
Baskoro menatap layar monitor dengan tatapan datar. Sesekali senyum sarkas terukir di bibirnya. Ketika menyaksikan wanita yang pernah singgah di hatinya di siksa dengan cara yang sangat sadis.
Mungkin saat ini wanita itu menyesali perbuatannya. Andai dia tau imbalannya neraka, dia pasti berpikir dua kali untuk berkhianat.
Baskoro bukanlah Akeno yang begitu mencintai Gresia, dan Ria bukanlah Gresia yang memiliki kesetiaan luar biasa. Tentu saja keduanya memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan wanitanya.
Sebenarnya Akeno tidak meminta Ria di balas dengan cara kejam. Tapi dia tau siapa Baskoro. Dia menyimpan bara api pada setiap penghianat. Lagi pula dia bukanlah lelaki yang gampang di bujuk. Pendiriannya teguh, harga dirinya juga sangat tinggi. Mana mungkin dia sudi memberi ampunan pada orang yang telah menghianati dirinya, juga Akeno yang sudah seperti tuhan baginya.
Baginya wanita hanyalah wanita, bukan sesuatu yang boleh di utamakan.
Di tempat lain, Adrian tengah menemani Gresia. Mereka berbelanja keperluan bayi.
ini adalah hari terakhirnya menemani Gracia, karena besok dia sudah dipindahkan.
Mungkin dia akan ikut dengan Baskoro ke negara A. Negara yang jauh dari Akeno juga Gresia.
Pengawal yang menggantikannya saat ini juga ikut bersama mereka. wanita itu bernama Lela, tubuhnya tinggi tegap rambutnya cepak. Perawakannya sama sekali tidak terlihat seperti wanita.
Untuk bisa mengawal Gresia, Lela digembleng dan dibekali beberapa pengetahuan bela diri selama hampir setahun. Sementara dia sendiri awalnya sudah sangat ahli bela diri.
Lela datang tidak sendiri, ada dua wanita bawahannya yang juga nanti ikut mengawal Gresia.
Sebegitu sayangnya Akeno pada istrinya. Membuat Adrian dan yang lainnya merasa salut.
tapi bagi Adrian itu hal yang wajar, karena wanitanya adalah Gracia. Wanita yang diam-diam juga sangat dia cintai.
karena perasaan yang dia miliki itulah, kenapa akhirnya memindahkannya jauh-jauh dari Gresia. Atau suatu saat nanti mereka akan saling bunuh karena satu wanita.
Kalau selama ini Akeno bersabar dengan perasaan Adrian, mungkin untuk kedepannya itu tidak akan terjadi. jadi lebih baik baginya untuk pergi, dia juga tidak ingin menyakiti Gracia karena keegoisannya. Karena kebahagiaan Gracia benar-benar hanya dengan Akeno.
"Aduh!"
Tiba-tiba Gresia mengaduh kesakitan. dia berdiri tak jauh dari Adrian. tubuhnya terlihat gemetar sembari memegangi perutnya.
Melihat itu sontak Adrian berlari mendekati Gracia. " Nyonya apa yang terjadi?!" Adrian menyentuh pundak Gresia dengan kedua tangannya. Dia bisa merasakan tubuh nyonya bergetar halus.
Gresia menengadah menatap Adrian di depannya. "Beritahu Akeno sepertinya aku mau melahirkan." ujar Gresia sembari meringis menahan sakit.
"Apa?! Lela hubungi Akeno! Katakan padanya kita membawa Gresia kerumah sakit. Suruh dia menyusul kesana." titah Adrian gugup. Dia bahkan tak memakai embel-embel tuan saking gugupnya.
Adrian memapah tubuh Gresia hingga masuk mobil. Menaruhnya di jok belakang, lalu meminta Lela menemaninya.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan, Gresia sudah harus tinggaldi rumah sakit karena sudah pembukaan.
Gresia menempati ruang khusus yang sudah siapkan oleh Akeno.
"Bagaimana dia?" tanya Akeno pada Adrian. Melalui sambungan telpon, sebab dia masih di perjalanan menuju rumah sakit. Dia baru saja membubarkan rapat penting demi Gresia. Baginya tak ada yang lebih penting dari Gresia.
"Nyonya dalam ruang khusus bersama Lela, kata Dokter nyonya sudah pembukaan. Jadi harus tinggal." jelas Adrian.
"Dasar keras kepala." gumamnya, lalu mematikan telepon.
Gracia dari tadi malam sudah merasakan sakit perutnya. Akeno sudah meminta Gracia untuk memeriksakan perutnya ke rumah sakit. Tapi dia bilang hanya masuk angin biasa.
Sesampainya di rumah sakit Akeno bergegas mencari Gracia di ruang khusus. Dì luar ruangan Akeno bertemu dengan Adrian. dia duduk dengan gelisah di kursi tunggu, seperti dia yang sedang menunggu istrinya melahirkan.
"Kau sudah perketat pengawasan tempat ini?" tanya Akeno, begitu sampai di depan Adrian.
"Sudah, jangan khawatirkan apapun aku sudah mengaturnya untukmu. Cepat temui dia, dia sangat kesakitan." ujar Adrian tanpa sadar.
Akeno mengernyitkan alisnya, lalu menepuk pundak Adrian. "Cepat urus kepindahanmu. Kalau kau tetap di sini, aku takut aku bisa membunuh mu." ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan Adrian.
"Maaf." sahut Adrian lirih. Akeno tak pernah main-main dengan ucapanannya.
Gresia sedang berjalan pelan di sudut ruangan sambil mengelus elus perutnya yang besar.
"Sayang!" serunya begitu melihat Akeno datang.
Sementara Akeno menghampirinya dengan wajah tegang. Wajah pucat istrinya tak bisa membuatnya tersenyum sedikitpun.
"Bagaimana? Apa sangat sakit?" tanyanya panik.
Gresia menggeleng pelan. "Tidak." sahutnya sambil tersenyum.
Tentu saja Akeno tidak percaya, keringat dingin sudah membanjiri wajahnya.
"Kemarilah." pintanya sembari mengembangkan tangannya menyambut tubuh Gresia.
Gresia mendekat, lalu melabuhkan tubuhnya dalam pelukan hangat Akeno. Perutnya yang besar membuat jarak di antara mereka.
"Dimana yang sakit?" tanya Akeno, sembari mengusap punggung Gresia.
"Ssshh, semuanya sakit." desisnya dengan suara bergetar. Berada di dekat Akeno tiba-tiba membuatnya ingin menangis.
__ADS_1
"Ayo operasi saja. Aku tidak tahan melihatmu kesakitan begini." bujuk Akeno, sembari terus mengusap punggung Gresia.
"Tidak mau, aku justru takut di operasi."
"Kata orang tidak akan sakit, sayang."
"Benarkah."
"Hmmm."
"Adduh..." Gresia mencengkeram lengan Akeno erat-erat. Rasa sakit yang cukup kuat mendera perutnya.
Tubuh Akeno bergetar melihat reaksi dari rasa sakit Gresia. Cepat dia mengambil ponselnya menelpon Dokter pribadinya.
"Siapkan ruang operasi segera." titahnya dengan suara tegas.
Dia tidak akan sanggup menunggu lebih lama lagi. Melihat Gresia kesakitan membuatnya marah. Tapi tak tau, akan di tujukan kemana amarahnya itu.
Ruang operasi segera di siapkan, dan Gresia segera mendapat tindakan.
Sekitar dua puluh menit, Dokter memanggil Akeno aagar melihat putranya. Sebab Akeno tidak menunggui Gresia di ruang operasi.
Pria berdarah sadis itu tak sanggup melihat pisau bedah membelah perut istrinya. Walau dengan alasan medis.
"Di mana dia?" tanya Akeno dengan perasaan berkecamuk. Bahagia dan haru menyeruak di dalam hatinya.
"Ini dia putra tuan." seorang bayi laki-laki mungil di angsuran pada Akeno, oleh seorang suster. Tubuh Akeno bergetar. Dia benar-benar memiliki seorang putra sekarang.
"Kemarilah putraku." lirih Akeno.
Bayi mungil itu benar-benar tampan. Segala sesuatu yang dia miliki Akeno.
"Kau benar-benar putraku." ucapnya dengan perasaan bangga.
Tapi kemudian senyumnya menghilang. "Bagaimana dengan istriku?!" tanyanya khawatir.
"Nyonya baik-baik saja tuan. Tuan jangan khawatir."
"Baguslah, kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku. Kalian harus bertanggung jawab." tegasnya. Dia benar-benar tidak tau, bahwa Dokter bukanlah tuhan.
Bersambung
__ADS_1