Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 55


__ADS_3

Langkah kaki Akeno terhenti di depan ruang operasi. Tubuhnya gemetar,telapak tangannya terasa dingin dalam genggaman Gresia.


Akeno memalingkan wajahnya menatap Samy yang berdiri kaku di depannya.


"Bagaimana? " tanya Akeno dengan suara bergetar. Netranya menatap lekat wajah pucat Samy. Samy menggeleng pelan. Melihat itu Akeno memejamkan matanya erat. Sementara Gresia tergugu di samping Akeno.


Akeno meraih tubuh Gresia merengkuhnya erat. Bukan hanya hatinya saja yang hancur, tapi juga hati Gresia. Nenek adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah Akeno.


"Aku, tidak punya siapapun lagi selain nenek," lirih Gresia ditengah isak tangisnya. Saat ayahnya mengatakan bahwa ibunya telah tiada hati Gresia tak sesakit ini. Mungkin karena dia tak mengenal sosok ibunya sama sekali, juga tak merasakan kasih sayangnya sedikitpun. Dengan nenek dia pernah tinggal seatap selama enam bulan, walau hanya waktu yang singkat tapi Gresia bisa merasakan kasih sayang nenek yang begitu tulus.


Akeno mengendurkan pelukannya menatap mata Gresia yang sudah membengkak karena menagis semalaman. "Kau masih punya aku sayang," bisiknya pelan. Gresia mengangkat wajahnya menatap bola mata kelam Akeno yang memancarkan sejuta kesedihan, lalu kembali membenamkan wajahnya dalam rengkuhan Akeno.


Rumah kediaman nenek ramai oleh para pelayat. Karangan bunga terlihat berjejer di halaman sampai ke tepi jalan perumahan.


Akeno memandang tubuh yang terbaring kaku itu lekat-lekat. Tubuh renta itu terlihat sudah terbungkus kain putih. Terbaring diatas kasur di tengah-tengah ruangan rumah nenek.


Sedang Gresia bersimpuh di samping tubuh nenek, air matanya tak terlihat lagi sudah mengering tak tersisa. Dengan kedua tangan lembutnya Gresia membelai wajah nenek untuk yang terakhir kali. Wajah yang terlihat begitu tenang dan damai.


Jenajah nenek di bawa kemakam keluarga Akeno. Tempatnya tak jauh dari rumah nenek. Sebidang tanah yang sengaja di beli oleh ayah dari kakeknya untuk makam keluarga mereka.


Nenek di makamkan tepat di samping makam suaminya juga anak satu-satunya, ya itu ibu Akeno. Ini kali kedua Gresia datang ke makam ini. Pertama saat akan menikah dengan Akeno, neneknya membawanya mengunjungi makam ibu Akeno.


Nenek sudah selesai di makamkan dan pelayat yang ikut mengantar ke makam juga sudah pulang. Akeno duduk bersimpuh di depan makam nenek yang masih basah. Tubuhnya kaku dengan netra terus memandangi makam neneknya. Di sampingnya Gresia duduk diam menemaninya dengan sabar. Tidak ada tangis atau kata-kata yang keluar sebagai luapan kesedihannya. Wajahnya terlihat kaku selalu tubuhnya. Tapi Gresia tau dengan diamnya Akeno hatinya sedang hancur berkeping-keping. Seperti Gresia Akeno hanya memiliki nenek seorang yang begitu tulus menyayanginya sebagai keluarga.


Setelah sekian lama mereka hanya diam menatap tanah Merah di depan mereka. Akhirnya Akeno mengajaknya pulang.

__ADS_1


"Ayo pulang." ujarnya. Dia berdiri lalu memgulurkan tangannya pada Gresia. Memapahnya berdiri. Saat menatap Gresia wajahnya berubah lembut iris hitamnya memancarkan kelembutan yang menenangkan.


Akeno bisa melihat kelelahan dimata Gresia. Sejak dari negara A, Gresia tidak ada tidur barang sebentar. Saat ini dia bisa melihat lelah dan kantuk bersarang dimatanya.


Setibanya di rumah, Akeno langsung membawa Gresia masuk kedalam kamar. "Tidurlah." Titahnya setelah Gresia berbaring diatas kasur seperti pintanya.


"Tapi tamu masih banyak di bawah."


"Tidak apa, aku yang akan menemani mereka. Kau belum tidur sedari semalam. Tidurlah, istrahat yang benar. Aku tidak mau kau sakit. " ujar Akeno sembari membelai lembut puncak kepala Gresia. Mendapat sentuhan lembut di kepalanya tanpa sadar Gresia terpejam dan perlahan tertidur pulas.


Senyum Akeno mengembang sempurna melihat wajah Gresia yang begitu tenang dalam tidurnya. Dia sedikit menunduk lalu melabuhkan kecupan lembut di kening istri kecilnya. Setelah puas memandangi wajah Gresia dia kembali turun kebawah menemui tamunya yang masih ada saja yang berdatangan mengucap bela sungkawa.


Keluarga besar Gresia juga masih disini. Akeno meminta mereka untuk menginap.


"Dimana Gresia? Aku tidak melihatnya sejak pulang dari makam?" tanya Maria saat Akeno menghampiri mereka.


"Baiklah aku akan bawa ayah kesana dan ibu istrahat."


"Ada banyak kamar, kakak juga bisa istirahat disana. "


"Baiklah, terimakasih Akeno." Akeno mengangguk lalu berlalu pergi. Sementara Maria dan Jenifer menatap Akeno penuh binar. Lelaki kaya dan tampan yang sungguh mempesona. Kenapa harus Gresia yang berjodoh dengannya bukan dia.


Sementara Akeno menemui Samy di ruang kerja nenek.


"Apa yang kau temukan?" tanya Akeno dengan suara pelan. Dia duduk di sofa dengan mata terpejam sembari memijit keningnya.

__ADS_1


"Seperti dugaanmu. Seseorang telah merencanakan kecelakaan nyonya besar."


Akeno membuka matanya menatap Samy dengan intens. "Priksa semua orang suruhan nenek. Aku yakin di antara mereka pasti ikut andil dalam rencana orang itu."


"Masih dalam penyelidikan. Kau focus saja dulu pada nenek. Segala urusanmu sudah aku tangani semua."


"Terimakasih Sam."


"Sama-sama. Kau istrahatlah, kita butuh banyak tenaga setelah ini. Aku tidak bisa di sini terlalu lama. Kalau sempat nanti malam aku datang, mungkin aku datang agak terlambat."


"Tidak apa. "


"Aku pergi dulu."


"Hmmm."


Akeno menggulir pandangannya ke seluruh ruang kerja nenek. Tidak banyak kenangan di ruang ini bersama nenek. Terakhir dia disini saat nenek memperkenalkan Gresia padanya sebagai cucu angkat. Saat itu nenek bilang kalau keluarga ibu Gresia banyak menolong nenek di masa-masa yang sangat sulit. Mengingat itu Akeno tersenyum seorang diri. Dia teringat saat dia membuka pintu ruang kerja nenek siang itu karena di minta nenek untuk datang. Manik hitamnya terpana okeh sosok Gresia yang duduk tepat di sebrang pintu. Mata kelabunya yang bening dan polos menghinotisnya saat itu. Dia terlihat bak peri negri dongeng. Cantik dan polos tapi memiliki Aura yang sangat kuat.


Akeno menarik nafas dalam di raihnya bingkai foto usang yang ada di atas meja. Foto nenek sedang menggendongnya bersama ibu dan ayahnya.


"Aku lalai menjaga nenek. Maaf... " bulir bening terlihat menggenang di sudut matanya. Mendengar berita dari Samy tadi, timbul penyesalan di hatinya. Kenapa dia begitu lalai mengawasi nenek. Sampai-sampai bisa dicelakai orang lain.


Dia bersumpah tak akan membiarkan dalang dibalik tewasnya nenek. Dia juga berjanji akan menghukum orang itu dengan tanganya sendiri.


Perlahan dia merebahkan dirinya di atas sofa, matanya terpejam sementara tangannya mendekap bingkai foto di atas dadanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2