Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 46


__ADS_3

Sore ini sepulang magang Gresia di temui Adam di halaman parkir. Pria tinggi tegap berwajah tampan itu sedang berdebat dengan Adrian saat dia datang.


"Adam." sapa Gresia B dengan mimik ramah.


"Hay, sudah pulang?"


"Iya barusan aja. Kamu sedang apa di sini?"


"Itu, aku ingin mengajak kamu makan. Itu kalau kamu mau. Sebab Adrian melarang ku, dia bilang kamu sedang tak ingin bepergian. " ujar nya sembari melirik Adrian sekilas.


Gresia tampak berpikir sejenak. "Baiklah aku ikut denganmu. " sahut Gresia.


"Tapi nona, apa tidak sebaiknya bilang dulu pada tuan Akeno?" sela Adrian dengan wajah khawatir.


"Iya aku akan melakukannya. Kau pulanglah dulu. "


"Nona boleh pergi setelah memberitahu tuan Akeno. " tegas Adrian.


Gresia mengalah dia menghubungi Akeno untuk minta izin. "Halo."


"Ada apa?"


"Adam datang ketempat kerjaku. Dia mengajakku makan diluar dan aku setuju. Aku menelpon mu ingin memberi tahu itu. "


"Kau setuju, tapi aku tidak setuju. " sahut Akeno.


"Kami hanya makan, dan kebetulan aku ingin makan diluar. "


"Tapi tidak dengan Adam. "


"Kalau begitu bagaimana kalau dengan mu?"


"Tidak bisa sekarang?"


"Akeno makanan sudah siap" terdengar sayup-sayup suara wanita di sebrang telpon.


Deg!


"Ooh kau sangat sibuk ternyata. Maaf menggangu mu. " ujar Gresia lalu memutus panggilan.


"Sudah?" tanya Adam tak sabaran.


"Sudah ayo pergi. " sahut Gresia sembari melangkah ke mobil Adam.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang di tengah padatnya lalu lintas sore. Gresia duduk di sebelah Adam yang sedang focus mengemudi.


"Gresia apa aku memaksamu pergi? Jika tidak suka kau boleh menolak. Jangan pergi denganku karena terpaksa. "


Gresia yang tengah menatap luar jendela beralih menatap Adam. "Tidak, tidak terpaksa. "


"Lalu, kenapa wajahmu terlihat tidak senang begini. "


"Maaf aku bukan.. "


Ucapan Gresia terhenti oleh dering ponsel Adam. Adam mengambil ponsel di saku jasnya .


"Akeno." ujarnya sembari menatap Gresia.


Gresia mengedikkan bahunya. Adam menarik nafas sebelum menerima panggilan Akeno.


"Mana Gresia?!" tanya Akeno dengan surat berat dan dingin. Ada amarah di nada suaranya.


"Di sebelahku?"


"Berikan ponselmu pada Gresia. " titah Akeno.


"Oke."


Adam mengangsurkan ponselnya pada Gresia. Tapi Gresia menggeleng acuh. "Terimalah atau dia akan membunuh ku. " mohon Adam, dia tak ingin terlibat masalah dengan Akeno.


Dengan malas Gresia menerima ponsel Adam. "Ada apa?!"


"Kau sudah berani membangkang Gresia!" bentak Akeno berang. Sedari tadi dia menghubungi Gresia tapi ponselnya mati. Gresia tak menyahut dia tak ingin berdebat dengan Akeno. Bahkan tak ingin bicara padanya. Mendengar suara merdu di belakang Akeno saat dia menelponnya tadi membuat hatinya sakit.

__ADS_1


"Gresia jangan membuatku semakin marah padamu!" Sentak Akeno lagi. Di abaikan begitu oleh Gresia membuatnya kalang kabut.


Gresia tetap diam, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu Adam mengambil ponselnya dari Gresia.


"Stop membentaknya Akeno! Kau membuatnya menangis. Kalau kau tidak ingin aku membawanya pergi, aku akan membawanya pulang. Jadi berhenti mengasarinya. " tegas Adam yang juga tersulut emosinya melihat air mata Gresia.


Terdengar desa han berat Akeno di sebrang telpon. "Tanyakan padanya apa yang dia mau. Ikuti maunya setelah itu antar dia pulang. " ujar Akeno akhirnya.


"Baiklah." Sahutnya sembari memutus panggilan.


Adam mencari tempat sepi lalu menepikan mobilnya. Tatapan Adam beralih pada Gresia sepenuhnya. Masih ada jejak air mata di kedua pipinya. "Kita lanjut makan atau pulang saja?"


"Aku ingin nonton. " sahut Gresia. Mata Adam menyipit menatap Gresia.


"Nonton bioskop maksudmu?" tanya Adam. Gresia mengangguk.


"Tapi kita izinnya untuk makan bukan untuk nonton."


"Tidak apa kalau kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri "


"Oke kita nonton. " Tidak mungkin membiarkan Gresia pergi sendiri, bisa mati dia di buat Akeno. Kalau bukan karena rindunya pada Gresia yang menggunung dia tak kan berani membawa Gresia tanpa izin Akeno.


Setengah jam kemudian mereka sudah berada di bioskop. Gresia focus pada film yang sedang di putar sembari mengunyah popcorn di pangkuannya.


Awalnya dia hanya ingin menghilangkan kegundagannya. Tapi film action yang jadi pilihan mereka benar-benar-benar menyita perhatiannya. Film yang menyuguhkan adegan kekerasan juga percintaan yang tragis.


Di tengah focusnya pada film, Gresia tiba-tiba menyadari Aroma tubuh Adam berubah menjadi mirip wangi tubuh Akeno.


Dia baru ingin menoleh kesamping tiba-tiba Adam menyentuh jemarinya. Reflek Gresia menarik tangannya sembari membentak Adam.


"Adam apa yang kau lakukan?!" geram Gresia dengan suara rendah. Netranya meneliti Adam di dalam gelap. Tapi berapa kagetnya Gresia yang di samping nya bukan lagi Adam melainkan Akeno.


Dalam gelap Gresia dapat melihat senyum Akeno yang begitu menawan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gresia sinis.


"Menemani istriku nonton. " sahut Akeno sembari meraih jemari Gresia menggenggamnya erat. Gresia mencoba melepas genggaman Akeno tapi sia-sia.


Gresia mencibir. "Siapa juga yang mau nontonin wajah mu. Wajah kaku gitu apa bagusnya. "


"Kenapa bisa kau yang disini? Kemana Adam?"


"Aku mengusirnya. Kenapa, tidak rela di tinggal Adam?" cibir Akeno.


Gresia mencebik kesal sembari menarik tangannya dari genggaman Akeno. Tapi lagi-lagi usahanya tak berhasil.


"Kenapa mengabaikan ku?" tanya Akeno berubah serius. Gresia tak menyahut dua tetap diam membisu.


"Aku bertanya padamu Gresia?"


"Kita sedang di tempat umum. Apa kau lupa?"


"Jawab saja apa susahnya. "


"Aku hanya tidak ingin menggangu kesenanganmu di luar sana. "


"Apa maksudmu kesenanganku di luar sana!" sentak Akeno dengan suara meninggi. Membuat penonton di sekitar mereka bereaksi.


"Hey kalian bisa diam tidak. Kalau mau bertengkar jangan disini!" seru salah satu dari mereka.


Bukannya merasa bersalah Akeno malah menatap si pemilik suara dengan perasaan jengkel.


"Ayo keluar, kalau kau ingin nonton kita bisa nonton di rumah kaca. " ujar Akeno sembari menarik tangan Gresia memaksanya berdiri.


Gresia memilih mengikuti Akeno dari pada dia kembali membuat gaduh bioskop ini.


Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di mansion. Akeno masih menggenggam jemari Gresia dengan erat membawanya kerumah kaca. Saat melewati dapur Akeno meminta bibik membuatkan mereka makan malam.


"Bukankah kau sudah makan tadi?" tanya Gresia sembari menatap punggung Akeno. Akeno yang sedang memasukkan kode di pintu, menoleh padanya.


"Kapan aku makan?" dia balik bertanya bersamaan dengan bunyi klik di pintu yang terbuka otomatis.


"Aku dengar ada yang mengajak mu makan saat kau menelponku tadi. " lirih Gresia.

__ADS_1


Akeno menghentikan langkahnya tepat di depan rak. Netranya menatap Gresia lekat-lekat. "Seseorang jadi marah karena tawaran itu. Mbuatku hilang selera. " sahut Akeno sembari menggeser rak penghubung ruang rahasia di rumah kaca ini. Akeno masuk lebih dulu sementara Gresia mengekori di belakang nya.


Sudah dua kali ini Gresia masuk ke sini, tapi tetap saja dia merasa takjub oleh desain dan kemewahan ruangan ini.


Akeno menarik tubuh Gresia yang masih mematung duduk di sofa, lalu meletakkan laptop di pangkuan Gresia.


"Pilih Film yang suka. " Titahnya saat Gresia memandang kearahnya.


Dengan senang hati Gresia melakukannya. Saat pilihan Gresia tertambat pada Drakor yang lagi dia gandrungi Akeno langsung protes.


"Tidak. Jangan yang itu. "


Gresia tak perduli dia tetap memutar drama kesukaannya. Akeno hanya bisa pasrah menatap layar lebar mengikuti kemauan istrinya.


Setelah beberapa menit menonton ponsel Akeno berdering. Itu dari bibik yang sedang mengantar makan malam mereka.


"Tunggu di sini, aku ambil makan malam kita dulu. "


"Hmmm."


Beberapa menit kemudian Akeno kembali bersama bibik yang membawa nampan berisi menu makan malam mereka. Setelah mengantar bibik keluar Akeno kembali lagi ke ruang rahasia.


"Ayo makan. " Ajak Akeno sembari mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Gresia mengangguk pelan netranya focus kedepan menikmati adegan drama favorite nya.


"Buka mulutmu. " titah Akeno sembari mengulurkan sendok berisi nasi ke mulut Gresia.


"Aku bisa makan sendiri. " tolak Gresia.


"Buka mulutmu dan kunyah. Kalau membiarkan mu makan sendiri aku takut kau memakan ikan beserta tulangnya. " omel Akeno.


"Mana ada, " sungut Gresia sembari menyantap nasi yang di suap Akeno kemulutnya.


"Lain kali jangan pergi dengan lelaki lain sekalipun kau sedang marah padaku. " ujar Akeno sembari menyuapi Gresia yang kedua kali.


Gresia mengalihkan pandangannya menatap Akeno. Tatapan lembut itu membuat jantung Gresia berdetak kencang.


"Aku tidak janji, " sahut Gresia acuh. Walau bukan kalimat itu yang ingin dia ucapkan.


Akeno menghentikan gerakannya. "Gresia aku tidak berkompromi masalah ini. "


"Aku butuh teman saat meras kesal. "


"Ada Adrian yang menemanimu. "


"Aku sedang kesal padamu, pergi dengannya malah membuatku kesal. "


"Karena dia orang ku?"


"Hmmm."


"Makan lah lagi. " Dia kembali menyuapi Gresia.


"Tadi sore Desi keluar dari rumah sakit. Aku menjemputnya lalu mengantarnya pulang ke apartemen nya." jelas Akeno. Sementara Gresia hanya diam mendengarkan.


"Aku berhutang budi padanya, tidak mungkin aku membiarkan dia keluar rumah sakit seorang diri. " imbuhnya lagi.


Gresia kembali menoleh pada Akeno menatap manik hitamnya dengan tatapan lembut. "Tidak apa, aku hanya sedikit cemburu dan tak bisa mengendalikan perasaanku. Lain kali aku akan berusaha sedikit tenang. "


Akeno tersenyum sembari menganyak surai panjang Gresia. Akeno menyudahi makannya begitu juga dengan Gresia.


Gresia masih terus menonton sementara Akeno tampak pulas di pangkuannya. Lelah membuatnya tak sadar tertidur bersandar di bahu Gresia. Kasihan melihat Akeno tidur dengan posisi duduk. Dia menggeser tubuh Akeno merebahkan tubuh kekar itu di pangkuannya.


Kini focus Gresia beralih ke Akeno sepenuhnya. Benar kata orang kalau ingin tau seseorang itu tampan atau cantik. Maka lihatlah saat dia sedang tidur. Kalau dia tetap tampan saat sedang tidur itu berati dia memiliki ketampanan sejati. Dan sepertinya Akeno pria yang memiliki ketampanan sejati.


Gresia mengusap lembut wajah tenang Akeno. Dia sungguh mengagumi garis wajah Akeno yang sangat sempurna. Alisnya tebal, bulu matanya juga. Hidungnya mancung di lengkapi dengan bibir merah yang tipis.


Akeno adalah bentuk keindahan yang sempurna yang telah Tuhan ciptaka.


Dia tak pernah bermimpi memiliki suami sesempurna Akeno. Dia bahkan tak berani mengagumi lawan jenisnya karena keadaannya. Latar belakang nya yang di sebut keluarga tirinya tak jelas membuatnya takut membuka diri untuk orang lain. Dia selalu memendam segala rasa yang dia punya.


Tapi Akeno di sisi Akeno Gresia mampu memperlihatkan segala rasa yang dia punya dan Akeno menerimanya.


Bersambung 🙏🙏🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2