Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 76


__ADS_3

Akeno bergegas menyusul langkah Gresia ke toilet. Melihat Gresia susah payah memuntahkan isi perutnya dia mendekat, memberi pijitan pada tengkuk Gresia dengan gerakan lembut.


Pantas saja beberapa hari ini Gresia bertingkah aneh, ini ternyata jawabannya.


"Kamu masuk angin sayang?" tanya Akeno sembari mennyeka bibir Gresia menggunakan tisue.


"Sepertinya begitu."


"Kalau begitu ayo ke Dokter."


"Tidak usah, minum obat sama air hangat aja. Nanti juga mendingan." sahut Gresia. Wajahnya terlihat pucat.


Akeno tak menyahut, dia menuntun tubuh lemas Gresia keluar dari toilet. Mendudukkannya di sofa yang ada di ruang kerjanya. Kemudian menghubungi sekertaris pribadinya agar mencarikan Dokter untuk Gresia.


"Sam, tolong carikan Dokter wanita untuk istriku."


"Baik."


Akeno memutus panggilan, lalu beralih menatap Gresia yang tampak terpejam sembari tersandar di bahu sofa.


Akeno menempatkan tubuhnya di samping Gresia. "Apa terasa pusing?" tanya Akeno sembari memijit pelan kepala Gresia. Gresia mengangguk.


Akeno tampak tak sabaran menunggu Sam membawa Dokter agar segera memeriksa Gresia, sebab Gresia sudah berkeringat dingin.


Tak berapa lama Sam datang dengan Dokter wanita berusia empat puluhan.


Karena ruang ini tidak di lengkapi ruang pribadi, Dokter terpaksa memeriksa Gresia di atas sofa.


"Bagaimana dok?" tanya Akeno tak sabaran.


Dokter itu tersenyum sembari membereskan peralatannya. "Dari hasil pemeriksaan saya, pusing dan mualnya nyonya dikarenakan nyonya sedang mengandung, untuk hasil yang lebih akurat lagi sebaiknya tuan Akeno membawa nyonya memeriksakan diri ke rumah sakit." jelas dokter itu.


"Hamil Dok?!" seru Akeno. kalimat hamil yang diucapkan oleh dokter membuat jantung Akeno berhenti Berdetak.


"Apa hamil?!" kali ini giliran Gresia yang bertanya dengan nada tak percaya. tubuhnya yang tadinya lemas mendadak duduk dengan tegap.


"Iya nyonya." sahut Dokter itu tak lepas dari senyum, dia sudah sering melihat ekspresi seperti ini luapan kebahagiaan atas kehadiran anak pertama.


"Tapi bagaimana bisa, aku sedang dalam masa ber-KB." gumam Gresia.


"Apa?!" Akeno dan Dokter berseru berdamaan.


Menyadari dia salah bicara, Gresia mendekat mulutnya dengan perasaan takut, sembari menatap Akeno yang menatapnya dengan mata membulat.


"Kau billang kau sedang ber-KB sayang?!" tanya Akeno dengan suara meninggi. Tak berani menyahut, Gracia hanya mengangguk pelan.


"Siapa yang mengizinkannya? hah!" bentak Akeno lagi, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Membuat Sam yang berada di luar ruangan terburu-buru masuk.


"Tenangkan dirimu tuan. Nyonya sedang hamil." ucap dokter itu mengingatkan aqin agar meredam emosinya.


Akeno mendengus kesal, tidak tahu harus melampiaskan pada siapa emosinya yang sudah memuncak ini. Ingin rasanya dia membunuh orang, atau menghajar orang itu sampai mati.

__ADS_1


"Sam antarkan dokter itu keluar." ujar Akeno tanpa menatap lawan bicaranya, pandangannya menatap jauh di sana, keluar jendela.


"Tidak perlu, saya akan keluar sendiri. Sebaiknya tuan Sam menemani tuaAkeno di sini, ingatkan dia agar tidak terlalu emosi saat bicara dengan nyonya, sebab kandungan nyonya saat ini masih rentan. Saya permisi." ujar dokter itu menasehati sebelum dia pergi meninggalkan ruangan.


Kali ini sepertinya Sam harus mengikuti saran Dokter, mengawasi Akeno agar tidak terlalu emosi saat bicara dengan nyonya nya.


"Sam, bisa antarkan aku pulang ke hotel," pinta Gresia dengan suara lirih.


"Kita belum selesai bicara, Gresia!" seru Akeno, netranya menatap Gresia masih dengan tatapan marah.


"Tuan."


"Kau juga berpihak padanya?!"


"Itu tidak benar tuan, Aku hanya mengingatkan sebaiknya tuan merendahkan sedikit suara tuan saat bicara dengannya."


"Oh, jadi maksudmu aku tidak boleh marah, saat istriku diam-diam ber-KB agar tidak memiliki anak dari aku. Kau berharap aku harus lapang dada setelah mengetahui kenyataannya, begitu?!"


Akeno apa-apaan dia ini!


"Sayang itu tidak benar, aku ber-KB bukan karena tidak mau memiliki anak darimu."


"Lalu apa?!"


Q"Kemarin-kemarin aku masih kuliah, dan saya yang sangat sibuk jadi aku berpikir untuk menundanya."


"Aku selalu sibuk, kau tahu itu."


"Maaf."


Kata maaf dari Gresia tidak mampu meluluhkan hati Akeno. Tapi buah hatinya dia memilih sedikit mengalah.


"Benar kata Sam, bersiaplah kita akan pergi ke rumah sakit." ucap Akeno akhirnya dia mengalah.


Di sepanjang jalan, Gresia sungguh menyesali ucapannya. kenapa kabar gembira ini harus dirusak oleh sepotong kalimat yang seharusnya tidak keluar dari bibirnya.


Apapun masalahnya, Akeno tidak pernah marah padanya. Tapi kali ini Akeno benar-benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dia bahkan berulang kali membentaknya di depan Sam, itu tidak pernah dilakukan Akeno sebelumnya.


Setelah selesai cek kandungan di rumah sakit, Akeno langsung membawa Gresia pulang apalagi dokter menyarankan agar Gracia istirahat untuk beberapa waktu.


Diperlakukan begitu dingin oleh Akeno membuat Gresia sedih, dia tahu itu salahnya, tapi dia tidak mau diperlakukan seperti ini.


Akeno benar-benar jahat!


Sesampainya di hotel, Akeno meminta pihak hotel menyediakan bubur untuk Gresia. Akeno ingat kalau Gresia sudah memuntahkan semua isi perutnya saat makan siang tadi.


Akeno membawa nampan berisi bubur, menghampiri Gresia yang sedang duduk di atas tempat tidur.


Saat Akeno akan menyulangi Gresia, Gresia menolaknya.


"Berikan padaku, aku bisa makan sendiri." Gresia merebut mangkuk berisi bubur di tangan Akeno, lalu mulai memakannya perlahan tanpa menghiraukan Akeno.

__ADS_1


"Kenapa masih di sini?!" tanya Gresia, sembari mengunyah buburnya, tanpa melihat lawan bicaranya.


"Hey hey, kenapa jadi sayang yang Ketus?"


"Siapa yang ketus!"


"Kamu sayang, siapa lagi."


"Enggak aku enggak Ketus!"


"Sudahlah makan yang banyak, aku harus kembali lagi ke kantor mungkin setelah makan malam baru aku pulang,"


"Hmmm." sahut Gresia acuh.


Dengan sabar Akeno menunggui Gresia makan, sembari memperhatikan perut istrinya yang masih rata. Sungguh tak menyangka dia bakal menjadi seorang ayah dan Gresia jadi seorang ibu.


"Katanya mau kembali ke kantor?" tanya Gresia, membuyarkan lamunan Akeno.


"Iya Ini sudah mau berangkat sayang. Biar aku beresi sisa makanmu dulu." sahut Akeno, sembari mengambil nampan dan mangkuk di pangkuan Gracia meletakkannya di atas nakas.


"Saat keluar nanti bawa sekalian baju-baju mu, suruh Sam mencarikan kamar untukmu, malam ini aku ingin tidur sendiri tidak ingin diganggu." ujar Gresia.


Akeno yang hendak membuka handle pintu menahan gerakannya. Berbalik badan menatap Gresia, sementara yang ditatap terlihat acuh tak acuh.


Keadaan sudah berbalik sekarang!


Akeno mendekat kemudian duduk di tepi ranjang. "Oke baiklah, aku mengaku salah. Harusnya aku tidak memarahi mu di depan Sam juga dokter itu. Tapi ucapanmu itu membuatku kaget sayang, aku sudah memintamu untuk menghentikan konsumsi KB. tapi sayang malah diam-diam meminumnya di belakangku. Tentu saja itu membuatku berpikir yang bukan bukan. lagi pula bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayinya karena pil KB itu" jelas Akeno.


"Aku mana tahu kalau minum pil KB juga bisa hamil." sungut Gracia.


"Untungnya bayi kita adalah bayi yang kuat." ujar Akina diparingi senyum, sembari membelai Puncak kepala Gracia.


"Sudah lupakanlah Jangan Marah Lagi." imbuhnya.


Gracia mengangguk paham. "Aku tahu, tapi aku benar-benar ingin tidur sendiri."


"Mana bisa begitu."


"Apanya yang tidak bisa."


"Tidur sendiri."


"Kenapa?"


"Kita punya bayi sekarang, bagaimana kalau dia mencariku tengah malam."


"Tidak akan, dia tidak akan mencari ayahnya yang sedingin kulkas." sungut Gresia.


"Oh ayolah sayang, aku sudah minta maaf padamu tadi." bujuk Akeno.


Hahh! Entahlah!

__ADS_1


Akeno sepertinya harus ekstra sabar menghadapi mood ibu hamil yang mendadak jadi gampang tersinggung.


Bersambung


__ADS_2