
karena kehamilan Gresia yang mengalami ngidam. Akeno memutuskan pulang lebih cepat dari jadwal kepergiannya. Di kota C ini Akeno tidak memiliki villa atau rumah singgah. Tinggal di hotel membuat Gresia tak leluasa.
Pulangnya Akeno memutuskan menggunakan pesawat pribadi miliknya. Demi anak dan istrinya dia tak mau ambil resiko.
Dari bandara, Akeno dan Gresia langsung pulang ke mansion. Di mansion, Dokter pribadi mereka sudah menunggu. Akeno memintanya datang untuk melakukan pemeriksaan pada Gresia pasca perjalanan mereka.
Gresia di periksa keadaannya juga kandungannya. Perjalanan mereka yang cukup jauh membuat Akeno khawatir.
Dokter mengatakan keduanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan. Mendengarnya Akeno merasa lega.
Mereka sedang berada di kamar saat ini. Gresia berbaring lemas, setelah memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Akeno duduk di samping tempat tidur sambil mengupas buah apel. Memotong buah itu menjadi potongan-potongan kecil.
"Makanlah, biar perutmu berisi. Kau sudah memuntahkan semua isi perutmu." ujar Akeno, sembari mengulukan garpu berisi potongan buah apel.
Gresia menarik tubuhnya ke posisi duduk. Lalu menerima uluran buah dari Akeno. Aroma buah apel yang lembut terasa segar, mengugah selerah Gresia untuk menyantapnya.
"Aku akan mencarikan Dokter yang hebat untuk mu sayang. Aku akan memintanya membuatkan obat untuk mu, agar mual mu hilang." ujar Akeno, sambil terus menyuapi Gresia.
Mendengarnya Gresia hampir tertawa. "Ini bawaan hamil. Kalau sudah waktunya, mualnya akan hilang sendiri." sahut Gresia sembari menatap wajah suaminya.
"Menunggunya hilang sendiri, itu terlalu lama sayang. Aku tidak tahan melihatmu tersiksa setiap hari."
"Obat hanya bisa mengurangi rasa mualnya saja. Tapi membuat mualnya hilang sama sekali, aku tidak yakin ada obat seperti itu." ujar Gresia sembari mengunyah buah di mulutnya. Kalimat yang mematahkan semangat Akeno.
Akeno mengusap wajah Gresia yang tampak pucat dan sedikit tirus. "Tidak perduli ada atau tidak, aku akan meminta Dokter mencarinya. Lihat wajahmu ini terlihat pucat. Bagaimana aku bisa tenang melihatmu seperti ini." omel Akeno. Wajah tampannya terlihat sedih memandang Gresia.
"Tidak apa, demi anak kita aku pasti sabar." ucap Gresia, menyemangati Akeno.
Akeno mende sah berat. "Apa semua ibu hamil merasakan ini?" tanyanya penasaran.
"Tidak semua, tapi kebanyaan ibu hamil mengalaminya. Begitu menurut yang ku baca di beberapa situs." jelas Gresia.
Akeno mmengangguk angguk paham. Tapi kenapa Gresia harus mengalami ngidam, dia tak tega melihat tubuh Gresia terbaring lemah, setiap kali selesai muntah.
Penciumannya juga semakin tajam. Ada saja bau yang membuat perutnya mual. Untungnya dia menyukai parfum milik Akeno, jadi Akeno tak harus mengganti parfum.
"Aku akan keluar sebentar lagi, ada urusan di rumah sakit yang harus aku urus. Sayang tidak apa kan, aku tinggal? Atau sayang mau ikut?" Gresia menggeleng, dia saat ini hanya ingin istrahat di tempat tidur tanpa melakukan apapun.
"Tapi jangan lama-lama." pinta Gresia. Kalimat yang akhir-akhir ini sering di ucapkan Gresia saat Akeno pamit pergi.
"Aku usahakan cepat pulang, sayang ingin aku belikan apa saat pulang?" tanya Akeno sembari mengusap pipi Gresia dengan ibu jarinya. Gresia menggeleng, dia tidak ingin apapun saat ini. Dia hanya ingin Akeno cepat pulang.
"Baiklah, aku akan bersiap. Sayang istrahatlah, ada Andrian dan bibik di rumah panggil saja mereka kalau sayang butuh sesuatu. Gunakan lift saat hendak turun kelantai bawah. Kau dengar sayang?" tegas Akeno pada istrinya yang sudah bergulung di balik selimut.
Gresia membuka separuh selimutnya, lalu menatap Akeno. "Iya tuan Akeno, aku mendengarnya."
__ADS_1
Akeno terkekeh, sembari mengacak acak rambut Gresia. "Aku bersiap dulu."
"Hmmmm." sahutnya sembari menyembunyikan tubuhnya ke balik selimut.
Ruang VIP di lantai atas rumah sakit ini sedang direnovasi. Rumah sakit ini adalah milik Akeno, dan ruang yang direnovasi itu dikhususkan untuk istrinya Gresia.
Iris hitamnya meneliti setiap sudut ruang, Akeno tidak ingin ada yang terlewatkan. Ruang rawat ini, sudah mirip kamar mewah di mansionnya. Dari segi kenyamanan dan keamanan semuanya di pikirkan dengan begitu teliti oleh Akeno. Bahkan pintunbya saja memakai pemindai sidik jari. Nantinya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ruang rawat ini.
Akeno juga hanya menempatkan barang-barang yang disukai oleh Gresia saja, dia ingin membuat ruangan khusus untuk istrinya ini terasa begitu nyaman untuk di kunjungi oleh Gresia.
kelakuan Akeno ini membuat iri wanita di rumah sakit ini. Sungguh beruntung menjadi nyonya Akeno. Mereka juga mau jadi nyonya Akeno, dan mendapat perlakuan semanis itu.
"Aku akan mengirim sampel pengharum ruangan pada kalian. hanya wangi itu yang boleh diletakkan di ruangan ini. Istriku, dia tidak menyukai wewangian kecuali wangi yang yang itu. Kalian paham." ujar Akeno pada staf rumah sakit.
"Baik tuan, kami paham."
Pria bertampang Arogan itu menatap benda pipih di pergelangan tangannya. Sudah hampir waktunya makan siang, dia harus pulang, atau Gresia akan melewatkan makan siangnya.
"Dua minggu lagi istriku akan melakukan pemeriksaan kandungannya. Pastikan ruangan ini selesai sebelum dua minggu." ujar Akeno pada para staff nya.
"Baik tuan, kami usahakan." sahut salah satu dari mereka.
"Ayo samy." ucapnya pada Samy, yang sedari tadi mendampingi Akeno.
Akeno baru saja akan menekan tombol lift, saat di belakangnya terdengar keributan.
"Ada apa?" tanya Akeno pada Samy.
"Tidak tau, biar aku periksa." sahut Samy, sembari Beranjak Pergi memeriksa keadaan.
Saudah hampir dua menit, tapi Samya belum kembali. Akeno memutuskan menyusul Samy, untuk melihat apa yang terjadi. Ini adalah rumah sakitnya dia tidak ingin ada keributan di sini.
"Ada apa?" tanya Akeno pada beberapa staff yang berkerumu.
"Ohhh tuan Akeno rupanya. Itu tuan, ada pasien yang mencoba bunuh diri dari lantai ini." jelas orang itu.
"Kenapa dia mau bunuh diri?"
"Tidak tau tuan, dengar-dengar wanita itu sudah sering melakukannya, tapi selalu digagalkan oleh petugas yang berjaga."
Penasaran Akeno mendekat. Benar saja, dari tempatnya berdiri tampak wanita muda berdiri di ambang jendela rumah sakit. Di bawah nya beberapa orang berusaha membujuknya, sementara Samy terlihat mengendap-endap mendekati gadis muda itu.
"Berhenti! atau aku akan benar-benar melompat!" teriak Gadis itu, mengancam semua orang.
Melihatnya Akeno berdecak kesal. Andai ini bukan rumah sakitnya, dia tidak akan peduli dengan nasib gadis itu, mau melompat atau tidak Itu bukan urusannya. Tapi ini adalah rumah sakitnya, mau tidak mau masalah gadis itu Jadi urusannya.
__ADS_1
"Hei kau!" teriak Akeno, sembari mengarahkan telunjuknya pada gadis itu. Gadis berparas cantik itu menoleh pada akhirnya, matanya yang cekung menatap Akeno dengan tatapan marah.
" Kenapa masih belum melompat? atau perlu bantuanku untuk melompat dari gedung ini?" tanya Akeno saat gadis itu hanya diam menatap Akeno.
"Siapa kau?!"
"Tidak perlu tahu siapa aku, kalau mau mati mati saja, menyusahkan selali!" omel Akeno. Sudut matanya menatap ke Samy, yang terlihat bergerak perlahan mendekati gadis itu.
"Baik Kalau begitu. Kau akan lihat aku melompat Dari gedung ini." ucap Gadis itu penuh dendam.
"Tunggu dulu!" seru Akeno, membuat gerakan Gadis itu tertahan.
"Ada apa apa? kau menyesali kata-katamu." tanya Gadis itu, pada Akeno yang sudah yang berada tepat di depan nya.
"Tidak aku sama sekali tidak menyesal. Aku hanya akan beri tahu padamu sudut mana yang bagus untuk bunuh diri. Kalau kau lompat dari tempatmu berdiri, kau tidak akan langsung mati. Setidaknya kau masih bisa melihat orang-orang berkerumun melihatmu sebelum kematianmu." jawab Akeno acuh tak acuh.
Gadis itu menatap Akeno dengan tatapan penuh kemarahan.
"Bang sat Kau!" umpatnya kemudian bersiap melompat dari atas gedung ini. Tapi sayang, Samy lebih dulu meraih tubuhnya, bersamaan dengan Akeno yang juga melakukan hal yang sama.
Ketiga tubuh itu ambruk ke lantai bersamaan. beberapa keamanan rumah sakit segera mendekat dan mengamankan gadis itu.
"Tuan Akeno tidak apa-apa?" tanya staff rumah sakit, panik.
"Aku tidak apa-apa, urus saja gadis itu. Kalau dia gila pindahkan ke rumah sakit jiwa, kenapa malah dirawat di sini, bikin repot saja." gerutu Akeno.
"Baik tuan, nanti kami akan bicara dengan keluarganya."
"Hmmm."
Setelah Gadis itu diamankan Akeno dan Samy beranjak menuju lift.
"Kau ini, kenapa kejam sekali. Gadis itu pasienmu kenapa malah mengatainya dengan begitu kejam." kecap Sami sembari menatap Akeno yang berdiri dengan aku di sampingnya.
"Kalau kau perduli, besok datanglah bawakan dia karangan bunga. Jangan memprotesku dengan urusan kecil seperti itu. Kalau tidak ingat ini adalah rumah sakitku maka aku akan membiarkannya jatuh dari gedung dengan kepala hancur. Kau paham!" tegas Akeno dengan arogan.
"Hahhh kau ini! Kenapa kelembutanmu hanya untuk Gracia ini tidak adil."
"Jangan merengek, kalau kau suka gadis itu maka besok datanglah, bawakan dia bunga dengan buah."
"Aku memang berniat mengunjunginya besok." sahut Samy dengan senyum penuh arti.
Samy memang tertarik dengan gadis itu. Dengan baju transparan dia berdiri di jendela, tentu saja Samy bisa melihatnya dengan jelas apa yang ada di balik baju putih transparan, yang dipakai gadis itu.
Bersambung.
__ADS_1