
Dengan mengendap endap dua pengawal Akeno membawa teman Gresia keluar dari perkebunan teh.
Adrian memandang Gresia dengan perasaan tak menentu. wajah cantiknya terlihat pucat, darah mulai merembes melewati baju hangatnya.
"Aku akan membuka baju hangatmu nyonya, luka mu harus di ikat agar darah tak banyak keluar." ujar Adrian. Gresia mengangguk patuh. Dia dapat merasakan darah merembes di bajunya, terasa sangat dingin.
Perlahan dia melepas baju hangat Gresia, menyisakan kemeja berwarna marun berbahan satin, yang masih melekat di tubuh nyonyanya.
"Nyonya harus membuka kancing kemeja nyonya, agar aku bisa melihat lukanya." titah Adrian lagi. Gresia tampak tertegun ragu, membuka kancing bajunya, itu berarti Adrian akan melihat bahunya.
"Nyonya harus melakukannya. Aku harus menyumbat lukanya agar nyonya tak kehabisan darah. Kita tidak tau, kapan kita bisa keluar dari tempat ini." ujar Adrian berusaha meyakinkan Gresia.
Gresia memiringkan tubuhnya, lalu perlahan membuka sebagian kancing bajunya, menarik kebawah kemejanya tepat di bagian lukanya.
Adrian merobek ujung kemejanya, lalu membalutkan seperti perban pada luka yang terus mengeluarkan darah.
Luka Gresia tidak terlalu berbahaya, kalau saja cepat di tangani. Sayangnya keberadaan mereka saat ini sungguh tidak menguntungkan. Gelapnya malam membatasi penglihatan mereka, sementara musuh sudah pasti dapat membaca gerak mereka melalui alat pemindai panas tubuh. Tidak tau kapan bisa keluar untuk menangani luka Gresia.
Adrian menunggu sekitar dua puluh menit, baru melakukan pergerakan. Dengan isyarat tangan, Adrian meminta dua orangnya mengawasi sekitar. Suasana alam yang sudah mulai beranjak malam, membatasi penglihatan mereka.
Tapi Adrian yakin bagi lawan tidak demikian.
Mereka jalan mengendap endap di rimbunnya pepohonan teh. menuju ke arah luar, tapi baru beberapa meter, terdengar lenguhan kesakitan dari salah satu dari mereka.
"Ada apa?" tanya Adrian dengan suara berbisik.
"Aku tertembak tuan."
"Oh ****! Bagaimana lukamu?"
"Tidak parah tuan."
"Baguslah, sepertinya kita tidak bisa keluar malam ini. Kembali ke dalam tapi jangan ke tempat semula." titah Adrian.
Saat mereka berjalan mengendap-endap diantara rimbunnya pepohonan teh. Beberapa kali musuh menembaki mereka, tapi untungnya tembakan mereka tidak ada satupun mengenai sasaran.
Musuh terus merangsek, mendesak mereka masuk ke tepi hutan. pada saat ingin memasuki tepian hutan tak sengaja Adrian masuk ke dalam kubangan air yang tidak terlalu dalam, hanya sebatas betis orang dewasa.
"Buka baju hangat kalian, celupkan ke dalam air." titah Adrian.
Dengan cepat kelima anak buahnya mencelupkan baju dinginnya ke dalam air. Mereka tahu tujuannya mencelupkan baju ke dalam air agar panas tubuh mereka tidak terdeteksi oleh alat yang dimiliki musuh.
Batas antara hutan dan pohon teh yang menyisakan lahan kosong bersih, cukup luas. Sangat menguntungkan Adrian dan anak buahnya.
__ADS_1
Mereka lebih dulu masuk ke dalam hutan mengambil posisi dan mengawasi gerak musuh yang keluar dari lebatnya perkebunan teh.
Hanya hitungan menit Adrian sudah dapat melihat pergerakan mereka. Kini posisi berbalik, keuntungan ada di pihak Adrian, mereka dengan leluasa mengawasi gerak lawan.
Tiga dari lima orang musuh dapat dijatuhkan oleh mereka, sisanya kembali masuk ke perkebunan teh.
Adrian bisa sedikit bernafas lega setidaknya dia bisa mengulur waktu sampai bantuan datang.
Adrian membawa Grecia sedikit masuk ke dalam hutan. Sementara anak buahnya berjaga di tepian hutan mengantisipasi kalau-kalau musuh datang lagi.
Tubuh Gresia sudah sedingin es, darah masih saja merembes dari luka di bahunya.
Adrian mengambil beberapa dahan dan ranting lalu mulai membuat api untuk menghangatkan tubuh Gresia.
"Nyonya aku akan mengganti perban mu lagi." ujar Adrian, sembari kembali mengoyak sebagian kemejanya bagian bawah.
Gresia mengangguk setuju, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Bahunya terasa sangat sakit. Tapi dia tak berani mengeluh.
Dengan cekatan Adrian menganti perban Gresia. Dengan cahaya dari api yang dia buat dia bisa melihat luka Gresia. Luka nya cukup parah, kalau malam ini Gresia belum bisa ditangani, Adrian khawatir lukanya meradang.
Gracia duduk di samping api untuk menghangatkan tubuhnya, sementara baju hangatnya digantung oleh Adrian di dekat api agar kering.
"Nyonya aku harus melihat situasi di sekitar sini. Tidak apa kan, nyonya aku tinggal sendiri." ujar Adrian sembari menatap Gresia. Gresia mengangguk pelan.
Adrian meninggalkan Gresia, dia berkeliling sembari berusaha menghubungi Akeno. Dia mengiri Akeno pesan secara terperinci tentang kejadian yang menimpa mereka.
"Di sana, dekat api unggun. Apa kau ingin bicara dengannya?" tanya Adrian, netranya menatap Gracia yang berada cukup jauh di depannya.
"Hmmm."
"Baiklah tunggu sebentar." sahut Adrian, kemudian berjalan kearah Gresia.
"Nyonya tuan ingin bicara." ujar Adrian begitu sampai di depan Gresia.
Gresia yang sedang duduk memeluk lututnya menengadah menatap Adrian.
"Akeno?" tanya Gresia dengan mata berkaca kaca. Adrian mengangguk pelan, sembari menyerah kan ponselnya pada Gresia.
Gresia menerima ponsel Adrian dengan tangan gemetar. Mendengar nama Akeno, mendadak hatinya menjadi sangat rapuh. Air matanya menetes tak bisa di bendung lagi.
Akeno merubah panggilan menjadi panggilan Video. Walau hanya di terangi oleh cahaya api, Akeno bisa melihat dengan jelas buliran bening di pipi Gresia. Netranya memindai wajah pucat di depannya dengan perasaan sakit.
Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh amarah saat melihat wajah istrinya yang terlihat kuyu dengan beberapa luka goresan. Pemandang ini membuat Akeno benar-benar prustasi.
__ADS_1
"Maaf sayang, kau harus mengalami kejadian ini." ujar Akeno dengan suara bergetar.
"Bertahanlah sampai bantuan datang," ucap Akeno lagi. Gresia hanya mengangguk pelan. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya air mata yang terus menetes sembari menatap wajah Akeno.
"Nyonya kita harus mengakhiri panggilan. Daya di ponsel tidak banyak." terdengar Adrian mengingatkan Akeno dan Gresia.
Akeno berdecak kesal, tapi dia tidak punya pilihan. terlalu bahaya kalau ponsel Adrian mati. Anak buahnya akan kesulitan menemukan keberadaan mereka.
Akeno memandang wajah istrinya dengan perasaan tak menentu. Dengan jarinya dia menyentuh layar ponselnya yang menampilkan wajah kuyu Gresia.
"Jangan takut, Adrian akan menjaga mu." lirih Akeno. Dia sendiri tak tau, harus berkata apa di situasi begini. Pikirannya kacau, hatinya penuh dengan kemarahan.
Gresia kembali mengangguk, sebelum Akeno memutus panggilan. Begitu panggilan terputus, Gresia menangis kencang. Rasa sakit, takut, juga rindu membuat dadanya sesak tak terbendung. Dia tak perduli dengan Adrian. Dia hanya ingin melampiaskan rasa yang menghimpit dadanya, dengan menangis.
Sementara Adrian hanya berdiri kaku di tempatnya. Tak tau harus apa, suara isak tangis Gresia terdengar pilu di telinga nya.
Setelah membiarkan Gresia menangis cukup lama, Adrian datang mendekat. Menyodorkan sapu tangan miliknya pada Gresia.
"Nyonya, maaf ini salahku. Harusnya aku lebih teliti lagi memeriksa tempat ini." ujar Adrian penuh penyesalan.
Gresia mengangkat wajahnya, menatap wajah Adrian yang berdiri tegak di depannya.
"Ini bukan salahmu. Akulah yang salah, harusnya aku mendengarkan ucapan kalian." sahut Gresia penuh sesal. Dia benar-benar menyesal tak mengindahkan ucapan Akeno dan Adrian. Selama ini dia pikir Akeno yang terlalu paranoid.
"Nyonya bersabarlah sebentar, bantuan sedang menuju kesini." ujar Adrian lagi. Gresia mengangguk, sembari tersenyum.
Satu jam, kemudian bantuan datang. Seperti perintah Akeno, malam ini mereka tetap tinggal di hutan. Akan bahaya membawa Gresia keluar dalam keadaan minim penerangan begini. Jadi pasukan di siagakan di sekeliling Greesia.
Setelah mendapatkan perawatan dari tim medis yang datang berasama pasukan Akeno. Gresia beristirahat di dalam tenda.
Mungkin pengaruh obat tidur yang di berikan saat dia di obati. Gresia tertidur dengan tenang hingga matahari terbit di pagi hari.
Gresia merenggangkan tubuhnya yang terasa ngilu semua. Lalu perlahan membuka matanya. Dia tertegun saat melihat wajah Akeno tengah menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Sudah bangun?" suara baritonya terdengar sangat seksi.
Jantung Gresia berdetak kencang, mimpikah dia? Tidak aroma ini jelas milik Akeno.
"Sayang, benarkah ini dirimu?" tanya Gresia dengan mata berkaca kaca.
Akeno mengangguk sembari tersenyum. "Hmmm." gumamnya lalu merengkuh tubuh Gresia erat. Membelai rambut panjangnya dengan tangan gemetar, tak terbayang olehnya andai saja bidikan mereka tak meleset.
"Maaf sayang." gumamnya lirih. Gresia tak menyahut, hanya isak tangis yang terdengar. Bukan tangisan ketakutan seperti tadi malam, tapi tangis bahagia dia masih memiliki kesempatan berjumpa dengan suaminya.
__ADS_1
Akeno sendiri malam itu memutuskan terbang kenegaranya menggunakan jet pribadi. Urusan di negara A, dia serahkan pada Baskoro.
Bersambung