
Desi baru saja terpejam saat pintu kamarnya di buka dari luar. Dia beringsut ketepi tempat tidur dengan tubuh terbalut selimut tebal.
Pintu terbuka tampak pria muda bermata sipit masuk kedalam. Wajahnya tampan juga tegas, sorot matanya tajam dan terlihat licik. Desi mengenali pria ini, dia pernah bertemu sekali dengannya. Dia adalah Sathosi anak Hikaru.
Dia masuk perlahan setelah mengunci pintu kamar itu kembali. Netranya yang tajam memindai setiap sudut ruang kamar ini. Lalu tatapannya berhenti pada sosok Desi yang meringkuk di sudut tempat tidur.
"Kau Desi bukan? Aku tidak menyangka Kau wanita yang di bawa papa ke vila ini. Berapa dia membayarmu?" tanya Sathosi dengan nada menghina.
Desi mengernyitkan alisnya mendengar ucapan Hatoshi. Apa dia tidak tau menau rencana papanya
"Aku bukan wanita simpanan papamu. Sepertinya kau salah paham." ujar Desi masih bergeming di balik selimut menyembunyikan tubuhnya.
Dia tertawa sinis, netranya memindai tubuh Desi di balik selimut. "Vila ini milik keluargaku. Kalau bukan simpanan ayahku lalu siapa yang bisa masuk kekamar ini?"
"Dia menyekapku? Apa kau sungguh tidak tu?"
"Hahaa, kau suka main drama rupanya. Dia mampu membeli wanita manapun untuk apa dia meyekapmu?" cibir Hatoshi dengan tatapan menghina.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak. Tapi apa kau tidak berpikir kenapa ayahmu mengunciku dari luar. Lagi pula aku yakin di luar sana ayahmu menempatkan banyak pengawal. Apa kau tidak bertanya untuk apa dia melakukan semua itu."
Hathosi terdiam, apa yang dikatakan Desi ada benarnya. Saat dia masuk ke vila beberapa pengawal ayahnya tampak berjaga-jaga. Mereka juga sempat melarang dia untuk masuk kedalam.
Belum sempat Hathosi berpikir lebih jauh, pintu kamar di gedor dari luar. Suara bas Hikaru terdengar memanggil manggil Hatoshi.
"Hatoshi buka pintunya. Apa yang kau lakukan di dalam?"
Hithosi menatap Desi mencoba membaca reaksi gadis yang masih meringkuk di balik selimut itu dengan tatapannya. Desi menggeleng pelan, tatapannya terlihat memohon padanya agar tak membuka pintu kamarnya.
"Hithosi! Kau ingin aku mendobrak pintunya?" teriak Hikaru.
"Aku sedang bercinta dengannya ayah. Tunggulah aku selesai." jawab Hitoshi sembari menatap Desi.
"Bang sat! Apa kau sudah gila?!"
"Kenapa ayah marah. Dia hanya wanita bayaran pemuas naf sumu bukan?"
"Bodoh! Kau jangan terpedaya oleh ja Lang itu Hitoshi. Dia kekasih abangmu Akeno dia bukan simpananku!" Nada suara Hikaru terdengar panik.
Hitoshi menatap Desi lebih dalam lagi. Dia milik Akeno lalu ada kepentingan apa ayahnya menahan wanita milik Akeno di vila mereka.
"Ada urusan apa ayah menahan kekasih Akeno di vila kita?"
"Bukan urusanmu, keluarlah biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku." tithnya tak sabar.
Hitoshi terlihat bimbang, melihat wajah ketakutan Desi. Tapi dia juga tak berani menentang perintah ayahnya.
Pintu kamar sudah mulai di dobrak oleh Hikaru. Membuat Hitoshi terpaksa membuka pintunya walau. Desi memohon mohon padanya.
"Aku kira kau sudah kehilangan akal." ujar Hikaru pada anaknya saat pintunya terbuka. Wajahnya sudah memancarkan aura kemarahan yang terasa membakar seisi kamar.
"Ada apa ini ayah?"
"Keluarlah, ini bukan urusanmu." Sahutnya sembari memberi kode pada dua pengawalnya untuk membawa Hitoshi keluar.
Begitu Hitoshi keluar pintu kamar kembali tertutup rapat. Kini tinggal Desi dan tua bangka itu di dalam kamar.
"Ternyata kau benar-benar kesayangan Akeno ya. Dia mencari mu seperti keseluruh penjuru bumi seperti orang gila." ujarnya sembari terbahak mencibir Akeno.
Dia duduk di kursi di sudut ruangan. Sembari menatap Desi Hikaru terlihat menelpon seseorang. Tak lama di seberang telpon terdengar suara berat Akeno.
"Halo."
"Apa kabar mu kemanaan ku. Jarang-jarang kau mau menerima panggilan dariku. Sepertinya angin di kota ini sudah berubah arah."
"Kau benar paman. Malam ini aku melihat angin di kota ini berubah arah. Itu sebabnya aku menerima panggilan telpon mu."
"Hahaha kau benar-benar tahu keadan. Akeno aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Aku harap kau suka."
Hikaru mengambil gambar Desi yang sedang meringkuk di atas ranjang lalu mengirimnya pada Akeno.
Sembari menatap Desi yang meringkuk di balik selimut Hikaru kembali menghubungi Akeno.
"Bagaimana Akeno. Kau menyukai hadiahku?" tanya Hikaru dengan pongahnya.
"Lumayan." sahut Akeno dengan suara datar. Hikaru mengerutkan keningnya, reaksi Akeno yang terdengar biasa saja membuatnya curiga.
__ADS_1
"Dia kekasihmu bukan?"
"Iya, tapi sayangnya kami sudah putus beberapa hari yang lalu." sahut Akeno dengan nada sangat tenang.
"Bang sat! Jangan membohongiku! Aku tau kau mencarinya seperti orang gila."
"Kau melihatnya begitu?" ujarnya Akeno dengan nada mengejek. Membuat emosi Hikaru meledak seketika. Kalau tidak, bukankah itu berarti Akeno sedang mempermainkannya.
"Akeno bang sat kau!" umpat Hikaru. Di sambut tawa Akeno yang membahana.
"Aku memang bang sat paman. Oh ya sebenarnya akulah yang akan memberimu hadiah. Semoga kau menyukai hadiahku dan selamat menikmati barang bekas ku." ucap Akeno sembari memutus panggilan.
Tak berapa lama dia menerima panggilan dari anak buahnya yang mengawal barang keluar dari pelabuhan. Bahwa barang yang dia kawal di tangkap polisi beserta beberapa barang bukti pengiriman atas namanya.
Hikaru membanting ponselnya kelantai dengan amarah yang meledak ledak. Tak disangka dia masuk kedalam perangkap yang dia buatnya sendiri.
Kini tatapannya beralih pada Desi. Saat ini dia butuh pelampiasan dan Desi adalah orang yang tepat menerima segala amarahnya.
Dengan kasar Hikaru menarik tubuh Desi keluar dari balutan selimut.
"Kau mau apa?!" pekik Desi saat Hikaru menindih tubuhnya di atas ranjang.
"Apa kau bersekongkol dengan Akeno hah!" Serunya sembari melayangkan tangnnya ke pipi Desi yang terus meronta di bawahnya.
"Ahh!" Terdengar pekik tertahan di bibir Desi yang pecah dan berdarah.
Hikaru seperti kesetanan menghajar Desi membabi buta sembari merobek pembungkus tubuh mulus Desi. Desi kehabisan tenaga, air matanya mengalir deras penuh putus asa. Hikaru pria tua dengan tenaga kuda, Desi tak mampu melawannya.
'Akeno jangan sia-siakan pengorbananku.'
"Ja lang sepertimu harusnya mati membusuk di rumah sakit jiwa." umpat Hikaru sembari menggagahi tubuh Desi yang sudah polos. Sementara Hikaru sendiri juga sama, tubuhnya sudah polos seperti bayi baru lahir.
Desi benar-benar putus asa, mungkin ini akhir dari segalanya. Upaya membebaskan diri dari jerat keluarga Kenzo malah membenamkannya kedasar jurang.
Hikaru menatap tubuh molek Desi dengan hasrat dan amarah. Dia hampir berhasil menghujam miliknya ke liang kenikmatan milik Desi. Tiba-tiba pintu kamar di dobrak dari luar. Beberapa orang berseragam polisi meringsek masuk kedalam.
"Apa apaan ini?!" bentak Hikaru panik. Manik hitamnya nyalang menatap mereka, salah satu dari mereka yang tak lain adalah Akeno.
"Tangkap dia!" titah salah satu pria berseragam itu dengan tegas. Sementara Akeno bergegas menutupi tubuh Desi yang tergeletak tak berdaya penuh luka lebam di sekujur tubuhnya.
Desi menggeleng. "Hampir," lirihnya dengan lengkungan samar di bibir pucatnya.
Sedang Hikaru seperti kesetanan. Mengumpat, meneriaki Akeno dengan sumpah serapah. Tubuh tuanya meronta ronta berusaha melepaskan diri.
Setelah membantu Desi menutupi tubuhnya Akeno melangkah mendekati Hikaru.
"Paman tenanglah sedikit jangan terlalu emosi, kau sudah tua apa tidak takut stroke." cibir Akeno. Hikaru yang sedang di pegang dua orang, kembali meronta berusaha memukul Akeno. Tapi dia lupa kedua tangannya sudah di gelangi oleh polisi.
"Bang sat kau Akeno! Aku akan membalasmu!" Ancamnya dengan mata memerah karena amarahnya yang sudah tak terkendali.
"Paman, apa kau lupa kalau angin di kota ini sudah berubah arah?" ujar Akeno dengan suara berat dan dalam. Auranya membuat punggung Hikaru meremang.
"Akeno kami harus membawanya sekarang." ujar salah satu polisi pada Akeno.
"Silahkan pak. Oh ya saya akan bawa nona Desi kerumah sakit. Kalau bapak butuh keterangan dari di bapak bisa hubungi saya."
"Baik."
Hikaru di seret keluar dari vila dengan sejumlah barang bukti kejahatannya. Setelahnya Akeno keluar dengan membopong tubuh Desi. Dari vila Akeno langsung menuju rumah sakit.
Selain luka lebam di sekujur tubuhnya Desi mengalami geger otak ringan dan harus di rawat untuk beberapa hari kedepan.
"Kau harus menginap di sini beberapa hari." ujar Akeno sembari memotong buah lalu menyulangkannya pada Desi.
"Ini sudah tengah malam Akeno."
"Lalu?"
"Aku tidak suka makan buah di tengah malam begini."
"Ooo." sahut Akeno sembari mengunyah buah yang sudah di potongnya dengan gerakan perlahan.
"Kalau kau ingin pulang. Pulang saja, aku juga ingin istirahat. Tubuhku terasa remuk redam di bawa tidur sepertinya enak." ujar Desi sembari menatap Akeno yang juga menatapnya.
"Baiklah. Kau isitrahatlah dengan baik. Jangan banyak berpikir. Masalah Kenzo besok kita bicarakan lagi."
__ADS_1
"Iya pergilah." ujarnya sembari tersenyum.
Desi menatap punggung Akeno dengan perasaan tak rela. Dia berharap Akeno menolak untuk pulang dan bertahan disini untuknya. Walau sikap ini sudah jadi prediksi nya tapi tetap saja ada rasa kecewa terselip di sudut hatinya.
Setengah jam kemudian Akeno sudah berdiri di depan kamarnya. Langkahnya tertahan di ambang pintu saat mendengar isak tangis Gresia. Gresia duduk bersil di atas ranjang, sementara di depannya tampak laptop dengan layar menyala.
Cahaya biru yang berasal dari laptop membuat air mata di pipi Gresia berkilauan.
"Ada apa? Kenapa kau menagis?" tanya Akeno panik.
Gresia yang sedang menatap laptonya berpaling menatap Akeno. "Kau sudah pulang?" Gresia balik bertanya dengan suara yang mengandung tangis.
"Aku tanya kenapa kau menangis. Siapa yang membuatmu menangis, katakan!" seru Akeno berang.
"Dia..." ujar Gresia sembari mengarahkan jari telunjuknya ke laptop yang sedang menyala, Isak tangisnya masih terdengar.
Akeno duduk di tepi ranjang meraih laptop lalu meletakkannya di hadapannya. Hatinya geram ingin segera melihat siapa yang membuat air mata istrinya bercucuran begini.
"Dia?" tanya Akeno dengan dahi mengernyit saat melihat dengan jelas layar monitor laptop Gresia. Gresia mengangguk.
"Kau bercanda?!"
Gresia menggeleng. "Aku terlihat bercanda?"
"Gresia apa kau ingin aku hukum!"
"Kau jahat sekali. Aku sedang sedih Akeno..."
"Kau menagisi Song Joong Ki di depanku. Apa kau bosan hidup!"
"Kalau aku menyukainya di hadapan mu apa aku kau biarkan hidup?"
Akeno mencubit dagu Gresia. "Aku lebih hebat darinya, kenapa bukan aku saja yang kau sukai?" bisiknya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Gresia bisa mencium aroma obat dari tubuh Akeno.
"Siapa yang sakit?" tanya Gresia sembari meneliti tubuh Akeno. Akeno melepas sentuhannya menatap Gresia curiga.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Tubuhmu bau rumah sakit." sahut Gresia sembari terus meneliti setiap jengkal tubuh suaminya.
"Desi masuk rumah sakit."
"Kok bisa?"
Akeno menarik nafas dalam. Menatap bola mata kelabu Gresia dalam-dalam.
"Dia dianiaya orang karena ku. Jadi aku membawanya kerumah sakit untuk di rawat."
"Apa sangat parah?"
"Iya. Tapi sudah di tangani dengan baik oleh dokter."
"Harusnya kau tidak pulang. Dia pasti butuh kehadiranmu untuk menghiburnya."
Akeno berdecak kesal. "Kau ini, aku pulang karena tidak ingin pikiranmu kemana-mana karena menunggui Desi di rumah sakit. Kau malah memintaku untuk tinggal. Apa kau tak punya hati! Aku ini suamimu. Setidaknya cemburulah sedikit pada wanita-wanita yang mendekati suamimu." omel Akeno.
Gresia menatap Akeno penuh binar. "Aku boleh cemburu?"
"Tentu saja!"
"Mulai besok aku akan menjambak rambut wanita yang berani mengumbar kemesraan bersama suamiku dan kau! jangan protes bila aku melakukan itu." Ancamnya sembari mengacungkan jemarinya tepat di depan wajah Akeno.
Akeno terkekeh, dengan cepat dia menangkap jari Gresia lalu memasukan kedalam mulutnya menggigitnya pelan.
"Sakit!"
"Hanya kau yang mengacungkan jari padaku dan jarimu masih utuh," ujar Akeno sembari membelai wajah Gresia dengan jemari kokohnya. Netranya menatap dalam manik kelabu Gresia. Auranya terasa begitu dingin membuat Gresia menciut.
Melihat istrinya yang menciut takut Akeno merubah ekspresi nya menjadi sangat lembut. "Itu karena aku menyayangimu. Ingat itu." bisiknya. Gresia mengangguk patuh.
"Ayo tidur sudah malam." ujar Akeno.
Gresia meringkuk dalam dekapan Akeno, nafasnya terdengar lembut dan sangat teratur. Sementara Akeno memeluk tubuhnya begitu erat seakan tak rela di tinggal pergi.
Bersambung 🙏🙏🥰
__ADS_1