
Masih sangat pagi, baru pukul lima dini hari. Gresia tampak sedang bersiap, menyusun beberapa keperluan untuk di kemas kedalam koper.
"Jangan lupa baju hangat sayang, udara di puncak sangat dingin." terdengar suara Akeno mengingatkan. Ternyata mereka sedang melakukan panggilan video. tampak Akeno mengawasi gerak-gerik istrinya yang tengah bersiap.
"Iya sudah sayang," sahut Gresia sembari menatap ponsel yang berada di depannya.
"Benar tidak ada laki-laki kan, yang pergi?" tanya Akeno, sudah entah yang ke berapa kali nya. Gresia mengulum senyum.
"Ada sayang." sahut Gresia sembari memasukkan beberapa Pasang kaos kaki ke dalam koper. Wajah Akeno terlihat murka.
"Kalau begitu Jangan pergi! bukannya kemarin bilang tidak ada laki-laki yang ikut?!" seru Akeno meradang.
Gresia menutup kopernya, kemudian beralih menata ponsel di depannya. "Mana bisa begitu. Bukannya semalam sayang sudah mengijinkan aku pergi?"
"Benar aku mengizinkan, tapi dengan syarat tidak ada laki-laki yang pergi dengan kalian. Kalau tahu ada laki-laki yang pergi dengan kalian. Mana mungkin aku memberi izin." omel Akeno dengan suara sedikit meninggi.
Melihat wajah marah Akeno, Gracia terkekeh dia hanya sedang mengerjai suaminya. Tidak ada laki-laki yang pergi dengan mereka kecuali pengawal Akeno juga sopir.
"Kenapa tertawa?" tanya Akeno dengan wajah ditekuk.
"Sayang kamu tampan kalau marah," goda Gracia dengan kerlingan manja.
"Jangan merayuku, kau tetap tidak boleh pergi!" tegas Akeno.
Grecia kembali terkekeh. "Oh Ayolah sayang, tanpa pria kami tidak akan bisa pergi." rengek Gresia manja.
Akeno membulatkan matanya menatap Gresia, ucapan macam apa itu! . "Hhh! Kau bilang apa? Kau ingin aku membunuh mereka?!" ancam Akeno dengan wajah bengis.
Gresia mendekatkan wajahnya di depan kamera. "Kalau begitu, sayang akan repot mencari sopir dan pengawal pribadi baru," sahut Gresia dengan kerling nakal.
Akeno berdecih kesal, bisa-bisanya Gresia mengerjainya. Hatinya benar-benar panas saat mendengar celoteh Gresia tadi. Dia bahkan, benar-benar berniat menghabisi lelaki yang lancang berani berlibur dengan istrinya.
"Apa terasa begitu bahagia menjahiliku?" sungut Akeno. Gresia terbahak, tentu saja rasanya begitu senang. Siapa suruh dia malah pergi ke negara A saat liburan begini. Tidak bisakah dia menghabiskan waktu bersama Gresia.
"Maaf sayang," ucap Gresia dengan mimik manja, matanya terlihat berair karena tawanya tadi.
__ADS_1
"Saat aku kembali, kau pasti akan menerima hukumanmu sayang." geram Akeno sembari menatap Gresia gemas.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu." tantang Gresia, sembari menggigit bibir bawahnya, begitu seksi.
Melihat itu, bola mata hitam Akeno membulat. "Jangan lakukan itu dekat lelaki lain sayang."
Ahh, dasar Akeno. Posesif nya kumat lagi. "Baiklah sayang, aku hanya memperlihatkannya cuma padamu."
"Bagus. Sayang, aku sudah harus pergi rapat. Jaga dirimu di sana, ingat di sana sangat dingin, gunakan selalu baju hangatmu. Satu lagi jangan macam-macam."
"Iya sayang."
Akeno menganghiri panggilannya, setelah meminta Gresia melakukan ciuman di udara.
Tepat pukul tujuh rombongan berangkat ke puncak. Ada sepuluh mobil yang pergi. Tiga diantaranya adalah mobil penggawal yang di siapkan Akeno, selebihnya mobil teman kampus Gresia.
Kemacetan yang sangat panjang terjadi menuju puncak. Biasalah saat libur begini, banyak yang memilih puncak sebagai tujuan liburan mereka. Tempatnnya yang asri dengan udara yang masih segar sangat cocok di nikmati bersama keluarga.
Perjalanan yang harusnya bisa di tempuh dengan waktu dua jam. Molor jadi empat jam.
Lelahnya jangan di tanya lagi, berada di mobil selama berjam-jam tanpa bisa melakukan apapun itu sungguh melelahkan. Adrian sudah mengusulkan agar mereka membawa mobil yang biasa di pakai Gresia, agar pernjalanan terasa lebih nyaman. Di mobil itu dia bisa rebahan atau bahkan tertidur pulas hingga ke tujuan. Tapi Gresia menolak ide itu, dia hanya tak ingin jadi pusat perhatian karena mobil mewahnya, yang hanya mampu di beli oleh segelintir orang saja di kota ini.
Melihat dari tata ruang Vila ini, Adrian meminta Gresia menempati kamar di lantai bawah. Selain mudah di awasi, itu juga untuk antisipasi mudahnya evakuasi pada keadaan darurat.
Setelah menyusun barang bawaan, Gresia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia baru bangun saat Adrian membangunkannya untuk makan siang.
Saat makan siang, ada sedikit kehebohan di meja makan. Beberapa pengawal Gresia yang berwajah tampan menarik perhatian gadis-gadis muda itu.
Tapi sayang, tingkah genit mereka sama sekali tak mampu mencairkan sikap dingin para pria bertubuh kekar itu.
Sorenya, Ayana membawa mereka ke perkebunan teh di dekat Villa. Suasana pedesaan, dengan hamparan tumbuhan hijau sungguh memanjakan mata.
Seperti orang desa yang pergi kekota, takjub melihat bangunan mewah. Begitulah mereka, takjub dengan pemandangan alam yang maha indah.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, tapi mereka enggan beranjak pulang. Pemandangan langit sore sepertinya telah membius mereka untuk tinggal.
__ADS_1
Saung beratap rumbia, berukuran cukup luas jadi tempat mereka berteduh, bercengkrama sembari menikmati keindahan langit sore.
"Nyonya, hari mulai gelap sebaiknya kita kembali ke Villa." suara berat Adrian menghentikan obrolan mereka.
Ketujuh gadis berparas cantik itu serempak menatap ke arah Adrian, wajahnya yang tampan sontak membius gadis-gadis cantik itu.
"Tuan Adrian, aku rasa ini belum terlalu malam. Kenapa tuan tidak bergabung saja dengan kami." Maya yang sedari tadi sudah tertarik dengan Adrian, angkat bicara.
Adrian mengangguk sopan pada Maya. "Maaf Nona, Nyonya Gracia harus segera kembali ke Villa. Saya kira kita masih punya waktu tiga hari untuk Menikmati keindahan alam di sekitar sini." tegas Adrian. Sepertinya tidak mau berkompromi.
Melihat itu Gracia langsung menengahi. "Aku kira Adrian benar, kita masih punya waktu dua hari untuk Menikmati keindahan Puncak, ayo kembali ke Villa." ajak Gracia sembari beranjak bangkit.
Para gadis terlihat pasang wajah kecewa. Adrian benar-benar telah memikat hati para gadis cantik ini.
Para gadis ikut bangkit dari saung, menikmati suasa malam di tengah-tengah kebun begini tanpa pria, tak kan terasa indah.
Melihat raut wajah kecewa Maya, Gresia tersenyum. Dia mendekati Maya, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Maya. "Besok aku akan memberi mu kesempatan bersama Adrian, bagaimana?" mendengar itu mata Maya tampak berbinar indah.
"Hey aku juga mau," sela Ayana dengan berbisik. Kemudian ketiganya tertawa renyah.
Sepersekian detik kemudian terdengar jeritan kesakitan dari bibir Gresia. Tubuhnya tumbang kebelakang, membentur dinding saung.
"Nyonya!" jerit Adrian sembari menghambur ke arah Gresia. Mendadak suasana jadi kacau.
Mereka berjongkok di sisi Gresia dengan tubuh gemetar. Sementara Adrian memeriksa tubuh Gresia. Sepertinya dia terkena luka tembak di sekitar bahu.
Benar saja, bahu Gresia yang tertembak. Adrian meneliti keadaan sekitar, sudah gelap. Tapi sipenembak masih bisa membidik Gresia. Jelas pelakunya seorang penembak jitu.
Adrian memberi kode pada dua anak buahnya. "Bawa mereka pergi dari sini. Akan sangat berbahaya kalau kita pergi bersama." ujar Adrian mucemberi perintah.
"Tidak Adrian, kami akan tetap bersama Gresia." ucap Ayana.
Adrian menarik nafas dalam sembari menatap Ayana. "Nyonya adalah targetnya, kalian akan aman selagi tidak bersama kami. Akan sangat sulit bagi ku bila harus melindungi kalian semua."
Ayana tampak berpikir, lalu kemudian mengangguk setuju.
__ADS_1
"Sayang, aku harus pergi. Saat kita bertemu, aku harap kau baik-baik saja ya sayang." pamit Ayana sembari mengusap pipi Gresia yang terasa dingin. Gracia mengangguk pelan. "Pergilah." ucapnya.
Bersambung