
Gresia mengadakan pengajian di rumah nenek selama tiga malam bertutur-tutut. Dia mengundang anggota pengajian ibu-ibu komplek di lingkungan rumah nenek. Ini adalah malam ketiga. Akeno bukanlah lelaki yang agamis, sesayang-sayangnya dia pada almarhumah neneknya dia tidak berpikir membuat pengajian untuk neneknya.
Sementara keluarga Gresia masih tinggal disini menemani Gresia. Akeno yang mmeminta mereka tetap tinggal, mengingat betapa terpukulnya Gresia atas meninggalnya neneknya. Dengan membuat rumah ini tetap ramai bisa mengalihkan kesedihan Gresia.
Sejak kecil dia tak pernah mendapat perlakuan hangat dari keluarganya, terutama ayahnya. Neneklah orang pertama yang memberikan kehangatan layaknya keluarga.
"Sayang, ibu-ibu pengajian sudah datang. Turunlah." titah Akeno di balik pintu.
Dari dalam kamar terdengar langkah kaki perlahan menuju pintu, lalu pintu kamar terlihat terbuka. Gresia berdiri di ambang pintu dengan mata sembab sementara tubuhnya terbungkus gaun panjang dan kerudung menutup rambut indahnya. Dia terlihat sangat cantik. Sesaat Akeno terpana oleh penampilan Gresia. Tapi kemudian dia kembali sadar, pada tujuannya menjemput Gresia.
"Ayo," ajak Akeno sembari menautkan jemarinya pada jemari lembut Gresia. Lalu membawanya menuruni tangga. Tangan lembut itu terasa begitu dingin tidak seperti biasanya terasa lembut dan hangat.
Sementara dibawah sana Jenifer dan Maria menatap iri pada Gresia. Betapa Akeno memperlakukan Gresia dengan begitu lembut. Sementara dia tau seberapa kejam sosok Akeno.
Malam ini bukan hanya ibu-ibu pengajian saja yang datang. Tapi Adam bersama Athalia terlihat datang juga malam ini.
Gresia bergabung bersama ibu-ibu pengajian. Sementar Akeno bergabung bersama teman -temannya di ruang sebelah.
Athalia memilih tinggal satu ruangan dengan Akeno dan yang lainnya. Netranya terlihat berulang kali diam-diam mencuri pandang ke arah Akeno sosok yang dia cintai hingga saat ini. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat wajah tampan itu dengan jarak sedekat ini
Sementara Akeno focusnya pada sosok Gresia di seberang sana. Sesekali terlihat dia menyusut air matanya dengan sehelai tisu. Wajahnya diselimuti kesedihan yang begitu mendalam. Sudah tujuh hari ini Gresia hanya berkurung di kamarnya. Hanya sedikit bicara saat bersamanya. Ini sungguh membuat Akeno tersiksa. Dia rindu wajah ceria istri kecilnya.
Pengajian sudah berakhir. Kini hanya tinggal teman dekat Akeno yang masih terlihat di rumah ini.
Untaian kata nasihat bergantian terdengar dari mereka. Menguatkan Akeno dan Gresia atas kepergian nenek.
Menjelang tengah malam barulah Adam dan Athalia pulang. Kalau tak melihat sikap dingin Akeno, mungkin Athalia nekat bermalam disini. Tapi melihat sikap Akeno yang dingin dan acuh tak menanggapi kedatangannya membuat Athalia merasa canggung untuk tinggal.
"Ibu, Ayah. Aku bawa Gresia masuk kedalam dulu untuk istrahat. Ayah dan ibu juga istirahatlah sudah malam." pamit Akeno pada Ayah.
"Iya bahawa istrimu istrahat ayah juga akan istrahat." pria paruh baya itu menatap wajah sayu putrinya dengan perasaan sedih. Mungkin saat dia mati Gresia tak akan disedih ini mengingat apa yang telah dia lakukan dulu terhadap Gresia.
__ADS_1
Gresia sudah berganti baju tidur, begitu juga dengan Akeno. Dia berbaring di sisi Akeno yang terlihat sangat sibuk dengan laptopnya. Dia baru saja mengambil alih Kenzo banyak pr yang harus dia kerjakan saat ini.
Dari tempatnya berbaring, Gresia dapat melihat dengan jelas wajah tampan Akeno. Wajah yang belakangan ini dia abaikan karena dukanya yang terlalu dalam atas kepergian nenek.
Di tengah cahaya temaram wajah Akeno terlihat begitu mempesona, membuat darah Gresia berdesir oleh rasa kagumnya sendiri. Tak perduli seberapa sering mereka bertemu, hati Gresia selalu kagum pada Akeno setiap saat. Sosoknya yang tenang dan sedikit mendominasi saat bersamanya, membuat Gresia merasa terlindungi.
"Sudah mampu menatap ku seperti itu. Kelihatannya perasaan mu sudah mulai membaik." ujar Akeno tanpa mengalihkan netranya dari monitor. Lalu sebelah tangannya terulur menyentuh puncak kepala Gresia, membelainya dengan lembut.
"Ada tuan Akeno di disisiku bagaimana bisa perasaanku tidak baik." ujar Gresia sembari meraih tangan Akeno lalu di cium nya dengan sangat lembut.
Akeno terpana. Sentuhan bibir Gresia yang lembut dan basah pada telapak tangannya menimbulkan percikan halus seperti aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Sudah lama dia tak merasakan sentuhan ini, dia rindu. Tapi pejerjaan yang masih menggunung membuatnya terpaksa mengabaikan perasaan itu.
Gresia tersenyum tipis. Akeno sungguh jeli dan dia suka itu. Lelaki dengan ketampanan luar biasa juga kecerdasan yang luar biasa ini adalah suaminya.
Tak terasa Gresia terlelap bersama dengan pikiran-pikiran indahnya tentang Akeno. Sementara Akeno masih sibuk bekerja hingga hampir subuh.
Akeno baru saja terlelap saat Gresia membuka matanya. Mengerjab berulang kali menatap wajah Akeno yang terpampang di depannya. Tidur dengan posisi miring sembari memeluk tubuhnya.
m
Melihat itu Gresia menarik jarinya dari wajah Akeno. Dia tak mau mengganggu tidur Akeno, dia tau Akeno baru saja terlelap.
Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, beranjak kekamar mandi membersihkan diri lalu turun kebawah membantu bibik menyiapkan sarapan pagi. Rencananya hari ini Gresia pulang bersama Akeno kerumah mereka.
Satu jam kemudian Gresia dan bibik selesai menata menu sarapan pagi di meja makan.
"Bik, tolong beri tahu ayah dan yang lainnya untuk segera sarapan. Aku keatas dulu panggil Akeno."
"Oke nyah." sahut bibik dengan nada bercanda yang disambut tawa oleh Gresia.
Saat Gresia masuk kedalam kamar, Akeno sudah bangun dan sedang berada di kamar mandi. Gresia segera menyiapkan baju untuk Akeno pakai setelah mandi.
__ADS_1
Tak berapa lama Akeno keluar dari kamar mandi dengan tubuh separuh kering. Air bekas mandinya masih terlihat menetes di ujung rambut hitamnya. Gresia terpana...
Akeno mendekat ke Gresia dengan langkah lebar. Lalu berdiri tempat di depannya dengan jarak sangat dekat. Gresia bahkan harus menengadah menatap wajahnya.
Akeno sedikit membungkukkan tubuhnya, melabuhkan kecupan lembut di kening Gresia.
"Jangan menatapku dengan sorot mata seperti itu." protes Akeno sembari menyentil hidung bangir Gresia. Tubuhnya yang condong kearah Gresia menyebarkan aroma wangi khas pria.
"Kenapa?" tanya Gresia dengan jantung berdebar kencang. Menatap dada bidang di depan matanya membuat Gresia hilang arah.
"Karena aku bisa memakanmu. Kau tidak mau mereka menunggumu di meja makan bukan?" sahut Akeno sembari menaikkan alisnya sebelah.
Gresia tersenyum jahat. lalu jemari lentiknya meraba dada bidang Akeno dengan gerakan halus.
Akeno membulatkan matanya kaget. Sedang Gresia menatapnya tanpa dosa. Tapi kemudian Akeno menangkap jemari halus itu menahannya dalam genggaman tangannya.
"Jangan nakal sayang. Mereka sedang menunggu kita di meja makan." bisik Akeno. Lalu mengecup kening Gresia dengan lembut.
Gresia mencebik, lalu menarik jemarinya dari genggam Akeno. "Hanya menyentuh mu apa termasuk perbuatan nakal." rajuk Gresia.
Akeno terkekeh, lalu menarik tubuh Gresia dalam posisi berdiri. Merengkuhnya lembut dalam dekapan tubuhnya. "Itu karena sentuhanmu mengundang hasratnya sayang. Kalau mereka tidak sedang menunggu kita, aku tidak keberatan melakukannya."
"Atau kita biarkan saja mereka menunggu..."
"Apaan sih! Cepat pakai bajumu, aku tunggu di bawah." potong Gresia panik sembari melepas tubuhnya dari dekapan Akeno, lalu bergegas keluar dari kamar.
Akeno tersenyum menatap tubuh Gresia yang menghilang di balik pintu.
Bersambung
Hay mak, maaf lama gak up. Media buat nulisnya emak beberapa waktu lalu, rusak dan baru bisa di pakai lagi hari ini. Sekian lama menghilang emak kangen kalian ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1