Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
part 81


__ADS_3

Pusat keramaian kota A, tepatnya d sebuah mall milik Akeno. Gresia tengah berada di sana saat ini.


Sebuah brand ternama tengah mengadakan peragaan busana, Gresia begitu antusias mengikutinya.


Semenjak kehamilannya semakin besar, Gresia berubah jadi gila fashion. Akeno saja sampai geleng


kepala di buatnya.


"Kau dimana?" tanya Akeno pada Adrian. Sudah lima panggilan di abaikan Gresia, entah sedang sibuk apa dia sampai sampai telpon Akeno tak di hiraukan.


"Di mall. Nyonya sedang berunding dengan disainer di belakang panggung." jelas Adrian. Tanpa di jelaskan dia paham, kalau nyonyanya pasti sudah mengabaikan Akeno.


"Ck! Aku bisa meminta disainer seluruh dunia menemuinya. Untuk apa dia repot-repot begitu." omel Akeno.


"Aku sudah katakan hal itu pada nyonya. Tapi tetap saja dia memilih menemui mereka di belakang panggung."


"Hhh! Kenapa makin hari dia semakin keras kepala saja." lagi-lagi Akeno mengomel.


"Mungkin bawaan bayi, sabarlah sedikit."


"Ck! Aku sudah sangat sabar. Ya sudah, bawa dia kekantorku setelah selesai."


"Baik."


Adrian mende sah berat, netranya tertuju pada sosok wanita berperut sedikit buncit itu. Dia masih sama, masih penuh pesona, perut buncitnya sama sekali tak membuatnya kehilangan pesona.


Adrian menunggu dengan sabar, sampai Gresia datang menghampirinya.


"Sudah selesai?" tanya Adrian sembari mengambil beberapa barang di tangan Gresia.


"Sudah, kita kekantor Akeno ya. Sepertinya aku harus membujuk dia." ucap Gresia sambil nyengir.


Andrian mengangguk sambil tersenyum, kemudian mengekori langkah Gresia menuju tempat parkir.


Setengah jam kemudian Gresia sudah sampai di kantor Akeno. Saat Gresia masuk kedalam ruang kerja Akeno. Pria itu terlihat tengah dalam mode marah.


Begitu melihat Gresia masuk, Akeno memberi dia kode agar menunggunya di ruang pribadinya. Sebelum masuk ke ruang pribadi Akeno, Gresia terlebih dulu mengangguk sopan pada beberapa tamu Akeno. Ada empat orang di ruangan itu, salah satunya seorang wanita.


Begitu Gresia masuk, Akeno kembali melanjutkan rapatnya..


"Jadi apa bentuk pertanggung jawaban kalian?" Akeno menatap anak buahnya satu persatu. Bekerja dengannya sudah begitu lama, bagaimana mereka bisa melakukan kesalahan sepatal ini.


"Aku sudah bicara dengan tuan Fery, dia akan melupakan kejadian ini, asal barangnya di kembalikan." imbuh Akeno.

__ADS_1


"Beri kami waktu dua hari tuan, kami akan membereskan kekacauan ini." ujar salah satu dari mereka.


Akeno menatap wajah-wajah penuh harap itu dengan sangat tenang.


"Aku bersikap lunak karena menimbang jasa kalian terhadapku. Jadi gunakan dua hari kalian dengan baik. Jangan buat aku kecewa."


"Terimakasih tuan, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mengurus masalah ini."


"Baiklah aku tunggu kabar baik dari kalian, kalian boleh pergi dan kau Ria aku ingin bicara padamu." ujar Akeno.


Wanita yang di panggil Ria itu mengangguk patuh.


Kini tinggal mereka berdua di ruangan ini. Wanita berparas jelita itu tampak gugup saat Akeno memandanginya dengan sorot mata tajam. Sesekali dia melirik ruang pribadi Akeno, entah apa yang ada di benaknya.


Kini pandangan Akeno beralih ke map berwarna coklat yang ada di depannya.


"Jelaskan padaku mengenai data yang ada di dalam map ini. Seseorang memberikannya padaku, dia bilang data ini bersumber dari mu." Akeno menyodorkan map itu pada Ria.


Ria adalah tangan kanan Baskoro, menurut Baskoro Ria bisa diandalkan. Kemampuannya juga lumayan mengagumkan.


Ria mengambil map dari tangan Akeno, membukanya lalu memeriksanya dengan teliti.


Setelah memeriksa berkas di tangannya. Ria menatap lekat wajah Akeno. "Aku juga tak sengaja mendapat data ini dari seseorang. Aku pikir ini bisa membantu tuan." ucapnya, penuh percaya diri.


"Baik kau pulanglah, sampaikan salamku pada Baskoro."


Mata Ria penuh binar menatap Akeno. "Baik tuan." ucapnya, kemudian beranjak pergi.


Begitu Ria pergi, Akeno masuk kedalam ruang pribadinya menemui.


Didalam ruangan, Gresia tampak berbaring di atas tempat tidur sambil bermain gawai.


"Sudah makan?" tanya Akeno, sembari mengambil tempat, duduk di samping Gresia.


Gresia meletakkan gawainya di atas nakas, lalu menengadah menatap Akeno. "Belum." sahutnya.


Akeno mengernyitkan keningnya menatap Gresia. "Sudah jam berapa ini, kenapa belum makan?"


"Ada banyak cemilan tadi di tempat acara. Mulutku tidak bisa berhenti ngemil, jadi kenyang."


Akeno mendecak kesal. "Lain kali, makan nasi dulu sebelum ngemil. Jangan lupa kau lagi hamil sayang."


ucapnya sembari mengusap kepala Gresia dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang, siapa wanita yang ikut rapat bersamamu?" tanya Gresia, sembari menariik tubuhnya ke posisi duduk.


"Dia Ria, orang yang rekomendasikan Baskoro . Ada apa, apa mengenalnya?"


Gresia menggeleng. "Tidak, tapi aku pernah melihatnya beberapa kali."


"Benarkah, tapi dia tinggal di kota C. Tapi bisa jadi dia di sini karena urusan pribadi."


"Sepertinya begitu, yang aku dia membeli sebuah pulai disini."


Akeno mengernyitkan alisnya. "Dia membeli sebuah pulau?"


"Hmmm.Temanku bilang dia gadis kaya juga dermawan."


"Tapi untuk membeli sebuah pulau, itu mustahil. Aku memang tengah menyelidikinya, tapi tak kusangka dia sudah bertindak sejauh ini."


"Kau mencurigainya?"


"Hmm, dia berusaha mengadu domba aku dan Baskoro."


"Kenapa tidak lansung di eksekusi saja."


"Semua belum jelas sayang, kalau terburu-buru bisa kerja dua kali. Aku sedang memberinya umpan lumayan besar, cukup untuk memancing tokoh sebenarnya muncul di permukaan. Setelah itu barulah bisa mengeksekusi mereka sekaligus." jelas Akeno.


"Kau curiga dia di tunggangi seseorang?"


"Benar, tujuan mereka sudah jelas. Ingin menggoyah posisi ku dari dalam. Aku percaya orangku, tapi sedikit waspada juga perlu."


"Sayang, kenapa tidak melepasnya itu saja agar hidup kita tenang."


Akeno tersenyum, lalu membela puncak kepala istrinya dengan lembut. "Kau tahu hidupku tidak sesederhana itu. Hanya dengan kekuasaan aku baru bisa melindungimu. Bukankah hal ini- sudah pernah kita bahas, jadi jangan mengungkitnya lagi."


"Aku hanya khawatir padamu."


Mendengarnya Akeno tersenyum senang. "Ucapan mu begitu manis. Aku penasaran apa semanis bibir mu." bisik Akeno, sembari melabuhkan kecupan lembut di bibir Gresia. Terasa hangat dan lembut, membuat hati Gresia beredar halus.


Tak ingin melepas kenikmatan ini, Gresia balas melu mat bibir Akeno dalam-dalam


Akhir-akhir ini Akeno sering dikejutkan oleh gairah istrinya. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini Greysia yang sering berinisiatif.


Seperti saat ini Gresia sudah terbakar gairahnya sendiri, Tentu saja aku ini tidak akan melepas kesempatan indah ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2