Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 64


__ADS_3

Pagi ini Gresia kekampus diantar oleh Akeno. Sementara Harumi di antar oleh Adrian ke tempat konseling.


Rolls Royce kesayangan Akeno melaju cantik di jalanan yang padat merayap. Di sampingnya Gresia tengah sibuk berbalas pesan di ponselnya. Sedang Akeno terlihat focus pada laptopnya.


'Haey, apa yang terjadi padamu dan Haris semalam? Aku menelponmu berulang kali, tapi hp mu tidak aktif.' bunyi pesan Ayana begitu Gresia mengaktifkan ponselnya.


'Tidak terjadi apa-apa antara aku dan haris Ay.'


'Kok bisa?'


'Ya bisa.'


'Dasar bego kamu Gresia..!! Haris sesempurna itu kamu anggurin? Awas kalau tuan mesum mu itu gak sesempurna Haris!!!'


Gresia mengulum senyum, dasar Ayana. Andai dia tau siapa tuan mesum itu...


"Tuan Me sum?" suara berat Akeno terdengar begitu dekat di telinga Gresia. Refleks Gresia menoleh dan tak sengaja bibirnya menyentuh pipi Akeno. Akeno tak melepas kesempatan bagus ini. Dia meraih tengkuk Grasia, mendekatkan wajahnya, mema gut bibir merah beraroma buah itu dengan lembut.


Gresia membulatkan matanya kaget, kedua tangannya mendorong tubuh Akeno agar melepas pagu tannya. Dasar Akeno! Bagaimana bisa dia melakukan itu di depan supir pribadinya tanpa menekan tombol penyekat.


"Hhhh!" desah Akeno saat melepas ciu man panjangnya. Benda kenyal dan basah itu membuatnya kecanduan.


"Kenapa protes, bukankah itu yang dilakukan tuan me sum?" cibir Akeno.


Gresia mencebik, sembari melotot. Gerakan mendadak dari Akeno membuat jantungnya berpacu. Apalagi Akeno terlihat sangat tampan pagi ini, dengan stelan jas masa kini berwarna abu di padu kaos putih polos didalamnya membuatnya terlihat sangat maco.


Melihat istrinya menatapnya terpesoan Akeno berbunga. Dengan lembut di raihnya jemari Gresia kemudian di ciumnya penuh cinta. Sejak pertama bertemu di rumah nenek hingga saat ini, Gresia masih mampu membuat hatinya bergetar, hanya dengan tatapan mata beningnya.


"Ini privasi, kenapa begitu sembrono membaca pesan di ponselku," protes Gresia merajuk.


"Kita suami istri, tidak ada hal privasi di antara Kita." sahut Akeno sembari mengambil ponsel di saku jasnya.


"Berikan jarimu," titahnya. Walau bingung Gresia mengacungkan telunjuknya ke Akeno. Akeno menempelkan jari Gresia ke ponselnya, terlihat layar ponsel yang tadiinya terkunci kini terbuka.


"Kok bisa?" tanya Gresia heran. Dia tak pernah berani mengutak atik ponsel Akeno. Tetapi kenapa bisa buka ponsel Akeno dengan sidik jarinya.


"Tentu saja bisa, itu karena tidak ada privasi diantara kita." jelas Akeno.


Akeno meraih ponselnya dari tangan Gresia, tapi Gresia menahannya. Dia menatap Akeno dengan mata menyipit lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Akeno dan mulai mengutak atik ponsel suaminya. Hal yang sudah lama ingin dia lakukan, sayang kalau di lewatkan.


Akeno terkekeh gemas melihat tingkah Gresia. Ternyata semua istri di dunia ini sama saja, mereka penasaran dengan isi ponsel suaminya.


"Kontrak mu hanya dua puluh orang?" tanya Gresia heran. Orang sekelas Akeno harusnya memiliki ratusan kontak.


"Aku hanya menyimpan nomor penting. Untuk kontak bisnis ada pada Sam." jelas Akeno sembari mendekat ke Gresia lalu mengecup puncak kepala Gresia dengan lembut.


Gresia tersipu, di antara nomor penting ada namanya di sana. Nama wanita hanya nama orang suruhannya dan Gresia.


"Tidak ada nama wanita di sini, kecuali aku dan orang mu sayang. Aku khawatir sayang menamai gula menjadi garam." selidik Gresia.


Akeno terkekeh sekali lagi, semakin hari istri kecilnya ini semakin pandai bicara, bahkan mengajaknya berdebat.


"Hanya orang rendahan yang melakukan itu sayang," sahut Akeno sembari kembali melabuhkan kecu pan lembut di ubun-ubun Gresia.


"Tapi bagaimana bisa mantanmu menelpon ke nomor ini?" tanya Gresia curiga.


"Kami dulu pernah berbagi kontak saat masih menjadi sepasang makasih. Dia masih ingat nomor ponselku, aku juga sama. Hanya saja aku sudah menghapus nomornya di ponselku." jelas Akeno sembari menyentil hidung Gresia, lalu mendekat, mengecup dengan lembut bibir Gresia. Lalu berpindah ke tempat lain. Membuat Gresia nyaris mendesah.


"Jangan aneh-aneh, ada dia," sungut Gresia saat Akeno mulai mencumbunya dengan sentuhan-sentuhan lembut.


Akeno menjeda cumbuannya, menatap istrinya dengan lembut. "Abaikan saja."


"Mana bisa," bisik Gresia sembari mengarahkan matanya pada supir pribadi Akeno.

__ADS_1


Akeno men desah lalu menekan tombol di samping kanannya, sekarang antara mereka dan supir terpisah oleh penyekat.


Kini tak ada alasan bagi Gresia untuk menolak cumbuan Akeno. Tubuhnya meremang oleh sentuhan Akeno yang semakin intens.


"Kau indah sayang." bisik Akeno sembari menatap Gresia dengan sorot mata penuh kagum. Jemarinya membingkai wajah ayu yang selalu ada dalam pikirannya sepanjang hari. Gresia semakain tersipu, dia tak butuh bujuk rayu. Akeno ada di sampingnya saja sudah membuatnya senang. Apa lagi di perlakukan seperti ini, sungguh membuat hatinya melayang.


Akeno menghentikan cumbuanya ketika sampai di halaman kampus.


"Pulang kuliah datanglah ke kantorku." titah Akeno sembari merapikan baju Gresia yang berantakan karena ulahnya.


"Apa sayang tidak sibuk?"


"Sibuk, tapi aku sangat rindu pada mu." sahut Akeno dengan mimik manja. Gresia terpaku menatap Akeno, ekspresi apa yang barusan dia lihat..


"Oke baiklah, aku turun dulu. Nanti selesai kuliah aku kelantor sayang."


"Baiklah aku tunggu."


Mobil Akeno melaju kearah berlawanan dengan kantornya. Hampir dua jam lebih mobil Akeno meninggalkan pusat kota menuju utara Kota A.


Tepat di sebuah bagunan Vila bergaya klasik, mobil Akeno berbelok di depan gerbang yang menjulang tinggi. Sopir Akeno membuka kaca di sebelahnya lalu mengulurkan tangannya meberikan sebuah card pada petugas jaga.


Setelah mengamati sejenak pria bertubuh kekar itu memperbolehkan mobil Akeno masuk.


Akeno turun dari mobil seorang diri, lalu masuk melalui pintu samping yang terbuat dari kayu jati. Di sisi kanan kiri pintu terlihat dua pria berkaca mata berdiri dengan waspada.


Sesampainya di dalam, Akenno langsung di sambut oleh seorang wanita muda berpakain sangat seksi.


"Tuan Akeno, silakan ikuti saya." titahnya sopan. Akeno mengangguk samar, lalu mengikuti Langkah wanita itu pergi.


Wanita bertubuh seksi berkulit bersih itu membawa Akeno ke sebuah ruang santai. Di sana terlihat lelaki paruh baya sedang menuang teh kedalam cangkir batu.


"Ada angin apa kau berkunjung kemari." Lelaki tua itu menyesap teh yang masih tampak mengeluarkan asap, lalu menengadah menatap Akeno yang masih berdiri di depannya.


Lelaki tua itu tersenyum. "Duduklah"


Akeno mmengangguk patuh, lalu menempatkan tubuhnya tepat di depan lelaki itu.


"Aku dengar di negara A, ada rumah sakit dengan fasilitasi lumayan bagus. Aku bisa mengurus kujungan tuan kesana."


Lelaki itu terkekeh. "Mau kau bawa keujung dunia pun. Pada akhirnya aku akan mati. Aku sudah tua, sakit sedikit itu biasa."


"Hanya untuk berkunjung saja. Lagi pula di negara A, suasananya menyenangkan. Apakah tuan tidak berniat menikmatinya." bujuk Akeno, kekeh pada keinginannya.


"Tidak perlu mengurusiku, focus saja pada hal-hal pribadimu. Aku dengar kau memboyong putri dari keluarga Kenzo pulang kerumah, apa itu benar?"


Akeno mengangguk pelan. "Dia menolongku saat di negara A, karenanya dia mengalami trauma psikis, aku membawanya pulang hanya untuk mengopbatinya."


Lelaki tua itu mendengus kesal. "Tidak masalah kalau kau menempatkan gadis itu dilluar rumahmu."


Akeno menatap lelaki tua itu lekat lekat. "Aku sudah menyelidiki latar belakangnya. Dia bersih."


Lelaki tua itu kembali mendengus kesal. "Kau pandai berbisnis, tapi kenapa bodoh dalam urusan wanita. Pikirkan olehmu kalau istrimulah yang memboyong sepupunya dengan alasan yang sama."


Akeno terdiam, itukah sebabnya kenapa belakangan ini Gresia sedikit membangkkang padanya.


"Aku akan memindahkan dia nanti."


Lelaki itu mengangguk senang. "Aku sudah sangat tua Akeno. Nenekmu saja sudah mendahului aku, aku pikir tak lama lagi aku pasti akan menyusulnya." ujar lelaki itu sembari tersenyum lembut pada Akeno.


"Tuan masih sangat sehat, aku kira tuan masih memiliki banyak waktu."


"Sehat juga bisa mati Akeno."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu tuan, aku percaya tuan memiliki waktu yang panjang."


Lelaki itu menarik nafas berat. "Aku sudah sangat siap kapanpun waktu itu datang. Aku hanya ingin menegaskan padamu bahwa keluarga lebih utama dari segalanya. Jangan sampai hidup hanya menjalani penyesalan seumur hidup." ucap lelaki tua itu menasehati.


"Aku pasti mengingat ucapan tuan."


Lelaki iitu mengangguk senang. Akeno adalah cucu dari sahabatnya. Tapi dia menyayangi Akeno seperti keluarganya sendiri. Sedang keluarganya sendi berada jauh di negri orang. Semua itu salahnya, kelakuannya di saat muda dulu membuat keluarga memilih pergi meninggalkannya hidup seorang diri.


***


Gresia berdiri sejenak di depan bangunan megah milik suaminya. Seperti permintaan Akeno tadi, selesai kuliah dia datang ke kantor suaminya.


Resepsionis yang sudah mengenalnya sebagai orang dekatnya Akeno, mengangguk hormat begitu mellihat Gresia.


Untuk bertemu Akeno tak perlu buat janji untuk Gresia, dia bebas masuk ruang kerja suaminya kapan saja dia mau.


Dengan menggunakan lift khusus Gresia naik kelantai tiga puluh. Langkahnya terhenti di depan pintu saat seorang wanita menahannya tidak mengizinkan nya masuk.


"Maaf nona, tuan sedang rapat saat ini. Apa anda sudah buat janji?"


"Belum."


"Kalau begitu, silahkan tunggu di ruang tunggu." Wanita berparas cantik dan bertubuh seksi itu mengarahkan jari jempolnya ke ruang tunggu dengan sopan.


"Tapi saya.."


"Maaf nona, ini sudah menjadi peeraturan di kantor ini. Jadi silahkan tunggu di sana." titahnya sembari mengarahkan jempolnya keruang tunggu sekali lagi.


Gresia menatapnya lekat wanita berparas cantik di depannya. Dia baru pertama kali bertemu dengan wanita ini. Apa dia pegawai baru?


"Baiklah terima kasih." Gresia mengikuti langkah wanita itu ke ruang tunggu. Sementara pegawai lain yang melihat tindakan wanita itu menatap khawatir. Selama ini tidak ada yang berani menahan Gresia saat dia berkunjung kekantor Akeno, tapi pegawai baru ini sangat berani melakukan itu.


"Clara sebaiknya biarkan nona Gresia masuk kedalam. Selama ini tak ada yang berani menahannya di ruang tunggu saat dia datang." saran salah seorang karyawan. Clara cuma tersenyum tipis, dia menatap ruang tunggu sekilas lalu kembali bekerja.


Sudah satu bulan ini Clara bekerja menggantikan sekretaris Akeno yang lama. Tapi baru beberapa hari ini dia berjumpa dengan tuan Akeno.


Pertama kali bertemu bos nya, Clara langsung jatuh hati. Sorot matanya yang tajam, rahangnya yang tegas, dengan tubuh begitu proposional siapa saja pasti jatuh cinta pada pandangan pertama.


Begitu juga dengan Clara. Selama ini tak pernah ada pria yang bisa menolak pesoananya. Baik gestur dan tubuhnya membuat lelaki memandangnya penuh damba.


Dia kembali melirik ruang tunggu, tersenyum sinis pada gadis yang tengah duduk santai sembari mengotak atik ponselnya. Berani sekali dia masuk ke ruang kerja presdir tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dia pikir dia siapa? Orang penting saja harus bikin janji dulu saat akan menemui bos nya, apalagi hanya gadis biasa seperti dia.


Dua puluh menit kemudia pintu di ruang kerja Akeno terbuka, tampak Akeno mengantar tamunya sampai di depan pintu, berbincang sejenak lalu tamunya terlihat beranjak pergi. Saat akan berbalik tak sengaja Akeno melihat Gresia di ruang tunggu. Dia duduk tepat menghadap pintu sembari menatap ke layar ponselnya yang sedang menyala.


Melihat Gresia di sana Akeno datang mendekat. "Sedang apa kau di sini?" tanya Akeno heran. Sejak kapan istrinya harus menunggu diruang tunggu begini saat datang menemuinya.


Gresia mengankat wajahnya lalu tersenyum memandang suaminya.


"Sudah selesai rapatnya sayang?"


"Sudah. Aku tanya sedang apa kau disini?" Akeno penasaran kenapa Gresia tidak langsung masuk dan malah menunggu di sini.


"Aku lihat rapat tadi sangat penting, jadi aku putuskan menunggumu di luar." sahut Gresia sembari beranjak bangkit lalu mendekat ke Akeno.


"Bukan kah sudah aku bilang, saat datang kekantorku langsung masuk keruanganku, tidak perduli sedang apa aku didalam." tegas Akeno sembari berjalan melewati ruang kubikel Clara dan pegawai lainnya sembari menggandeng jemari lembut Gresia.


Gresia melirik sekilas pada Clara. "Iya maaf. Sudah lama aku tidak berkujung kesini jadi aku lupa peraturan ini." ucap Gresia.


"Alasan, kau ingin cuci mata dengan karyawanku kan?" sungut Akeno sembari menutup pintu ruang kerjanya.


Kalimat yang sempat di dengar oleh Clara dengan sangat jelas. Clara membeku di tempatnya. Sungguh bodoh, benar-benar bodoh! Hampir saja dia melakukan kesalahan di depan Akeno. Untung saja wanita itu tidak menyeretnya dalam masalah, jadi kali ini dia selamat. Tapi siapa wanita itu?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2