
Akeno sedang menghadiri jamuan makan malam sebelum pulang ke kota A. Kondisi Gresia yang sedang hamil membuat Akeno terpaksa meninggalkan istrinya di rumah.
Perjalanan kali ini cuma tiga hari, kalau Gresia ikut, Akeno khawatir Gresia kelelahan.
"Setelah perjamuan ini kau langsung pulang?" tanya Samy.
Akeno mengangguk. "Kau sendiri?"
Samy tersenyum, pandangannya mengarah kesudut ruang. "Kau tau, pemadangan disini sangat indah. aku ingin tinggal sehari lagi." ucapnya penuh arti.
Akeno menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, saat netranya mengarah pada tatapan Samy. Seorang wanita muda, terlihat duduk dengan anggun di sana. Kalau tidak salah mengenali, dia adalah wanita yang pernah mereka selamatkan beberpa waktu yang lalu.
"Kau benar-benar mengencani wanita itu?"
"Hmmm, dia berbeda. Tidak seperti wanita yang selalu mengelilingiku." pujinya.
"Baguslah, kalau sudah siap katakan saja. Biar aku yang tanggung biaya pernikahanmu." ujar Akeno, sembari menepuk pundak sahabatnya.
"No, no. Masih jauh ke arah itu."
"Ck! Kau ini. Apa tidak bosan bermain terus. Ingat usiamu sudah tidak muda lagi."
"Justru aku takut bosan, makanya tidak menikah. Bergaul hanya dengan satu wanita, bukankah itu sangat membosankan."
"Ucapan pria breng sek, memang seperti itu." umpat Akeno dengan nada rendah. Samy terbahak. Diantara mereka, Akeno memang tak suka bermain wanita.
"Aku kesana dulu." pamit Samy.
"Hhmm."
Begitu Samy pergi, Akeno melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam, sudah waktunya pulang.
Akeno mendatangi pemilik acara untuk berpamitan. Suasana masih sangat ramai, karena ada acara amal di penghujung acara. Tapi Akeno tak bisa menunda kepulangannya atau Gresia akan marah.
"Tuan Albert, aku tidak bisa menemanimu sampai acara berakhir. Aku harus pulang malam ini." ucap Akeno, pada lelaki paruh baya yang masih sangat gagah di usia tuanya.
"Kenapa begitu terburu-buru tuan Akeno. Aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk mu. Lihatlah." sahutnya seraya mengarahkan jarinya ke tangga mewah yang mengarah ke lantai dua.
Bukan hanya Akeno, beberapa orang yang berada di sana langsung beralih pandang ke tangga.
Disana, berdiri wanita berparas sangat cantik, karena cantiknya wanita itu bak bidadari yang turun kebumi. Wanita bergaun merah darah itu menuruni tangga dengan elegan. Saat melangkah gaun merahnya menjunta dengan begitu indahnya. Itu bukan hanya karena gaunnya, tapi tubuh itu memanglah sangat indah.
"Bagaimana tuan Akeno, apa kau suka? Tuan tamu kehormatan pada malam ini. Tuan berhak atas hadiah yang sudah aku siapkan." ujar tuan Albert dengan perasaan bangga.
__ADS_1
Akeno menatap tuan Albert sekilas, kemudian tatapannya beralih pada wanita di atas tangga yang juga tengah menatapnya.
"Kau ingin memberiku hadiah itu?" tanya Akeno tanpa melepas pandangannya dari wanita itu.
"Itu benar tuan, apa kau suka?" tanya Albert dengan perasaan senang.
Akeno menarik pandangannya dari wanita berwajah cantik itu, kini manik hitamnya menatap lekat-lekat tuan Arbert.
"Kau sungguh lancang tuan Albert. Apa kau kira wanita itu sepadan dengan istriku!" seru Akeno gusar.
Wajah Albert seketika berubah pucat. "Tentu saja tidak tuan. Mana mungkin wanita itu sepadan dengan istrimu. Dia hanya hiburan."
"Apa aku terlihat butuh hiburan?!"
"Ti, tidak tuan."
"Jangan membuatku bingung tuan Albert."
"Maaf tuan, aku hanya ingin membuat mu senang."
"Membuatku senang? Dengan wanita ******. Albert kau benar-benar cari mati! Apa tidak ada yang memberitahukan padamu, bahwa aku tidak suka main perempuan!" seru Akeno semakin gusar. Bahkan sekarang kedua tangannya terlihat mengepal erat.
"Tuan, bukan begitu maksudku." Albert tampak semakin pias, siapa sangka niatnya menyenangkan hati Akeno malah berujung petaka.
Pada saat yang sangat genting, Albert terselamatkan oleh Samy.
"Akeno, istrimu menelpon."
"Siapa yang menelpon?!"
"Istrimu." sahut Samy, lalu mengulurkan ponselnya pada Akeno.
Akeno meraih ponsel Samy "Ada apa sayang," sapanya dengan intonasi yang begitu lembut. Sangat berbeda saat dia bicara dengan rekan bisnisnya yang selalu terdengar tegas dan dingin.
Suasana pesta yang mendadak hening, membuat semua tamu bisa mendengar nada suara Akeno yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
"Sayang, kapan kau pulang? Aku merasa kapala ku sedikit sakit."
"Jangan panik sayang, minta Adrian memanggil Dokter pribadi kita. Setelah ini aku langsung pulang."
"Baiklah, aku menunggumu."
"Iya sayang."
__ADS_1
Akeno mengakhiri panggilan, kemudian manatap Albert.
"Kali ini kau beruntung Albert." ujar Akeno, kemudian berlalu pergi.
Albert menarik nafas lega. Siapa sangka dalam hitungan menit, nasibnnya berubah.
Di antara orang-orang yang bernafas lega ada seseorang yang kecewa, wanita yang seharusnya menjadi hadiah untuk Akeno, tentu saja dia benar-benar kecewa. Akeno menolaknya mentah-mentah.
Padahal bukan hal yang mudah bisa membawanya datang ketempat ini. Akeno benar-benar lelaki yang angkuh. Dia jadi penasaran, wanita seperti apa yang begitu di sanjung Akeno.
****
Akeno tiba di mansion tepat pukul empat dini hari. Matanya terlihat merah, karena dia hanya tidur satu jam saja di perjalanan pulang.
Langkahnya tergesa menuju kamar pribadinya. Dia sedikit lega saat melihat Gresia tidur dengan tenang.
Setelah berganti baju, Akeno naik keranjang dengan gerakan perlahan. Saat Akeno akan memeluk rubuh Gresia. Gresia berbalik ke arahnya.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Gresia dengan suara serak.
"Baru saja sayang, apa yang di katakan Dokter tentang sakit kepala mu?" sahutnya, sembari memeriksa tubuh isterinya.
"Tidak ada."
"Tidak ada? Apa dia bodoh."
"Dia tidak bodooh, aku tidak memintanya untuk datang."
"Kenapa? Ooh si al! Apa itu Samy?!" seru Akeno saat dia menyadari sesuatu.
Gresia terlekeh sembari menganguk. "Dia menelpon ku, meminta bantuan. Dia bilang, suamiku mengamuk di acara pesta karena seorang wanita. Jadi aku menelpon mu. Aku takut suamiku berubah pikiran dan tak jadi mengamuk.
Akeno menyentil hidung bangir Gresia. "Sejak kapan kau bersekongkol dengan Samy."
Gresia tak menyahut, dia menyusupkan tubuhnya kedalam pelukan Akeno. "Tidurlah lagi, aku masih ngantuk." ucapnya dengan mata terpejam.
Akeno pun tidak lagi bicara, dia hanya diam sembari menikmati wajah cantik istrinya. Wajah yang membuatnya tak bisa terpejam, karena khawatir.
Akeno memeluk tubuh Gresia penuh cinta. Dia kembali teringat pada sikap lancang Albert tadi. Bagaimana bisa dia membandingkan Gracia dengan wanita seperti itu. benar-benar membuatnya marah, kalau tadi malam Samy tidak ikut campur tangan, mungkin pagi ini perusahaan Albert tidak akan terdengar lagi beritanya. Hanya tinggal nama.
Orang sekelas Albert berani memberinya hadiah rendahan seperti itu. Sungguh membuatnya murka.
Bersambung
__ADS_1