
Gresia masih membisu, sebab dia tak merasa senang sama sekali. Dia keluar untuk meluapkan rasa marahnya pada Akeno, jadi bukan untuk bersenang-senang.
"Kau bertingkah seperti wanita single, pergi dengan pria lajang ketempat-tempat yang seharusnya tak kau kunjungi dengan lelaki lain. Apa kau sedang melampiaskan amarahmu pada ku?!" tebak Akeno, nada suaranya kini sedikit lembut.
Gresia mengangkat wajahnya menatap lekat bola mata elang milik Akeno. Keberanian yang tadi surut mendadak datang lagi, dengan berani dia menentang tajamnya sorot mata Akeno. Akeno tertegun, Gresia tak pernah berani menentang sorot matanya. Tapi kali ini dia berani menentang sorot matanya.
"Aku lelah. Apa kau berniat memarahiku sampai pagi." sungut Gresia. Tanpa menghiraukan Akeno yang sedang marah, Gresia beranjak dari duduknya meninggalkan Akeno yang sedang menatapnya tak percaya.
Gresia membanting pintu kamar lumayan keras, pasti suara dentamannya terdengar keseluruh bangunan mansion. Gresia tak perduli.
Akeno mengusap wajahnya dengan kasar. Sejak kapan Gresia pandai membangkang, bukankah selama ini dia sangat penurut.
Dering nyaring ponselnya membuatnya bertambah kesal.
"Ada apa?!" sentaknya saat bicara pada si penelpon.
"Malam ini Micel mengadakan pertemuan dengan perwakilan Group Sentosa tuan." lapor orangnya di sebrang telepon.
"Apa yang mereka bahas?"
"Sepertinya pak Johan berniat membantu Micel tuan."
"Menentangku? Dia sangat berani. Blacklist Group Sentosa dari semua bentuk kerjasama dengan perusahaan kita. Akuisisi prusahaannya dalam waktu satu bulan. Kerjakan secepatnya." titah Akeno dengan suara berat dan dingin.
Akeno menyeringai, ingin membantu Micel apa dia bermimpi? Bagaimana mungkin dia membiarkan orang yang telah membunuh neneknya hidup senang. Biarkan dia hidup tapi serasa ingin mati, itu barulah adil.
Ingatannya kini kembali pada istrinya yang terlihat memiliki banyak perubahan. Entah dari mana sikap beraninya datang. Apa selama ini dia terlalu bersikap lunak pada Gresia, tapi terlalu tegas dengan Gresia dia juga tak berani. Dia takut Gresia malah nekat kabur dari sisinya, itu sama saja dengan bunuh diri.
Akeno memutar handle pintu kamar lalu masuk perlahan. Di dalam kamar terlihat Gresia sedang berkutat dengan tugas kuliahnya.
Dia duduk bersila di atas ranjang, di pankuannya tampak laptop yang sedang menyala. Baju tidur yang begitu minim mengespos kedua paha mulusnya dengan sangat sempurna.
Tubuhnya terlihat segar dan harum, aroma lembut yang sangat Akeno sukai yang meruar dari tubuh molek Gresia.
Menyadari kehhadiran Akeno, Gresia menengadah menatap suaminya yang berdiri tegak menjulang di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang mau mandi?" tanya Gresia sembari menutup laptopnya, meletakkanya di atas nakas. Akeno tak menyahut dia hanya mengangguk kecil, lalu masuk kedalam kamar mandi.
Akeno menguyur tubuh dan kepalanya dengan air hangat. Sensasi segar seketika menjalari tubuh kekar nya. Seiring bertambahnya usia tubuh Akeno juga mengalami perubahan. Tubuhnya bertambah kekar dan berisi, otot-otot perutnya semakin terbentuk sempurna. Mata wanita manapun tak kan mampu berpaling dari keindahan pahatan di tubuhnya. Tapi hanya Gresia seorang yang dapat melihat maha karya yang maha sempurna ini.
Akeno masih berdiri di bawah shower Membiarkan Air hangat mengucur membasahi tubuhnya. Entah sudah berap lama dia berdiri disana. Pikiran masih pada sikap berani yang di tunjukkan Gresia padanya. Ada rasa khawatir menyusup di sudut hatinya.
"Sayang." terdengar suara lembut Gresia di balik pintu kamar mandi. Dia mulai khawatir, sebab Akeno tak juga keluar dari kamar mandi.
Akeno tak menyahut, dia menyaut handuk, memakainya kemudian membuka pintu kamar mandi lalu menarik tubuh Ggresia yang sedang berdiri di depan pintu, tanpa permisi.
"Aaaa." pekik Gresia panik.
Akeno tak perduli, dia menarik tubuh Gresia dalam pelukannya. Berdiri dibawah guyuran shower, Akeno mulai melucuti pembungkus tubuh Gresia satu persatu.
Gresia bergeming, membiarkan saja apa yang dilakukan Akeno padanya. Dia sudah sangat hapal perangai Akeno. Bila sedang marah padanya hanya satu pelampiasannya, se x.
Sungguh berbeda dengannya, dia tak kan sudi di sentuh saat dia marah pada Akeno. Butuh perjuangan bagi Akeno untuk membujuknya.
Akeno mendesak tubuh Gresia ke dinding, mencumbunya dengan kasar dan ganas. Membuat Gresia melenguh dan menjerit, sakit dan nikmat berdesakan menjalari sekujur tubuhnya.
Akeno mendesis marah. "Omong kosong! Aku tidak pernah bercinta selain dengan mu selama aku menikahimu. Aku sudah sering mengatakan ini padamu." tegasnya sembari menyesap kuat leher jenjang Gresia.
"Ahhh." de sah halus terdengar lolos dari bibir merah Gresia. Sebab jemari kokohnya menyusup dalam di bawah sana. Memberi rasa nikmat luar biasa.
Tubuh Gresia menggelinjang di bawah tekanan Akeno. Kecupan dan sesapan di berikan Akeno intens. Berpindah-pindah tempat. Gresia benar-benar terjerat oleh bi rahinya sendiri.
Akeno tersenyum miring, di tengah-tengah bira hi istrinya yang memuncak Akeno menghentikan cumbuannya. Gresia mengerang halus, tak terima Akeno menghentikan cumbuannya secara sepihak.
"Memohonlah padaku." pinta Akeno sembari menyesap lembut daun telinga Gresia. Gresia mende sah, jemarinya menyentuh dada bidang suaminya, mera ba penuh damba.
"Aku bilang, memohonlah padaku. Apa kau tidak dengar sayang," ucap Akeno sembari mencekal kedua tangan Gresia.
"Pria licik!" umpat Gresia dengan sorot mata berkabut sayu. Akeno terkekeh senang, geliat tubuh molek seputih salju ini benar-benar memompa Adrenalinnya.
"Itu benar sayang, aku memang pria licik." seringai Akeno sembari kembali menyerang Gresia dengan bringas. Lelaki perkasa itu tak memberi ruang bagi Gresia untuk membalas sentuhnya.
__ADS_1
Malam ini Akenolah yang memegang kendali, Gresia hanya mampu mende sah nikmat di bawah kungkungan tubuh kekar suaminya. Hingga terkulai tak berdaya bermandi keringgat.
Ini indah!
Setiap sentuhan Akeno menimbulkan Glenyar di tubuhnya. Apa lagi dia bisa merasakan sikap Akeno yang begitu mendamba akan dirinya. Itu bukan karena dia yang ja lang karena haus sentuhan, tapi karena dia tau, Akeno menjaga hati dan cintanya menjadi miliknya seutuhnya. Tubuhnya cintanya semua itu hanya milik nya. Dia meyakini dengan segenap jiwa raganya kalau Akeno tak mendua.
"Gelang ini, siapa yang memberikannya padamu?" tanya Akeno sembari menyugar rambut Gresia dengan jarinya. Saat ini Akeno tengah berbaring di atas tempat tidur, sementa Gresia berbaring di sebelahnya berbantal lengan Akeno.
"Dari Haris, katanya ini lambang persahabbatan kami." Gresia mengangkat tangannya tinggi-tinggi memamerkan gelangnya pada Akeno.
Akeno menggeraam kesal. "Lepas aku tidak suka melihatnya." diraihnya tangan Gresia lalu melepas gelang yang membuat hatinya memanas.
"Gak mau.." rengek Gresia sembari berusaha melepas tangannya dari cekalan Akeno.
"Ayolah sayang, jangan membantah."
"Coba saja buka, aku pastikan aku tidak akan berbicara dengan sayang selama setahun!" ancam Greria.
"Kau berani mengancamku?!"
"Berani, bukannya sudah kulakukan."
"Jangan menguji kesabaranku sayang aku tidak suka kau memakainya." Akeno masih berusaha melepas gelang pemberian Haris dari tangan Gresia.
"Sayang bisa melakukan hal-hal yang tidak aku suka. Kenapa aku gak."
Akeno menghentikan gerakannya. "Katakan mana dari sikap dan perbuatranku yang tidak kau suka, aku akan merubahnya. Tapi lepaskan gelang itu." desak Akeno serius.
"Ini hanya gelang." desis Gresia sembari mengoyangkan tangannya berulang kali. Membuat kepala Akeno mendidih.
"Baiklah pakai saja sesuka hatimu. Tapi mungkin kau tidak akan melihat kedua tangan Haris menempel di tubuhnya lagi." Ancam Akeno dengan sorot mata tajam. Gresia mencabik kesal, tapi dia ulurkan juga tangannya pada Akeno.
"Buka." pintanya dengan muka di tekuk. Akeno dengan penuh semangat melepas gelang di tangan istrinya.
Bersambung
__ADS_1