Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Hamil Lagi


__ADS_3

Satu Tahun Kemudian....


"Cantika, Bila sudah umur satu tahun. Jadi aku ingin kamu program hamil lagi ya. Karena aku ingin kita punya anak laki-laki," pinta Tian.


'Mas, Bila kan masih kecil. Masa iya sih, aku sudah harus hamil lagi? apa nggak menunggu Bila berumur tiga atau empat tahun," saran Cantika.


"Di sini kan aku yang kepala keluarga, tetapi kenapa kamu mengatur seperti itu?" rajuk Tian.


"Mas, kenapa sifatmu sekarang kok berubah ya, sangat berbeda seperti pada awal kita menikah? dimana Mas Tian yang dulu aku kenal sangat lemah lembut dan penyayang?" ucap Cantika.


"Itu cuma perasaan kamu saja dari dulu hingga sekarang aku memang seperti ini adanya. Aku hanya sedikit kecewa denganmu karena apa yang aku inginkan tidak bisa kamu kabulkan," ucap Tian ketus.


"Mas, di dunia ini bukan kita sendiri yang mengatur hidup ini karena ada yang kuasa. Termasuk anak, jika Allah telah berkehendak perempuan ya akan di beri seorang anak perempuan. Kita tidak bisa tawar menawar, mas," ucap Cantika mencoba menyadarkan Tian yang sedang khilaf.


"Sudahlah, kamu tak usah berceramah. Kamu itu hanya wanita kampung yang aku pungut dari desa. Aku pikir dengan menikahi dirimu, hidupku akan bahagia. Ternyata aku salah."


Ucapan Tian sangat menyakiti hati Cantika. Ia sama sekali tak pernah berpikir jika sifat Tian akan berubah drastis seperti sekarang ini.


"Astaghfirullah aladzim, ya Allah berikanlah hamba kekuatan dalam menghadapi sikap suami hamba yang mungkin hanya sedang khilaf saja. Aku yakin pada dasarnya suami hamba adalah orang yang sangat luar biasa baiknya."


"Aku yakin saat ini Engkau sedang menguji seberapa sabar dan ikhlasnya diri hamba menghadapi semua ini melalui perubahan sikap pada suami hamba."


Cantika mencoba menghibur diri sendiri di dalam hatinya dia meminta pada sang kuasa untuk selalu memberinya kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi sikap suaminya yang tak sebaik dulu pada saat awal pernikahannya.


"Cantika kenapa kamu diam saja, apa kamu masih akan tetap menolak untuk program hamil lagi!" tanya Tian mengagetkan lamunan Cantika.


"Baiklah, mas. Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan," ucap Cantika walaupun sebenarnya di dalam hati ia keberatan.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, kenapa nggak dari tadi kamu katakan seperti ini. Pake drama bantah membantah dan ceramah dulu." Tian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Cantika seorang diri.


Cantika benar-benar heran pada suaminya. Jujur di dalam hatinya ia sangat kaget atas perubahan sifat Tian yang secara tiba-tiba itu.


"Aku heran, hanya karena anak lahir perempuan masa iya Mas Tian langsung berubah drastis seperti ini ya? benar-benar aneh sekali," batin Cantika.


Sementara saat ini Tian sedang ada di ruang kerjanya. Dia sedang iseng melihat beberapa akun sosial media milik semua teman sekolahnya.


"Hem, alangkah senangnya teman-temanku yang memiliki anak laki-laki. Kenapa juga anaku lahir perempuan, padahal waktu di USG bayi itu laki-laki? masa iya kok bisa USG berubah seperti itu ya?" batin Tian.


Terus saja ia senyan senyum menatap foto-foto anak kecil laki-laki. Ia begitu mengidamkan anak laki-laki sebagai pewarisnya kelak.


******


Dua bulan kemudian, Cantika memberi kabar bahwa dirinya sudah hamil. Tian pun merasa sangat bahagia.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa kamu kejam sekali mas? kenapa kamu mengatakan hal seperti ini padaku? sudah berapa kali aku katakan, kehidupan ini sudah ada yang mengaturnya. Jika kamu ingin meminta anak ini laki-laki, mintalah pada sang pemberi nafas kehidupan. Pintalah pada


Allah SWT, mas," ucap Cantika.


"Ya Allah, entah sampai kapan sikap Mas Tian akan seperti ini? kadang aku rindu Mas Tian yang penyayang, lembah lembut, serta selalu perhatian padaku," batin Cantika menahan rasa sedih do dalam hatinya.


Jika ia sedang sedih seperti itu, ia selalu saja ingat almarhumah ibunya.


"Bu, aku kangen pada ibu. Jika ibu masih hidup pasti aku tidak akan sesedih ini. Aku merasa hidup seorang diri," batin Cantika.


Kesedihan Cantika sempat terlihat oleh bibi. Ia pun menghampiri Cantika.

__ADS_1


"Non Cantika, yang sabar ya. Jangan terlalu di pikirkan, kasihan anak yang sedang ada di dalam kandungan. Dan juga kasihan Non kecil Bila, ia pasti juga akan merasakan sedih dan bisa rewel," ucap Bibi.


"Iya, bi. Aku akan berusaha untuk tidak bersedih, walaupun ini terlalu sulit aku lakukan bi," ucap Cantika dengan kata berkaca-kaca.


"Terima kasih ya, bi. Selalu menghibur aku di kala aku sedang sedih seperti ini. Untung ada bibi, jika tidak mungkin aku akan teramat sedih," ucap Cantika dengan mata berkaca-kaca.


"Non Cantika, sebenarnya sifat Den Tian itu baik. Karena saya bersama dengannya sudah sejak lama jadi tahu sifat aslinya seperti apa. Anggap saja jika saat ini memang apa yang di lakukan oleh Den Tian karena sedang khilaf," ucap Bibi.


**********


Berjalannya waktu cepat sekali tak terasa saat ini usia kehamilan Cantika sudah memasuki umur tujuh bulan.


Tian pun mengajak Cantika untuk ke rumah sakit guna melakukan USG pada bayinya.


Pada saat Tian mengetahui hasil USG dari janin yang saat ini sudah dikandung oleh Cantika ia begitu kecewa, karena hadil USG tersebut menyatakan jika janin yang ada di dalam kandungan Cantika seorang perempuan.


"Aaahhh.. perempuan lagi! bagaimana sih kamu, Cantika? bukankah aku sudah katakan, jika aku ingin anak laki-laki!" bentak Tian hingga membuat Cantika terlonjak kaget.


Tian tidak sadar jika saat itu sedang berada di rumah sakit. Hingga apa yang dia lakukan mendapatkan teguran dari beberapa suami-suami yang sedang mendampingi istri-istri mereka cek kandungan.


"Mas, jangan menyalahkan istri seperti itu. Karena yang memberikan jenis kelamin yang menentukan itu bukan istri tapi Allah."


"Iya, mas. Jangan sampai mas menyesal telah kasar seperti itu pada istri. Lagi pula hasil USG juga tidak menjamin benar."


"Benar juga, aku saja pernah. Pada saat anak pertamaku di USG perempuan eh lahirnya laki-laki. Dan pada saat anak kedua di USG laki-laki ternyata lahirnya perempuan."


Mendengar akan hal itu, Tian hanya diam saja. Ia sudah tidak marah-marah lagi pada Cantika. Dan mengajak pulang istrinya dengan merangkulnya, untuk menutupi rasa malu.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan pulang, Tian hanya diam saja. Begitu pula dengan Cantika ia juga hanya diam saja.


__ADS_2