Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 79


__ADS_3

Dering yang berasal dari tas tangan milik Gracia, terdengar berbunyi berulang kali.


"Nyonya handphone-mu berdering berulang kali, aku rasa tuan yang menelpon." ucap Adrian.


Gresia mengangguk mengiyakan, tapi tetap mengabaikan ponselnya.


Mereka saat ini sedang berada di salah satu restoran apung yang ada di kota A. Sejak seminggu yang lalu Gracia begitu ingin makan makanan yang dimasak oleh restoran apung.


Olahan berbahan dasar ikan segar, jadi ciri khas menu resturant ini. Kita bisa menangkap sendiri atau membelinya pada pihak restauran. lalu meminta mereka memasaknya sesuai dengan yang kita inginkan. Benar-benar menggugah selera.


Gresia sudah melewati masa ngidam yang sangat menyiksa. Kini kehamilannya memasuki pase doyan makan dan ngemil. Tak heran kalau tubuhnya kini mengalami kenaikan berat badan.


Gracia benar-benar menikmati makannya, sampai-sampai dia mengabaikan telepon yang terus berdering.


Tak lama berselang, gantian ponsel Adrian yang berdering.


Adrian merogoh saku jasnya, mengambil benda pipih di dalamnya, kemudian melihat siapa yang menelpon. Dia tersenyum, begitu melihat nama Akeno muncul di layar ponselnya.


"Dimana?" tanya Akeno di sebrang telpon.


"Restauran apung."


"Dia sedang apa?"


"Di sini hanya melayani makan tidak yang lain." sahut Adrian, dengan ada bercanda.


"Aku hanya memintanya menunggu sehari, tapi dia marah memilih pergi denganmu. Tidak sabaran sekali." gerutu Akeno.


"Jangan mengomel padaku, nyonya merengek siang dan malam meminta aku membawanya ke restauran apung. Jadi aku membawanya hari ini." sahut Adrian, sembari menatap Gresia yang ada di depannya.


Gresia makan dengan lahap tanpa peduli percakapan Adrian dengan Akeno. Tak sengaja mata jeli Adrian menangkap noda saus di pipi Gresia. Refleks dia menyeka noda saus di pipi Gresia dengan tisu.


Perlakukan yang begitu lembut, kalau di lihat. Orang bisa salah paham.


Tapi sesungguhnya memang ada yang berbeda pada Adrian. Perlakuannya pada Gresia akhir-akhir ini melibatkan perasaannya yang paling dalam.


Bukan dia tak mencoba menepis perasaan konyol itu. Tapi semakin di tepis, gelombang rasa malah semakin besar menerpa hatinya.


Mungkin Gresia tak menyadari itu, sebab Adrian sudah sangat lama melayani kebutuhannya. Itu juga yang menjadi salah satu faktor timbulnya perasaan terlarang milik Adrian.


Setiap hari dia di hadapkan dengan pesona Gresia. Gresia pernah menangis di pundaknya, juga pernah berlabuh di pelukannya saat mereka terjebak dalam situasi berbahaya. Dia bukan tak profesional, tapi dia juga lelaki normal. Yang memiliki hasrat juga rasa.


Dia sadar, lambat laun Akeno akan mengetahui perasaan ini. Akeno orang yang memiliki kejelian tingkat tinggi di banding orang lain. Dia pasti dapat membaca pikiran Adrian terhadap Gresia. Tapi dia sama sekali tak berniat pergi dari sisi Gresia, sampai Akeno sendiri yang mengusirnya.


Namun rasa yang dia punya tak lantas membuat Adrian tak sadar apa posisinya di samping Gresia. Dia masih lelaki yang paham batasan, hanya saja dia tak ingin meredam perasaannya, dia biarkan rasa itu berkembang dan tumbuh subur di relung hatinya.


"Dia bilang apa?" tanya Gresia, di sela makannya.


"Tuan tanya nyonnya sedang apa?"


"Aku dengar dia mengomel."

__ADS_1


Adrian tertawa. "Hanya sedikit kesal, kenapa nyonya tidak sabaran."


"Dia hanya iri, aku pergi makan dengan mu."


Adrian kembali tertawa, andai dia tau perasaan apa yang dimiliki Adrian. Bukan hanya iri dia mungkin akan membunuhnya.


"Kalau begitu abaikan saja tuan, nyonya bisa makan dengan tenang." ucap Adrian sembari meneguk air dihadapannya.


"Adrian, temanku ada yang ingin berkencan dengan mu."


"Uhuk!"


"Uhuk!"


Kaget dengan ucapan Gresia, Adrian tersedak minumannya sendiri.


"Kau tersedak karena gugup?" tanya Gresia, sembari mengulurkan tisu. Adrian mengangguk.


"Tenang saja dia tidak sepertiku, dia tipe wanita yang sesuai dengan selera kalian." jelas Gresia, tangannya mencubit daging gurame asam manis lalu menyuapnya kemulutnya.


"Kalian?" tanya Adrian dengan mata menyipit


"Iya, kau dan Akeno. Kalian memiliki selera yang sama soal wanita."


Adrian termangu. Benar, mereka bahkan jatuh cinta pada wanita yang sama.


"Memangnya seperti apa selera kami?" pancing Adrian.


"Itu benar seleraku, tapi tidak dengan tuan."


"Sekarang mungkin iya, dulu aku kira begitu."


"Nyonya jangan salah, tuan tidak terlalu peduli dengan wanita. Nyonya adalah satu-satunya wanita yang mendapat perhatian tuan."


"Kau membelanya."


"Tidak, itu kenyataan."


"Anggap saja aku percaya, lalu bagaimana dengan temanku?"


"Aku tidak janji, tapi akan aku pertimbaangkan."


"Itu bagus, jangan terus-terusan bermain dengan sembarang wanita. Aku yakin, kau juga memiliki impian dengan seseorang bukan." ucap Gresia.


Adrian tak menyahut, hanya hembusan nafas beratnya yang terdengar.


Impian dengan seseorang? Jelas dia tidak punya, bukankah sudah jelas siapa orang itu.


"Nyonya sudah selesai?" tanya Adrian, mengalihkan pembicaraan. Netranya memperhatikan gerak Gresia yang sedang membasuh tangannya. Itu salah satu kebiasaan unik Gresia yang di sukai Adrian. Gresia makan dengan mengunakan tangan, saat tidak bersama Akeno.


"Sudah. Akeno bisa ngomel, kalau kita lama-lama di sini." sahut Gresia sambil menyeka tangannya yang basah dengan tisu.

__ADS_1


Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara di belakang mereka, ada dua mobil pengawal mengikuti mereka.


Jarak antara Mansion dengan restoran apung lumayan jauh. Kalau tidak macet memakan waktu satu jam lebih dua puluh menit, tapi kalau macet bisa dua jam lebih.


Adrian tanpak fokus mengemudikan mobil, sementara Gresia sedang melakukan video call dengan Akeno.


"Bagaimana, apa sesuai ekspektasi?"


"Hhhm, lain kali aku ingin pergi dengan sayang."


"Baiklah, aku akan meluangkan waktu."


"Sayang kapan pulang?"


"Besok pagi, aku sudah sampai di mansion. Sayang, untuk sementara berhentilah berselancar di sosial media."


Gresia tertawa, larangan itu bukan tanpa alasan. Restaurant apung, yang dia kunjungi tadi, itu juga berkat sosial media.


"Sayang, kau perhitungan sekali." rengek Gresia dengan suara manja.


"Jangan lakukan itu di dekat Adrian, dia juga pria." protes Akeno dengan tegas.


"Jangan bilang, sayang juga cemburu pada Adrian?"


"Tentu saja, dia pria normal."


"Lalu kenapa dia sayang tempatkan di sisiku."


Akeno mende sah berat. "Tidak ada orang ku sebaik Adrian dalam pengendalian diri."


Gresia menyisihkan ponsel kesamping, lalu beralih memandang Adrian di kursi kemudi.


"Kau dengar itu Adrian."


"Saya mendengarnya dengan sangat jelas, nyonya." sahut Adrian santun, sembari menatap Gresia dari sepion tengah.


Gresia sungguh tidak memahami situasi kedua lelaki itu. Dia hanyalah Gresia yang polos.


Sedangkan Adrian, kedepannya dia harus lebih waspada. Akeno sudah memberinya sinyal, bahwa dia tau segalanya.


"Ingin langsung pulang, atau ingin singgah ketempat lain lag?" tanya Akeno.


"Aku ingin membeli beberapa cemilan yang di jual di tepi jalan."


"Baiklah, tapi tetap di mobil. Biar mereka yang beli."


"Iya aku tau."


"Sudah dulu sayang, aku ada rapat. Mereka sudah menungguku lima belas menit yang lalu."


"Iya sayang, cepat pulang aku rindu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2