
Gresia keluar dari halamanan kampus dengan langkah tergesa. Barusan seseorang menelponnya menggunakan nomor ayahnya. Orang itu memberi tahu kalau ayahnya sekarang berada di rumah sakit akibat laka lantas dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Gresia beruntung, begitu sampai di depan kampus, ada taksi berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bergegas Gresia masuk kedalam taksi. "Jalan pak."
Sekilas sopir taksi menoleh kebelakang melihat ke Gresia lalu melajukan mobilnya seperti permintaan Gresia.
Dengan perasaan cemas Gresia kembali menelpon nomor ayahnya, bertanya di bawa ke rumah sakit mana ayahnya.
"Mau kemana mbak?" lelaki berusia empat puluhan itu menatap Gresia melalui kaca spion tengah.
"Rumah sakit harapan kita pak, di jalan Agus salim." sahut Gresia dengan tampang gelisah.
Walau hubungan mereka tak dekat, tapi antara mereka terikat pertalian darah yang begitu kental.
Satu jam kemudian taksi yang di tumpangi Gresia sampai di depan rumah sakit Harapan Kita. Setelah membayar argo taksi Gresia bergegas masuk kedalam mencari keberadan ayahnya.
Sedikit sulit menemukan ayahnya, sebab ayahnya terlibat kecelakaan beruntun, jadi bukan dia satu-satunya korban di sini.
Gresia berjalan pelan di antara hiruk pikuk ruang IGD. Beberapa korban terdengar mengerang kesakitan di atas brangkar rumah sakit.
Langkahnya terhenti tak jauh dari tubuh pucat milik ayahnya. Ada bercak darah yang masih terlihat basah pada kemeja yang di kenakan ayahnya. Membuat dada Gresia menjadi sesak. Walau hubungan mereka tak pernah terjalin baik, tapi tetap saja melihat ayahnya terbaring lemas penuh luka hatinya sakit.
"Ayah." Gresia menggamit lengan ayahnya pelan. Lelaki tua itu berbaring sembari menutup wajahnya dengan lengan yang penuh luka lecet.
Mendengar Gresia memanggilnya, pria itu menarik turun lenganya. Menatap putrinya sembari meringis kesakitan.
"Gresia, kau datang?"
"Iya, ayah sudah menghubungi ibu?"
"Sudah, tapi tidak diangkat. Mungkin ibumu sibuk."
Gresia mengangguk sembari tersenyum. Tak ingin ayahnya berpikir terlalu banyak.
"Ayah aku akan urus administrasi buat ayah dulu ya. Nanti aku kesini lagi."
"Iya pergilah."
Tak butuh waktu lama bagi Gresia, mengurus pemindahan ayahnya ke ruang rawat inap. Apa lagi Gresia membayar secara pribadi.
__ADS_1
Setelahnya ayah langsung di pindahkan keruang rawat inap. Gresia menempatkan ayahnya di ruang vip.
Gresia duduk di samping ayah yang sedang tertidur setelah minum obat. Memperhatikan gurat-gurat keriput di wajahnya yang tampan. Wajah lelah penuh beban.
Gresia tau bagai mana kelakuan ibu tiri dan anak anaknya itu. Mereka hanya tau bersenang-senang menghambur hamburkan uang jerih payah ayahnya tanpa berpikir masa depan.
Gresia memang memberi bantuan setiap bulan, tapi ayahnya tetap menjalankan restaurannya walau tak seramai dulu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, tertera nama suami pada layar monitor.
Perlahan Gresia beranjak keluar ruangan tak ingin membangunkan ayahnya.
"Halo, sayang." sapa Gresia begitu dia menerima panggilan telpon Akeno.
"Sedang apa di rumah sakit?" terdengar sahutan bernada panik di sebrang telpon.
Gresia tersenyum, Akeno pasti di landa panik saat tau posisinya ada di Rumah sakit.
"Mobil ayah mengalami kecelakaan sayang. Sekarang sedang di rawat."
Terdengar tarikan nafas lega di ujung telpon. "Adrian sedang menyusulmu, aku juga akan kesana. Dengar sayang, jangan pergi ketempat yang sepi. Tetaplah berada di tempat ramai, kau dengar." itu kata yang selalu di ucapkkan Akeno setiap hari tanpa bosan.
"Baiklah sayang, aku mengerti."
"Kopi hangat." Aadrian mengulurkan satu cup kopi hangat begitu sampai di depannya.
"Terimakasih."
"Bagaimana ayah nyoonya?"
"Hanya luka ringan, tapi dia butuh di rawat."
"Bagaimana dengan pelaku?"
"Sudah di amankan. Menurut pihak berwajib mobil mengalami rem blong."
"Nyonya membuat tuan kalang kabut. Dia bahkan meninggalkan rapat penting." jelas Adrian sambil tersenyum menatap Gresia.
Gresia termangu, dia benar-benar tak sempat mengabari Akeno karena kalut.
"Aku terburu-buru tadi."
__ADS_1
Adrian mengangguk, lalu menyesap kopi di tangannya. Netranya memindai wajah Gresia, nyonya mudanya. Entah apa yang di miliki Gresia, sampai membuat Akeno bertekuk lutut pada Gresia. Atau memang Akeno tipe lelaki setia.
Tak lama berselang, ibu tiri Gresia datang bersama dua putrinya. Dia tergopoh menghampiri Gresia, dengan wajah khawatir.
"Gresia bagai mana ayah?"
"Ayah di dalam sedang tidur, masuk aja bu."
"Terimakasih Gres."
Gresia mengangguk pelan. Menatap ibu dan dua putrinya hingga masuk ruang rawat, kedua saudara tirinya terlihat menjaga jarak sejak kejadian di acara ulang tahun jenifer waktu itu.
"Sayang."
Gresia menoleh, lalu tersenyum saat melihat Akeno berjalan kearahnya dengan langkah lebar. Begitu sampai di depan Gresia, Akeno langsung merengkuh tubuh molek itu dalam dekapan dengan hangat.
"Lain kali, segenting apapun keadaanmu. Kabari aku." bisik Akeno dengan suara bergetar. Gresia hanya mengangguk patuh dalam dekapan erat Akeno. Dia tau Akeno memilliki tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi terhadapnya.
Melihat itu, Adrian hanya men desah berat sembari menyesap kopi yang sudah mulai tetasa dingin. Mungkin benar apa yang Akeno katakan. Sudah waktunya menyandarkan hatinya hanya pada satu wanita, tapi siapa? Selama bertahun ini, dia hanya melihat Gresia saja dan di matanya hanya sosok nyonyanya saja yang paling sempurna di dunia. Dia sadar bahwa rasa ini salah, tapi memang begitulah adanya. Dia bahkan sering membandingkan teman kencannya dengan kesempurnaan Gresia, itulah sebabnya dia tak pernah merasa cocok pada mereka.
"Bagaimana ayah?" tanya Akeno setelah melepas rengkuhannya.
"Tidak ada yang serius dengan lukaanya. Hanya saja dia butuh di rawat. Maaf sayang, aku membuatmu repot. Karena masalah kecil ini, sayang terpaksa meninggalkan rapat penting."
Akeno mengerutkan alisnya. "Dari mana kau tau aku meninggalkan rapat penting?" tanya Akeno sembari menatap penuh selidik. Gresia mengukir senyum tipis di bibirnya, sementara sudut matanya menngarah ke Adrian.
Akeno melihat itu, lalu berbalik ke Adrian. "Kau ini!"
Adrian terkekeh, dia tau Akeno pria dingin yang tak ingin terlihat terlalu bucin. Walau kenyaataannya dia lebih dari itu, bahkan ucapan dan tindakannya memperjelas semuanya.
"Ayo lihat ayah." ajak Gresia mengaitkan tangannya pada lengan Akeno. Menarik langkah Akeno masuk kedalam ruang rawat inap.
Dalam ruang rawat, terlihat ibu duduk di sebelah ayah. Semenata Jenifer dan Maria duduk di sofa bermain gawai.
"Akeno kamu datang," sapa ayah dengan suara pelan. Dia memang tak mengalami luka serius tapi tubuh tuanya terasa lemas semua seperti tak bertenaga.
"Iya ayah. Aku sudah mengurus semuanya, ayah perlu tinggal disini beberapa hari hingga pulih."
"Terimakasih Akeno. Kami selalu saja menyusahkan mu."
"Tidak apa ayah. Aku lakukan semua ini demi istriku."
__ADS_1
Lelaki tua itu mengangguk, lalu menatap penuh haru wajah cantik putrinya. Dia sungguh beruntung di pertemukan dengan Akeno. Dengan Akeno dia bisa mendapatkan kasih sayang yang tak dia dapatkan dari keluarganya.
Bersambung