
Gresia mungkin bisa menyembunyikan tanda yang di buat Akeno dari teman kerjanya yang lain. Tapi tidak dari Ayana.
Saat jam makan siang Ayana mengintrogasi Nya. "Katakan siapa dia?" tanyanya dengan mata menyipit.
Gresia yang sedang makan hampir tersedak di buatnya. "D-dia apa?"
"Ck! Ck! Sudah ketahuan masih berlagak tidak tau. "
Gresia tersipu, dia tak menyangka Ayana bermata jeli. "Lagi kerja kan? Ya udah bahas kerjaan aja. "
"Gak usah ngeles! Siapa si ganas itu beritahu aku!"
Si ganas?! Tidak mungkin kan dia bicara jujur.
"Aku gak mau bahas. "
"Apa Haris?" tebak Ayana dengan mata menyipit. Gresia menggeleng tegas.
"Kalau begitu pasti Barry. " bisiknya sembari meneliti sekitar takut kalau ada yang curi dengar. Gresia kembali menggeleng.
"Lalu siapa!" serunya prustasi.
"Aku bilang jangan bahas. "
"Ck! pelit amat sih. Tapi kalau di pikir pikir Haris dan Barry tak mungkin seganas itu. Mereka berdua malah terlihat kalem. Pantas saja sama yang kalem-kalem gak respon ternyata suka yang ganas ya. Auummm!" ujar Ayana seperti berargumen pada dirinya sendiri dan di akhir kalimat Ayana mencakar genit.
Gresia begidik ngeri melihat ekspresi Ayana yang tiba-tiba berubah jadi genit. Tapi dia memilih mendiamkan pertanyaan Ayana. Dia tidak ingin bohong tapi belum waktunya juga untuk jujur.
Tapi sepertinya Ayana tak ingin menyerah begitu saja. "Hey, ayolah beritahu aku. Siapa dia yang begitu rakus melahapmu tadi Malam. "
Rakus? Benar Akeno memang sangat rakus. Sudah memiliki Desi tapi tetap mengarapnya juga. Tapi dia tak punya kekuatan menolak Akeno sebab dia juga ingin.
Tapi sepertinya bukan hanya Ayana yang bermata jeli. Barry juga, dan sikapnya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Tapi bukan Gresia kalau dia ambil pusing. Bukan kah bagus, dia tak perlu lagi menjauhi Barry tapi Barry sendiri yang menghindarinya.
Saat mereka kembali keruang kerja Gresia mendengar beberapa rekan kerja wanitanya sedang bergosip tentang Akeno dan Desi.
Sekilas Gresia mendengar bahwa Akeno memberikan Kalung pada Desi. Menurut mereka kalung itu sangat indah dengan batu putih berkilauan tersemat pada leontinnya. Akeno benar-benar pria yang romantis.
Tanpa sadar Gresia menyentuh benda yang tergantung di lehernya. Benda yang juga pemberian Akeno. Dia sempat terbang saking senangnya saat Akeno memberinya kalung ini. Tapi nyatanya dia juga menghadiahi Desi dengan benda serupa.
Gosip masih berlanjut menurut mereka saat ini Akeno tengah makan siang di sebuah restauran mahal. Mereka memesan private room, bayangkan apa yang bisa mereka lakukan di tempat tertutup itu.
Entah setan apa yang merasuki Gresia tiba-tiba dia ingin mengganggu ketenangan Akeno dan Desi. Langkah awal dia sengaja mengiri Akeno pesan singkat.
'Kau dimana sekarang?!' tulis Gresia dengan membubuhi tanda seru diakhir kalimat.
Tak butuh waktu lama Akeno sudah membalas pesan dari-nya. 'Aku sedang di luar makan siang. '
__ADS_1
'Dengan siapa?'
'Dengan Desi, ada apa?'
'Enak ya jadi suami, bisa makan dengan siapa saja. Sementara istri gak boleh ini gak boleh itu!' tulis Gresia lalu mengirimnya dengan perasaan geram. Untung saja dia sedang di ruangan foto copy sendirian, jadi tidak ada yang melihat raut wajah kesalnya.
'Kau kenapa, tiba-tiba jadi bawel gini?' kali ini Akeno membalas pesan Gresia sedikit lama. Setelah mbaca pesan Akeno Gresia mengantongi ponselnya tanpa membalas pesan dari Akeno.
Gresia baru saja akan beranjak pergi dari ruang foto copy mendadak ponselnya berdering. Itu panggilan Video dari Akeno, dengan malas dia menerima panggilan Video itu.
"Apa?!" sapanya ketus begitu melihat wajah Akeno memenuhi layar ponsel nya. Akeno menyipitkan matanya sembari sedikit menjauhkan ponselnya. Gresia dapat melihat kalau Akeno masih berada di restoran itu.
"Hanya ingin melihat muka bawelmu. Kenapa bawel terus, apa lagi datang bulan?" sahut Akeno dengan mimik mengejek.
"Dah lewat. " sahutnya sewot.
"Baguslah, " sahut Akeno dengan senyum simpul. Gresia mencibir kesal dia tau ke mana arah pembicaraan Akeno.
"Apa dia sudah pergi?" Selidik Gresia.
"Siapa?"
"Teman kencan mu, siapa lagi. "
"Sudah aku bilang dia bukan teman kencanku. Apa kau bodoh? Lelaki mana yang sedang berselingkuh lalu menelpon kekasihnya. Dia masih di sana lihat bagus-bagus. " ucap Akeno sembari mengarahkan kamera ponselnya pada Desi. Tampak Desi melambai ke kamera dengan senyum menawan.
"Puas!"
"Hmmm."
"Iya! Iya! Udah aku kerja dulu. " ujar Gresia lalu memutus panggilan Video. Ada senyum samar di bibirnya, hatinya berbunga indah. Akeno baru saja membuktikan ucapannya kalau Desi hanyalah sebatas teman bisnis.
"Hayoo senyum-senyum sendiri pasti habis di telpon si tuan ganas. Iya kan. " ujar Ayana menebak ekspresi Gresia. Dia baru saja menyusul Gresia ke ruang foto copy untuk mengambil berkas yang di foto copy Gresia.
Sementara itu di restauran Akeno terkekeh geli oleh tingkah Gresia. Istri kecilnya sudah berani mengintrogasi kegiatannya di luar jam kantor, sungguh kemajuan.
"Dia pacarmu?" tebak Desi sembari menatap wajah sumringah Akeno. Matanya mengerjab berulang kali menatap layar ponselnya sembari mengangguk menjawab pertanyaan Desi.
"Dia sangat beruntung bisa mendapatkan cinta seorang Akeno. " gumam Desi.
Akeno yang sedang mengetik pesan untuk Gresia mengangkat wajahnya menatap Desi.
"Kau cemburu?" Tanyanya dengan ekspresi datar. Desi mengngguk sembari tersenyum. Bukan hanya cemburu dia juga iri setengah mati pada wanita yang mampu mencairkan sikap dingin Akeno.
"Dia memang layak kau cemburui. Kata sempurna melekat pada semua yang dia miliki. " puji Akeno tanpa sungkan.
Desi tertawa lirih. "Benarkah?"
__ADS_1
"Hmmm."
"Pantas saja kau mati matian melindungi dia. Aku jadi tidak rela menjadi tumbalnya. "
"Apa kau berniat untuk mundur?"
"Menurutmu apa aku bisa melakukannya. Hidup matiku saat ini tergantung padamu Akeno. Masalah hati bagiku sudah tak penting lagi. Asalkan aku bisa lepas dari Keluarga Kenzo itu sebuah anugrah untukku dan aku sadar hanya kau yang bisa melepas belenggu itu dari hidupku. " tutur Desi dengan sorot mata penuh harap.
"Aku sedang mewujudkanya. Selagi kau berjalan di Koridor yang telah aku tentukan makan semua keinginnamu satu persatu akan aku wujud kan." Ujar Akeno. Sekilas dia melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sudah waktunya kembali, aku ada meeting setengah jam lagi. Kau keluarlah dulu. "
"Baiklah, sampaikan salamku pada Gadismu. "
"Okay"
Akeno keluar lima belas menit kemudian setelah Desi keluar dari restauran. Mereka sengaja melakukan itu agar drama yang mereka lakoni terlihat nyata.
Kolam renang yang temaram tampak beriak bahkan sesekali bergelombang oleh gerakan lentur tubuh Gresia. Tubuhnya yang putih bersih dan hanya di balut baju renang sangat seksi, tampak berkilau oleh cahaya lampu yang menimpa tetes air yang menggenang di sekujur tubuhnya.
Di sudut lain jakun Akeno naik turun menatap gerak lincah tubuh istrinya di dalam air. Dadanya yang besar tampak berguncang saat menyembul dari dalam air.
Dia baru saja pulang dari kantor bahkan jas masih melekat di tubuhnya. Gemercik air dan de sah nafas Gresia saat muncul ke permukaan. Menarik langkah kaki Akeno untuk mendekat.
Gresia yang sedang menyelam didalam air melihat bayangan Akeno di tepi kolam. Dengan gembira dia menghampiri suaminya.
Gresia naik ke permukaan tepat di depan Akeno yang sedang berjongkok di tepi kolam.
"Ayo berenang. " ujarnya dengan nafas tersenggal. Dadanya naik turun dengan sangat seksi memkasa Akeno menelan salivanya dengan kasar.
"Apa enaknya berenang di malam hari? Tidak takut masuk angin?" omel Akeno.
Gresia mencibir. "Temani aku berenang, kau akan tau enaknya berenang di malam hari. " kata-kata sederhana yang memiliki makna sangat dalam bagi Akeno yang sudah berhasrat. Terdengar seperti ajakan bercin ta.
"Baiklah aku akan mencobanya. " sahut Akeno lalu menaggalkan bajunya satu persatu dan hanya meninggalkan celana bokser ketat berwarna hitam. Gresia menatapnya penuh binar, bahkan tengorokannya terasa kering seketika. Dia tak habis pikir kenapa di seme sum ini saat melihat tubuh Akeno. Tiba-tiba dia berpikir bagaimana bila mereka ber cinta di sini.
Akeno mulai memperlihatkan ke piawaian nya dalam berennag. Tubuhnya yang ramping tapi berotot menghipnotis Gresia. Dia mengikuti gerak lincah Akeno berusaha mengimbanginya. Membuat Akeno semakin gemas.
Dia menangkap tubuh Gresia membawanya ke tepi. Dengan nafas tersenggal dia mulai menjamahi tubuh Gresia. Tubuh yang terasa begitu lembut dan lentur. Tubuh yang membuatnya candu ingin menyentuhnya setiap saat.
Riak air kolam terlihat bergelombang senada dengan gerak tubuh dua sejoli yang saling memompa untuk saling memuaskan. De sah dan pekik tertahan terdengar dari dalam kolam yang temaram. Akeno dan Gresia tengah menuntaskan hasratnya yang sudari tadi membakar aliran darah keduanya.
Sementara di tempat lain beberapa orang bertubuh tinggi tegap tampak sedang mengawasi seorang wanita cantik di sebuah club. Desi bersama tiga kawannya sedang menghabiskan malam di temani oleh beberapa botol wine.
Satu jam kemudian tampak Desi berjalan seorang diri kehalaman parkir. Karena mabuk Desi memutuskan memesan taksi untuk membawanya pulang ke apartemen. Pada saat itulah beberapa pria yang sedari tadi mengawasinya tampak mendekat. Dengan gerakan cepat tanpa di duga mereka meyergap Desi lalu membiusnya. Desi yang dalam keadaan mabuk tak memberikan perlawanan sedikitpun dan sudah terkulai tak berdaya.
"Bawa dia dengan hati-hati." Titah salah satu dari mereka.
__ADS_1
Bersambung ya mak 🙏🙏🙏🥰
Jangan lupa tinggalin jejaknya untuk mendukung karya emak.