
Sudah tengah malam, sudah hampir jam tiga pagi, harusnya di jam segini orang-orang akan terlelap dibuai mimpi di peraduan dengan orang-orang yang dikasihi.
Tapi di ruang pengap ini, teriakan-teriakan histeris justru terdengar nyaring memekakkan telinga.
Ruang bawah tanah yang biasanya dijadikan tempat menyiksa ataupun mengintrogasi musuh yang tertangkap oleh kelompok Akeno.
Tubuh telan jang dada millik Akeno bermandi keringat, otot-otot tubuhnya tampak berkilat. Sorot matanya yang tajam menyiratkan kemarahan. Sementara jemari kokohnya menggenggam erat cambuk berlumuran darah.
Di bawah kakinya tergeletak berbagai alat penyiksaan, melihatnya saja sudah membuat merinding sekujur tubuh.
Itulah alat yang digunakan Akeno untuk melampiaskan amarahnya yang menggunung.
Jeritan kesakitan, meminta ampunan dari tiga orang yang tengah diikat di depannya, tak menggoyahkan sedikitpun hati Akeno.
Akeno benar-benar dalam mode jahat, hatinya menghitam. Belas kasihnya hilang entah ke mana.
"Akeno! kau benar-benar bang sat! Tunggu saja, aku akan membunuhmu! Menghabisi seluruh keluargamu!" maki lelaki bertubuh buntal yang tak lain adalah paman Akeno.
Akeno menyeringai, kemudian terbahak sembari menatap lelaki bertubuh Tambun itu dengan tatapan menghina. "Kau itu buta atau apa? Sampai-sampai tidak bisa melihat di mana posisimu sekarang."
"Kau yang buta Akeno, demi wanita yang tidak memiliki hubungan darah, kau memilih membunuh keluargamu sendiri!"
Akeno mencibir. "Di sini siapa yang kau sebut saudara? An jing-anjing seperti kalian ini? sayang sekali aku tidak menjalin persaudaraan dengan anjing seperti kalian."
"Bangsat kau Akeno!!"
"Bagus kalau kau tahu sebentar lagi kau akan melihat betapa bangsatnya seorang Akeno." seringainya, sembari menatap tiga pria di depannya dengan sorot mata penuh dendam.
"Kau kemari! Tutup mulut mereka, teriakan mereka membuat Teringat aku sakit." ujarnya sembari menjengkel telinganya dengan jari telunjuk.
Dua pria bertubuh tegap segera menyumpal mulut mereka, hingga tak terdengar lagi teriakan dari mulut mereka.
Lalu Akeno beralih pada Adrian, yang sedari tadi memperhatikan yakin dari tempatnya duduk.
"Apa mereka sudah di sini?"
"Sudah, ada di ruang sebelah."
"Oh begitu rupanya, bawa masuk kalau begitu."
Adrian mengangkat tangannya, memberi kode pada anak buahnya. dua orang bertubuh tinggi tetap segera keluar ruangan.
__ADS_1
Setelah lima menit dua pria itu datang diikuti oleh empat orang wanita dalam keadaan terikat. mata dan mulut mereka labban.
Melihat empat orang wanita itu masuk, ketiga paman Akeno berteriak serta meronta-ronta, tapi sayang suara mereka tenggelam tidak terdengar.
"Eeemmmm!!!"
"Eemmm!!!"
Melihat kepanikan ketiga pamannya Akeno terbahak senang.
"Hahaha! Sungguh menyenangkan bisa melihat wajah kalian yang begitu ketakutan."
"Eeemm!"
"Eemm!"
"Hahaha! Lagi teriak lah yang kencang!" ucap Akeno senang.
Tapi kemudian wajahnya berubah garang, sorot matanya tadi yang terlihat sedikit ganggu ini kembali penuh marah dan dendam.
"Oh kalian benar-benar membangkitkan sisi jahatku. Aku meminta kalian untuk menjauhi keluargaku, tapi apa yang kalian lakukan kalian berniat menghabisi istriku!"
"Aku bahkan tidak berani menggores kulitnya sedikitpun. Tapi kalian malah memberondong istriku dengan puluhan peluru. Bang sat! " umpat Akeno geram. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berikan senjatamu." ucapkan kepada anak buah di sebelahnya.
Ucapan Akeno tak ayal membuat ketiga pamannya meronta-ronta serta menjerit-jerit ketakutan, walau suara mereka tidak bisa keluar.
Akeno mebelai senjata di tangannya sembari menatap ketiga pamannya. "Aku sudah bilang, jangan usik keluargaku. Atau kuhabisi keluargamu."
Lalu moncong senjata yang sudah diberi peredam suara diarahkan pada keempat wanita yang tengah bersimpuh di lantai. Beberapa detik kemudian keempat-empatnya ambruk ke lantai bersimbah darah.
Akeno menatap keempat mayat itu dengan tatapan dingin, kemudian beralih menetap pamannya yang terlihat sangat shock oleh perbuatan Akeno.
"Biarkan pamanku melihat keluarganya untuk terakhir kali, setelah itu urus mayatnya." titah Akeno sebelum meninggalkan ruangan itu.
Akeno masuk ke ruang lain, ruang pribadinya yang ada di lantai atas. Membersihkan diri di sana, berganti baju lalu pulang ke mension.
Sesampainya dimension hari sudah menjelang subuh. Dengan langkah perlahan makin mau masuk ke dalam kamar.
Gerakannya sangat pelan hingga langkah kakinya saja tidak menimbulkan suara. Dia tak ingin Mengusik tidurnya Gresia, dia tahu Gresia sangat lelah beberapa hari ini. Setelah mengikuti sidang skripsi beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Akeno naik ke atas ranjang masih dengan gerakan perlahan, merebahkan dirinya di sampingl Gresia yang terlelap, lalu memeluk hangat itu dengan kedua tangan kemudian ikut menyusul Gresia ke alam mimpi.
Paginya, Gresia bangun dengan perasaan heran melihat buku-buku jari suaminya penuh dengan luka lecet.
Niatnya ingin membangunkan Akeno tertahan. Wajah tenang Akeno terlihat lelah, dia bahkan tak terganggu oleh gerakan tubuh Gresia di sampingnya.
Gresia membelai wajah Akeno dengan gerakan perlahan. Gerakan halus ini biasanya mampu membangunkan tidur Akeno.
Tapi kali ini sentuhan itu sama sekali tak mengganggu tidur lelapnya.
Gresia turun dari tempat tidur, membersihkan diri kemudian berolah raga di lantai bawah, sembari menunggu Akeno bangun.
Cukup lama Gresia di sana, sampai terdengar suara berat Akeno menegurnya.
"Sudah berapa menit kau disini?" tanya Akeno, tubuh jangkungnya berdiri di ambang pintu. Aroma maskulin meruar dari tubuh kekarnya.
Gresia yang sadang berlari di treadmil menekan tombol of.
"Lumayan lama, mau bergabung." sahut Gresia, tubuhnya yang basah oleh keringat berjalan mendekat.
Akeno tak menyahut, iris hitamnya memandang tubuh bening Gresia yang berkilau oleh keringat, melihatnya gairah Akeno meronta.
"Aku ingin olah raga, tapi tidak disini." ucap Akeno sembari meraih tubuh Gresia kedalam pelukannya. Mendekapnya.
"Sayang, aku berkeringat." ucap Gresia, sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Akeno.
"Kenapa memang nya. Justru kau terlihat seksi." tangan Akeno terangkat, menyibak rambut depan Gresia menyelipkannya ke balik telinga.
"Gresia kembali melihat buku-buku tangan Akeno yang lecet.
"Apa yang terjadi tadi malam?" Gresia meraih tangan Akeno, mengusap usap luka lecet di buku jari nya.
"Tidak terjadi apa-apa, hanya masalah pria, biasalah." sahut Akeno.
"Benarkah?"
"Tentu saja sayang. Sudahlah Jangan bahas itu, aku sedang ingin berolahraga dengan mu ayo." Kino meraih cimari Gracia membawanya mengikuti langkahnya menuju kamar. dia butuh melampiaskan hasratnya saat ini, melihat betapa seksinya Gracia selesai olahraga membuatnya tak ingin menunggu lama untuk mengeksekusi.
Beberapa hari ini emosinya tidak stabil, akibat peristiwa penyerangan yang dilakukan musuhnya istrinya.
Lelaki sepertinya butuh pelampiasan saat emosi, hanya dengan berkelahi atau berhubungan intim baru bisa menenangkan hatinya.
__ADS_1
Bersabung.