
Hari ini Gresia berkunjung kerumah nenek. Selain dirinya rindu pada nenek, Akeno juga memintanya mengunjungi nenek, karena dia akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari.
Gresia datang diantar Akeno langsung. Melihat cucunya berkunjung nenek terlihat sangat senang apalagi pelayan yang dia tempatkan di kediaman Akeno selalu memberinya berita gembira.
"Kau terlihat sedikit gemuk sayang," bisik nenek saat memeluk cucu menantunya.
Akeno yang berada di belakang tubuh Gresia seketika meneliti dengan cermat lekuk tubuh istrinya. Nenek benar, Gresia terlihat semakin montok di bagian tertentu.
"Itu karena aku memeliharanya dengan baik," ucap Akeno acuh.
Nenek menatapnya dengan mata melolot. "Memelihara? Kau anggap dia seekor binatang. Anak bodoh!" umpat nenek sembari menggetok kepala Akeno dengan ujung tongkatnya. Akeno mengaduh seketika, itu benar-benar sakit sebab tongkat nenek sangat keras. Dia bisa saja mengelak tapi dia tidak mau melakukannya.
"Dia memang seperti binatang kelinci." gerutu Akeno sembari melirik ke istrinya.
"Dan kau seperti srigala!" salak Gresia sembari melotot kearah Akeno. Akeno mencibir dan sekali lagi nenek mengangkat tongkatnya, tapi tongkat itu hanya melayang di udara tak sampai mendarat di kepala Akeno. Sebab Gresia menahan pukulan nenek.
"Ada apa? Kau bela dia?!" rajuk nenek.
Gresia menunduk dengan pipi merona, dia hanya refleks. Getokan tadi saja masih menyisakan tanda kemerahan di kepalanya mana tega Gresia membiarkan nenek memukul suaminya untuk yang kedua kalinya.
Melihat itu nenek dan Akeno tersenyum simpul. Gresia benar-benar peduli padanya.
"Gresia akan menginap di sini beberapa hari nek. Aku ada perjalanan bisnis keluar kota untuk beberapa hari." ujar Akeno memberi tahu nenek.
"Tidak apa, aku juga rindu padanya." sahut nenek sembari merangkul pundak cucu menantunya.
"Nanti lagi kengen-kangennya. Biar aku antar dia kekamarnya dulu." ujar Akeno sembari meraih pergelangan tangan Gresia juga kopernya naik ke lantai atas.
Nenek tak mencegah, dia tersenyum melihat kepergian mereka. Orang suruhannya tak berdusta Akeno benar-benar telah banyak berubah menjadi lebih hangat.
Sementara di kamar, Akeno tengah mendekap erat tubuh sintal istrinya. "Berapa lama?" tanya Gresia sembari menatap bola mata Akeno lekat. Tubuhnya melekat erat di sisi Akeno.
"Tujuh hari. Kamu baik-baik magangnya ya." Sembari berpesan Akeno menyentuh pipi Gresia dengan sangat lembut. Dia pasti merindukan istri kecilnya selama tujuh hari disana nanti.
"Hemm." Gresia hanya bergumam dengan mata terpejam. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Akeno yang mampu membuatnya merasa tenang. Dia pasti sangat merindukan tubuh hangat ini di setiap malam kepergian Akeno.
"Sudah aku sudah harus pergi." ujar Akeno sembari melepas pelukannya dengan terpaksa. Sebab malam nanti dia sudah harus makan malam dengan kliennya.
Gresia melepas dengan enggan, kedekatan mereka belakangan ini membuatnya selalu merindukan sosok Akeno disisinya.
"Hanya tujuh hari bukan waktu yang lama." ujar Akeno menghibur istrinya. Walau Gresia terlihat sangat rela tapi dia tau berat baginya melepas Akeno dan Akeno tau itu.
__ADS_1
"Kau juga bisa mengajak Ayana bersenang-senang agar tak bosan." imbuh Akeno.
Gresia menatap Akeno sembari mengangguk pelan. "Kau juga baik-baik di sana..." ujar Gresia dengan nada rendah.
"Tentu sayang." Sahutnya sembari meraih dagu Gresia menautkan bibirnya dalam-dalam ke bibir Gresia kemudian melepasnya untuk segera pergi.
****
Ruang private di sebuah restauran dengan nuansa kelasik jepang yang sudah di reservasi Akeno terdengar ramai oleh suara tawa wanita cantik berambut ikal. Stelan kantor berwarna gading yang dia pakai begitu indah membalut tubuhnya. Memikat lawan bicara dengan tanpa ragu. Dia adalah Desi Sugara pemilik butiq ternama di kota C ini.
Di hadapannya duduk tiga pria yang tak lain adalah teman kuliahnya juga rekan bisnisnya. Dia adalah Akeno, Samy juga Erlangga dan Brahma.
"Kau masih seperti dulu Des, ceria dan menggemaskan." rayu Erlangga, Sembari melirik Akeno. Mereka tau Akeno pernah dekat dengan Desi sebelum melabuhkan hatinya pada Athalia.
Desi cuma tersenyum simpul, netranya ikut melirik Akeno yang memperlihatkan ekspresi datar.
"Kau ingin bersaing dengan pangeran dingin. Apa mampu," cibir Brahma. Netranya ikut menatap Akeno.
"Wanita butuh yang hangat bukan dingin bak balok ice dari kutub utara," balas Erlangga mengolok Akeno.
Akeno yang jadi objek pembahasan menanggapi candaan mereka dengan sangat tenang. Mata elangnya kini menatap Desi lekat-lekat. Erlangga benar. Desi sama seperti dulu, penuh daya tarik.
"Ooh lihatlah balok ice mungkin akan mencair sebentar lagi!" seru Brahma mengolok Akeno. Sementara Desi hanya tertawa renyah mendengar kelakar para sahabatnya.
"Sudah cukup omong kosong mu. Aku tidak memiliki banyak waktu juga kesabaran." Tegur Akeno dengan ekspresi dingin.
"Baiklah, baiklah. Kami Akan menunggumu di Bar. Datanglah saat kau sudah selesai dengan desi." ujar Erlangga akhirnya mengalah.
Kini hanya tinggal mereka berdua disini. Suasa mendadak sepi, Desi dan Akeno tak saling bicara.
Desi menarik nafas sebelum memulai percakapan."Berapa hari kau di sini?" tanya Desi sembari menatap lembut wajah tampan Akeno.
"Tujuh hari mungkin." Sahutnya membalas tatapan Desi. Mata kelam Akeno membuat dada Desi bergemuruh. Membangkutkan rasa yang telah lama dia kubur dalam-dalam.
"Aku dengar Athalia bercerai dari suaminya?" tanya Desi menyelidik. Dahulu Athalia lah penghalang hubungan mereka. Athalia lebih agresif darinya, selalu mengambil kesempatan darinya untuk mendekati Akeno. Kala itu Akeno masih remaja masih labil dalam bersikap dan akting polos Athalia membiusnya. Walau pada akhirnya Athalia memperlihatkan warna aslinya di saat Akeno memberikan seluruh hatinya pada Athalia.
Dari remaja Akeno sudah jadi sorotan lawan jenisnya. Sikapnya yang cool dan sangat tampan membuat hijau mata gadis saat melihatnya. Tapi sayang dia justru jatuh cinta dengan orang yang salah.
Akeno menarik nafas lalu mengedikkan bahunya. "Bukan urusanku." tegasnya. Desi tersenyum simpul, apa benar bukan urusannya mengingat betapa cintanya dia dengan Athalia.
"Terdengar aneh kau berkata begitu, mengingat betapa cintanya seorang Akeno terhadap Athalia." cibir Desi sembari menatap lekat bola mata kelam Akeno.
__ADS_1
"Kau mengundangku hanya untuk membahas hal ini? Desi jangan buang waktuku yang berharga untuk hal yang tidak berguna."
"Ck! Kau ini sangat pemarah. Kita sudah lama tidak bertemu tapi kau masih tidak berubah." gerutu Desi.
"Katakan ada apa memintaku bertemu?" tanya Akeno tak sabaran.
Gresia menarik pandangannya, membuka tas hitam miliknya mengambil selembar kertas dari dalam lalu menyerahkannya pada Akeno.
"Aku menemukan ini," ujarnya.
Akeno menatap sekilas bola mata Desi lalu meraih kertas dari tangannya dan memeriksanya.
Terlihat Akeno mengernyitkan alisnya, lalu kembali menatap lekat Desi. "Dari mana kau dapat ini?" tanya Akeno dengan ekspresi tak senang.
"Itu rahasia." sahutnya dengan ekspresi datar.
"Apa maumu?"
Desi tertawa pelan. "Akhirnya kau menanyakan juga apa mauku." ucapnya dengan mimik mengejek.
"Katakan." Desak Akeno tak sabaran.
Desi mendesah berat, lalu menatap Akeno dengan tatapan menggoda. "Jadilah pasanganku." lirihnya.
Akeno membeku, rahangnya mengetat menahan amarah yang membuncah. Dia benci wanita lancang yang tak tau malu memintanya menjadi lelakinya. Tapi dia berusaha menahannya Desi tak pernah bertindak sejauh ini.
"Kau bermimpi? Kalau iya cepatlah bangun." ujar Akeno dengan tenang.
"Aku tidak memaksa. Tapi data itu pasti bocor ke public." Ancamnya dengan senyuman jahat.
"Coba saja kalau kau berani. Aku tidak memandang ikatan terhadap orang yang berani macam-macam padaku." Akeno balik mengancam.
Desi sudah menduga akan hal ini. Akeno tidak mungkin semudah itu menyerah. "Hanya sementara saja apakah tidak bisa? Sebagai imbalannya aku akan menghancurkan data itu juga akan memberimu informasi memgenai pergerkan Micel." bujuknya dengan penuh pengharapan.
Akeno terdiam. Desi tau segalanya, itu menunjukkan segalanya tidak sesederhana itu. Tiba-tiba dia teringat kalung pemberian nyonya Lia tempo hari. Senyum Akeno mengembang sempurna. "Baiklah, aku terima tawaranmu.Tapi seperti janjimu, sebaiknya kau tidak terlalu lama memanfaatkan kebaikanku."
Binar terlihat pada kedua bola mata Desi. "Tentu saja, aku pasti akan menepati janjiku Akeno." serunya penuh semangat.
Akeno mengangguk puas. Di dunia ini tidak ada yang bisa di peroleh dengan geratis yang ada adalah barter. Kebaikan ditukar kebaikan dan kecurangan dengan kecurangan dan itu yang sedang Akeno lakukan saat ini.
To be continuous
__ADS_1