bersih, ia begitu kaget melihat tidak ada satupun baju milik Cantika.
"Apakah Cantika telah pergi dari rumah ini? kenapa pakaiannya tidak ada sama sekali?"
Tian mengurungkan niatnya untuk mandi, tetapi justru ia melangkah keluar dari kamar menuju ke paviliun belakang di mana terdapat kamar asisten rumah tangga dan gambar baby sitter.
"Bibi juga nggak ada, Siska juga nggak ada, lantas kemana mereka?"
Tian melangkah ke pelataran rumah menuju ke ruang security tetapi security sama sekali tidak tahu di mana keberadaan orang rumah.
"Apakah bapak melihat keberadaan istri dan anak saya, serta bibi dan Siska? kenapa mereka semua tidak ada di rumah ya?" tanya Tian menatap tajam ke arah security.
"Maaf, Tuan Tian. Saya sama sekali tidak tahu akan hal itu karena saya baru saja datang. Dan pada saya datang sudah tidak ada orang di rumah ini. Coba Tuan tanya kepada security yang bertugas di pagi hingga sore tadi. Mohon maaf Tuan, kebetulan saya tidak memiliki nomor ponselnya. Jika saya punya, pasti sudah saya telpon." Ucap security tersebut seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Tian melangkah pergi meninggalkan security tersebut dan ia meraih ponselnya di saku bajunya untuk menelpon security yang bertugas di pagi dan sore tadi.
Namun nomor ponsel security tersebut malah tidak aktif hingga membuat Tian emosi dan membanting ponselnya sendiri.
Tian membiarkan ponselnya berserakan di pelataran rumah, ia melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah dengan penuh emosi yang membara.
"Sialan, kemana sebenarnya orang rumah? apakah benar-benar mereka itu pergi dari sini?" gumam Tian tersulut emosi sedari tadi.
__ADS_1
Dia pun merebahkan tubuhnya di pembaringan tanpa terlebih dahulu membersihkan badannya dan tiba-tiba ia pun tak sadar terlelap dalam tidurnya.
Hingga malam menjelang, ia terbangun karena merasa perutnya lapar. Ia pun melangkah ke ruang makan akan tetapi tidak ada satu makanan di meja makan.
Tian melangkah menuju ke dapur dengan niat ingin merebus mie instan tetapi ia mengecek almari dapur tidak ada persediaan mie instan satupun dan juga tidak ada telur sama sekali, tidak ada stok bahan makanan di dapur.
"Bagaimana sih bibi, kenapa kondisi dapur tidak ada stok bahan makanan seperti ini ia tidak melapor sama sekali padaku?"
Tian semakin bertambah stress bertambah emosi karena hal ini. Tian memutuskan untuk memesan makanan secara online.
Tetapi ia melupakan satu hal, yakni ponselnya telah ia banting dan remuk hancur di pelataran rumah.
Tian terus saja mencari-cari ponselnya ke sana kian kemari hingga ia merasa lelah dan terduduk di teras depan rumah. Tak sengaja ia melihat ponselnya yang sudah hancur lebur di pelataran rumah.
"Astaga... dari tadi aku mencari-cari ponselku sendiri ternyata ada di depan rumah ini! aku telah membantingnya sendiri. Sialan, gara-gara Cantika tidak ada di rumah ini, semuanya menjadi berantarakan tak karuan seperti ini, pusing kepalaku!"
Namun kembali lagi ia harus kecewa karena kebetulan ponsel milik security tersebut tidak dibawa karena tertinggal di rumah.
"Pak, saya pinjam ponselnya sebentar," ucap Tian.
"Maaf Tuan Tian, kebetulan saya tidak membawa ponsel. Saya baru ingat barusan," ucap security.
Dengan langkah gontai, Tian kembali ke dalam rumah. Ia meraih telpon rumah, tetapi ia pun meletakkannya kembali.
"Ingin menelpon salah satu anak buahku, tetapi sangat disayangkan. Ternyata aku baru ingat jika aku sama sekali tidak hapal nomor ponsel mereka!"
Tian memutuskan untuk minum air galon, namun dari beberapa gallon yang terpasang di semua ruangan tidak ada yang isi, semuanya kosong.
__ADS_1
"Hari ini benar-benar melelahkan! tahu seperti ini aku tidak usah pulang lebih awal!"
Akhirnya Tian masuk ke dalam kamarnya, dan ia pun menyerah. Ia membaringkan badannya di ranjang dan mencoba untuk memejamkan matanya. Akan tetapi ia tidak aman bisa tidur jika kondisi perutnya lapar.
Sejenak ia teringat masa kebersamaan dengan Cantika pada saat dirinya masih bersikap lembut pada Cantika.
"Dulu pada saat ada Cantika, ia selalu saja melayani segala kebutuhanku. Walaupun di tengah malam aku lapar, ia mau menyiapkan makan untukku. Apa lagi pada saat itu la sedang hamil besar."
"Ia tak pernah mengeluh di hadapanku. Ia selalu saja tersenyum padaku, walaupun kadang aku melihat rasa lelah di wajahnya."
"Ya ampun, kenapa aku memikirkan Cantika yang telah membunuh anak lelakiku?"
Menjelang dini hari barulah Tian bisa memejamkan matanya hingga ia pun bangun kesiangan. Padahal di pagi hari akan mengadakan meeting dengan klien baru yang sangat tersohor.
Tian gugup dan sama sekali tak ada persiapan apa pun, hingga ia hanya cuci muka gosok gigi dan berganti pakaian. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan cepat karena sudah terlambat untuk ke kantor.
Dia sama sekali tak peduli dengan kondisi dirinya yang berantakan tak karuan apa lagi kondisi perutnya yang semakin tak bisa di ajak kompromi karena terus saja berbunyi.
Tak lama kemudian, ia pun sampai di kantor, dan ia lekas berlari ke ruang meeting. Tetapi salah satu asisten pribadinya mengatakan bahwa klien membatalkan kerja samanya karena kesal, Tian datang terlambat.
"Astaga, jadi klien baru kita sudah pergi? kenapa tidak kamu tahan supaya ia mau menungguku sejenak. Dan kenapa juga kamu tidak menelponku?" ucap Tian Langtang.
"Maaf Tuan Tiwn, saya sudah berusaha menahannya untuk tidak pergi dan menunggu kedatangan anda. Bahkan saya mencoba berkali-kali menelpon anda di hadapan kilen tersebut, tetapi nomor ponsel anda tidak bisa di hubungi. Dan saya juga berkali-kali menelpon nomor telepon rumah anda, tetapi anda juga tidak mengangkat. Hingga klien marah dan memutuskan untuk menggagalkan kerja sama dengan kita, Tuan."
Tian pun tak bisa berkata lagi, ia pun ingat akan sesuatu.
"Mana ponsel aku yang satunya ya? kenapa aku baru ingat jika aku punya dua ponsel?" batin Tian, ia mulai mencari ponselnya yang satunya.
__ADS_1