Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 69


__ADS_3

Gresia duduk di tepi ranjang, sembari mengamati sosok Akeno yang sedang berkemas. Akeno meletakkan beberapa barang bawaan di dalam koper yang ada di atas tempat tidur. Dia akan berangkat besok pagi-pagi sekali ke negara A. Klan Kenzo yang kini sudah beralih menjadi klan Akeno, sedang membutuhkannya di sana.


"Kali ini berapa lama?" tanya Gracia dengan ekspresi merajuk.


Akeno menghentikan kegiatannya, beranjak mendekati Gresia. "Aku tidak tau, tapi aku usahakan seminggu"


Grecia mendesah berat, ini bukan pertama kalinya. Tapi tetap saja setiap Akeno akan pergi Gresia merasa tak rela.


Akeno tersenyum, pemandangan ini acap kali dia lihat setiap kali akan pergi.


"Jangan merajuk, aku juga tidak rela meninggalkanmu di rumah. Tapi bagaimana lagi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di negara A." bujuk Akeno sembari mengusap lembut pipi Gresia dengan ibu jarinya.


"Aku tahu." lirik Gresia, pasrah.


"Kau ingin aku melakukan apa malam ini, agar hatimu senang." rayunya lagi, sembari terus menatapi wajah ayu istrinya.


"Tidak ada." sahut Gresia malas. Apapun yang dilakukan Akeno tak kan mampu menghapus gundahnya.


Sudah bertahun-tahun, tapi ini yang selalu Akeno lakukan. Pekerjaan yang menumpuk, tanggung jawab terhadap perusahaan-perusahaan yang dia pegang, juga tentang urusan klan Akeno. Membuat Dia tidak memiliki banyak waktu merajut kebersamaan.


"Bersiaplah, kita akan makan malam di luar." titah Akeno.


"Aku sedang tak ingin keluar. kita makan di rumah saja," sahut Gracia dengan senyum terpaksa.


Akeno benar-benar frustasi dengan suasana ini. Andai bukan urusan penting sudah dipastikan, dia tidak akan pergi.


"Sayang, jangan begini. Kau buat aku tidak tenang untuk pergi." bujuk Akeno entah yang sudah berapa kali.


"Sudahlah, Jangan pikirkan aku. Entah kenapa kali ini aku berat Melepasmu, itu saja."


Akeno mengalah, mereka benar-benar tidak pergi ke manapun. Dia memilih mengikuti kemauan Gresia, hanya di rumah saja. Setelah makan malam mereka memilih bersantai di ruang pribadi Akeno sembari menonton film kesukaan Gresia.


Gresia berbaring di sofa bed, berbantal paha Akeno, sementara Akeno terlihat sibuk dengan laptopnya, walau sesekali dia ikut menikmati film yang sedang diputar.

__ADS_1


"Sayang aku hampir lupa, beberapa waktu yang lalu teman-teman kuliahku, libur akhir pekan ini mengundangku ke Puncak. Rencananya kami akan menginap di Villa milik keluarga Ayana. Boleh ya sayang," ucap Gresia sembari menengadah menatap wajah tampan suaminya.


Akeno menghentikan aktivitasnya, menutup laptopnya menaruhnya di atas meja kecil di samping sofa bed, lalu beralih menatap Gracia di bawahnya.


Dia tak menyahut, netranya memindai setiap inci lekuk di wajah istrinya. Gracia benar-benar memiliki kecantikan yang sempurna, sorot matanya yang jernih, bulu mata lebat dan lentik, hidungnya yang mancung bibirnya yang merah semua itu membuat Akeno mendamba.


" Sayang boleh ya," rengeknya manja, sungguh menggemaskan. Mendadak pandanganya silau oleh bibir merah Gresia.


Akeno tetap diam, perlahan dia membungkukan separuh tubuhnya, mengu lum lembut bibir yang sedari tadi menggodanya, mengecapi aroma manis yang meruar. Akeno pasti akan benar-benar merindukan aroma ini.


Sentuhan jari-jemari Akeno mulai mengiringi ciu man panasnya. Tapi sayang geraknya dibatasi oleh sofa yang tidak terlalu lebar. Merasa tak leluasa dengan geraknya, Akeno merubah sofa menjadi bed Mini. meletakkan tubuh Gresia di tengahnya kemudian mulai mencumbunya lagi.


Dengan nafas terengah, Akeno menjeda cumbuannya. Menatap penuh binar, wajah yang sudah bersemu merah di bawahnya.


"Aku suka aroma bibirmu, jangan pakai ini saat aku tidak ada di sampingmu." ucapkan Akeno masih dengan nafas yang terengah-engah.


Mendengarnya Gresia tertawa pelan. "Jangan berlebihan sayang, hanya dengan menciumku baru bisa merasakan aromanya."


"Tapi aku bisa menciumnya dengan jarak sedekat ini." ucapnya dengan jarak yang sangat dekat.


senyum Akeno mengembang, dengan jemarinya yang kokoh dia membelai lembut pipi mulus istrinya. "Itu bagus sayang. Sebab aku akan membunuh orang yang berani lancang dekat dengan mu sedekat ini." bisiknya. jemarinya masih terus beraksi, membelai lembut, wajah, leher jenjangnya lalu mulai membuka satu persatu kancing baju tidur Gresia.


Mata Akeno berbinar indah, menatapi bahu Seputih salju, dengan bibirnya Akeno menyapu inci demi inci bahu mulus itu tak tersisa. De sah halus lolos dari bibir Gresia.


Sentuhan lembut dari bibir basah Akeno, membuat bulunya meremang. Ada gelenyar lembut yang menjalari aliran darahnya, meningkatkan suhu panas tubuhnya.


Jemari Akeno sukses melucuti atasan Gresia.


Susah payah Akeno menelan salivanya, saat sepasang benda kenyal tersembul dari balik piyama. Benar-benar indah, dengan puncak merah jambunya dua benda itu terlihat tegak menantang hasrat kelelakian Akeno.


"Kau sangat indah sayang." bisik Akeno di tengah cumbuannya.


Di bawah kekangan tubuhnya, geliat Gresia benar-benar memicu hasratnya.

__ADS_1


Gresia hanya men desah lirih, sebab Akeno sedang menikmati puncak merah muda miliknya, dengan penuh gairah. Sesapan dan gigitan meloloskan jerit ringan di bibir Gresia.


Atmosfer di ruangan ini berubah menjadi panas. Sepanas permainan mereka. membuat tubuh polos mereka bermandi keringat.


Hentakan-hentakan indah Akeno pada liang kenikmatan milik Gresia, membuat keduanya melayang tinggi, melambungkan hasrat juga gairah keduanya kepuncak tertinggi mereguk kenikmatan hakiki.


****


Pagi-pagi sekali Akeno pergi kebandara, melakukan perjalanan bisnis ke kota A.


Sementara Gracia masih terlelap di atas tempat tidur. Akeno sengaja tidak membangunkan Grasia, dia tahu Gracia sangat lelah, setelah pergulatan panas mereka tadi malam.


Tepat pukul sembilan, Gresia baru bangun. seorang pelayan membangunkannya atas perintah Akeno.


Setelah membersihkan diri, Gracia Turun ke bawah untuk sarapan bersama Adrian. Gracia turun dengan rambut separuh basah, tubuhnya juga terlihat sangat lelah.


"Tuan memintaku menyiapkan message untuk nyonnya. Aku sudah menyiapkannya di ruang perawatan." ujar Adrian diselamakannya.


"Hhmm." sahut Gresia malas. dia bahkan hanya mengaduk-aduk sarapan paginya, sesekali saja dia menyuap kedalam mulut.


"Ada apa? apa ada yang tidak sesuai dengan keinginannya nyonya." selidik Adrian. wajah Murung Gresia membuat hati Adrian tak tenang. Gresia menggeleng.


"Besok kita akan pergi ke puncak, kita akan menginap di Villa milik Ayana." ujar Gresia, sembari mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, menatap Adrian.


Adrian mengerutkan keningnya tampak berpikir. "Ini cukup beresiko nyonya. Aku tidak tau keamanan Villa Ayana. Apa tidak sebaiknya kita undang mereka ke villa milik kita, nyonya."


Gresia mendesah pelan. "Aku tidak enak dengan Ayana. Jangan khawatir, ini hanya pertemuan biasa saja. Lagi pula aku sedang bosan dan ingin mencoba suasana baru."


Adrian tampak berpikir sebelum memutuskan. "Baiklah kalau memang itu yang nyonya inginkan. Tapi ada syarat nya."


"Apa itu, katakan."


"Aku akan menempatkan beberapa orang ku di dalam Villa."

__ADS_1


"Oke baiklah." bukankah memang seperti itu setiap harinya.


Bersambung


__ADS_2