Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 65


__ADS_3

Akeno menarik tubuh Gresia masuk kedalam ruang kerjanya. Menutup pintunya rapat-rapat lalu mendekap tubuh molek itu penuh rindu. Lalu Membawanya masuk ke ruang pribadinya. Dia tak memiliki banyak waktu berdua dengan Gresia karena kesibukannya, itulah sebabnya dia meminta Gresia datang kekantornya.


Tak hanya merengkuh tubuh molek itu penuh rindu, Akeno juga menyambung kembali cumbuannya pagi tadi. Gresia tak menolak, dia sendiri juga rindu suaminya. Pria super tampan ini mana mungkin tak membuatnya merindu. Semakin berumur aura Akeno semakin kuat menjerat hatinya dengan segala pesona yang dimiliki.


"Aku belum makan siang," ucap Gresia menghentikan gerakan Akeno yang akan membuka resleting celana Gresia.


Akeno mendengus kasar, memandang tubuh Gresia yang sudah berada di bawahnya. Tubuh setengah telan jang itu mana mungkin mampu menahan hasrat Akeno lagi.


"Kita makan setelah aku memakanmu sayang." ucap Akeno dengan suara rendah. Membuat tubuh Gresia meremang, dia tak benar-benar lapar. Dia hanya gugup, lama tak bertemu dengan Akeno membuatnya merasa sedikit gugup menerima serangan ganas Akeno.


Ruang kerja Akeno jadi saksi betapa panas dan ganasnya sentuhan Akeno pada kekasih hatinya. Dia benar-benar meluapkan semua hasratnya yang selama ini terpendam. Sebulan tanpa melakukan aktifitas ranjang membuat kepalanya berdenyut sakit. Lelaki secerdas Akeno sudah pasti memiliki naf su lebih besar dari pria biasa.


Sementara Gresia harus siap menerima permainan Akeno dengan segala imajinasi liarnya. Kehidupannya yang keras, sedikit banyak juga mempengaruhi aktifitas ranjangnya.


Tak butuh waktu lama bagi Akeno untuk menaklukan Gresia kali ini. Walau begitu dia sangat puas oleh pelayan istrinya.


Akeno membopong tubuh Gresia kekamar mandi setelah pergulatan panas mereka. Membersihkan tubuh yang bermandi keringat.


Setelahnya Akeno membawa Gresia keluar makan siang. Saat melewati ruang kerja Clara, Gresia menyempatkan diri menatap Clara dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi. Dia ingin menegaskan bahwa Akeno adalah miliknya jadi jangan macam-macam.


Clara begidik ngeri oleh tatapan Gresia. Dia benar-benar merasa bodoh telah lancang berani memprovokasi Gresia. Melihat Gresia keluar di gandeng dengan begitu mesrah oleh Akeno, dia langsung tau siapa Gresia bagi Akeno.


"Kau tidak menyukainya?" tanya Akeno sembari menekan tombol lift. Tatapan tajam Gresia, dia bisa melihatnya.


"Siapa?" Gresia balik nanya seolah tak paham ucapan Akeno. Sembari menengadah menatap Akeno yang menjulang di hadapannya. Gesturnya yang manja membuat Akeno gemas.


Akeno terkekeh sembari mengacak lembut puncak kepala Gresia. "Aku bisa memecatnya kalau kau tidak suka." ucap Akeno dengan senyum tipis di bibirnya.


"Aku hanya menggertaknya sedikit." sahut Gresia sembari mengerling manja.


"Sudah pandai menggertak orang?"


"Sedikit."


Akeno mengulum senyum, isteri kecilnya sudah pandai menggertak orang. Dia benar-benar nyonya Akeno.


Akeno dan Gresia sudah ada di lobby kantor saat sosok Harumi juga sampai di sana. Dia datang bersama Adrian.


Senyum Harumi yang sempat mengembang terlihat memudar. Sosok Akeno yang datang sembari mengenggam jemari Gresia, membuat bibirnya kaku tak mampu mempertahankan senyumnya merekah lebih lama.


"Kalian juga disini, ayo makan siang bersama kami." ajak Akeno.

__ADS_1


"Baiklah." sahut Harumi cepat, ada binar di kedua bola matanya. Sementara Adrian melangkah pergi.


"Kau juga Adrian!" seru Akeno.


Adrian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap mereka bertiga. Haruskah dia masuk kedalam hubungan cinta segitiga mareka?


Selama ini setahu Adrian, Akeno hanya perduli pada Gresia seorang. Tapi saat Akeno datang memboyong Harumi, Adrian meragukan penilaiannya.


"Aku makan sendiri saja." tolak Adrian.


"Kalau kau tidak bisa makan dengan kami, bawa Harumi makan denganmu. Atau kau ingin ada rumor baru tentang hubungan kami bertiga."


Adrian menarik nafas panjang. "Baiklah aku ikut kalian."


"Bagus."


Akeno meraih jemari Gresia, kemudian berlalu dari lobby menuju mobilnya.


Sementara Harumi mengikuti langkah Adrian dengan perasaan kecewa.


Akeno memilih restauran yang ada di sekitar kantornya. Seperti biasa Akeno memilih private room sebagai tempat makan favorit nya. Dia tak ingin makan siangnya terganggu oleh tatapan ingin tahu dari pengunjung lain.


Gresia tersenyum senang. Dengan mata penuh binar dia menatap Akeno.


"Kau suka sayang?"


Gresia mengangguk pelan, kemudia mengikuti langkah Akeno duduk menghadap pintu, sementara Adrian dan Harumi memilih duduk berhadapan dengan mereka.


Tak berapa lama sepasang pelayan datang membawa hidangan istimewa. Rupanya Akeno sudah menyiapkan makan siang ini untuk Gresia.


"Harumi dan Adrian, aku harap kalian suka hidangannya. Tadinya aku memesan menu ini untuk istriku. Kalau kalian tidak suka, belum terlambat untuk pesan menu lain lagi."


"Tidak perlu, kau pesan hidangan istimewa. Siapa pun pasti menyukainya, bukan begitu Harumi?" ujar Adrian meminta pendapat Harumi. Harumi mengangguk pelan, dia sendiri sudah tak memiliki selera makan melihat sikap lembut Akeno yang di tujukan untuk Gresia.


Mereka makan dengan hikmat, hidangan yang di pilih Akeno untuk Gresia benar-benar istimewa rasanya.


"Aku sudah mencarikan tempat untuk mu Harumi." ucap Akeno memecah kesunyian. Sontak ketiganya menatap Akeno bersamaan


"Kau memintaku pindah?" tanya Harumi dengan nada kecewa.


"Iya, kau tidak berniat tinggal bersama kami selamanya bukan?" entah candaan atau serius, ucapan Akeno membuat Harumi terhenyak. Sementara Gresia menatap Akeno sembari mengunyah nasi di mulutnya dengan gerakan perlahan.

__ADS_1


"Tapi aku masih trauma.."


"Aku sudah mencarikan orang yang bisa menemani mu setiap saat. Karena Adrian akan mengawal Gresia lagi." potong Akeno, dengan ekspresi dingin.


Harumi mende sah pasrah dengan keputusan Akeno. "Baiklah, nanti aku akan nengemasi barang ku."


"Jangan takut, aku menyediakan fasilitas dan penjagaan yang terbaik untukmu. Bagaimana pun kau adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa ku, aku tidak mungkin lupa itu. Tapi aku tidak bisa membawamu tinggal di kediamanku terlalu lama. Istriku, dia tak terbiasa dengan kehadiran orang asing di rumah kami." jelas Akeno sembari memandang lekat wajah istrinya.


Gresia terlihat kaget, dia tak menyangka Akeno menjadikannya alasan untuk mengeluarkan Harumi dari rumah mereka. Tapi juga senang dengan keputusan Akeno.


Harumi menatap Gresia lekat. Akeno benar-benar memanjakannya. "Maaf membuatmu tak nyaman dengan kehadiran ku."


"Tidak apa, kau hanya menginap beberapa hari. Aku bisa menanggunnya." sahut Gresia dengan ekspresi datar. Dia sudah bertekat untuk tidak memberi ruang bagi bibit-bibit pelakor seperti Harumi. Sebagai wanitanya Akeno, dia bisa melihat dengan jelas sorot mata penuh damba dari Harumi saat menatap suaminya.


Mendengar jawaban Gresia, Harumi terlihat kesal. Tidak bisakah dia berbas-basi?


"Jadi kapan aku harus pindah?" tanya Harumi sembari menatap Akeno. Dia berharap Akeno memberinya sedikit waktu. Setidaknya dia bisa mengukir kebersamaan sebelum dia meninggalkan rumah Akeno.


"Sepulang dari sini, kau bisa mengemas semua barang mu. Adrian akan menggantarmu ketempat yang di sediakan Akeno. Begitu kan sayang?" ujar Gresia tegas, mendahului Akeno. Lalu menatap Akeno dengan wajah manis meminta Akeno membenarkan ucapannya.


Akeno mengulum senyum, lalu mengiyakan ucapan istrinya. Ada kecewa tergambar di raut wajah Harumi, tapi tak ada yang bisa dia lakukan lecuali mengikuti kemauan mereka.


Mobil Akeno melaju meninggalkan restauran menuju kantor. Sementara Adrian pulang bersama Harumi.


Gresia duduk tenang sembari menatap keluar jendela, menikmati hiruk pikuk kenderaan yang lalu lalang di sepanjang perjalanan mereka.


Akeno duduk di sebelah sembari menatap, meneliti wajah istrinya dari samping. Tidak ada yang berubah, hanya sedikit terlihat dewasa dan semakin cantik.


Akeno tersenyum sendiri saat mengingat ketegasan sikap istrinya terhadap Harumi. Akeno hanya memancing kecil tapi Gresia malah memperlihatkan isi hatinya.


Akeno meraih jemari istrinya, lalu di ciumnya penuh kasih sayang. Gresia menoleh lalu tersenyum.


"Lain kali, saat tidak suka dengan apa yang aku lakukan katakan saja, jangan memendamnya sendiri." bisik Akeno. Gresia mengangguk dengan wajah bersemu merah, dia benar-benar malu dengan sikapnya tadi.


"Maaf kalau sikapku tadi terlalu lancang," lirihnya.


Akeno menggeleng tegas. "Aku suka sikap tegasmu. Kau benar-benar nyonya Akeno." bisiknya sembari melabuhkan kecupan lembut di puncak kepala Gresia.


Bersambung


Hay readers emak, dah lama emak gak menyapa kalian readers tercinta. Salam sayang dari emak buat readers setia 🥰

__ADS_1


__ADS_2