Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 52


__ADS_3

Ruang pantry di percetakan terlihat sepi, hanya ada Barry dan Gresia di sana. Setelah menyeduh teh Gresia akan pergi tapi Barry datang dan menahannya di ruang itu.


"Akeno bukan lelaki baik Gres, sudah banyak wanita jatuh dalam bujuk rayunya." ucap Barry memulai percakapan.


Gresia menatap Barry dengan kening berkerut. Dari mana dia tau Akeno dekat dengannya.


Barry sepertinya bisa membaca pikiran Gresia. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu memperlihatkan video singkat yang sedang viral pagi ini.


"Apa dia merayumu?" tanya Barry hati-hati. Dia tau hubungan Gresia dan Akeno sangat dekat, sebab dia kembali melihat tanda cinta di balik kemeja putih Gresia. Bahkan dengan jumlah yang lebih banyak.


"Kak Barry aku tidak akan membahas masalah pribadiku dengan kakak. Jadi maaf aku tidak akan mengatakan apapun."


Mendengar itu Barry tampak kecewa, dia ingin menyelamatkan Gresia dari lelaki seperti Akeno. Tapi sepertinya Gresia tidak membutuhkan bantuannya. Lagi pula wanita mana yang mampu menolak pesona seorang Akeno.


"Kalau tidak ada lagi yang mau kakak bicarakan, aku permisi dulu." ujar Gresia.


"Tidak ada lagi. Pergilah." ucapnya lirih. Lelaki itu terlihat begitu khawatir pada Gresia.


Gresia kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan tak karuan. Bagaimana bisa ada video seperti itu dan tersebar luas. Bagaimana kalau Akeno tau.


Pantas saja seharian ini tatapan teman kerjanya terasa berbeda saat melihatnya. Dia yakin mereka juga sudah melihat rekaman itu. Begitu dia sampai di meja kerjanya Ayana langsung menarik tangannya membawanya pergi kehalaman samping.


"Ada apa kamu dengan Akeno? " tanya Ayana penasaran.


"Apa dia marah karena kau ketahuan dengan pacar ganasmu itu? Aku lihat dia memberimu tanda cinta begitu banyak. Apa rasanya menyenangkan membuat tanda cinta itu. Kau belakangan ini sangat hoby membuat tanda merah itu." cecar Ayana tanpa jeda.


Gresia menatap Ayana. "Yang mana satu yang harus aku jawab? "


"Semuanya dong! "


"Tentang Akeno, aku tidak bisa jawab sekarang. Tentang tanda cinta itu, aku beritahu padamu rasanya sakit."


Ayana mendengus kesal. "Aku temanmu Gres dan kamu masih main rahasia-rahasiaan gini?dan tanda cinta itu, aku tidak percaya itu sakit. Buktinya kau ketagihan membuatnya. Bahkan jumlahnya makin hari semakin bertambah. " tukas Ayana tak puas dengan sikap Gresia yang meragukan dirinya. Sementara netranya menelisik di balik kemeja putihnya. Ruam merah itu terlihat samar-samar walau Gresia sudah memolesinya dengan alas bedak.

__ADS_1


"Aku percaya pada mu, sungguh sangat-sangat percaya.Tapi saat ini aku belum siap cerita semuanya pada mu tentang Akeno." Ucapnya memohon.


"Baiklah-baiklah. Tapi janji kau pasti akan jujur padaku."


"Janji." sahut Gresia dengan senyum manisnya.


"Tapi karena rekaman itu semua orang jadi salah paham padamu." ujar Ayana khawatir.


"Salah paham?"


"Iya, mereka berpikir kau dan Akeno punya hubungan special. Aku juga akan berpikir begitu, andai tidak tauAkeno adalah pamanmu."


"Begitu ya."


"Mulai sekarang kamu harus tebel muka menghadapi cemooh penggemar Akeno. Mereka berpikir kamu sengaja merayu Akeno."


"Separah itu?"


"Tentu saja. Apa kau tidak tau ketenaran pamanmu melebihi aktor papan atas. "


"Sudah jangan banyak berpikir. Ada Adrian yang selalu setia di sampingmu. Kalau aku lihat dia bukan lelaki sembarangan. Oohh tunggu? Selama ini kau tidak dekat dengan siapapun selain Adrian. Dia muda dan tampan, jangan-jangan.. "


"Udah ah ngawur! Aku dan Adrian cuma sebatas nona dan pengawal gak lebih."


"Makanya kamu terus terang biar pikiranku gak kemana-mana. "


"Udah ayo kerja. Lihat mereka kesal lihat kita bukannya kerja malah ngerumpi gini. Aku gak mau dapat nilai jelek gara-gara kamu ya!" seru Gresia sembari menarik pergelangan tangan Ayana masuk kedalam ruang kerja.


****


Vila di negara B.


Asahi sudah duduk di kursi ruang kerjanya hampir enam jam lebih. Pria lain seumuran dia mungkin akan sakit pinggang duduk selama itu tanpa beristirahat. Semenjak petinggi keluarga Kenzo sakit-sakitan dia memang jadi sangat sibuk mengurusi urusan perusahaan.

__ADS_1


Saat ini pinggangnya mungkin baik-baik saja, tapi tidak dengan kepalanya yang berdenyut sakit. Entah kenapa belakangan ini dia sering kali merasakan sakit di bagian belakang kepalanya. Sudah berulang kali dia melakukan pemeriksaan kerumah sakit dengan alat canggih, tapi tak di temukan penyakit yang serius. Memang Dokter sering menganjurkan padanya agar melakukan pemeriksaan Elektromiografi memasukkan elektroda pin (jarum halus) melalui kulit dan ke dalam jaringan otot, kemudian aktivitas listrik otot direkam pada komputer. Hasil tes ini memungkinkan ahli saraf mendiagnosis setiap aktivitas otot atau saraf yang abnormal. Tes ini membantu membedakan antara akar saraf dan penyakit otot. Tapi dia belum memiliki waktu melakukan pemeriksaan itu.


Asahi tampak berkeringat dingin menahan sakit. Obat yang dia minum tadi seharusnya mampu meringankan rasa sakit di belakang kepalanya. Tapi kenapa malah membuat kepalanya semakin sakit.


Dengan langkah terhuyung Asahi keluar ruang kerjanya dia ingin berteriak memanggil pelayan tapi suaranya terasa tersekat di tenggorokan.


Ada apa ini, kenapa dia merasa kalau otaknya tak bisa memberi perintah pada anggota tubuhnya. Dia merasa anggota tubuhnya seperti lumpuh.


Di saat saat genting tiba-tiba dia melihat sosok mendekat kearahnya. Dengan perasaan senang dia mengapai sosok tinggi tegap itu dengan tangan lemasnya.


'Siapa kau? ' tanya Asahi tercekat di tenggorokan. Tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya walau bibirnya terbuka lebar.


Seakan paham apa yang di pikirkan Asahi pria itu mengulurkan tangan memapah tubuh lunglai itu duduk di atas sofa, lalu berbisik. "Aku Baskoro. Akeno mengirimku untuk merawatmu. Dia sudah memberimu obat selama beberapa waktu belakangan ini dan seharusnya obatnya sudah bereaksi. " ujarnya ringan.


Bola mata Asahi tampak bergetar, bibirnya bergerak menimbulkan suara erangan tertahan. Entah sumpah serapah apa yang sedang dia ucapkan saat ini. Baskoro menanggapinya dengan seringai.


"Akeno memintaku menyampaikan salam dari kedua orang tuanya dari alam baka. Kau tidak lupa bukan apa yang telah kau lakukan pada kedua orang tuanya? Saat ini Akeno sedang Menagihnya." Ucap Baskoro tanpa emosi.


Baskoro melambaikan tangannya, dari sudut ruangan keluar wanita cantik berusia tiga puluhan. Melihat wanita itu datang, bola mata Asahi berbinar penuh harap. Aini dia adalah orang kepercayaannya, orang yang memahami seluk beluk perusahaan keluarga Kenzo selain dia.


"Tuan Asahi sudah waktunya kau istirahat, biar nona Aini yang mengantikanmu melakukan semua tugas-tugas mu. Bukan begitu nona? " ujar Baskoro dengan seringai. Asahi menggeram penuh emosi, matanya nyalang menatap Aini. Dia tak menyangka Aini mampu melakukan semua ini. Sementara Aini juga sama tertekannya dengan Asahi. Dia melakukannya dengan terpaksa di bawah tekanan Akeno.


Vila Asahi terasa sangat mencekam malam ini. Asahi tak pernah menyangka Akeno mampu menyusup membobol benteng pertahannya. Dia salah besar sudah meremehkan seorang Akeno.


Asahi di bawa orang suruhan Baskoro kesebuah ruangan. Sementara Aini meninggalkan Vila dengan pengawalan ketat oleh mantan orang suruhan Asahi. Itu sengaja Baskoro lakukan agar keluarga Kenzo tidak curiga.


Baskoro duduk di balkon kamar nya sembari menyesap wine di gelasnya. Lalu mengeluarkan ponsel di saku jas nya.


"Asahi sudah di lumpuhkan. Aku tunggu kedatangan tuan bersama nyonya di negara ini. " ujarnya setelah panggilan tersambung dengan Akeno.


"Kau benar-benar bisa diandalkan Baskoro. Mungkin minggu depan aku dan Gresia sudah sampai di sana. Aku sedang mengurus dokumen keberangkatan Gresia."


"Okay, aku sabar menunggu."

__ADS_1


Bersambung 🥰🙏


__ADS_2