
Berita pernikahan Akeno menjadi trending topic dalam semalam.Wajah Gresia mendadak menjadi sorotan berbagai media online.
Dengan gencarnya pemberitaan tentang mereka, Akeno terpaksa memperketat, penjagaan untuk Gracia.
Walau Akeno tahu mengungkap identitas istrinya sangat berbahaya, tetapi Akeno tidak punya pilihan identitas Gracia harus tetap diungkapkan.
Untuk semua itu Akeno telah menyiapkan beberapa pasukan khusus untuk istrinya.
Gracia baginya adalah segala-galanya dia pasti akan mengorbankan segala yang dia punya hanya untuk melindungi Gresia.
Siang ini Ayana berkunjung ke kediaman Gracia, wajah galaknya langsung terlihat begitu masuk ke dalam rumah. Ayana datang Bersama Sheila dan Anggit teman kuliah mereka.
"lu tuh ya, memang teman gak ada akhlak!" umpat Ayana sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa, yang ikut duduk di sampingnya, sementara Gracia cuma senyum-senyum saja.
"Kita kenal dari SMA lho Grace. Lu kira udah berapa tahun itu?" ucap Ayana sengit. terbayang olehnya waktu SMA dulu saat magang di percetakan ayahnya, Gracia datang dengan tubuh penuh bercak merah yang di duga Ayana hasil perbuatan dari kekasih me sumnya, siapa sangka ternyata pria itu adalah Akeno.
"Maaf." lirih Gracia sembari bergelayut manja di tubuh Ayana. sementara Ayana membulatkan matanya menatapnya kesel.
Ayana menarik nafas berat. " kamu buat aku patah hati Grace, kalau bukan kamu Udah aku rebut tuh Akeno." sungut Ayana.
" Emang Akeno mau sama kamu?" lirik Anggit dan Sheila bersamaan. disambut tawa gembira mereka.
"Ngomong-ngomong gimana rasanya jadi nyonya Akeno?" tanya Ayana sambil menaik-naikkan kedua alisnya dengan jahil.
"Apaan sih, udah ah Kalian mau makan apa?" tanya Gracia mengalihkan pembicaraan.
"Apa aja deh. Lagian kami kemari bukan mau makan, kami kemari tuh mau ngorek keterangan dari kamu. Jadi nyonya Akeno itu rasanya seperti apa? udah gitu berani-beraninya ya kamu nyembunyiin ini selama bertahun-tahun kita sahabatan nggak sih." salak Ayana masih tidak mau pergi dari pembahasan itu.
melihat itu timbul sifat jahil Gresia. "Rasanya bikin panas dingin. Kamu tahu kan Akeno segagah apa?" bisik Gracia sembari mengering manja.
"Oh my God Sumpah gue travelling guys, kebayang nggak sih dipeluk tubuh kekarnya Akeno, anget" ucap Ayana sambil cekikikan.
"Berani-beraninya mau gue cekek!" ancam Gracia dengan mata membulat. dibalas tawa oleh teman-temannya.
Mendadak tawa mereka diam, saat Adrian masuk ruangan memberikan benda Pipih di tangannya pada Gracia.
" Nyonya Tuan menghubungimu beberapa kali, Tuan ingin bicara." ujar Adrian sembari menyerahkan benda pipih yang dipegangnya kepada Gracia.
"Benarkah, Oh aku lupa telepon tadi tertinggal di kamar." sahud Gresia sembari meraih handphone dari tangan Adrian.
" Baiklah panggil aku kalau sudah selesai nyonya." ujar Adrian sembari membungkuk kecil kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Saat Gracia ingin bicara dengan suaminya, Ayana merebut ponselnya lalu mengaktifkan speaker. Kemudian mengembalikan nya lagi kepada Gracia.
"Sayang kau di mana?" terdengar suara berat Akeno di seberang telepon.
" Aku di rumah, ponsel ku tertinggal di kamar, ada teman-temanku di sini Mereka Baru saja sampai." jawab Gracia terdengar kaku.
"Ada apa? Kenapa nada bicaramu begitu kaku." selidik Akeno, nada bicara Gresia, tidak seperti biasanya manja dan lembut. Kali ini Terdengar sangat kaku seperti mereka baru saja saling mengenal.
Gresia tertawa canggung, sembari melirik ke arah teman-temannya.
__ADS_1
"Masa sih, aku merasa biasa saja." sangkal Gracia.
"Kau begitu canggung, apa karena tamumu? Apa mereka membawa pria?" selidik Akeno makin curiga.
" Oh Ayolah, apa aku berani membawa pria ke rumahmu?!" salak Gracia dengan wajah cemberut. mendengar itu Akeno terbahak.
"Itu baru benar." sahut Akeno di Sela tawanya.
" Siapa yang datang?" imbuhnya.
" Ayana, dan teman-teman."
" Oh baiklah, selamat bersenang-senang. Aku ada rapat Sebentar lagi."
"Oh ya, jangan membalas pria lain dengan mereka aku tidak suka." imbuh Akeno memperingati.
Gracia membulatkan matanya, menatap benda pipi berwarna hitam itu dengan kesal. "Yang benar saja, lelaki mana yang melampaui dirimu untuk dibahas." kembali terdengar ketawa Akeno membahana. Dia benar-benar suka menjahili Gresia, walau sebenarnya dia memang sangat posesif.
"Bagus itu baru istriku, sayang aku rapat dulu ya, jangan nakal." ujar Akeno menutup panggilan.
" Oh so sweet benarkah itu Tuan Akeno? Aku tidak percaya!" Seru Ayana histeris. Siapapun tahu, kalau Akeno bahkan tidak pernah tersenyum. Tapi hari ini, mereka bisa mendengar suara tawa Akeno dengan jelas. Merdu ceria dan sangat mempesona.
Tawa ceria di rumah Akeno, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di kantor Akeno, wajah-wajah tegang di ruang rapat begitu mendominasi.
Bahkan, hanya untuk memalingkan wajah sejenak saja, dari berkas-berkas yang ada di hadapan mereka, mereka tidak berani.
Satu jam kemudian Akeno sudah keluar dari ruang rapat. Begitu keluar ruang rapat dia kembali menghubungi Gresia melalui sambungan telepon.
"Sore Sayang, sedang apa?" sapa Akeno dengan suara lembut.
" Sore juga sayang. aku sedang bersantai di taman. Sayang sudah selesai rapat?" suara merdu Gresia membuat Akeno mengulum senyum.
"Mereka masih di sana?"
"Tidak mereka baru saja pulang.''
"Kalau begitu bersiaplah, Adian akan mengantarmu ke sini."
"Baiklah sayang," jawab Gracia lalu memutus panggilan.
Sementara Akino sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, diikuti oleh suami di belakang.
Samy duduk di sofa, sembari menatap Akeno yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Meminta nyonya Akeno datang, sementara kau sendiri banyak pekerjaan." komentar Samy. Mereka lagi padat jadwal, tapi malah akhirnya meminta istrinya untuk datang ke kantor.
"Aku sedang rindu, tapi tidak sempat pulang. Kalau aku tidak bisa pulang, apa salahnya meminta dia datang sama saja bukan?" sahut Akeno tanpa berpaling dari berkas-berkas di meja kerjanya.
Samy mencibir, sudah menikah bertahun-tahun tapi tingkahnya masih seperti pengantin baru. membuatnya iri saja...
"Lima belas menit lagi klien kita datang. Bagaimana dengan istrimu?"
__ADS_1
"Ini Bukan Pertama kali, Kenapa kau masih bertanya. Kalau mereka keberatan dengan keberadaan istriku batalkan saja kerjasama dengan mereka." sahut Akeno, sembari mengangkat wajahnya menatap Samy.
Samy memalingkan wajahnya Sambil tertawa sinis. "Sial! Kau masih benar-benar mencintai istrimu sedalam itu." umpat Samy.
Akeno menggeleng pelan, bisa-bisanya dia memprovokasi seorang Akeno. kemudian fokusnya kembali pada pekerjaannya.
Seperti kata Samy tadi, Gracia datang tepat saat Akeno sedang menerima tamu di ruang kerjanya.
Begitu sampai, Gresia langsung masuk ke dalam ruang pribadi Akeno. Dia hanya menunggu sebentar Akeno sudah menyelesaikan urusannya dengan kliennya lalu menyusulnya dalam ruang pribadi.
Akeno membuka jas dan dasinya, menaruhnya di gantungan lalu duduk di sebelah Gresia yang sedang tidur terlentang sembari bermain gawai.
"Begitu merindukanku?" tanyanya sembari mengeliling manja begitu suaminya ikut rebah di sisinya.
Akeno tak menyahut, dia mendekat erat tubuh hangat Gresia menyusufkan wajah nya pada dada padat berisi milik istrinya.
Entah kenapa hanya dengan memeluk dan mendekap, tubuhnya lelahnya seharian hilang.
"Sayang."
"Hmmm."
"Kenapa sayang belum hamil?"
"A-apa?!" seru Gresia kaget. Hamil...
Akeno menarik separuh tubuhnya, menindih tubuh Gresia dengan bertumpu pada kedua lengannya agar tak benar-benar menindih tubuh molek di bawahnya. Memindai wajah gugup Gresia dengan sorot mata penuh binar.
"Kita sudah menikah hampir lima tahun, kenapa sayang belum juga hamil?" Akeno mengulang pertaanyaannya, sembari mendaratkan kecupan-kecupan lembut di bibir merah Gresia.
"A-aku masih kuliah sayang." sahut Gresia gugup. Kenapa Akeno tiba-tiba membahas anak?
"Sudah susun skripsi kan?" Gresia mengangguk.
"Tidak apa kalau hamil sekarang, masih sempat wisuda."
"Apa?!"
"Kenapa kaget, sayang gak mau hamil anak ku." rajuk Akeno.
Ya tuhan, lelah membuat Akeno berpikir macam-macam.
"Tentu saja aku mau, tapi kuliah ku aja belum selesai sayang. Lagian sayang bener-bener udah siap jadi ayah?"
Akeno mengangguk tegas, melambangkan kesungguhannya. Mimik wajah memohon itu sungguh meresahkan, membuat Gresia tak tahan.
"Baiklah sayang, bagaimana kalau kita mulai dari sekarang." bisik Gresia. Tentu saja Akeno sangat setuju, tapi baru saja dia ingin memulai. Ketukan terdengar di depan pintu ruang pribadinya.
Itu pasti Samy. Siapa yang berani selancang itu mengetuk ruang pribadinya kecuali Samy.
"Katakan pada mereka untuk menunggu. Kau tau yang di sini tidak bisa menunggu lagi." sahut Akeno dari dalam.
__ADS_1
"Si al!" umpat Samy.
Bersambung