Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 38


__ADS_3

Malam ini Akeno tengah makan malam bersama Desi. Kesepakatan yang telah Akeno sanggupi mengharuskannya berakting total dalam berperan sebagai kekasih Desi.


Desi malam ini tampil sangat cantik dengan gaun berwarna lavender dengan aksesoris senada melekat di tubuhnya yang putih mulus. Menambah nilai kesempurnaan tersendiri.


Akeno sendiri tampil gagah dengan balutan tukedo berwarna hitam mengkilat. Pria ini memang memiliki aura pemikat yang luarbiasa. Bahkan kehadiran wanita secantik Desi disampingnya tak menghalangi pandangan genit dari para wanita pengunjung restauran.


Akeno dan Desi memang tak memilih ruang private sebagai tempat makan malam mereka. Sebab tujuan makan malam ini adalah ajang pamer kedekatan mereka. Desi ingin membuat beberapa pihak menerka-nerka kedekatan mereka. Sukur-sukur mereka beropini mereka memang pasangan sesunghuhnya.


Akeno tau Desi memintanya bukan tanpa alasan dan tekanan. Sebelum dia menyetujui bertemu dengan Desi, orang Akeno sudah menyelidiki Desi terlebih dahulu. Ada pihak yang menekan Desi untuk melakukan itu.


Akeno memotong steak di piringnya menjadi potongan-potongan kecil lalu memberikan pada Desi, sementara milik Desi berpindah padanya.


"Kau benar-benar mendalami peranmu Akeno." cibir Desi dengan senyum sangat manis.


Akeno menatapnya sekilas lalu kembali focus memotong steak di piringnya. "Untuk imbalan yang akan aku terima tidak masalah berakting total."


"Jangan terlalu boros berakting, ini baru permulaan," ujar Desi memperingati. Akeno tersenyum sinis, menatapnya tanpa emosi.


Selesai makan Akeno mengantarkan Desi pulang ke apartemennya. Akeno berdiri di belakang Desi yang sedang membuka kunci.


"Kau mau mampir?" tanya Desi begitu pintunya apartemennya terbuka.


"Tentu," sahut Akeno sembari melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan Desi. Desi tersenyum simpul sembari mengikuti Akeno masuk kedalam.


Begitu masuk kedalam apartemen nuansa putih terasa memanjakan mata Akeno. mengedepankan warna putih khas desain Korean dengan karpet berbulu, Desi menambahkan penggunaan warna merah yang berani. Ruang tamu yang sangat luas itu di isi dengan sofa panjang berwarna krem di lengkapi bantal sofa dengan warna gelap. Terdapat kesan nyaman dari penghuninya.


Dengan santai Akeno duduk bersandar di sofa yang nyaris menenggelamkan tubuhnya dengan mata terpejam. Raganya lelah seharian berjibaku dengan pekerjaannya dan jam istirahatnya terpaksa di habiskan bersama Desi.


Selagi Akeno beristirahat di sofa Desi masuk kekamarnya berganti baju. Baju tidur berbahan sutra jadi pilihannya.


Akeno masih duduk sembari terpejam, sedang Desi menatapnya dengan penuh binar di depannya. Garis wajah yang sangat sempurna yang dimiliki Akeno. Membuat mata wanita manapun tak rela berpaling darinya.


Sudah hitungan tahun dia meninggalkan Akeno, berharap mampu melupakan rasa cintanya. Tapi nyatanya hatinya masih saja bergetar hebat saat mata setajam elang itu menatap kearahnya.


"Sudah berapa menit?" suara berat Akeno mengejutkan Desi. Mata tajamnya perlahan terbuka dan menatapnya lekat.


Seketika gugup melanda relung hati Desi. "Hampir satu jam..."


"Hah! Waktu yang cukup untuk melakukan berbagai macam gaya sebelum pelepasan. Bukan begitu Desi?" ucapnya sembari berdiri, membenahi jasnya yang sedikit lusuh lalu menatap lekat manik hitam Desi. Seperti menghipnotis Desi mengangguk, dia tau maksud ucapan Akeno. Setidaknya waktu istrahat Akeno barusan membuat orang diluar sana menebak-nebak apa yang terjadi dalam satu jam tadi.


"Kemari," ujar Akeno pada Desi yang berada lumayan jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Tampak dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


"Pakai ini."


Dengan dahi berkerut Desi mengambil kotak bludru dari tangan Akeno. Membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berliontin berlian, sangat indah.


"Ini untukku?" tanyanya penuh binar.


"Seseorang memberiku hadiah ini. Dia berharap dengan benda ini bisa menguak identitas wanitaku. Bukankah sesuai dengan tujuanmu?" jelas Akeno dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Apa ini salah satu syaratmu membantuku." tebak Desi. Akeno membalasnya dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Aku pulang dulu sudah larut dan pastikan kaumemakainya." ujar Akeno sembari melangkah pergi. Sementara Desi mematung di tempatnya menatap benda pemberian Akeno di tangannya.


Di kamarnya Desi terlihat bimbang. Dia sudah berpikir kalau Akeno tak mungkin menyetujui dengan mudah keinginannya. Kini dia bagai memakan buah simala kama. Di telan dia mati tak di telan dia pasti mati.


"Baiklah Akeno, anggap saja aku berjudi denganmu. Aku harap di detik terakhir kau bersedia menolongku." gumamnya sembari memasangkan kalung ke lehernya.


Sementara Akeno langsung pulang ke hotel. Dia sudah sangat rindu dengan Gresia. Kemarin seharian dia sangat sibuk sampai tak sempat menghubungi istrinya.


Sembari melepas jasnya dia melakukan panggilan vedeo pada Gresia.


"Sedang apa?" tanya Akeno begitu panggilannya terhubung. Sementara dia terlihat sibuk membuka kancing kemejanya menghadap ponsel yang dia taruh di atas nakas menghadap kearahnya.


"Baca berita panas suamiku!" sahut Gresia ketus. Akeno yang sedang membuka kancing bajunya seketika berhenti.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Akeno dengan mata menyipit. Gresia mencibir, iris kelabunya mengintip kemeja suaminya yang sedikit terbuka mengespos dadanya yang terlihat ketat berotot.


"Gres, aku bertanya padamu."


"Aku bilang, suamiku menemukan sikembar lain di kota C!"


"Si kembar? Siapa dia?"


"Cih! Bukankah dia favorit mu?"


"Gres, kau kenapa? Kesambet."


Akeno mendekat ke ponselnya menatap lekat wajah cemberut Gresia. "Lima hari lagi aku pulang. Sabar ya." Bujuknya dengan suara lembut. Gresia mengangguk patuh walau pasang muka masam. Dia sudah berjanji dalam hati takkan mencampuri kehidupan Akeno diluar sana. Akeno memperlakukan dia dengan baik baginya itu lebih dari cukup. Tapi kenyataannya berbeda. Tadi saat dia melihat berita Akeno dan seorang disainer ternama di beranda sosial media miliknya hatinya panas bak terbakar api.


"Bagaimana harimu di tempat kerja?"


"Baik."


"Mereka tidak menyulitkanmu kan?"


"Tidak. Lagi pula kak Barry selalu membantuku."


"Barry?" tanya Akeno dengan kening berkerut.


"Iya. Dia karyawan lama, baik tampan dan masih jomblo lagi," jelas Gresia dengan senyum menawan.


"Hah! Baik,tampan? Kau niat kerja apa cari suami?!"


"Kerjalah! Bukankah aku sudah punya suami,"sahutnya dengan suara rendah di ujung kalimat.


"Lalu tadi itu apa?"


"Yang mana?"

__ADS_1


"Memuji-muji si breng sek Barry!"


"Dia gak breng sek..."


"Aku bilang breng sek ya brengseng!" umpat Akeno sengit. Dadanya naik turun menahan gemuruh yang meledak-ledak di dadanya. Netranya menatap lekat wajah Gresia yang berpaling dari kamera ponselnya. Entah mengapa dia sangat marah saat Gresia memuji pria lain di depannya.


Apa bagusnya Barry!


"Gresia maaf, hari ini aku terlalu lelah." ucap Akeno begitu dia bisa menguasai dirinya kembali. Perlahan Gresia menatap penuh kelayar ponselnya. Menatap lembut wajah tampan Akeno. Suami yang telah menumbuhkan rasa cinta dihatinya. Dia paham kesulitan Akeno dan dia tak ingin egois. Selain itu dalam lubuk hatinya dia mempercai Akeno sepenuhnya.


"Tapi kak Barry memang imut," lirihnya dengan mimik manja. Akeno yang sudah mereda kini gemuruh lagi. Belum sempat Akeno mengumpat Gresia terkikik geli.


"Gresia kau mengejaiku?"


"Tidak. Tapi kak Barry memang baik. Tapi lebih baik suamiku." Sahutnya pelan.


Mendengar itu Akeno tertawa pelan. "Dasar penjahat kecil."


"Tunggu kau bilang tadi sikembar. Siapa dia?" tanya Akeno penasaran. Dia tak merasa pernah bertemu sikembar apa lagi sampai mengenalnya.


"Tunggu sampai pulang, baru aku kasih tau."


"Hey ayolah. Jangan membuatku pensaran." desak Akeno.


"Sabar ya sayang tinggal lima hari lagi," ucap Gresia dengan gestur manja. Akeno membulatkan matanya apa lagi saat Gresia dengan sengaja mengigit bibir bawahnya. Bibir basah nan merekah itu terlihat begitu seksi saat tergigit. Membuat jantungnya berdegup kencang.


"Hey apa yang kau lakukan?" sentak Akeno saat gestur Gresia semakin menggila, seksi dan sensual.


"Apa? Suamiku bagaimana kalau aku membuka bajuku?" lirihnya sembari bergerak melepas kancing piyamanya. Akeno terperanjat kaget.


"No.No no no! Gresia jangan lakukan itu! Aku tidak akan tahan melihat itu. Apa kau berniat menyiksaku?!"


Gresia menghentikan gerakannya dengan wajah cemberut. Iris kelabunya menatap sayu wajah Akeno.


"Sh it!" umpatnya kalang kabut. Melihat geliat manja istrinya membuat hasratnya meronta.


"Baiklah, aku akan menunggumu pulang. Tapi awas kalau sampai kau berani macam-macam disana." Ancam Gresia dengan mimik Serius.


Akeno menarik napas ringan. "Dasar bandit. Setelah merayuku kau ingin lari?"


"Mau gituan juga jauh kan.."


Akeno terkekeh mendengar kata gituan dari Gresia."Gituan apa?"


"Tau, ah." wajah Gresia seketika bersemu merah. Dia yang memancing Akeno tapi dia yang malu sendiri.


Akeno tersenyum simpul. "percayalah padaku, semua yang ku lakuakan disini hanya sebatas pekerjaan. Tidak lebih." ujarnya meyakinkan.


Gresia mengangguk patuh. Tiba-tiba dia merasa tujuh hari terasa begitu lama berpisah dari akeno.

__ADS_1


To be continuous


__ADS_2