Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 41


__ADS_3

Akeno berjalan Arogan diatas karpet merah di sebuah acara makan malam teman sejawatnya. Tubuhnya terlihat gagah dengan stelan tukedo berwarna gelap. Sementara Desi berjalan dengan anggun sembari mengandeng lengan Akeno.


Makan malam yang di adakan di hotel mewah itu di hadiri oleh orang-orang penting. Diantaranya nyonya Lia Waroka.


Mata tajam Lia langsung bisa mengenali Akeno ditengah kerumunan orang. Matanya menyipit meneliti sosok Desi di samping Akeno. Saat manik hitamnya jatuh pada benda berkilau di leher Desi, bibirnya tersenyum senang.


Dengan langkah gemulai Lia melangkah mendekati Akeno. "Siapa wanita anggun yang bersamamu ini Akeno?"


Akeno menatap Lia intens, walau usianya sudah tak muda lagi tapi pesonanya tak pudar. Tubuhnya masih terlihat segar dan padat berisi, itu terlihat dari gaun yang dia kenkan malam ini.


Kini tatapan Akeno beralih ke Desi yang juga sedang menatap kearahnya. "Dia rekan Bisnisku." jawab Akeno. Ekspresi nya terlihat begitu lembut saat menatap Desi.


Jantung Desi seketika berdegup kencang, dia tak pernah melihat tatapan yang begitu lbut dari Akeno. Seakan perasaan sayang tercurah melalui tatapannya itu.


Lia tersenyum simpul, netranya masih menelisik pada sosok Desi juga Akeno di depannya. Malam ini Desi tampil begitu seksi dengan gaun hitam sangat serasi dengan tukedo yang Akeno kenakan. Gadis itu terlihat begitu cantik dan sangat menarik.


Desi memberinya senyum sembari mengangguk sopan.


"Sayang sekali, padahal aku berharap kau memiliki hubungan dengan Desi. kalian terlihat sangat serasi." timpal Lia sembari menyentuh pundak Desi dengan gerakan samar.


"Berteman juga butuh yang serasi nyonya. Kalau tidak bukan teman namanya." ujar Akeno lagi, jemarinya menyentuh pundak Desi dengan sentuhan lembut. Lia bisa menangkap gerakan Akeno yang mengisyaratkan sesuatu pada Desi. Kemudian terdengar tawanya menanggapi ucapan Akeno.


"Kau benar, baiklah aku tak akan mengganggu kalian lagi. Selamat bersenang-senang."


"Terimakasih nyonya," ujar Desi sembari sedikit membungkuk.


"Kau pandai memberi umpan pada mangsa mu Akeno," ujar Desi begitu Lia menjauh dari mereka. Dia tak rela Lia meninggalkan mereka terlalu cepat. Dia masih ingin merasakan sikap lembut Akeno saat Lia berada diantara mereka.


Akeno tersenyum sinis. Iris hitamnya masih menatap Lia jauh disana. "Kau kecewa padaku, karena telah aku jadikan umpan?" ucapnya dengan sikap yang sudah berubah dingin.


Desi tak langsung menyahut, dia menatap wajah Akeno lekat. Wajah yang menjadi objek pantasinya di setiap malam-malam panjang nya. Tapi sayang lelaki ini sulit sekali di jangkau. "Sedikit..." lirihnya.


"Kau masih memiliki sedikit waktu untuk mundur."


"No! itu bukan gayaku." tegas Desi tepat saat lampu di ruang dansa menyoroti mereka.


Akeno tersenyum lalu mengulurkan tangannya membawa Desi turun kelantai dansa. Desi menyambutnya dengan suka cita. Setidaknya berdansa dengan Akeno bisa mengurangi kegundahan hatinya. Dia sadar Akeno hanya memanfaatkannya sebagai umpan atas kepentingannya. Tapi bukankah dia juga melakukan hal yang sama pada Akeno. Hanya bedanya Desi menaruh hati sedang Akeno semata mata urusan bisnis.


Sepulang dari jamuan makan malam Akeno tak langsung pulang. Dia pergi ke club' bersama Samy dan Adam.


Akeno terlihat bersemangat malam ini. Meyesap wine di gelasnya tanpa ragu. Miinum kali ini untuk merayakan keberhasilannya mengelabui Lia.


"Malam ini kau berhasil meyakinkan Lia Akeno, luar biasa." puji Samy sembari mengangkat gelas wine nya pada Akeno.


"Hanya hal kecil," sahut Akeno.


"Siapa bilang hal kecil. Lia sangat teliti, kalau dia bisa terkecoh itu berarti kau sangat totalitas melakukannya."


"Itu hal mudah, cukup membayangkan wajah Gresia dan beres." Sahutya sembari kembali menyesap winenya.


Adam yang tak paham pembicaraan mereka hanya diam sembari menikmati minuman ditangannya. Netra nya sesekali menatap genit bartender seksi di bar mini yang ada di sudut ruangan.


"Kau yakin Lia mampu meyakinkan pamanmu?"


"Aku tidak punya prediksi soal itu." Akeno tau pamannya bukan orang sembarangan. Dia pasti akan menyelidiki kebenaran hubungannya dengan Desi, jadi aktingnya masih belum bisa berakhir.


Tiba-tiba ponsel Akeno berdering, tertera nama Adrian di layar ponselnya.


"Ada apa?"


"Sepertinya istrimu tidak bisa pulang malam ini, keluarganya memaksanya untuk tinggal."


"Baiklah aku mengerti." sahut Akeno lalu memutus panggilan.


Siang tadi sepulang magang, Gresia menelponnya meminta izin untuk menjenguk ayahnya yang katanya jatuh pingsan dirumahnya.


"Ada apa?" tanya Samy.


"Gresia menginap dirumah ayahnya." sahut Akeno sembari memainkan gelas Loki ditangannya.


"Lalu?"


"Itu bukan tempat yang baik untuk menginap, aku akan menyusulnya."

__ADS_1


"Biarkan saja dia disana, bukankah seharusnya hubungan kalian tidak terlalu mencolok?"


"Aku tau, hanya saja membirkannya masuk sarang harimau membuatku tak tenang."


Samy menghela nafas lalu menepuk pundak Akeno. "Okay terserah padamu."


"Kalian tidak ingin melibat kan aku dalam pembicaraan ini?" tiba-tiba Adam menyela. Tentu saja ucapannya disambut gelak tawa sahabatnya.


"Aku pikir kau sedang menikmati tubuh mulus bartender kita?" cibir Samy.


"Sial!"


"Kalian lanjutlah bersenang-senang. Aku cabut dulu."


"Kau yang traktir bukan?" tanya Adam sembari nyengir.


"Iya."


*****


Gresia memijit mijit telapak tangan ayahnya yang terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat, membuat kerutan di wajahnya semakin kentara. Siang tadi dia mendapat telpon dari rumah, mengabari kalau ayahnya di temukan pingsan di ruang kerjanya.


Menurut bibik, belakangan usaha ayahnya mengalami kerugian akibat harga bahan pokok yang melambung tinggi. Pengeluaran tak sebanding dengan pengeluaran. Mungkin hal itu yang membuat ayahnya jatuh pingsan.


Ayahnya hanya dirawat dirumah saja oleh ibu, menurutnya Dokter membolehkan ayahnya hanya dirawat di rumah dan Gresia memilih mempercayai ibu tirinya itu.


"Kau tidak pulang?" tanya ayah terdengar lembut di telinga. Dulu dia sangat ingin mendengar nada ini saat ayah bicara padanya.


"Aku bermalam di sini yah."


"Apa ibu mu yang meminta?" selidik ayah. Gresia menggeleng pelan. Walau benar ibu tirinya yang minta.


"Sudah izin suamimu?"


"Sudah."


"Gresia, maaf. Dahulu ayah memperlakukanmu tidak baik." ucap ayah terdengar sangat lirih. Ada banyak penyesalan pada tatapnnya.


"Tidak apa ayah. Aku sudah melupakannya. Sekarang berjuanglah untuk tetap sehat."


"Ayah istirahatlah. Aku keluar dulu sepertinya ibu memanggilku untuk makan malam."


"Iya pergilah."


Gresia meninggalkan ayahnya menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu ibu dan saudara tirinya. Dia sebenarnya malas berurusan dengan mereka tapi ikatan yang terjalin tak bisa di elak lagi.


"Gresia duduk sini," terlihat ibu menunjuk kursi di sampingnya. Gresia menurut duduk di sebelah ibu tirinya, sementara saudara tirinya berada di depannya.


"Sudah lihat keadaan ayahmu?" tanya ibu sembari menyendok nasi kepiringnya.


"Sudah."


"Itu karena ekonomi kami sedang tidak baik-baik saja. Ayah memiliki hutang di bank yang harus di bayar, sementara keuangan kami sedang tersendat beberapa bulan ini."


Gresia menarik nafas lalu menyahuti ibu tirinya. "Masalah hutang ayah biar aku bicarakan dengan Akeno. Mudah-mudahan dia menyanggupi."


Maria yang ada di depannya mencibir. "Hutang tak seberapa saja harus izin Akeno. Hah! Aku kira kau benar-benar wanitanya."


"Maria jaga ucapanmu!" salak Della dengan raut wajah murka. Tapi Maria terengar tak perduli.


Gresia menatap Maria dengan sangat tenang. "Akeno adalah suami ku. Segala yang berhubungan dengan uang tentu saja harus izin darinya. Karena itu adalah uangnya, walau aku memiliki hak di dalamnya." ujar Gresia penuh penekanan.


Maria dan saudaranya tertawa sinis, mereka sama sekali tak percaya Akeno mementingkan urusan Gresia. Mereka pikir itu hanya akal-akalan Gresia saja untuk pamer pada mereka. Apa lagi beredar berita kalau Akeno menjalin hubungan dengan Desi. Mereka yakin Gresia hanyalah sampah di hidup Akeno.


"Sudah, sudah. Kalian jangan menggangu Gresia!" bentak Della sekali lagi.


"Gres kalau bisa segeralah bicara pada Akeno. Sebab pihak bank sudah mendesak ayah mu." imbuhnya sembari memasang tampang memelas pada Gresia.


"Baik Bu."


Sementara kedua saudara tirinya kembali mencibir meremehkan Gresia.


Setelah makan malam Gresia kembali mengunjungi ayahnya di kamar. Setelahnya di beristirahat dikamar yang di sediakan ibunya.

__ADS_1


Karena kelelahan Gresia langsung terlelap begitu tubuhnya menyentuh kasur. Padahal diluar masih terdengar gelak tawa sudara tirinya.


Entah berapa lama dia terlelap ketika bibik mengetuk pintu kamar mengantarkan Akeno.


"Non, buka pintu. Ini tuan Akeno berada di luar." seru bibik dari luar pintu.


Antara sadar dan separuh tidur Gresia membuka pintu kamarnya dan sosok Akeno yang menjulang tinggi berdiri menatapnya. Dari sudut mata, Gresia melihat kedua saudaranya mengintip di balik pintu kamar mereka masing masing. Sementara bibik sudah kembali kekamarnya.


"Kau, kenapa kemari?"


Akeno tersenyum lalu berbisik. "Kamar kita berubah menjadi sangat dingin tanpamu."


"Omong kosong! Masuk!"


Akeno bergegas masuk sembari menutup pintu kamar. Akeno memindai setiap sudur ruang kamar, tidak ada barang-barang mewah dikamar ini semua hanyalah perabotan sederhana.


"Minum lagi?" tanya Gresia sembari duduk di tepi ranjang.


"Hmmm."


"Dengan Desi?"


"Dengan Adam dan Samy."


"Bukannya kau makan malam bersama Desi."


Akeno tak menyahut dia mendekati Gresia sembari menatap wajah nya lekat lekat. "Apa istriku sedang cemburu?"


"Jangan konyol! Aku hanya bertanya."


"Tapi terdengar seperti sedang cemburu," ledek Akeno. Kini dia sudah duduk di samping Gresia.


"Wangi tubuhmu ini begitu lembut sayang.." bisik Akeno sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gresia. Melihat itu tubuh Gresia meremang.


"Jangan macam-macam Akeno. Kita sedang di rumah ku." Melihat gelagat Akeno Gresia berusaha mengingatkan.


"Lalu?"


"Disini kamar bersebelahan "


"Aku tau." sahutnya dengan mata berkilau, wajahnya yang tampan memperlihatkan ekspresi betapa dia sedang ingin bercin ta.


"Kalau tau jangan lakukan disini." ucap Gresia mulai panik. Saat jemari Akeno mulai menyusup di balik baju tidurnya.


"Memangnya kau berpikir aku akan melakukan apa?" bisiknya sembari mengigit daun telinga Gresia yang memerah. Di barengi re masan di balik bajunya.


Gresia mengigit bibir bawahnya meredam desa han yang nyaris keluar dari mulutnya.


"Akeno, hentikan. Kamar ini tidak kedap suara." Gresia mendorong tubuh Akeno tapi sia-sia.


"Kalau kau tau maka pelankan suaramu. Atau kita akan ketahuan." sahutnya sembari menyesapi leher jenjang Gresia meninggalkan ruam merah kebiruan di area terbuka.


Ingin rasanya Gresia memukul kepala Akeno sampai amnesia. Bagaimana bisa dia bercin ta dengan Akeno tanpa menimbulkan suara.


Akeno benar-benar tidak perduli pada permohonan Gresia. Dia benar-benar melahap Gresia tanpa ampun. Bukan hanya suara mereka yang terdengar, bahkan ranjang tua ini sampai berderit-derit memekakkan telinga. Gresia sendiri tak mampu meredam gairahnya setelah di gempur Akeno habis habisan.


Gresia benar-benar tak habis pikir, sejak kapan Akeno bisa tak tau malu begini. Dia sendiri tak tau dengan raut seperti apa dia menemui saudara tirinya. Sebab kamar mereka bersebelahan dengan kamar kedua saudara tirinya sementara kamar ayah terletak sedikit jauh terpisah.


"Aku sudah meminta Adrian mengurus pelunasan hutang ayah pada pihak Bank." ujar Akeno dengan mata terpejam. Gresia yang bersembunyi di balik tubuhnya menengadah menatap Akeno.


"Dari mana kau tau hutang ayahku?"


Akeno membuka matanya perlahan, menatap manik kelabu di depannya yang tampak bergetar. "Itu bukan hal besar bagiku," ucapnya sembari membelai pipi Gresia dengan jarinya.


"Kau manis sekali saat tak memakai apapun Gresia.." imbuhnya dengan mata penuh binar. Wajah mengagumi Gresia berubah masam.


"Cih! Dasar mesum!" umpatnya sembari menggigit dada bidang Akeno.


"Aaahhkk" pekik Akeno menggema di seluruh ruang kamar atau bahkan sampai ke kamar sebelah. Gresia repleks mendekap mulut Akeno dengan tangannya.


"Kecilkan suaramu! Kau ingin penghuni rumah ini bangun oleh teriakanmu." sungut Gresia sembari melepas dekapannya. Akeno malah terkekeh geli, ada glenyar lembut di hatinya saat dekat dengan Gresia. Rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tidurlah besok pagi kau butuh tenaga menghadapi dua srigala di rumah ini," bisik Akeno sembari merengkuh tubuh Gresia dalam dekapannya.

__ADS_1


Bersambung sayang 🙏


__ADS_2