Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 75


__ADS_3

Berita mengenai Akeno menghabisi ketiga pamannya menyebar di bisnis dunia hitam. Tentu saja itu memperlihatkan kekuasaan dan kekuatan Akeno saat ini.


Tindakannya memberi peringatan pada semua lawan-lawannya, bahwa miliknya tidak bisa diganggu oleh siapapun termasuk saudaranya sendiri.


Sementara Gresia berhasil lulus dengan nilai lumayan baik, tentu saja semua itu berkat bantuan Akeno. Si pria ber-otak encer.


Semenjak kejadian itu, Akeno tak pernah meninggalkan Gracia. Kemanapun dia pergi Gresia selalu ada di sampingnya, ke luar kota bahkan ke luar negeri Gracia selalu selalu mendampingi Akeno. Bak ibu negara yang mendampingi presiden.


Seperti pagi, Gracia tampak bersiap mengemas barang-barang yang akan dibawanya, sebab dia akan ikut suaminya keluar kota.


Tepat jam sepuluh pagi mereka sampai di kota C dan langsung bergerak menuju hotel.


Menurut Akeno, rencananya mereka akan menginap selama tujuh hari di kota ini.


Kota C ini bukan kota besar, tapi pemandangannya sangat indah. Gunung, laut dan juga hutan adalah wajah Kota C ini.


Begitu memijakkan kaki di kota ini, Gresia langsung jatuh cinta pada keindahannya.


Setelah istirahat sejenak Akeno langsung meninjau kantor cabang yang ada di kota C ini. Sementara Gresia di tinggal Akeno di hotel tempat mereka menginap. Dia meminta anak buahnya untuk mengantar Gresia ke kantornya saat makan siang nanti.


Di kantornya, Akeno kedatangan tamu seorang wanita muda pemilik lahan yang akan bekerja sama dengan Akeno.


"Tuan Akeno, saya baru pertama kali ini bertemu dengan anda.Ternyata gosip itu benar, tuan Akeno adalah pria yang sangat tampan." puji wanita bernama Astuti itu dengan. mata berbinar penuh kekaguman.


"Terimakasih." ucap Akeno sembari mengangguk pelan.


Wanita berpakaian serba ketat itu terllihat begitu mengagumi Akeno. Sosoknya yang dingin dan penuh ketenangan itu sunggguh mempesona di matanya.


"Nona Astuti Sebenarnya saya berniat membeli lahan itu untuk mengembangkan pabrik yang ada di sini. Tapi sayangnya Nona Astuti memilih menyewakan dari pada menjualnya." ucap Akeno sembari memeriksa berkas-berkas kepemilikan lahan yang akan disewanya dari Astuti.


"Bagaimana lagi, saya juga menyukai lahan itu, hanya saja terkendala di dana. Mungkin setelah dananya cukup saya juga akan membangun usaha di atas tanah itu." jelas Astuti, sementara bola matanya menata penuh Binar sosok di depannya. Akino benar-benar pria yang menawan, gestur tubuhnya membuat Astuti tidak mampu mengedipkan matanya barang sejenak.


Akeno menutup map di tangannya yang berisi berkas, lalu menatap Astuti. " Baiklah nona Saya sudah melihat berkasnya, dan saya meyakini ke-asliannya. Untuk lebih lanjut Nona bisa menghubungi Manager saya." ucapnya, lalu mengambil berkas yang ada di meja.


"Ini adalah poin-poin kontraknya, nona bisa membacanya dulu, mempelajarinya di rumah setelah Nona setuju dengan poinnya, Nona boleh menghubungi saya lagi saya di sini sekitar tujuh hari. Mengenai harga yang Nona Astuti tawarkan kepada kami, saya sudah menyetujuinya, tapi ada beberapa poin yang harus dipahami dalam akad penyewaan ini sebaiknya Nona Astuti pelajari dulu sebelum menandatangani kontrak penyewaannya." jelas Akeno sembari mengulurkan Map di tangannya.


Astuti menerima Map di tangan Akeno, lalu memeriksanya kemudian mengangguk kepada Akeno "Baiklah, saya akan pelajarinya di rumah setelah itu saya akan menghubungi Tuan Akeno."


"Karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Nona Astuti bisa kembali." Ucapkan dengan wajah dan terlihat tanpa senyum.


"Oh ya baiklah. Tapi, boleh tidak saya menumpang kamar mandinya. sebentar." ucap Astuti sembari menunjuk pintu di sudut ruangan.

__ADS_1


Akino mengikuti arah telunjuk Astuti kemudian beralih padanya.


"Baiklah silahkan."


Sembari menunggu Astuti keluar dari toilet. Akeno kembali ke meja kerjanya memeriksa beberapa berkas.


Tepat ketika Astuti keluar dari kamar mandi. Gracia masuk ke dalam ruang kerja Akeno.


Bola mata bening Gresia, manatap lekat sosok Astuti yang tengah membetulkan roknya di depan pintu kamar mandi.


"Sayang kamu sudah datang." sapa Akeno tanpa tau situasi.


"Siapa dia?" tanya Grecia dengan sorot mata garang. Sementara jarinya mengarah ke Astuti.


"Dia nona Astuti, kolega ku." sahut Akeno, sembari mendekati Gresia. Dari ekspresi Gresia, Akeno bisa tau bahwa istrinya sedang marah padanya.


Gresia masih saja diam di tempatnya, sembari menatap Astuti yang juga masih berdiri di tempatnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gresia, kali ini pandangannya beralih ke Akeno.


Akeno menarik nafas dalam, sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


Kini posisi Akeno sudah berada di depan Gresia. Pria yang sedari tadi memperlihatkan sikap datar pada Astuti, kini terlihat sangat lembut dan hati-hati.


"Bisa saja kan, kalian melakukan sesuatu di belakang ku?!" tuduh Gresia masih dengan mode galak.


Akeno kembali menarik nafas berat, dia tau ada yang tak beres dengan Gresia. Biasanya dia tak begini, tapi beberapa hari ini mood Gresia terlihat kurang baik. Saat di perjalanan pagi tadi, Gresia bahkan sempat cemburu pada pramugari.


"Kita akan membahasnya setelah tamuku pergi. Lihatlah sayang, kau membuat nona Astuti ketakutan." ujar Akeno.


Akeno tak berdusta, dia benar-benar ketakutan. Bagaimana tidak takut, kalau orang sekelas Akeno saja terlihat tunduk padanya.


Tanpa mengatakan sepatah katappun Gresia melangkah menjauhi pintu, dari tempatnya berdiri dia masih terus mengawasi gerak gerik Astuti.


"Maaf membuat harimu sedikit terganggu nona." ujar Akeno sebelum Astuti undur diri.


Perkataan Akeno barusan, menegaskan bahwa kedudukan


wanita bernama Gresia sangat penting dimata Akeno.


Kalau Gresia bukan siapa-siapa sudah pasti Akeno memintanya untuk minta maaf pada Astuti, atau Akeno sendiri yang meminta maaf atas kelakuan istrinya, tapi Akeno tidak melakukannya.

__ADS_1


"Tidak apa, aku yang salah. Harusnya aku tidak memakai toilet tuan Akeno." ujar Astuti.


"Tuan, nyonya Akeno saya permisi dulu." pamit Astuti sembari mengangguk sopan pada Gresia dan Akeno.


Akeno berdiri sembari melipat tangannya di depan dada, mata elangnya menatap Gresia dengan tatapan lembut.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak puas? Mood mu begitu beberapa hari ini Sayang."


"Wanita itu keluar dari kamar mandi sembari membetulkan roknya di depan pintu, siapapun yang melihat adegan itu, pasti akan berpikiran lain. ini tidak ada sangkut pautnya dengan mood ku yang tidak baik."


Akeno bisa melihat ketidak puasan di wajah Gresia semakin memuncak. Kalau dia tidak mengalah maka bendera perang pasti akan Berkibar.


"Oke baiklah sayang, aku yang salah. Aku terlalu sembarangan akhir-akhir ini, aku aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, oke."


"Hhmm." sahut Gresia bersungut-sungut. Melihat itu Akeno tersenyum lalu beranjak mendekati Gresia.


"Sudah waktunya makan siang, ku ingin makan apa sayang?"


"Kita makan di mana?"


"Kita makan di sini saja. Kebetulan aku banyak pekerjaan, tidak apa kan kan sayang?"


"Tidak apa." sahut Gresia masih jutek.


Sebenarnya Akeno tidak benar-benar sibuk, sampai tidak bisa membawa istrinya keluar makan siang.


Apa boleh buat, daripada dia bertengkar dengan Gracia karena pelayan restoran, lebih baik mereka makan di kantor dengan tenang.


Gresia menatap menu yang tersaji di meja dengan perasaan tak suka. Padahal semua menu yang terhidang adalah menu kesukaannya. Akeno sengaja memesannya untuk menyenangkan hati istrinya.


Tapi sayangnya semua menu ini malah membuat perut Gresia mual dan ingin muntah.


Takut menyinggung perasaan Akeno, yang sudah susah payah memesan semua hidangan kesukaannya. Gresia memaksakan diri untuk memakannya.


Tapi baru beberapa suap, perutnya terasa semakin mual.


Melihat Gresia menutup mulutnya sembari Memegang perutnya, Akeno jadi panik.


"Ada apa sayang?" tanya Akeno sembari memegang bahu Gresia. wajah tampaknya terlihat begitu khawatir. Bukannya menjawab pertanyaan lagi nih Gracia malah berlari ke toilet sembari membekap mulutnya dengan tangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2