Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 73


__ADS_3

Ruang rawat inap di sebuah rumah sakit swasta milik Akeno, adalah tempat dimana Ayana dan dua orang lainnya di rawat. Akeno sengaja menempatkan Ayana di rumah sakitnya, agar kejadian penyerangan tak terendus oleh polisi.


Dengan memberi tekanan pada keluarga Ayana dan dua korban lainnya, Akeno membuat mereka terpaksa mengikuti kemauan Akeno.


Sore ini Akeno membawa Gresia datang menjenguk Ayana. Bagaimanapun Gresia wajib tau keadaan ketiga temannya.


Ayana di tempatkan di ruangan terbaik oleh Akeno dan tentu saja semua biaya perpobatan mereka di tanggung oleh Akeno.


"Di ruang ini Ayana di rawat." ujar Akeno begitu tiba di depan ruang tempat Ayana di rawat.


Dada Gresia terasa berdegup kencang, dia sadar Ayana di serang karena dia.


"Tidak apa, masuklah." ucap Akeno menenangkan Gresia. Gresia masih terlihat ragu. Melihat itu Akeno meraih jemari Gresia, sedikit memaksa membawanya melangkah masuk ruang rawat.


Di dalam ruang rawat tampak ibu dan Ayana sedang berbincang.


"Gresia!" pekik Ayana begitu Gresia masuk bersama Akeno.


Wajah pucatnya terlihat sumringah melihat kedatangan Gresia. Dengan langkah pelan Gresia medekati Ayana.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Gresia dengan mata berkaca-kaca. Melihat keadaan Ayana dia bisa tau kalau Ayana tidak dalam keadaan baik baik saja.


"Aku baik-baik saja berkat Akeno." sahut Ayana, matanya juga terlihat berkaca-kaca menatap Gresia.


"Maaf." lirih Gresia. Tubuhnya yang masih dalam posisi berdiri terlihat bergetar pelan.


"Jangan meminta maaf ini bukan salahmu." sahut Ayana. Dia tak ingin membebani Gresia dengan perasaan bersalah, sebab ini memang bukan salahnya. Dia juga bersalah dalam hal ini. Awalnya Gresia menolak pergi, tapi mereka membujuknya dengan berbagai cara, hingga Gresia setuju untuk pergi.


Sementara Akeno melihat tubuh istrinya gemetar, dia mendekat. Menarik kursi di samping Gresia lalu memintanya duduk. "Duduklah, tubuhmu masih lemah." ujar Akeno.


Gresia menoleh sekilas, kemudian duduk di kursi yang di berikan Akeno.


Kini panadangan Gresia beralih pada Ayana. "Maaf tante, karena saya Ayana jadi terluka." ucapnya sembari menundukkan kepalanya.


Ibu Ayana meraih jemari Gracia lalu tersenyum. "Ini bukan salahmu Gresia. Ayana yang memaksamu pergi, andai Kau tidak ikut maka kau juga tidak terluka." ucap wa1nita paruh baya itu dengan sorot mata penuh kasih.


"Ibu benar, harusnya aku lah minta maaf Grace, aku tidak tahu kalau nyawamu jadi incaran orang-orang di luar sana." timpal Ayana dengan nada penuh penyesalan.


"Aku sangat takut, saat mendengar kau terjebak di hutan. Aku akan menyesalinya seumur hidup, bila kau tidak selamat." ibunya sembari terisak.


Tak ada kata-kata yang mampu diucapkan Gresia lagi, dia mendekat memeluk tubuh Ayana sembari ikut terisak di pelukan Ayana. Persahabatan mereka terjalin cukup lama, ikatannya bukan seperti sahabat lagi, tapi lebih ke hubungan persaudaraan.


Setelah mengunjungi Ayana, Gresia mengunjungi dua teman lainnya. Keduanya tidak separah Ayana, sebab Ayana sempat dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Tapi tetap saja akhirnya menempatkan keduanya di ruang yang terbaik di rumah sakit ini.


Setelahnya, Akeno langsung membawa Gresia pulang ke mansion. Sesampai di mansion Akeno memintanya untuk istrahat di dalam kamar.

__ADS_1


Akeno sendiri harus pergi, ada urusan yang harus dia kerjakan.


Mobil Akeno melaju meninggalkan hiruk pikuk kota A. Satu jam kemudian mobil berhenti di sebuah bangunan berpagar tinggi.


Setelah menunggu selitar dua menit, terlihat pintu gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka, mobil Akeno pun masuk kedalam.


Di dalam terlihat berdiri kokoh bangunan tiga lantai. begitu mobil Akeno sampai di halaman parkir beberapa orang berpakaian hitam, dengan postur tubuh tinggi tegap menyongsong kedatangannya.


Mereka sedikit membukukan tubuhnya saat Akeno melewati mereka.


"Sudah sampai di mana penyelidikan kalian?" tanya akino dengan suara beratnya.


"Pelakunya belum jelas tuan. Tapi beberapa bukti mengarah ke seseorang yang tuan kenal." jelas pria bertubuh tegap sembari me-sejajari langkah kaki Akeno.


"Oh ya, bagus sekali." ucap Akeno dengan Seringai di bibirnya.


Langkah Akeno berhenti di sebuah ruang yang cukup luas di sudut bangunan. Ada banyak orang yang terlihat sangat sibuk di dalamnya sebagian orang terlihat sibuk dengan berkas-berkas di meja, sebagian lagi sibuk memantau layar monitor.


Begitu melihat kehadiran Akeno, semua orang itu berdiri, lalu mereka membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat. Akeno menggangguk pelan, Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Adrian tampak diantara salah satu dari mereka.


Dia datang menghampiri Akeno, sembari membawa berkas-berkas di tangannya.


"Apa yang kau dapat?" tanya Akeno sembari duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.


Adrian tersenyum simpul, kemudian duduk di depan Akeno. "Sepertinya musuh lamamu masih penasaran denganmu." ucap Adrian sembari menyerahkan beberapa berkas Akeno.


"Jadi ini ulah paman pamanku, apa pelajaran yang aku berikan selama ini tidak masuk ke dalam otaknya. sehingga berani melakukan ini terhadap Gresia." ucap Akeno geram.


Adrian mendesah berat. "Mereka bahkan mengorbankan harta mereka satu-satunya, untuk bisa membayar pembunuh bayaran demi bisa menghabisi Gresia." timpal Adrian geram.


"Temukan mereka secepatnya aku sudah tidak sabar untuk memberi mereka pelajaran." titah Akeno.


"Baik. Kau pulanglah Gresia membutuhkanmu." ujar Adrian. dia juga sangat khawatir dengan keadaan Gresia.


"Kau benar dia masih trauma."lirih Akeno sembari menatap Adrian.


"Tolong kau handle semuanya. Mungkin dua hari ini aku Stay di rumah menemani Gresia."


"Oke baiklah, percayakan saja kepadaku." sahut Adrian.


Seperti saran Adrian, Akeno segera pulang menemui Gresia. sesampainya di rumah Akeno langsung bergegas menuju kamarnya.


begitu Akeno masuk ke dalam kamar ternyata Gresia sudah bangun. Dia sedang mengganti perbannya dibantu oleh dua pelayan.


Tubuh Gresia masih terbalut handuk, sementara dua pelayan sedang mengikat perban di bahunya.

__ADS_1


Akeno beranjak mendekat, lalu melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya sebatas siku.


"Kalian keluarlah, biar aku yang lanjutkan." Dita hakino pada kedua pelayannya.


"Baik Tuan." sahabat kedua pelayan itu kemudian bergegas meninggalkan ruang kamar.


"Kenapa tidak menungguku," ucap Akeno, sembari membalutkan perban pada luka.


"Hanya luka kecil, untuk apa merepotkan sayang. Pekerjaanmu sudah banyak di luar sana." sahut Gresia sembari menatap wajah tampan Akeno.


"Kau bilang luka kecil?! Kau tau sayang, aku nyaris gila memikirkannya. Membayangkan peluru menbus kulitmu saja membuatku ingin membunuh orang." dengus Akeno berang.


Gresia tersenyum menatap wajah kelam suaminya. dia sama sekali tidak meragukan ucapan Akeno dan mungkin dia harus mulai terbiasa dengan tindakan-tindakan kasar suaminya terhadap musuhnya di luar sana.


"Sudah," ucap Akeno sembari mengusap bahu Gracia.


Gresia mengangguk pelan, kemudian meraih jemari Kokoh suaminya. Memberinya kecupan-kecupan lembut dijemari itu berulang kali. "Terima kasih." ucapnya dengan suara pelan.


Perlakuan manis yang membuat jantung Akeno berdetak kencang. "Sebentar sayang, biar aku ambilkan bajumu." ujar Akeno kemudian. Lalu bergegas pergi keruang ganti.


Sesampainya di ruang ganti, tak langsung membuka lemari. Dia terdiam beberapa menit untuk menenangkan gejolak hasratnya yang mendadak timbul.


Di perlakukan begitu manis oleh Gresia, membuat Akeno ingin segera menerkam tubuh mulus itu, membawanya ketempat tidur. Kemudian memanjakannya dengan sentuhan sentuhan panas yang dipenuhi oleh luapan gairah.


Setelah dengan susah payah meredam hasratnya, Akeno kembali menghampiri Gresia sembari membawa baju tidur Gresia.


Dengan cekatan Akeno membantu Gresia mengenakan baju tidurnya.


"Ada apa? Kenapa senyum-senyum begitu menatapku?" tanya Akeno, sembari mencubit lembut pipi Gresia.


Ditanya begitu senyum Gracia Malah semakin lebar. membuat Akeno semakin penasaran.


"Hey katakan ada apa." desak Akeno sembari mengacak surai panjang milik Gresia.


masih dengan senyum Gracia menatap bola mata Bola milik Akina dengan tatapan sangat lembut. "Aku tidak benar-benar sakit, kita bisa melakukannya dengan lembut." ucap Gresia, dengan wajah tersipu malu.


Oh sh it!


"Kau ini, aku sudah mati-matian menahannya kenapa malah memancingnya lagi." gerutu Akeno, dengan ******* berat.


Wajah malu-malu Gracia berubah manyun. "Tapi aku juga butuh sentuhan lembutmu, kata orang melakukan itu bisa menghilangkan perasaan tegang. Bukankah itu bagus kalau memang benar-benar bisa." rengek Gresia, sembari memainkan jari jemarinya yang satu dengan yang lain.


Akeno terkekeh. "Kau semakin pintar bicara ya." ucapnya gemas.


Tapi tidak ada salahnya mencoba teori Gresia, siapa tau benar, dan seperti kata Gresia mereka bisa melakukannya pelan-pelan.

__ADS_1


Bersambung


Maaf buat readers emak, emak jarang update.🙏 Harap maklum ya sayang, pekerjaan dunia nyata numpuk☹😭😭


__ADS_2