Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 72


__ADS_3

Akeno menatap tak berkedip ke arah Gresia, yang sedang mendapat perawatan di rumah sakit ternama di kota A.


Akeno langsung membawa Gresia ke rumah sakit menggunakan helikopter setelah langit mulai terang.


Wajahnya terlihat sangat muram dan penuh amarah. Hanya saat bicara pada Gresia saja wajahnya terlihat begitu lembut dan tenang.


Ruang Dokter Mira terlihat sangat sibuk hanya untuk mengobati Gresia. Luka di bahunya memang mengalami radang akibat lambat di tangani. Tapi bukan kategori luka yang bahaya sampai bisa mengancam nyawa Gresia.


Tapi bagi Akeno tidak demikian. Dia yang sudah sering mendapat luka di tubuh nya, seakan tak faham situasi Gresia. Menganggap luka itu sangat parah dan bisa mengancam nyawa istrinya.


Setelah selesai mendapatkan perawatan, Akeno membawa Gresia pulang ke mansion. Selain luka Gresia yang bisa dirawat jalan. Ini juga demi ke amanan Gresia. Mustahil bagi musuh mampu membobol ke amanan mansion untuk saat ini. Akeno tidak akan bertindak gegabah lagi, Gresia harus tetap di sampingnya mulai sekarang.


Akeno menatap tubuh lusuh Gresia dengan perasaan tak menentu. Marah, sedih, rasa bersalah pada istrinya, berkecamuk dalam hatinya.


Saat ini Gresia dan Akeno sedang duduk di sofa kamar mereka. Dengan lembut Akeno meraih jemari Gresia, memperhatikan buku-buku jarinya yang terlihat memar dan banyak goresan. Merangkak di tengah gelap malam di ladang teh, membuat tubuh Gresia mendapat banyak luka lecet.


"Ayo sayang kekamar mandi, biar ku bantu bersihkan tubuhmu." ucap Akeno. Gresia mengangguk patuh, lalu mengikuti langkah Akeno kedalam kamar mandi.


Akeno membuka kemeja Gresia dengan gerakan perlahan. Meletatakan tubuh Gresia di atas meja marmer berbentuk bulat yang ada di samping bathub, meraih kursi di sampingnya lalu duduk di sana.


Dengan lembut Akeno mengikat keatas rambut panjang Gresia. Lalu mulai membersihkan tubuh mulus itu dengan handuk hangat.Menyapu inci demi inci kulit tubuh Gresia dengan sangat teliti.


Rahangnya sesekalali terlihat mengatup erat, saat tangannya menyapu luka goresan di permukaan kulit mulus Gresia. Amarah dalam hatinya bergejolak, sungguh berani dia melukai kekasihnya sampai seperti ini. Bayangan tubuh gemetar Gresia kembali melintas di benaknya, dadanya kembali terasa sesak oleh luapan emosi yang membuncah.


"Sayang, ada apa?" tanya Gresia khawatir, saat melihat Akeno meremas handuk di tangannya dengan ekspresi marah.


Sadar telah membuat Gresia khawatir, Akeno langsung merubah mimik wajahnya.


"Tidak ada sayang, jangan khawatir tidak ada yang terjadi." sahut Akeno.


Setelahnya Akeno membawa Gresia mencuci rambutnya di ruang Spa yang ada di lantai bawah.


Ruangan super mewah yang di lengkapi dengan peralatan Spa super cangih, ada di ruang ini. Akeno juga mempekerjakan tenaga ahli di bidangnya. Untuk merawat diri, Gresia tak perlu pergi keluar rumah, di sini Akeno sudah menyediakan segalanya.


Begitu masuk ruang Spa Akeno dan Gresia di sambut pelayan yang bertugas di sana.


"Nyonya ingin melakukan perawatan apa? Biar saya siapkan." ucap pelayan berusia dua puluh empat tahun dengan sopan.

__ADS_1


Akeno menatap wanita muda itu sekilas, kemudian beralih pada Gresia.


"Kalian keluarlah, hari ini biar aku saja yang melakukan tugas kalian." ucap Akeno sembari membelai rambut kusut Gresia.


Dua pelayan berusia muda itu menatap Akeno tak percaya. Tapi kemudian keduanya buru-buru keluar ruangan.


"Sayang, kau ingin melakukan apa?" tanya Gresia. Akeno tersenyum lembut, kembali jemarinya membelai puncak kepala Gresia.


"Aku akan mencuci rambutmu sayang. Setelah itu, pelayan akan melakkukan massage pada tubuhmu, agar terasa lebih rileks." jelas Akeno dengan senyum di bibirnya. Gresia menatapnya penuh binar, sungguh senang melihat senyum yang hanya di perlihatkan padanya seorang.


"Tidak perlu memanjakan ku begini sayang."


"Apanya yang tidak perlu."


"Lihat lah rambutmu kusut begini, wajahmu terlihat sangat jelek." imbuh nya lagi. Sembari memasang muka cemberut. Gresia tertawa pelan.


"Ya udah terserah sayang aja deh." sahut Gresia pasrah. Dia masih trauma atas kejadian semalam, mungkin di manja Akeno bisa sedikit menghapus rasa traumanya.


"Berbaringlah," titah Akeno. Gresia merebahkan tubuhnya, perlahan Akeno mulai membasahi rambut Gresia. Bak perugas salon profesional Akeno melakukan creambath pada istrinya.


Sementara Gresia terlihat begitu menikmati sentuhan jari jemari Akeno. Aroma terapi yang meruar dari lilin di sudut ruangan, juga pijatan-pijatan lembut jemari Akeno, membuat otot-otot saraf Gresia yang tadinya tegang, perlahan mengendur.


Akeno berdiri diambang pintu, menatap tubuh Gresia yang tengah di massage.


Dengan tangannya dia memberi isyarat agar mereka keluar ruangan dengan perlahan. Dengan sangat hati-hati Akeno duduk di sisi Gresia, setelah semua pelayannya pergi. Menatap tubuh mulus istrinya yang hanya terbalut handuk sebagian.


Melihat kembali beberapa goresan di tubuh Gresia, membuat Akeno menarik nafas dalam. Dada nya terasa sangat sesak, amarahnya yang tadi sudah mereda kini datang lagi.


Dia sudah tidak memiliki banyak kesabaran karena kejadian ini. Biasanya dia selalu bekerja sama dengan pihak yang berwajib dalam menyelesaikan sebuah kasus. Tapi kali ini dia ingin menangani kasus ini seorang diri. Dia ingin menghukum pelakunya dengan caranya sendiri. Tentunya akan terasa lebih pahit, ketimbang jatuh ketangan yang berwajib.


Gresia menggeliat pelan, merasakan tubuhnya terasa sedikit ringan. Perlahan dia membuka matanya memperhatikan sekitar, tatapannya tertumpu pada sosok Akeno yang duduk di sebelahnya.


Akeno tersenyum, terlihat begitu tampan. "Sudah bangun?" tanyanya sembari membelai lembut wajah Gresia.


Gresia mengangguk pelan. "Hmmm." gumamnya.


"Bagaimana perasaanmu sayang? Apa sudah merasa lebih baik."

__ADS_1


"Iya."


"Baguslah. Aku senang mendengarnya."


"Sudah berapa lama aku tidur?" tanya Gresia, sembari beranjak duduk.


"Cukup lama, ada apa?"


"Aku lapar lagi." sahut Gresia dengan senyum malu, sungguh menggemaskan. Saat merasa malu, pipi dan daun telinganya akan terlihat bersemu merah, itu terlihat sangat seksi di mata Akeno.


Akeno terkekeh, dia sangat menyukai ekspresi itu. "Sayang ingin makan apa?" tanya Akeno.


Gresia tampak berpikir sejenak."Sup ikan sepertinya enak."


"Sup ikan?"


"Hmmm."


"Baiklah, aku akan minta koki memasaknya untuk mu." sahut Akeno, lalu segera meminta koki membuat sup ikan untuk Gresia.


Selagi koki menyiapkan sup, Gresia dan Akina kembali ke kamar berganti baju.


Akeno duduk di tepi ranjang, sembari memperhatikan Gresia yang sedang memasang baju ke tubuhnya.


Gracia terlihat cantik, dengan mengenakan gaun berwarna merah muda, sebatas lutut.


"Kemarilah," ucapnya sambil tangan ke arah Gracia.


Gresia mendekat, lalu duduk di sampin Akeno. "Setelah makan kita akan pergi mengunjungi temanmu." ucap Akeno dengan hati-hati.


"Teman ku?" tanya Gresia dengan nada khawatir.


"Hmmm."


Gresia menatap Akeno dengan bola mata bergetar. "Oh tidak, apa mereka juga diserang?"


"Iya."

__ADS_1


"Ya tuhan."


Bersambung.


__ADS_2