
Tubuh Gresia gemetar, jemarinya saling meremas gugup. Entah apa yang dia rasakan kini, yang jelas hatinya terasa begitu sakit.
Tarikan nafas dalam terdengar dari bibir merah Gresia. Dia tersenyum getir, dia hanya melihat Akeno menggenggam jemari mungil itu, tapi kenapa hatinya sesakit ini. Bukankah selama ini dia telah menyiapkan hati dan perasaannya untuk hal-hal semacam ini. Nyatanya dia belum siap sama sekali.
Gresia mengedarkan pandangannya ke area taman kota. Entah bagaimana dia bisa ada di tengah-tengah taman, yang dia ingat dia berlari menjauh dari Akeno.
Ponselnya kembali berdering, itu dari Akeno, tapi Gresia sedang tak ingin mendengar apapun yang akan Akeno katakan padanya. Dia yakin Akeno punya penjelasan yang bisa dia terima, tapi saat ini dia butuh menenangkan diri. Peristiwa tadi sedikit memberinya shock therapy.
Hampir satu jam lebih ponselnya terus berdering, Gresia mengabaikannya hingga benda pipih itu kehabisan daya dan mati.
Dia tau saat ini Akeno sedang mencarinya, dia sangat tau tempramen Akeno seperti apa. Tapi hatinya masih mau di ajak kompromi sama sekali dan dia memillih mengikuti kemauan hatinya.
Menjelang makan malam Gresia baru pulang, saat Gresia turun dari taksi Andrian tergopoh menyambutnya dengan cemas. Lelaki itu mencoba melacak keberadaan Gresia melalui ponsel dan juga alat yang terpasang pada liontin Gresia, tapi dia hanya menemukan kedua benda itu di kursi taman.
Sementara Akeno terlihat berjalan mondar, mandir sembari menelpon seseorang. Langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok Gresia turun dari taksi.
Tubuh Akeno berdiri kaku, netranya tampak sangat gelap saat menatap tubuh Gresia yang berjalan mendekat ke arahnya. Sementara Gresia berjalan dengan tenang melewati Akeno yang sedang menatapnya dengan perasaan tak menentu.
"Kau dari mana saja seharian ini?" tanya Akeno, berusaha menekan nada suaranya agar tak meninggi.
Gresia menghentikan langkah kaki nya. "Pulang kuliah aku bertemu teman," sahut Gresia tampa berbalik. Tubuhnya membelakangi Akeno.
"Bersihkan dirimu, ada tamu yang sedang menunggu kita di meja makan." titah Akeno sembari menatap Gresia dengan perasaan tak menentu. Marah, rindu juga rasa bersalah berdesakan di hatinya.
Gresia berlalu meninggalkan Akeno tanpa menyahuti perkataannya. Akeno mengepalkan tangannya erat berusaha menahan amarahnya yang nyaris meledak.
Setelah membersihkan diri, Gresia turun kebawah menuju ruang makan. Sementara di sana sudah menunggu Akeno dan Harumi.
Gresia menarik kursi bersebrangan dengan Akeno. Tanpa kata dia mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk, lalu makan tanpa memandang Akeno dan Harumi sedikit pun.
"Gresia," panggil Akeno dengan suara beratnya. Gresia meletakkan sendok ditangannya di atas piring, lalu mengangkat kepalanya perlahan.
"Iya."
__ADS_1
Akeno menatap istrinya lekat, jantungnya berdebar kencang saat mata kelabu Gresia menentang tatapan matanya dengan berani.
"Kenalkan, dia Harumi. Sepupu jauhku, ada sedikit masalah yang menimpa Harumi di kota A. Aku terpaksa membawanya pulang." jelas Akeno, tanpa melepas tatapan tajamnya.
Gresia mengalihkan pandangannya pada Harumi, tersenyum sembari mengangguk kecil. Kemudian kembali melanjutkan makannya. Setelahnya hanya hening yang ada, masing-masing tak angkat bicara.
Setelah makan Gresia pamit undur diri pada Harumi, dengan alasan lelah. Padahal gadis itu ingin membawanya bicara banyak, tapi Gresia berkilah sangat lelah. Sementara Akeno tinggal bersama Harumi, berbincang sejenak lalu menyusul Gresia kekamar mereka.
Akeno masuk dengan langkah perlahan. Netranya memindai tubuh yang terbaring cantik di atas tempat tidur, dengan posisi membelakangi Akeno.
Perlahan Akeno duduk di tepi ranjang. Manatap istrinya penuh kasih sayang. "Sayang, kau sudah tidur?"
Hening sejenak sebelum terdengar suara pelan Gresia. "Belum."
"Bisa kita bicara sayang."
"Bicara saja."
Kembali hening beberapa saat, lalu Grasia menarik tubuhnya ke posisi duduk menghadap Akeno.
"Bicaralah, aku dengarkan." ucap Gresia dengan ekspresi datar.
Akeno mendesah berat. Sikap Gresia sungguh menguji kesabarannya. Lebih baik baginya berhadapan dengan musuhnya, dengan musuh dia bisa melampiaskan amarahnya. Tapi dengan Gresia dia terpaksa menahan mati-matian amarahnya.
"Aku tadi melihatmu di Bandara." ujar Akeno memberi tahu.
Gresia tak bereaksi. "Ooo." sahutnya acuh. Akeno mengeratkan rahang nya berusaha mendengar kata o yang keluar dari mulut Gresia.
"Kenapa kau pergi setelah melihatku? Bukannya tujuanmu ke Bandara untuk menjemput ku."
Gresia tak menyahut, terlihat netranya menggulir menatap setiap jengkal tubuh Akeno. Tubuh yang dia rindu sepanjang hari dengan sepenuh hati.
"Aku hanya mengikuti kata hatiku, dia bilang tak ingin melihat mu, maka aku pergi." sahut Gresia dengan suara bergetar. Bayangan tangan Akeno menyambut genggaman tangan Harumi membuat hatinya kembali sakit.
__ADS_1
Akeno mende sah berat. "Aku pergi begitu lama, setiap hari yang aku rindukan hanya istriku. Tapi begitu pulang dia malah menghilang. Kau tau bagaimana perasaan ku sayang, aku hampir gila karena ulahmu."
"Belum gila kan?" cibir Gresia sembari membuang pandangannya. Walau hatinya mengatakan kalau dia juga rindu setengah mati. Tapi siapa sangka suaminya pulang dengan menggandeng wanita lain. Andai yang melakukan hal itu adalah Grasia, apa yang akan Akeno lakukan.
Akeno kembali mendesah berat, dia benar-benar hampir gila tadi. Adrian melaporkan padanya bahwa anak buahnya menemukan ponsel dan liontin di bangku taman, sementara Gresia tak di temukan di sana.
Akeno seketika di landa panik, tanpa alat pelacak akan sulit menemukan Gresia tanpa pasukan kusus miliknya. Dengan pertimbangan itu, Akeno mengerahkan pasukan kususnya melacak Gresia. Hatinya sedikit tenang saat orangnya melaporkan kalau Gresia baik-baik saja. Dia sedang menik mati angin laut sore hari di dermaga kota A.
"Lain kali, saat marah jangan menghilang begitu. Kalau terjadi apa-apa padamu. Seumur hidup aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." lirih Akeno sembari menatap lembut bola mata kelabu istrinya.
Gresia tak menyahut, dia sendiri tak tau kanapa dia melakukan itu.
"Kemarilah," pinta Akeno sembari mengulurkan tangannya pada Gresia.
Gresia tak langsung menyambut uluran tangan Akeno, walau hatinya sangat ingin menghambur kedalam pelukan hangat suaminya.
"Kemarilah, aku akan jelaskan padamu apa yang terjadi di sana. Kau ingin tahu bukan, siapa Harumi?" bujuk Akeno.
Gresia goyah, perlahan dia mengeser tubuhnya mendekat. Tak ingin Gresia berubah pikiran, Akeno langsung menarik tubuh beraroma lembut itu kedalam rengkuhannya. Mendekapnya erat.
Cukup lama Akeno mendekap tubuh Gresia tanpa bicara. Gresia dapat merasakan debaran jantung Akeno yang berdetak kencang.
"Jangan menghilang seperti tadi, berjanjilah padaku." pinta Akeno untuk yang kedua kalinya.
"Maaf," sahut Gresia akhirnya. Jawaban yang melegakan Akeno.
"Jangan meminta maaf, kau tidak salah sayang. Akulah yang salah. Seharusnya aku tidak menyentuh Harumi."
"Bukan cuma Harumi, tapi juga Harumi-Harumi yang lain!" rajuk Gresia.
Akeno tersenyum simpul, sembari mengangguk pelan.
Bersambung
__ADS_1