Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 60


__ADS_3

Gresia mematut dirinya di cermin. Pakaian yang dia kenakan hari ini mengubah penampilannya menjadi bertambah dewasa. Ini hari pertamanya kuliah, setelah libur kelulusan beberapa waktu lalu.


Akeno telah mengurus segalanya, Gresia tinggal terima bersih saja. Pagi ini Gresia memakai jeans di padu kemeja hitam polos. Terlihat cantik dan seksi. Sayang Akeno tidak bisa melihat betapa cantiknya Gresia pagi ini.


"Nyonya sarapan sudah siap." terdengar suara asisisten rumah tangganya di balik pintu kamar.


"Bentar lagi saya keluar mbak," sahut Gresia sembari menyaut tas ransel di nakas lalu menyarungkan sepatu ke kakinya.


Di meja makan dua Art berusia dua puluh limaan melayani Gresia yang sedang sarapan. Gresia bosan melakukan protes pada Art nya agar tidak memperlakukannya seperti ratu. Tapi tak pernah di indahkan, mereka lebih mematuhi perintah Akeno ketimbang dia.


Selesai sarapan Gresia bergegas pergi bersama Adrian. Pria tampan ini masih setia menjadi asisten pribadinya setelah sekian tahun. Dia juga masih tetap melajang di usianya yang sudah berkepala tiga.


"Nyonya sepertinya sudah sangat siap pagi ini," ujar Adrian sembari melirik nyonya nya dari kaca sepion tengah. Gresia hanya membalas dengan senyum. Bagaimana tidak siap kalau suaminya sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna.


Andrian sekali lagi melirik nyonyanya sebelum focus pada jalananan. Gresia duduk bersilang kaki dengan sangat elegan, dia memang pantas jadi nyonya Akeno. Auranya terbentuk dengan sempurna seiring dengan kebersamaannya dengan Akeno.


Masih seperti dulu, Adrian akan memperlakukan Gresia dengan hormat, membukakan pintu mobil saat Gresia hendak keluar. Pemandangan yang menarik perhatian beberapa mahasiswa yang berada di sana.


Gresia turun dari mobil dengan anggun, gestur nya terlihat bak putri bangsawan. Wajah cantiknya mengundang decak kagum kaum hawa, pandangan mereka tak bisa lepas dari sosok Gresia yang penuh pesona.


Gresia sendiri melangkah masuk dengan acuh kedalam kampus. Baru beberapa langkah dia berjalan suara yang begitu familiar menyapanya.


"Gres!"


Sosok yang dia kenali menghambur kearahnya, memeluk erat tubuhnya.


"Ayana?! Bukannya kamu kuliah ke inggris?"


"Gak ada kamu di inggris, gak seru," sahut Ayana sembari merangkul pundak Gresia yang masih terlihat bengong.


Gresia tersenyum tipis, Ayana pasti bersiteru dengan ayahnya demi bisa kuliah di sini.


"Kau sudah dewasa, kenapa masih saja menyusahkan papamu."


"inggris penuh dengan lelaki tampan, bagaimana aku bisa focus pada materi kuliahku kalau begitu,"


Gresia mendengus kesal, dasar Ayana! "Bukan kah di kepala mu memang hanya berisi pria tampan."


"Itu benar, Akeno idolaku tentunya. Tidak mau yang lain."


Gresia menatap Ayana sembari menarik nafas berat. Masih saja Akeno yang ada di kepala Ayana hingga kini. Andai dia tau siapa Akeno bagi Gresia mungkin dia akan histeris.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya Ayana yang memilih kuliah di kampus ini, Haris juga memilih kampus yang sama.


Lelaki itu langsung menghampiri mereka begitu melihat mereka. "Hay, gak nyangka ya kita satu kampus." sapa Haris, netranya menatap Gresia lekat. Melihat itu Ayana menyenggol bahu Gresia sebagai isyarat. Gresia hanya mengulum senyum.


Bukan hanya satu kampus, Haris dan Ayana ternyata ambil jurusan yang sama dengan Gresia. Bisnis manajemen.


Saat mata kuliah di jam pertama usai, Gresia meninggalkan Ayana diam-diam menuju Bandara. Melalui media online Gresia tau kalau Akeno pulang siang ini. Akeno memang sudah memberi tahu Gresia akan pulang hari ini, tapi jam berapa pastinya Akeno tidak bilang.


Dengan mengenakan topi, masker dan jaket Gresia berdiri diantara orang-orang yang menjemput penumpang. Matanya nyalang menatap pintu keluar dengan jantung berdegup kencang. Hatinya gugup tak karuan nenanti pertemuannya dengan sang suami tercinta.


Lima belas menit kemudian sosok yang di nanti tampak keluar dari pintu kedatangan penumpang.


Gresia bersorak dalam hati, ingin rasanya dia menghambur memeluk tubuh kekar berkaca mata hitam itu saat ini juga. Rindu yang membuncah membuatnya nyaris tak mampu menahan diri.


Gresia melangkah maju menyongsong kedatangan Akeno, jarak mereka masih sangat jauh. Butuh puluhan langkah untuk sampai kesana.


Gresia mengakui pesona Akeno bak magnet di padang besi. Sosoknya mampu menarik perhatian wanita di sekitar nya. Semua mata wanita tertuju padanya, Gresia menduga Akeno satu-satunya lelaki paling tampan di Bandara ini.


Gresia terus melangkah di antara keramaian menuju kearah Akeno. Tinggal belasan langkah lagi Gresia mencapai Akeno, langkahnya mendadak berhenti. Di depannya Akeno juga menghentikan langkahnya.


Bukan menyambut Gresia, tapi berpaling ke belakang menunggu seseorang yang tertinggal oleh langkah lebarnya.


Seorang wanita setengah berlari menarik kopernya kearah Akeno. Begitu tiba di samping Akeno, wanita itu meraih jemari Akeno menggenggamnya erat, Akeno menyambutnya lalu kembali melangkah.


Akeno mengernyitkan keningnya sembari menatap sosok yang berlari menjauh. Walau tertutup jaket dan masker, Akeno mengenali gestur Gresia.


Akeno melepas genggaman tangannya pada wanita di sampingnya. Merogoh ponsel di saku jasnya lalu melakukan panggilan pada Gresia.


Panggilannya masuk, tapi tak diangkat. Satu kali, Akeno masih terlihat tenang, tapi setelah berulang kali panggilannya di abaikan Gresia dia mulai panik.


Akeno menghempaskan tubuhnya dengan kasar di jok belakang moobilnya, setelah sopir menyusun koper nya di bagasi belakang.


Dia kembali menelepon, tapi kali ini bukan Grasia. Dia menghubungi Adrian.


"Ada apa?"


"Di mana Gresia?"


"Di kampus tentunya."


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar," Andrian memutus panggilan untuk memastikan keberadaan Gresia saat ini.


Sementara Akeno menunggu dengan perasaan tak sabar. Lima menit kemudian Adrian melaporkan, bahwa Gresia pergi dari kampusnya sekitar satu jam yang lalu. Mendengar itu wajah Akeno berubah kelam.


Pandangan matanya tadi memang benar, wanita yang di duga mirip Gresia ternyata memang dia.


Dia pasti marah pada Akeno, genggaman lembut tangan Harumi pasti di lihat oleh Gresia. Memikirkan itu membuat Akeno kesal sendiri.


Saking kesalnya mobil pun jadi sasaran kemarahannya. "Apa mobil ini sudah kehilangan kemampuanya?!" bentak Akeno pada sopir pribadinya.


Sopir menatap Akeno melalui kaca sepion tengah dengan tenang. "Maaf tuan, jalanan sangat ramai aku tidak bisa menambah keceparan."


Akeno tak menyahut, dia kembali mencoba menghubungi Gresia tapi sayang ponselnya sudah tidak bisa di hubungi.


"Shiiit!" umpatnya sembari melempar ponselnya ke lantai mobil.


"Akeno, ada apa?" terdengar suara lembut di sampingnya.


Akeno menatap gadis cantik di sampingnya sekilas. "Maaf, membuatmu melihat masalah ini." ujar Akeno dengan prasaan bersalah. Gadis itu mengangguk kecil, walau sejuta tanya memenuhi kepalanya.


Kemacetan membuat Akeno semakin kalut. Apa lagi Gresia tak tau dimana rimbanya.


Akeno kembali menghubungi Adrian. "Aku mau kau temukan istriku dalam waktu tiga puluh menit." titahnya dengan wajah kelam.


"Baik."


Akeno menghela nafas dalam, sembari memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.


Sementara Harumi di sampingnya, menatap Akeno dengan tatapan tak percaya. "Akeno, kau sudah menikah?" tanya Harumi sembari menatap lekat lelaki yang sangat kalut di sampingnya.


"Hmmm."


"Dan yang menghilang itu istrimu?"


"Hmmm."


"Apa dia marah karena aku pulang bersamamu?"


Akeno mengangkat wajahnya menatap Harumi. "Benar, tapi jangan khawatir dia gadis baik. Setelah aku beri penjelasan pasti dia paham."


Harumi mengangguk setuju. Walau ada kilatan kecewa pada sorot matanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2