
Gresia tampak gugup, jemarinya terasa berkeringat dalam genggaman tangan Akeno. Mereka berada di atas jet pribadi yang sedang terbang menuju negara A. Akeno dan Gresia duduk berdampingan di kursi penumpang yang sangat mewah. Mereka tidak sendiri ada Desi yah ikut serta di penerbangan ini. Dia duduk bersebrangan dari tepat duduk Gresia dan Akeno.
"Kau gugup?" tanya Akeno sembari menyeka keringan di telapak tangan Gresia dengan tisu. Gresia mengangguk pelan, dia benar-benar gugup dan takut. Tapi tatapan lembut Akeno seketika menenangkan hatinya.
"Ada aku di sisimu, kenapa takut." hibur Akeno sembari melingkarkan tanganya kepundak Gresia. Senyum tipis tampak menghiasi bibir merah Gresia. Sementara Desi bersandar pada kursi dengan mata terpejam. Sungguh dia tak menduga Akeno bisa selembut itu pada wanita. Hatinya cemburu saat melihat tatapan Akeno yang begitu lembut dan penuh cinta.
Setelah menempuh perjalanan sangat jauh akhirnya jet pribadi yang di tumpangi Akeno dan rombongan mendarat dengan sempurna di negara A.
Begitu sampai di penginapan Gresia langsung istrahat karena jet lag yang dia alami. Tapi tidak dengan Akeno. Dia langsung melakukan peninjauan di beberapa tempat di negara ini. Sebelum Akeno datang berkunjung, anak buahnya yang tersebar di negara A ini sudah banyak melakukan persiapan. Akeno sudah membangun basis kekuatan di negara ini sejak lama. Tapi Akeno sengaja menyamarkan gerakannya agar tak tertangkap oleh kekuatan Kenzo.
Segala persiapan yang bertujuan melawan klan Kenzo sudah tersusun dengan sangat matang dan siap bergerak bila di perlukan.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Siang ini Akeno sudah memberitahu kakeknya akan mampir bersama Desi ke Vila miliknya. Mendengar itu kakeknya sangat senang. Dia mengumpulkan anak dan cucu nya yang lain untuk berkumpul.
Semua orang berkumpul di ruang berukuran luas mirip Aula. Ruang di bagian samping Vila yang sering di jadikan tempat pertemuan antar klan di kota ini.
Wajah kakek Akeno terlihat begitu cerah dan terlihat sangat sehat. Setelah mendengar kedatangan Akeno bersama Desi lelaki tua itu tiba-tiba merasa dirinya sangat sehat.
"Tuan, mereka sudah sampai. " Bisik pelayan menyampaikan kehadiran Akeno di Vila ini.
"Bagus, bagus suruh dia masuk." ucapnya dengan mata berbinar. Cucu yang sangat dia bangga-banggakan sudah mau datang mengunjunginya bukankah itu anugrah.
Sementara di luar, Akeno tengah berdebat kecil dengan Gresia. Gadis kecil ini menolak masuk kedalam. Saat melihat halaman parkir di penuhi mobil mewah, Gresia dapat membayangkan orang seperti apa yang akan dia hadapi nanti.
"Tidak ada penolakan kali ini! Kalau kau tidak mau masuk dengan kemauan sendiri. Aku akan membawamu masuk dengan caraku." Ancam Akeno.
Gresia mendengus kesal, dengan langkah gemetar dia mengikuti jejak kaki Akeno yang berjalan dengan langkah Arogan.
Gelak tawa seketika hilang begitu sosok Akeno masuk kedalam. Auranya sangat mendominasi, wajah tampannya terlihat sangat dingin dan tegas menggambarkan kekejamannya yang tersembunyi.
__ADS_1
Baru kali ini Gresia melihat Akeno dengan ekspresi begini. Wajah tampan yang biasa mperlihatkan kelembutan kini terlihat kaku dan bengis. Gresia bisa melihat aura gentar pada semua tamu yang hadir
Mata Gresia bergetar takut, saat melihat semua mata tertuju pada mereka. Tepatnya kearahnya. Lelaki dan wanita yang berdandan sangat elegan tengah menatapnya penuh tanda tanya. Gresia sempat menangkap bayangan Hyun di antara tamu yang datang sebelum dia menundukkan kepalanya menekuri lantai.
Kehadiran Gresia di tengah-tengah mereka bak mahluk angkasa yang berkunjung ke bumi. Mengundang keheranan.
"Aku tidak mengundang wanita itu! Siapa dia?!" Suara kakek terdengar menggelegar di telinga Gresia bagai petir di siang hari.
Akeno memalingkan wajahnya menatap Gresia yang meringkuk dibalik tubuhnya.
"Dia orangku. Tidak perlu undangan dari kakek untuk membawanya ikut denganku. Lagi pula aku datang bukan atas undangan kakek." sahut Akeno dengan begitu Arogan.
Melihat Gresia yang menempel pada Akeno tanpa canggung mematahkan kabar yang beredar bahwa Desi dan Akeno menjalin kasih. Melihat posisi Desi yang malah jauh dari Akeno.
Mendengar ucapan Akeno kakek nya dan beberapa lelaki tua terlihat marah. "Akeno! Mana sopan santunmu sebagai cucu?" bentak salah seorang tamu yang terlihat sebaya dengan kakek.
Mata elang Akeno menatap tajam lelaki itu. "Ini adalah pertemuan klan, bukan reuni antara kakek dan cucu. Di klan ini ketua adalah yang tertinggi kedudukannya. Setauku almarhum ayahku adalah ketua klan yang belum tergantikan dan aku adalah anaknya. Apa sikap tegasku barusan masih layak di pertanyakan?"
"Akeno sudah jangan bertingkah. Aku sengaja mengumpulkan orang di kediamanku hanya untuk membahas hubunganmu dengan Desi. Jadi jangan membahas masalah lain yang tidak penting." ujar kakek Akeno menengahi. Dia tau Akeno anak yang keras kepala dan tak mau mengalah.
Akeno beralih menatap Desi yang berada di belakangnya dengan posisi lumayan jauhjauh. "Kemarilah," ujarnya pada Desi. Dengan patuh Desi mendekat di sisi Akeno.
Akeno menatap Desi sekilas, lalu menarik paksa tubuh Gresia agar berdiri di sampingnya. Dengan ketakutan Gresia terpaksa mengikuti kemauan Akeno.
Kini mata elang Akeno menatap bola mata kusam kakeknya lekat-lekat. "Kakek, aku datang kali ini dengan dua tujuan. Pertama aku ingin melerkenalkan dia sebagai istri sah ku." ujar Akeno sembari menyentuh pundak Gresia.
Mendengar itu ruangan kembali riuh. Sementara raut wajah kakek Akeno terlihat panik dan marah. Bukan hanya dia Desi dan Hyun juga sama kagetnya.
"Apa apaan kau Akeno. Kau adalah penerus klan Kenzo mana bisa menikahi sembarang orang seperti itu!" bentak kakek Akeno, wajah putihnya tampak bersemu merah karena marah. Ucapan senada langsung terdengar bersahutan menimpali ucapan si tua Kenzo.
__ADS_1
"Yang kedua!" seru Akeno membungkam mulut para tamu yang tengah berkasak kusuk. Setelah hening Akeno kembali melanjutkan ucapannya. "Mulai hari ini Desi bekerja di bawah kekuasaanku. Jadi dia bukan lagi budak keluarga Kenzo. Siapapun yang berani mengusik Desi itu sama saja dengan mengusik kekuasaanku." Tegas Akeno.
Di antara takutnya Gresia melirik wajah suaminya. Wajah yang menampilkan ekspresi dingin dan garang. Tapi entah mengapa dengan ekspresi itu Akeno terlihat begitu tampan dan mempesona.
"Yang kedua mungkin aku bisa Terima, tapi yang pertama aku menolaknya. Hanya darah keluarga Kenzo yang boleh menikah dengan mu. Tidak orang lain."
"Aku tidak bersedia. Dia adalah istri sah ku. Tidak ada yang boleh merubahnya kecuali Tuhan. Apa kakek telah menjadi Tuhan?" ucap Akeno mengejek kakeknya. Orang tua itu terdengar menggeram penuh emosi.
"Kau terlalu sombong Akeno. Negara ini ada di bawah kekuasaanku. Apa kau pikir kau bisa pulang hidup-hidup bila melawanku?!"
Akeno terkekeh sembari menatap sinis kakeknya. Lelaki yang tega menghabisi darah dagingnya demi ambisi dan martabatnya. "Kakek terlalu tua untuk mengurusi klan Kenzo. Sudah saatnya aku ambil alih dan kakek hiduplah dengan tenang jangan mengusikku lagi."
"Omong kosong!" umpat lelaki tua itu sembari memberi kode pada orangnya. Dalam sekejam beberapa lelaki bertubuh tinggi tegap masuk keruangan, mendekat ke Akeno. Tampak tawa di bibir kakek Akeno, tapi hanya sekejap lalu tawa itu menghilang bak di telan bumi. Matanya nyalang menatap orangnya berdiri patuh di belakang Akeno.
"Kalian berhianat? Berani sekali kalian! Panggil Asahi!" teriaknya dengan napas tersenggla karena emosi.
Mendengar nama Asahi, Akeno menjentikkan jarinya memberi kode pada orangnya. Seketika layar monitor di dinding ruangan menyala menampilkan sosok Asahi yang tengah duduk di kursi roda.
"Kau!" seru lelaki ukur itu dengan suara tertahan. Kesunyian mendadak menyelimuti ruang pertemuan. Aura dingin Akeno seakan mencekik leher mereka satu persatu.
"Apa yang kau lakukan pada Asahi? Dia hanya pria tua Akeno. Kenapa kau kejam sekali. " ujar Kakek dengan suara bergetar.
Akeno tertawa dengan angkuh. "Itu karena darah Kenzo mengalir di tubuhku. Kalau bukan darahnya mungkin aku tak sekejam ini." ucap Akeno sembari menatap bola mata kakek lekat-lekat.
"Dia hanya orang lain bagiku. Sedang kau, darah dagingmu sendiri kau tega menghabisinya!" geram Akeno dengan suara bergetar.
"Jangan menyalahkan aku, tapi salahkan ayahmu yang terus menempel di sisi pe lacur itu!" umpat lelaki tua itu tak kalah geram.
Mendengar itu wajah Akeno mendadak berubah gelap. Dengan satu tendangan yang begitu kuat dia menghancurkan kursi kayu di dekatnya. "Jangan sekali-kali menyebut ibuku dengan kata-kata kotor! Atau aku akan memengal kepala tuamu itu!" Ancamnya dengan suara bergetar karena emosi.
__ADS_1
Melihat amarah Akeno bukan hanya kakek yang menciut. Tapi semua orang yang hadir. Siapa yang tidak tau Asahi dan kekuatan nya. Kalau dia saja mampu di tundukkan oleh Akeno apalagi mereka.
Bersambung mak 🥰🥰🥰🙏