Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 51


__ADS_3

Gresia terkekeh saat Akeno mendengus geram karena ulahnya. Dia tau Akeno tak mungkin berani melakukan itu di tempat terbuka.


"Sudah ketemu?" tanya Akeno. Dengan masih bergelayut manja sembari memeluk Gresia dari belakang.


"Apanya?"


"Panggilan sayang untukku?"


"Sudah."


"Apa?"


"Sayang."


"Sayang?"


"Iya, kata yang penuh makna."


Akeno mengangguk pelan terlihat setuju dengan panggilan yang di sematkan Gresia "Baiklah aku setuju."


"Bulan depan magang mu sudah selesai bukan?"


"Iya. Ada apa?"


"Aku akan mengajakmu menemui kakek."


"Kakek dari ayah?


"Iya."


Tubuh Gresia menegang takut. "Apa kau takut?"


"Akeno apa ti..."


"Sayang." protes Akeno sembari mencubit hidung mancung Gresia.


"Aku belum terbiasa."


"Maka biasakan. Tadi sayang mau bilang apa?" tanya Akeno.


"Aku kira tidak usah terburu-buru mengenalkan aku pada kakek. Kita masih punya banyak waktu."


"Begitu?"


"Hmmm."


"Baiklah. Ini kali terakhir kita jalan berdua di luar."


"Kenapa? Kau bosan jalan.."


"Sayang." potong Akeno sembari menepuk paha Gresia. Gresia mencebik kesal.


"Baiklah-baiklah sayangku. Puas!" Akeno mengangguk senang.


"Teruskan sayang tadi mau bilang apa?"


"Kenapa ini jadi hari terakhir kita jalan. Aku kira kita malah baru mulai."


"Kita tidak bisa mempublikasikan hubungan kita sebelum menemui kakek. Lelaki tua itu harus diberi sedikit tekanan agar dia mau menerimamu."


Gresia menarik nafas dalam. "Wajar kalau dia tidak menyukaiku. Aku hanya anak selingkuhan ayahku." bisik Gresia dengan nada sendu. Setiap kali dia memikirkan hal itu, ada nyeri yang menjalari sudut hatinya.


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka mendengarnya." tegas Akeno dengan suara beratnya.


"Kenapa? Apa mendengar statusku membuatmu risih." tanya Gresia sendu.


"Gresia. Aku tidak akan mempertahankan mu kalau kau bukan wanita sepadan untukku. Jadi jangan konyol. Aku bukan bujang tak laku yang harus mempertahankan mu walau aku tak ingin. Ingat kau adalah nyonya Akeno jangan berjalan dengan kepala menunduk. Busungkan dadamu. Jangan mengalah walau harus mati jadi penghuni bumi." ujar Akeno.


"Apa aku mampu?"


"Tentu saja. Buang rasa rendah dirimu itu, perlihatkan pada lawanmu bahwa kau mampu menenggelamkan bumi kedalam laut bila kau mau."

__ADS_1


"Itu mustahil."


"Benar. Tapi aku mampu membuat lawanku percaya dengan kemustahilan itu."


"Saat semua orang tau kau adalah nyonya Akeno. Angin yang bertiup akan lebih kencang kearahmu. Maka belajarlah lebih giat. Persiapkan dirimu dengan baik, sebab menjadi nyonya Akeno harus kuat dan punya pertahanan diri." sambung Akeno.


Gresia mende sah berat. "Apa boleh mengundurkan diri?"


"Jangan coba-coba!"


"Menjadi nyonya Akeno begitu berat aku tidak sanggup memikulnya. Bagaimana kalau aku melarikan diri saja dan bersembunyi di tempat yang jauh."


"Jangan pernah mencobanya. Walau di lubang semut pun aku pasti akan menemukanmu. Aku adalah takdirmu sayang, jadi terima saja."


Gresia memutar tubuhnya menghadap Akeno. Menatap bola mata kelam Akeno penuh cinta, ya cinta. Usianya memang baru tujuh belas tahun. Tapi perasaan ini dia yakini sebagai cinta. Akeno adalah lelaki pertama yang menyentuh hati dan tubuhnya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang. Kecuali kau sendiri yang meminta ku pergi." lirih Gresia, jemarinya yang halus menagkup wajah tampan Akeno yang tampak tegang.


"Aku tidak memiliki seseorang yang begitu peduli padaku seperti suamiku. Ayahku bahkan tak mau memandang ku saat kami bicara. Aku pikir aku akan menjalani hari-hari yang pahit seumur hidup. Siapa sangka takdir seorang Gresia mendadak berubah setelah bertemu tuan Akeno. Aku tak menuntut lebih, aku hanya ingin di anggap ada dan di cintai sepenuh hati." imbuhnya dengan mata berkaca-kaca. Akeno mengatupkan rahangnya rapat rapat, hatinya sakit melihat luka pada bola mata kelabu Gresia. Gadis yang sangat dia sayangi dan cintai. Mungkin Gresia bukan cinta pertamanya, tapi rasa yang dia miliki terhadap Gresia adalah rasa yang terbesar dalam hidupnya.


"Aku berjanji akan membahagikanmu sampai akhir." bisik Akeno sembari memeluk tubuh istrinya penuh cinta. Dalam pelukan Akeno air mata Gresia menitik perlahan.


Dengan masa lalu ibunya, Gresia tak pernah berani bermimpi tentang lelaki impiannya. Siapa yang sudi bersanding dengan gadis hasil dari perusak hubungan orang. Walau dia sendiri tak ingin lahir dengan status menyedihkan.


Menjelang sore Akeno membawa Gresia pulang. Di rumah Samy sudah menunggunya. Selama jalan-jalan bersama Gresia Akeno sengaja me-nonaktifkan ponselnya.


"Pergilah keatas bersihkan dirimu. Aku ada pekerjaan dengan Samy." titah Akeno sembari mencium puncak kepala Gresia. Gresia mengangguk patuh lalu beranjak kelantai atas.


Tanpa bicara Akeno pergi ke ruang kerjanya di ikuti oleh Samy di belakang nya.


"Ada apa?" tanya Akeno setelah duduk di kursi kebesaran nya.


"Kau sudah lihat berita pagi ini?"


"Berita apa?"


Samy mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. "Lihat ini."


Akeno meraih ponsel Samy yang menayangkan berita viral pagi ini. Video dirinya sedang memeluk tubuh Gresia yang menggigil ketkutan.


Akeno menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Tidak apa, Gresia aku memang berniat membawa Gresia menghadap kakek."


"Apa dia akan memberi restu?"


"Siapa bilang aku meminta restunya. Kedatanganku hanya memperkenalkan Gresia sebagi istri sahku. Jadi jangan mengusiknya."


"Sebelum itu, tolong pantau kegiatan Asahi untukku."


"Ada apa dengan sekretaris kakek?"


"Dialah kekuatan kakek yang sebenarnya. Sebelum aku membawa Gresia menghadap kakek. Asahi harus di lumpuhkan terlebih dulu."


Samy mengangguk paham. Dengan kekuatan Akeno sekarang. Tak kan sulit baginya untuk melumpuhkan Asahi.


"Jadi akhirnya kau setuju mewarisi nama besar keluarga ayahmu?"


Akeno menatap Samy dengan senyum tipis di bibirnya. "Hanya dengan cara itu aku bisa melindungi Gresia. Setelah kekuasaan kakek berada di genggamanku, Gresia tak perlu takut walau harus jalan sendiri."


"Baiklah, apapun keputusanmu aku tetap berada di sampingmu. Oh ya satu lagi, pagi tadi Desi dijenguk seseorang."


"Siapa?"


"Hitoshi."


Akeno tersenyum miring. "Biarkan saja Hitoshi tidak punya niat jahat pada Desi. Mungkin juga dia sudah menaruh hati pada gadis itu."


"Darimana kau tau?"


"Bunga di rumah sakit Desi bukan aku yang kirim. Tapi dia, sejauh yang aku tau Hitoshi bukanlah pria jahat seperti ayahnya. Tapi tetap waspada, tetap tempatkan orang kita di sisi Desi."


"Baiklah."

__ADS_1


"Ada yang lain lagi?"


"Tidak ada, aku pamit ya. Titip salam pada istrimu."


"Kau ingin mati?!"


"Dasar pencemburu."


"Bukan urusanmu. Kau cepatlah cari gadis yang kau sukai lalu jadikan istri. Apa tidak bosan bermain sembarang wanita?"


"Hahaha jangan ngaco. Bebas itu indah Akeno. Sudah aku pamit dulu."


"Okay."


Sepeninggal Samy Akeno menghubungi Desi. "Halo."


"Iya Akeno."


"Aku dengar seseorang mengunjungimu. Ada urusan apa dia datang?"


"Kalau aku bilang urusan hati, apa kau percya?"


"Percaya. Aku bahkan sudah menebaknya."


"Apa dia bisa di percya?"


"Sejauh ini bisa. Tapi dalamnya laut siapa yang tau."


"Itu juga yang aku pikirkan."


"Santai saja, kalau memang berjodoh pasti jadian. Oh ya, persiapkan dirimu. Kita akan menemui kakek dalam waktu dekat."


"Kau akan mengurus kebensanku?"


"Itu salah satunya. Tapi ada yang lebih penting dari itu."


"Apa itu?"


"Kau akan tau setelah tiba di sana nanti. Baiklah istirahat yang baik aku juga mau istirahat."


"Baik, terimakasih sudah peduli padaku."


"Sama-sama."


Akeno memutar handle pintu lalu masuk kedalam kamarnya. Di dalam tampak Gresia sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya.


Setelah meminta Gresia menyiapkan baju mandi, Akeno pun masuk kamar mandi. Setelah ritual mandi yang cukup lama Akeno keluar kamar mandi dengan tubuh masih setengah kering. Masih tersisa tetes air di tubuhnya padahal handuk yang dipakainya sudah sangat basah. Kadang Gresia heran handuk Akeno selalu sangat basah saat mandi tapi tubuhnya juga tidak kering.


"Mana bajuku sayang?" tanya Akeno sembari mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.


Gresia tersenyum simpul. "Ada apa?" tanya Akeno yang bisa membaca ekspresi istrinya.


Gresia menggeleng tapi jemarinya yang lembut menyentuh dada bidang Akeno membelainya perlahan.


"Kau menggodaku sayang," bisik Akeno sembari menarik tubuh Gresia mendekat. Aroma lembut yang meruar dari tubuh Gresia seketika memacu aliran darahnya. Dengan lembut Akeno melingkarkan tangannya di pinggang Gresia menarik tubuh molek itu semakin mendekat rapat.


Gresia kembali tersenyum simpul, saat merasakan milik Akeno sudah mengeras dibawah sana. Netra kelabunya menatap Akeno penuh gairah. Melihat itu Akeno tak tahan lagi. Dengan gerakan halus dia membenamkan bibirnya dalam-dalam, menyesapi bibir merah beraroma buah seperti candu.


Gresia membalas pagu tan hangat Akeno dengan memainkan lidahnya di dalam sana. Sementara jemari lentiknya menyusup di balik handuk Akeno. Meremas batang Akeno yang sudah mengeras sempurna. Akeno melenguh dalam, rasa nikmat terasa menjalari sekujur tubuhnya.


Akeno melepas ciu man panasnya dengan nafas terengah. "Kau semakin nakal sayang." ujarnya dengan nafas memburu, sebab Gresia belum melepas tangannya di bawah sana.


Gresia hanya mengikuti nalurinya, mempraktekkan adegan yang tak sengaja di tontonnya beberapa waktu lalu.


Akeno menggeram oleh hasrtnya yang menggebu-gebu. Kini jemari kokohnya sudah melucuti satu persatu kain pembungkus tubuh mulus Gresia. Matanya nyalang menyusuri setiap jengkal tubuh molek Gresia. Setelahnya tubuhnya sudah menempel erat, bibir basahnya menjelajah di leher jenjang Gresia. Meninggalkan jejak merah keunguan sebagai bentuk pelampiasan hasratnya yang membuncah.


Malam ini Gresia benar-benar memegang kendali atas diri Akeno. Lelaki bertubuh kekar dengan otot yang terbentuk indah itu dibuat melayang berkali-kali oleh sentuhan lembut Gresia.


Tubuh mungilnya memompa tubuh Akeno di bawahnya dengan sangat seksi. Dadanya terguncang dalam remasan jemari kokoh Akeno. Gresia terus memompa,mengerakkan bo kong seksinya naik turun, menjepit dan menggigit batang Akeno.


Akeno melenguh panjang bersamaan dengan tumpahnya cairan kenikmatan di tubuh Gresia. Tubuh Gresia lunglai bermandi keringat tergolek lemas di samping Akeno.

__ADS_1


Seperti biasa, setelah aktivitas panas mereka Akeno akan memandikan Gresia dengan telaten sebelum tidur.


Bersambung Mak 🥰🥰🥰🙏


__ADS_2