
Gresia mematut dirinya di depan cermin. Gaun rajut pas badan berwarna putih, berlengan panjang jadi pilihan Gresia. Dia akan pergi ke acara pesta saudara tirinya malam ini.
Dengan susah payah dia membujuk Akeno agar memberinya izin. Setelah insiden Adam di meja makan tadi pagi. Gresia lebih hati-hati bersikap pada Akeno.
Setelah bersiap Gresia mengetuk pintu kamar Akeno perlahan.
"Masuk!" Suara dingin Akeno sesaat memaku tubuh Gresia di tempatnya.
"Apa kau ingin berdiri saja di sana?" kembali terdengar suara berat Akeno. Kali ini terdengar sedikit lebih lembut.
Gresia masuk dengan langkah perlahan, detak dari tumit sepatunya terasa seperti detak jam di menara tak berpenghuni.
Kini Gresia sudah berdiri di hadapan Akeno dengan tatapan-takut. Akeno menarik nafas melihat ekspresi tegang Gresia.
"Apa aku terlihat begitu menakutkan di matamu?"
Gresia mengangkat wajahnya menatap mata elang Akeno lalu mengangguk pelan. Akeno mendengus kesal, dengan langkah lebar dia mendekati Gresia. Merengkuh tubuh Gresia penuh kelembutan. Dalam hati dia menyesal tak mampu mengontrol emosinya di depan Gresia.
"Aku tidak sedang marah padamu, kenapa kau takut?" Jemari Akeno membelai lembut wajah Gresia yang sedang menatapnya.
"Entahlah, aku seperti melihat orang lain dalam dirimu," lirih Gresia.
"Aku memang bukan pria penyabar Gresia. Hanya padamu aku memiliki rasa sabar yang lumayan baik. Sudah jangan banyak berpikir, pergilah. Kau boleh bersenang-senang asal tidak dengan pria." ujarnya sembari melepas pelukannya pada Gresia.
Gresia mengangguk patuh. "Terimakasih." ucapnya dengan mata penuh binar. Baru kali ini dia pergi ke pesta, dia juga ingin merasakan berpesta dengan teman sebaya seperti gadis-gadis lain. Walau dia bukan lagi seorang gadis.
Gresia pergi di antar Adrian. Dengan gaun rajut putihnya Gresia terlihat bak seorang putri di mata Akeno. Melihatnya pergi dengan tampilan begitu cantik membuatnya tersiksa. Dalam hati dia tak rela melepas Gresia bepergian sendiri tanpa dirinya.
Akeno duduk di sudut ruang kerja nya, di depan jendela kaca berukuran lebar. Memakai kimono berwarna abu kesukaannya, Akeno duduk sembari menyesap wine dalam gelas loki di tangannya.
Sesekali mata elangnya terpejam erat di barengi hembusan nafas berat. Akeno benar-benar tak mengerti perasaannya sendiri terhadap Gresia. Dia berubah jadi pria posesif terhadap istri kecilnya.
Akeno membuka matanya menatap jam di meja kerja nya. Sudah pukul sebelas malam, apa yang sedang di lakukan Gresia di pesta saudaranya?Pikiran-pikiran seperti itu membuatnya tak tenang.
Akeno beranjak dari kursi, lalu berjalan ke meja kerjanya. Membuka laptopnya mengangtifkan alat pelacak pada liontin Gresia. Matanya menyipit melihat lokasi Gresia saat ini. Dia pun bergegas menghubungi Adrian.
"Andian di mana kau antarkan istriku?" tanya Akeno begitu panggilan tersambung.
"Di Mall milik mu, aku sedang di sini juga. Ada apa?"
"Sh it!" umpat Akeno panik. Dia bergegas kekamar berganti pakaian.
"Susul Gresia di Dragon! Telpon orang kita suruh mereka cari istriku!" titah Akeno sembari memasang bajunya.
"Apa?! Sh it!" kini giliran Adrian yang mengumpat. Bang sat! Gadis ingusan seperti mereka berani menipu orang sekelas Akrno? Benar-benar cari mati!
****
Mobil Adrian berhenti tepat di pintu masuk Mall terbesar di kota A. Sementara di pintu masuk kedua saudara tiri Gresia bersama beberapa temannya tampak menyambut kedatangan Gresia. "Nyonya, saya akan menunggu nyonya di situ. Kalau acaranya sudah selesai nyonya bisa cari saya di situ. " ujar Adrian sembari mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kafetaria. Gresia mengangguk paham kemudian turun menemui kedua kakaknya.
Setelah Adrian pergi ke basemen Mall. Ada dua buah mobil berhenti di depan mereka. "Ayo naik, " ujar Jenifer sembari menarik pergelangan tangan Gresia. Dengan perasaan bingung Gresia mengikuti langkah Jenifer dan yang lainnya. Gresia duduk di bangku belakang bersama dua teman Jenifer.
__ADS_1
"Kak, kita kemana?"
"Ke tempat pesta ulang tahunku tentunya. "
"Bukannya tempat pestanya di Mall tadi?"
"Bukan di situ Gresia, Aku hanya minta kau datang ke sana bukan berarti pestanya harus di sana juga kan? Sudah tidak usah takut. Ini cuma pesta ulang tahun. " ucap Maria.
Maria benar ini cuma perayaan ulang tahun jadi kenapa harus takut. Hanya tempat saja yang berbeda dari rencana semula.
Mobil berhenti di Dragon Club. Sebuah Club malam terterbesar di kota A ini.
Jenifer narik paksa tangan Gresia masuk kedalam Club. "Hey, kau ini istri Akeno atau bukan? Kampungan sekali!"
"Tapi aku masih tujuh belas tahun, mana bisa masuk ketempat seperti ini. "
"Oh ayolah, bukankan kau sekarang sudah masuk. " ujar Jenifer masih terus membunuk Gresia.
"Lagi pula acaraku memakai private room. Tidak orang lain disana hanya kita-kita aja. Seharusnya tidak apa-apa kan?"
"Benar hanya kita-kita aja kan. Kakak tau kan aku tidak minum Alkohol. "
"Jangan khawatir kau bisa pesan jus di sana. "
Akhirnya Gresia mau juga mengikuti bujukan Jenifer dan ternyata Jenifer tidak bohong. Dia memesan private room dan hanya teman wanitanya yang ada disana.
Dentuman suara musik yang membahana, kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan serta sorak sorai orang setengah mabuk jadi pemandangan tak menyenangkan bagi Gresia. Dia tak menyangka pesta begitu membosankan.
Dua lelaki langsung menghampiri Jenifer dan Maria tanpa sungkan keduanya mempertontonkan kemesraan di depan mereka. Bukannya malu yang lain malah bersorak kesenangan. Sedang Gresia memalingkan muka jengah.
Dari ketiga sisanya salah satunya tampak memandang Gresia dengan sorot mata tajam. Pria berwajah tampan dan tegas itu mulai melangkah mendekati Gresia, matanya tak lepas menatapnya. Membuat Gresia gugup.
Saat di depan Gresia dia mengulur tangan padanya. "Ayo menari dengan ku." Ajaknya ramah. Gresia menggeleng tegas, mana berani dia melakukan itu. Akeno bisa menebas batang lehernya.
"Nyonya Akeno apa kau takut?" cibirnya dengan mata menyipit. Mendengar ucapan pria itu beberapa teman Jenifer terlihat berbisik-bisik sembari menatap Gresia.
"Betrand ada apa?" seru Jenifer di tengah goyangan tubuhnya dalam pelukan teman prianya mengikuti ketukan musik yang menghentak ruangan.
"Aku hanya ingin berdansa dengannya, tapi dia menolak ku. " sahut pria yang di panggil Betrand itu dengan kalem.
Jenifer melepas pelukan teman prianya lalu menghampiri Gresia. "Ini hanya pesta, Akeno pasti tidak akan marah. " bujuk Jenifer meyakinkan.
"Ini bukan karena Akeno, memang aku yang tidak mau. Kau bisa memilih orang lain, ada banyak wanita disini. " tolak Gresia dengan ekspresi mimik tegasnya. Netra kelabunya menatap tajam bola mata Betrand.
"Tapi aku hanya ingin kau yang menemaniku. " ujarnya dengan seringai dibibir merahnya.
"Bagaimana kalau kau melakukannya dengan ku. " sela wanita di samping Gresia menawarkan diri pada Betrand.
"Kau bukan seleraku!" serunya dengan angkuh. Lalu pandangannya tertuju pada nyonya Akeno. Bukankah menyenangkan bermain dengan nyonya Akeno. Itu juga kesempatan langka.
"Ayolah, jangan buat aku memaksamu. " Ancamnya sembari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Kau bisa mbunuhku kalau kau mau. Jawabanku tetap tidak. "
"Kau sombong sekali. Pria seperti Akeno memiliki banyak wanita di sampingnya untuk di ajak bersenang-senang. Istri baginya hanyalah status. " cibir Betrand.
Gresia tersenyum sinis, kalaupun itu benar dia tak perduli selagi tak terlihat di matanya. "Itu bukan urusanmu dan menolak ku adalah hak ku. " sahut Gresia masih dengan sikap tegasnya.
Betrand menggeram marah, nyonya Akeno sungguh mempesona kan hatinya. Dia tak berniat melepas nya begitu saja. Semakin keras Gresia menolak, semakin besar keinginannya menaklukkan keangkuhan Gresia.
Jenifer yang melihat gelagat tak baik dari Betrand merasa khawatir dia berusaha membujuk Betrand. "Sudahlah Betrand, berhenti memaksanya kau tau bukan, Gresia itu nyonya Akeno. "
"Aku tau, tapi aku menginginkannya." ujarnya sembari menangkap pergelangan tangan Gresia memaksanya berdiri.
"Betrand apa yang kau lakukan!" pekik Gresia sembari meronta melepas cekalan Betrand.
"Diam!" sentaknya garang. Dia benar-benar menginginkan Gresia. Sungguh gila!
Maria dan Jenifer yang melihat itu jadi ikut panik. Mereka memang tak begitu menyukai Gresia tapi mereka juga tidak bodoh mencari gara-gara dengan Akeno dengan begitu jelas. Gresia datang atas undangannya kalau sampai terjadi apa-apa dengan Gresia Akeno pasti takkan melepas mereka.
"Betrand apa kau gila? Dia milik Akemo! Apa kau buta tidak bisa melihat siapa Akeno?!" seru Maria, berusaha mengingatkan Betrand.
"Akeno bisa mencari seribu wanita seperti dia. Kenapa harus takut. " Ujarnya pongah. Lalu mengambil gelas Wine di dekatnya.
"Minum!" ujarnya sembari menjejalkan gelas loki berisi wine ke mulut Gresia. Gresia menggeram dengan kasar dia menepis gelas itu hingga tercecer di lantai. Tapi Betrand tak juga berhenti dia mengambil satu gelas lagi dan kembali menjejalkan gelas itu ke mulut Gresia. Wanita di belakang mereka bersorai menyemangati Betrand. Salah satu dari mereka bahkan ada yang merekam adegan itu dengan kameranya. Hanya Maria dan Jenifer yang terlihat panik dan ketakutan.
"Baji ngan kau Betrand!" geram Gresia, bersamaan dengan pekik Jenifer.
"Betrand stop!"
Dan Brak!!!
Pintu ruang di dobrak dengan paksa. Mata Akeno nyalang menatap Betrand yang tengah memaksa Gresia menenggak wine di tangannya.
"Baju ngan kau!" umpatnya sembari meringsek maju, menghajar Betrand tanpa ampun.Betran bahkan tak memiliki kesempatan membalas serangan Akeno smaa sekali. Pekik ketakutan teman Jenifer tak menghentikan pukulan dan tendangan Akeno pada Betrand yang sudah berdarah-darah.
"Mati saja kau baju ngan!" umpatnya Akeno geram. Dia seperti kerasukan setan memukuli Betrand seperti boneka tak bernyawa.
Gigi depannya patah, begitu juga tulang rusuk dan lengannya. Dia sudah seperti batang keladi yang terkulai layu.
"Akeno stop!" seru Gresia dengan suara bergetar.
Akeno menghentikan gerakannya dengan napas tersenggal. "Aku sudah bang padamu Gresia. Jangan biarkan lelaki lain menyentuhmu, aku pasti akan membunuhnya!"
Tubuh Gresia bergetar, dia mengagguk patuh. "Aku tau, tapi kau sudah membuatku sangat takut. " ujarnya dengan air mata mengucur deras.
Darah berceceran di lantai di bawah kaki Akeno, sedang Betrand sudah tak bergerak lagi.
Isak tangis Gresia membuat kesadaran Akeno kembali lagi. Dia meraih tubuh istrinya merengkuhnya penuh kasih sayang. "Maaf sayang, maafkan aku. Jangan menagis lagi. " bujuknya sembari mengusap-usap lembut punggung Gresia. Lalu menatap Adrian yang mematung di pintu.
"Adrian bereskan ini. " titah nya lalu memapah tubuh Gresia keluar dari ruangan.
Bersambung mak 🥰🥰🥰
__ADS_1