Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 37


__ADS_3

Akeno memijit keningnya, kepalanya berdenyut sakit. Brahma memaksanya menghabiskan beberapa botol wine dengan kadar alkohol lima belas persen.


Sementara Brahma dan Erlangga sibuk mencumbui wanita pendamping mereka. Melihatnya kepala Akeno bertambah pusing.


"Masih ingin disini?" tanya Samy satu satunya yang masih memiliki kesadaran penuh diantara mereka berempat.


Akeno mengangkat wajahnya menatap Brahma dan Erlangga.Tubuh mereka sudah setengah te lan jang oleh pergulatan panas mereka. Akeno tau betapa maniaknya mereka dalam bercinta, naf su memutuskan sebagian urat malu dan akal sehat.


"Tidak, aku tak ingin mengotori mataku," sahut Akeno datar.


Samy segera menghubungi sopirnya agar menjemput mereka segera.


"Brahma, Erlangga kami pulang duluan." pamit Samy saat beranjak bangkit dari duduknya. Keduanya terlihat menghentikan cumbuannya.


"Hey, ini tidak asyik sama sekali!" seru Brahma bernada protes. Tapi Akeno sama sekali tak merespons dia terus melangkah meninggalkan ruang private dengan santai.


Akeno bersandar pada bahu kursi mobilnya, matanya terlihat terpejam erat. Dia benar-benar banyak minum tadi, bukan karena dorongan dari Brahma tapi memang dia lagi ingin.


Sementara sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membela jalanan yang sudah mulai lengang.


"Ada misi apa Desi menemuimu?" tanya Samy memecah keheningan. Dia tau Akeno tidak sedang tidur.


Terdengar ******* nafas berat Akeno. "Dia hanya ingin memanfaatkanku." sahut Akeno tanpa membuka matanya.


"Dia memegang kartumu?" tebak Samy.


"Hemmm."


"Apa kau hanya diam menuruti maunya. Aku kira kita bisa membereskan dia tanpa harus berlutut mengikuti permainannya." protes Samy. Dia tak setuju pada tindakan Akeno.


Akeno membuka mata perlahan, menatap Samy dengan sorot mata tajamnya melalui sepion tengah. Sebab Samy duduk di samping sopir.


"Aku tau, tapi kalung dari nyonya Lia butuh tuan dan tawaran yang dia sodorkan sangat cocok dengan apa yang aku butuhkan." Jelasnya dengan ekspresi datar.


"Apa dia memintamu menjadi pasangannya?"


"Hemmm."


"Cih! Dia sama sekali tidak kenal kata menyerah. Kalau memang itu tujuanmu aku setuju. Tapi ada baiknya kau bicara pada Gresia tentang Desi agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari."


"Tidak perlu. Aku dan Desi tidak akan melampui batas, percayalah."


"Bukan aku yang harus kau yakinkan, tapi istri kecilmu. Kau tau bukan, wanita itu sulit di tebak."


Akeno tak menyahut. Dia bukan pria yang pandai memberikan penjelasan secara gamblang. Sementara kasusnya dengan Desi bukan hal sederhana yang bisa di jelaskan dengan dua, tiga kalimat.


Mobil berhenti di sebuah hotel mewah di kota C. Akeno dan Samy menempati kamar residence suite di Hotel ini dengan letak kamar bersebelahan.


Setibanya dikamar dia langsung rebahan di atas tempat tidur. Meraih ponselnya lalu menghubungi Gresia. Sudah pukul dua malam tapi dia tidak perduli.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali menerima panggilanku!" seru Akeno begitu panggilan Video terhubung.


Gresia menggosok matanya berusaha menjernihkan penglihatannya. "Aku sudah tidur tadi. Lagian ini sudah pukul berapa?" keluh Gresia sembari menatap lekat wajah Akeno di layar kaca.


"Mana aku tau pukul berapa."


"Ada apa menelponku?"


"Hanya ingin."


"Aku ngantuk."


"Tidurlah, aku hanya ingin melihat wajahmu." ujar Akeno lirih. Gresia bisa melihat mata Akeno yang sayu wajahnya bersemu merah. Sepertinya dia sedang mabuk.


"Kau mabuk?" tanya Gresia dengan mata menyipit.


"Tidak, aku hanya minum sedikit." sahutnya dengan suara rendah.


"Sedikit apanya lihat wajahmu bersemu merah." omel Gresia.


"Itu karena aku melihatmu sangat seksi malam ini." Lirihnya.


"Bo'ong." dengus Gresia dia bahkan memakai baju tidur lengan panjang saat ini.


"Aku tidak bohong sayang, kau terlihat benar-benar cantik malam ini." rayunya dengan mata semakin sayu.


"Baiklah aku percaya," sahut Gresia dia tak mau berdebat dengan orang mabuk.


"Hey, aku sedang menyatakan cinta padamu kenapa diam." Ujarnya lagi saat Gresia diam membisu kehabisan kata.


"I love you to." sahut Gresia pelan. Dia berpikir Akeno sedang mabuk, dia tak kan menyadari percakapan ini.


"Thanks." lirihnya lagi.


"Sama-sama sayang," bisik Gresia dengan hati bergemuruh. Walau Akeno mengecapkannya karena pengaruh alkohol tapi Gresia menanggapinya dengan serius dan ucapannya tadi sangatlah tulus.


"Sudah? Aku mau tidur lagi." "


"Belum sayang, aku masih rindu," rengek Akeno.


"Baiklah kita akan tetap menelpon sampai tertidur."


"Iya, tapi aku ingin melihat tubuh mu."


"Hah!"


"Buka bajumu sayang, aku ingin melihat sikembar." ucap Akeno sembari menatap kedada Gresia.


"What!"

__ADS_1


"Ayolah sayang," rengeknya seperti bayi minta susu.


Gresia membulatkan matanya sembari mendekap dadanya dengan kedua tangannya. Netranya menatap Akeno dengan tatapan berang. Bagaimana bisa dia meminta hal tak senonoh seperti itu. Mabuk membuatnya bertambah me sum.


"Tidak!" tolak Gresia dengan sangat tegas.


"Aku rindu puncak merah jambu si kembar. Ingin memilinnya atau menyesapnya..." celotehnya dengan mata berbinar. Gresia terdiam kehilangan kata dengan pipi bersemu merah.


Entah mengapa ucapan Akeno membuat pu tingnya terasa geli.


"Sayang cepatlah." pintanya tak sabaran.


"Gak mau!"


Akeno yang tengah berbaring seketika duduk dengan ekspresi marah. "Hanya meminta mu membuka baju, apa terlalu berat melakukannya. Kau ingin aku memgajarimu cara membuka baju. Perhatikan dengan baik!" ucapnya dengan mata sayu sementara telunjuknya mengacung ke depan menunjuk Gresia.


Dia meletakkan ponselnya di tempat yang tepat dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, melepas kemeja itu lalu membuangnya kesamping.


"Kau lihat, gampangkan." ucapnya lagi.


Gresia tertawa sinis. Benarkah dia Akeno si pemilik perusahaan dengan jutaan karyawan?


Harusnya dia merekam semua tingkah laku mesumnya saat mabuk. Lalu mengirimnya saat dia dalam keadaan sadar.


"Sayang, cepat aku sedang menunggu." rengeknya tak berhenti.


"Tidurlah, sudah malam." sahut Gresia tak menggubris permintaan Akeno.


Akeno memgerjab berulang kali berusaha memfocuskan tatapannya pada Gresia tapi bayangan Gresia semakin lama semakin blur.


Lalu terlihat dia kembali memasang kemejanya dan dengan susah payah dia mengancingkan satu persatu kancing yang tadi dia lepas. Berulang kali jarinya terpeleset tapi dia tak menyerah. Gresia terkikik geli melihat ekspresi bodoh Akeno.


"Kenapa kau tertawa? Apa aku terlihat lucu dimatamu?" tanyanya dengan Arogan. Walau dengan mata yang sulit terbuka.


Gresia semakin terkikik geli, betapa lucunya tampang Akeno saat ini. Telihat begitu polos dan manja. Sikap Arogan dan angkuh yang selalu dia perlihatkan hilang entah kemana.


Akeno tak lagi bersuara, mata sayunya menatap Gresia dengan lembut kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur kemudian tertidur dengan nyenyak. Gresia tertawa pelan, netranya menatap lekat wajah Akeno di layar ponselnya. Bulu matanya terlihat sangat panjang dan lebat. Gresia merasa tuhan begitu menyayanginya dengan memberi dia segala kesempurnaan yang melibihi batas.


Gresia mengusap lembut layar ponselnya, berasa sedang menyentuh wajah pulas Akeno. Pria tampan ini baru saja menyatakan cinta padanya. Walau ucapan orang mabuk, tetap saja membuat hati Gresia di penuhi kelopak bunga bermekaran. Dia terus menatap layar ponselnya hingga kembali terlelap menyusul Akeno.


Pukul tujuh pagi Samy membangunkan Akeno dengan mengetuk daun pintu kamarnya berulang kali.


Akeno mengerjab berulang kali guna menetralkan pikirannya. Netranya tertuju pada ponselnya, dia meraihnya dan ternyata ponselnya mati total kehabisan batrai.


"Akeno!" seru Samy di balik pintu. Dengan malas Akeno beranjak bangkit menuju pintu lalu membukanya setengah.


Samy menatap Akeno dengan mata menyipit. Akeno bahkan belum menganti pakaiannya.


"Cepatlah mandi, kita ada rapat jam sembilan nanti." Titahnya lalu kemudian pergi.

__ADS_1


Akeno kembali masuk kekamarnya untuk segera mandi kemudian bersiap untuk menghadiri rapat.


To be continuous.


__ADS_2