
Jenifer dan Maria menggigil ketakutan. Bukan hanya mereka berdua tapi semua tamu Jenifer yang ada di dalam ruangan itu digiring kesebuah ruang bawah tanah Dragon club' oleh Adrian. Sementara Betrand sudah di larikan kerumah sakit. Lukanya sangat parah hingga tak sadarkan diri.
Ruang yang cukup luas ini terasa sedikit panas, oleh suhu tubuh yang meruar dari tubuh orang-orang yang meringkuk ketakutan. Di sudut ruang terdapat beberapa monitor yang terhubung oleh CCTV di seluruh area Club malam ini. Adrian sedang memutar ulang rekaman CCtv di ruang terjadinya insident.
Mereka duduk berdesakan di bangku panjang seperti pesakitan yang sedang di interogasi atas kejahatan nya.
Sedang Adrian duduk di sofa panjang sembari mengutak atik ponselnya dan sesekali memperhatikan layar monitor.
"Tuan, sampai kapan kami di kurung di sini? Tuan tau kami tidak bersekongkol dengan Betrand." salah seorang teman Betrand unjuk bicara.
Adrian menarik nafas panjang. "Akeno sedang menenangkan istrinya. Bersabarlah sedikit untuk menerima hukuman. "
"Hukuman? Kami bahkan tak melakukan apapun. "
"Itu salah satu kesalahan mu! Harusnya kau mencegah Betrand bukan malah menjadi penonton dan bertepuk tangan menyemangati tindak kejahatan di depan matamu. Itu sama saja termasuk dalam kejahatan." ujar Adrian penuh penekanan.
Hembusan nafas berat terdengar dari bibir masing-masing. Siapa sangka pesta yang harusnya menyenangkan berubah menjadi petaka.
Sementara itu Akeno langsung membawa Gresia pulang ke mansion. Isak tangis dan gemetar tubuh Gresia yang ketakutan membuat Akeno mengeratkan giginya geram. Masih terbayang olehnya perlakuan kurang ajar Betrand pada istrinya. Bukan hanya menyentuh dia bahkan berani maksa Gresia meminum minuman beralkohol.
Gresia meringkuk dalam pelukan Akeno, dalam waktu yang lama sebelum mobil mereka meninggalkan Dragon. Setelah Gresia sedikit tenang barulah Akeno meminta sopir membawa mereka pulang. Akeno menatap wajah istrinya dengan kasih sayang, sepertinya Gresia sudah tertidur walau sesekali isak tangis masih terdengar diantara dengkuran halus di bibirnya.
"Pelan-pelan saja mengemudi kan mobilnya pak. Istriku sedang tidur. " titah Akeno dengan suara pelan.
Baik Pak."
Sopir segera mengurangi kecepatan mobil yang di kenderainya dan melaju penuh kehati hatian. Seakan takut guncangan mobil membangunkan istri kesayangan bosnya itu. Setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagai mana tuannya menjaga tubuh istrinya seperti sebuah guci yang gampang pecah.
Setibanya di rumah, Akeno membopong tubuh Gresia masuk kekamarnya. Menunggu sesaat, setelah memastikan Gresia tidak akan terbangun lagi, dia pun beranjak pergi.
Satu jam kemudian dia sudah berada di ruang bawah tanah Dragon. Menatap satu-persatu orang-orang yang dianggapnya bersalah atas peristiwa yang menimpa Gresia.
Jenifer yang sedari tadi diam memberanikan diri menatap Akeno. "Akeno, aku adalah kakak Gresia, tidak mungkin aku tega mencelakai adikku sendiri. " lirih Jenifer.
Akeno mendengus kesal. "Kau hanya saudara tiri istriku, kalau pun kalian kandung aku juga tak melepasmu. " sahut Akeno dengan sorot mata tajam.
Aura Akeno begitu mendominasi semua mahkluk dia ruangan ini. Sorot matanya yang setajam pedang seakan menembus jantung mereka satu persatu.
"Kalian tau kenapa aku membawa kalian kesini?" tanya Akeno dengan suara berat dan dalam. Tubuh jangkungnya duduk bersilang kaki dikursi berlapis kulit asli berwarna hitam sehitam bola matanya yang kelam.
Semuanya serempak menggeleng. Aura Akeno yang begitu kuat membuat mereka tak berani angkat bicara.
__ADS_1
"Dari rekaman ini kalian tau kalau Gresia adalah istriku. Tapi kalian sama sekali tak berniat mencegah Betrand yang sengaja ingin melecehkan istriku! Apa kalian sudah sehebat itu mengabaikan pengaruhku?" Akeno menyerahkan ponsel yang ada di tanganya pada Adrian. Ponsel milik salah satu teman Jenifer yang sempat merekam semua kejadian tadi.
Tak butuh waktu lama di monitor sudah terpampang adegan kejahatan Betrand.
Akeno mengatupkan rahangnya erat. "Dia istriku dan kalian melakukan itu padanya. " geram Akeno dengan jemari mengepal erat.
Wajahnya seketika berubah gelap, aura dingin tiba-tiba menyelimuti ruangan hangat ini.
"Kalian, isi buku itu dengan sebenar-benarnya. Jangan coba-coba membohongiku. Setelah itu kalian boleh pulang. " titah Akeno. Jemari nya mengarah pada buku di atas meja.
Mereka saling pandang satu sama lain. Lalu satu persatu mulai mengisi buku dengan data pribadi mereka sesuai yang tertulis di buku. Jadi mereka di kurung di ruang bawah tanah ini begitu lama hanya untuk mengisi buku dengan data pribadi mereka saja.
"Hahh! Cuma itu saja bikin orang takut. " omel salah seorang dari mereka setelah keluar dari Dragon.
"Aku sempat mengira Akeno akan membunuhku. Melihat reaksinya yang berlebihan tadi. Tapi ternyata hanya sebatas gertak sambal saja. " timpal yang lain dengan nada mengejek.
"Kalian benar-benar mengisi data pribadi kalian yang asli pada buku yang di beri Akeno tadi?" tanya yang lain lagi.
"Tentu saja. " sahut mereka serempak.
"Dasar bodoh! Kalian pikir Akeno benar-benar melepas kita dengan suka rela. Apa kalian benar-benar tak mengenal siapa Akeno?"
"Kau benar Akeno bukan lelaki yang kebal hukum. Tapi kalian juga harus tau, hukum di kota A ini adalah miliknya. Kalian pikir untuk apa dia meminta kita mengisi data diri dengan sangat lengkap? Apa kalian pikir dia berniat memberi kita santunan? Mungkin benar dia akan memberi kita santunan setelah kita semua bangkrut dalam semalam. Aku dengar dia bahkan sanggup menenggelamkan sepuluh perusahaan dalam semalam."
Tiba-tiba saja halaman parkir Dragon terasa sangat sunyi dan sedikit menyeramkan. Ucapan pria itu mampu membuat bulu kuduk mereka meremang. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Hingga satu persatu meninggalkan halaman parkir Dragon.
****
Gresia menggeliat pelan, sembari menyipitkan matanya karena silau oleh cahaya matahari yang menyilaukan. Netra kelabu nya melihat jam di atas nakas. Jam sembilan lewat lima menit. Pantas saja cahaya matahari terasa terik.
Sesaat Gresia mengingat kejadian tadi malam. Saat Akeno menghajar Betrand tanpa ampun dah membabi buta. Akeno terlihat sangat emosional dan kenal kompromi. Bahkan mimik wajahnya tak memiliki belas kasihan sedikit pun. Aura yang memancar dalam diri Akeno terasa begitu gelap dan menakutkan.
Akeno seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Di depan Gresia dia terlihat lembut dan penuh perhatian. Sementara di depan musuhnya dia terlihat kejam dan tak kenal ampun. Masih terbayang jelas di matanya bagai mana Akeno dengan kakinya yang panjang menendang dan menginjak- injak tubuh Betrand yang sudah layu tak bergerak.
Gresia meneliti seluruh ruangan mencari sosok Akeno di kamar ini. Tapi sepertinya tidak mungkin di jam segini Akeno masih di rumah. Tapi tunggu bukankah ini hari minggu.
Setelah membersihkan diri Gresia keluar dari kamar Akeno menuju dapur. Perutnya terasa pedih karena lapar, apa lagi malam tadi dia benar-benar mengeluarkan banyak tenaga saat melawan Betrand dan rasa takutnya.
"Sudah bangun?" tiba-tiba Akeno sudah berdiri di belakangnya. Memeluk tubuhnya dari belakang dengan lembut. Aroma minta langsung meruar dari tubuh Akeno.
"Sudah."
__ADS_1
"Ayo sarapan. Aku juga sudah sangat lapar. " ujar Akeno sembari menarik kursi di depan Gresia.
"Kau belum sarapan?"
"Belum aku menunggu mu. Sudah makanlah keburu dingin. "
Gresia mengangguk patuh, dan mulai makan dengan hikmad. Sesekali iris kelabunya mencuri pandang ke Akeno. Entah mengapa pagi ini Akeno terlihat sangat tampan. Dengan kemeja sutra biru dan celana jeans. Dia terlihat seperti anak remaja.
"Jangan terus menatapku, kau bisa kenyang tanpa menghabiskan sarapan pagi mu," tegur Akeno sembari mengalihkan pandangannya pada Gresia.
"Cih! Apa hebatnya wajahmu, " sungut Gresia dengan raut wajah bersemu merah. Akeno terkekeh sembari mengacak lembut rambut Gresia.
"Cepat habiskan sarapanmu. Kita akan berkencan hari ini. "
"Kencan?"
"Hmmm."
"Bagaimana kalau orang melihat kita?"
"Itu bagus, pertanda mata mereka berpungsi dengan baik. Sebab kita bukan makhluk kasad mata yang tak terlihat. "
"Aku serius Akeno!"
"Aku juga."
Gresia mende sah berat. "Bukankah kau takut reputasimu rusak karena menikah dengan wanita sepertiku... "
"Jangan ngelantur Gresia. Bagaimana kau bisa berasumsi begitu tentang perasaan ku? Apa kau cenayang bisa membaca pikiranku?!" potong Akeno gusar.
"Bukankah itu benar?"
"Tentu saja tidak!"
"Lalu kenapa kau takut orang tau tentang hubungan kita?"
"Banyak alasan, salah satunya karena kau masih tujuh belas tahun. Yang jelas bukan seperti yang ada di kepalamu itu. " sahut Akeno sembari menoyor kepala Gresia dengan jarinya.
Gresia menatap Akeno dengan prasaan ragu, berkencan dengan Akeno di tempat umum apa tidak masalah?
Bersambung mak 🥰🥰🥰🙏🙏🙏
__ADS_1