Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 44


__ADS_3

Desi mengerjab berulang kali menetralkan pandangannya yang masih berkabut. Nuansa gelap pada ruang yang dia tempati membuat Desi mengernyitkan alisnya, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi semalam dan dia berada dimana saat ini. Tapi pusing akibat mabuk dan pengaruh bius membutnya tak bisa berpikir.


Cukup lama dia berbaring karena pusing di kepalanya yang terasa begitu kuat. Tapi kemudian dia cepat menarik tubuhnya keposisi duduk saat kuci kamar terbuka dari luar.


Ceklek!


Seorang pria bertubuh kekar datang membawa pakaian juga nampan berisi sarapan pagi. Dengan wajah kaku pria itu meletakkan nampan berisi sarapan di atas nakas.


"Makan dan bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi tuan akan menemuimu. " Titahnya. Setelahnya dia pergi meninggalkan Desi yang diam terpaku di tempatnya.


"Tunggu!"


Pria itu sudah menyentuh handle pintu henda menutupnya tampak berhenti dan berbalik menatap Desi.


"Kalian siapa? Dan ini ada dimana?" tanya Desi hati-hati.


Pria itu tak menyahut hanya memberi Desi tatapan tajamnya sebelum keluar dan menutup pintu.


Desi menarik nafas dengan kasar. Pertempuran yang sebenarnya kini benar-benar terjadi. Dia berharap Akeno menyelamatkannya tepat waktu. Keinginannya bebas dari keluarga Kenzo membuatnya harus berjudi dengan nyawanya sendiri. Tapi hidup tanpa kebebasan dan selalu dalam tekanan seperti budak tahanan. Sama saja seperti jasad tanpa nyawa.


Desi bangun lalu membersihkan diri sebelum memulai sarapan pagi. Dia butuh banyak energi guna menghadapi musuh Akeno nanti.


Desi sudah selesai sarapan saat pintu kamarnya kembali terbuka. Lelaki yang tadi datang lagi, kali ini dia datang tak sendiri. Dia datang bersama Lelaki paruh baya dengan wajah oriental, yang mirip dengan Akeno.


"Bagaimna tidurmu?" Tanyanya dengan ekspresi datar. Pria bertubuh tinggi disampingnya menarik kursi kecil lalu meletakkannya di dekatnya. Pria itu duduk dengan Arogan.


Desi menarik nafas dalam, netranya memindai lelaki paruh baya di depanya. Musuh dalam selimut Akeno kini berada di hadapannya. "Tidurku sangat nyenyak berkat obat bius dari tuan. " sahut Desi dengan seringai.


Lelaki itu tertawa sinis. Melihat tidak ada gurat ketakutan di wajah Desi dia memuji Akeno dalam hati. Bahwa dia pandai memilih wanita menjadi pendampingnya. Wanita Akeno haruslah bermental baja dan tidak kenal rasa takut. Sebab dunia Akeno bukan hanya hitam dan putih tapi juga abu-abu.


"Baru hilang beberapa jam. Akeno sudah kelimpungan. Lelaki seperti dia harusnya tak menyandarkan hatinya pada wanita manapun." celoteh pria itu mencibir Akeno.


"Lalu harusnya seperti apa, seperti keluargamu? yang memperlakukan wanita seperti budak" Desi gantian mencibir lelaki itu. Dia memang tak mengenal pria ini tapi dia yakin kalau dia adalah paman Akeno.


"Hahaha.. kau sungguh cerdas. Itulah kenapa keluarga kami masih utuh hingga sekarang. Wanita itu cuma penghalang. Mungkin kau merasa beruntung bisa mencintai Akeno yang lebih mementingkan wanitanya. Tapi sayang sepertinya Akeno akan hilang seperti ayahnya, yang jatuh oleh pesona wanita. "


"Ayahnya? Ooo jangan bilang hilangnya mertuaku juga karena ulah keluargamu. " tebak Desi dengan wajah tegang.


"Mertua. Hahaha aku suka ambisimu. Dengar baik-baik sebelum aku membuatmu menjadi gila. Kecelakaan mereka adalah hasil dari kerja kerasku. Aku memikirkan detailnya agar sempurna sampai otak ku hampir mendidih. Dan hasilnya sangat sempurna. Bahkan tuan besar saja tak menemukan satu bukti pun mengarah padaku." ucapnya jumawa.

__ADS_1


"Kau manusia yang sangat kejam. Demi harta sanggup membunuh saudara kandungmu sendiri!" umpat Desi dengan wajah memerah.


Pria tua itu terkekeh,Dia tak mengindahkan ocehan Desi, kini netranya nyalang memindai lekuk tubuh Desi. Jakunnya bahkan terlihat naik turun menelan salivanya. Membuatnya begidik ngeri.


"Kau keluarlah. " Titahnya pada pria bertubuh kekar di sampingnya. Sementara dia sudah berdiri dan melangkah menghampiri Desi. Melihat itu Desi refleks berdiri dan beringsut menjauh. Tapi tubuhnya terbentur dinding kamar dan tak bisa bergerak lagi.


"Berbagi kehangatan dengan keponakan aku rasa akan sangat menyenangkan bukan?" ucapnya dengan seringai dibibir hitamnya.


"Tua bangka tak tau diri!" umpat Desi dengan wajah memerah karena marah.


Hikaru tak perduli umpatan Desi. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan menyiksa mental Desi.


Pria paruh baya ini masih memiliki tubuh yang gagah dan terlihat masih sangat bertenaga. Akan sulit bagi Desi melawannya dengan tangan kosong. Sembari mengawasi pria tua itu yang terus mendekat. Desi mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata untuk melawan.


Tapi sayangnya Desi tak menemukan apapun di dekatnya. Sementara tangan Hikaru sudah terangkat ingin meraih tubuhnya. Desi meringkuk berusaha melindungi bagian tubuh yang mampu dia lindungi.


Tepat saat pria itu menyentuh pundak Desi, pintu kamar terbuka lebar. Pria yang tadi di minta Hikaru keluar datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa?!"


"Tuan, gudang di selatan baru saja di bakar orang. " ucapnya.


"Belum jelas kejadiannya tuan. Karena kejadiannya baru saja terjadi, mereka juga terdengar sibuk memadamkan api."


"Bodoh!" Umpatnya lalu pergi meninggalkan Desi. Begitu kamar itu tertutup dan terdengar suara terkuci dari luar, tubuh Desi pun luruh di atas lantai. Tubuhnya gemetar ketakutan, bulir bening yang sedari tadi dia tahan melesak berebutan keluar dari sudut matanya.


Dengan tangan gemetar dia menyentuh liontin di lehernya. "Akeno aku mengandalkan mu. " bisiknya lirih.


Sementara itu, di sudut kota di markas milik Akeno. Tampak Akeno duduk menghadap layar monitor berdia meter lumayan lebar yang terpaku di dinding ruang.


"Apa yang kalian dapat?" tanya Akeno pada lelaki bertubuh tinggi tegap dengan tato memenuhi sekujur tubuhnya. Sedikit membungkukkan tubuh dia menyerahkan beberapa dokumen penting pada Akeno.


"Ini beberapa bukti keterlibatan tuan Hikaru dalam pengiriman barang di pelabuhan kota C. Barang itu saat ini dalam pengintaian pihak berwajib, seperti yang tuan inginkan. "


"Bagus. Lalu bagaimana dengan gudangnya yang terbakar? Apa dia sudah terlihat di tempat kejadian?"


"Belum tuan, tapi sepertinya dia sedang menuju kesana. Orang kita yang berada di sekitar nona Desi melaporkan dia sudah meninggalkan Vila itu. "


"Bagus, jalankan sesuai rencana. Kalau ada yang di luar kendali hubungi aku secepatnya. " titah Akeno sebelum pergi meninggalkan markas.

__ADS_1


Sementara di tempat lain Hikaru mencak-mencak tidak karuan menghardik anak buahnya yang berhasil di lumpuhkan oleh pihak lawan.


"Kau yakin mereka bukan anak buah Akeno?!"


Lelaki yang tampak babak belur sekujur tubuhnya itu tampak mengangguk. "Saya yakin bukan tuan. Saya melihat seragam mereka seperti... "


"Apa? akatakan!"


"Pasukan malam tuan. "


"Omong kosong! Kita tidak pernah bersinggungan dengan mereka, bagaimana mungkin mereka yang melakukan pembakaran. "


"Maaf tuan. Itu hanya dugaan bisa saja salah. "


Hikaru tampak diam, kemudian kembali berkeliling memeriksa sisa sisa kebakaran. Tapi sepertinya tak ada yang tersisa kecuali abu dan beberapa barang yang sudah berubah menjadi arang.


"Mereka memakai bahan pemicu api tuan. Makanya api sangat sulit kami padamkan. " jelas anak buah Hikaru.


"Itu karena kalian yang bodoh sampai bisa kecolongan. Aku tidak penting berapa kerugiannya yang penting bagiku saat ini, tangkap dalangnya seret dia ke hadapan ku. "


"Baik tuan. "


Hikaru berdecak kesal. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Barang yang terbakar ini adalah milik konsumennya yang telah membayar uang muka. Mereka tidak mau tau apa pun yang terjadi barang harus sampai sesuai hari yang telah di sepakati.


Sebenarnya kecurigaannya tertuju pada Akeno. Dia menduga ini semacam sabotase yang dilakukan Akeno, karena dia telah menyandra kekasihnya. Tapi tak satu pun bukti mengarah padanya. Hal ini membuat Hikaru prustasi.


Ruang kerja Akeno masih terlihat terang benderang padahal saat ini sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia memutuskan untuk pulang ke mansion karena menurut anak buahnya sasat ini Hikaru tidak berada di vila tempat Desi di sekap.


Tak berapa lama ponselnya berdering nyaring. Ternyata panggilan suara dari Sammy.


"Doakan kami. Barang Hikaru sudah meninggalkan pelabuhan. " terdengar suara Samy memberi tahu.


"Apa perlu aku susul?"


"Tidak, kau konsentrasi saja di sana. "


"Baik semoga berhasil. "


Bersambung lagi mak 🙏🙏🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2