
Gresia merebahkan tubuhnya diatas kasur dikamar Akeno dan mulai hari ini akan menjadi kamarnya juga. Sebab barang-barang miliknya sudah di pindahkan Akeno kedalam kamar ini semuanya.
Gresia menghirup udara dalam kamar ini dalam-dalam. Dia sangat rindu aroma kamar ini, aroma tubuh Akeno yang menyebar samar keseluruh ruang.
Dia hampir terlelap saat ketukan halus dari langkah seseorang terdengar pada lantai kamar. Antara sadar dan setengah tertidur Gresia mengenali ketukan langkah ini, ini langkah kaki Akeno.
Dia ingin membuka matanya tapi kantuk membuat matanya tetap terpejam.
Tak berapa lama Gresia bisa merasakan tubuh Akeno naik keatas tempat tidur, berbaring tepat disebelah tubuhnya.
"Sudah pulang?" tanya Gresia dengan mata separuh terbuka. Netra kelabunya melihat samar sosok Akeno yang berbaring miring sedang menatapnya.
"Sudah sayang," sahut Akeno sembari melabukan kecupan di kening Gresia. Gresia tersenyum sembari terpejam.
"Aku sangat rindu suamiku,tapi suamiku sepertinya sangat sibuk." keluh Gresia dengan bergumam ucapannya nyaris tak terdengar, matanya juga masih terpejam. mendengar keluhan istrnya Akeno tersenyum, istri kecilnya benar-benar sudah pandai protes sekarang.
"Hmmm, maaf belakangan ini aku sangat sibuk." bisik Akeno sembari mengusap wajah Gresia dengan lembut.
"Aku tau, tapi malam ini jangan ganggu aku. Aku benar-benar mengantuk." sahut Gresia dengan sangat lirih. Gresia benar-benar tak bisa melawan rasa kantuk yang bergelayut manja di matanya.
Akeno tertawa pelan, melihat betapa susahnya Gresia berusaha membuka matanya.
"Baiklah sayang, tidurlah, aku juga sangat lelah." ucap Akeno lalu merapatkan tubuhnya memeluk tubuh Gresia erat. Tak butuh waktu lama Akeno sudah terlelap dengan nyenyak.
Paginya saat Gresia bangun Akeno sudah pergi kekantor dan pagi ini Gresia harus sarapan sendiri tanpa Akeno.
"Tuan pergi terburu-buru tadi, sebab ada beberapa rapat penting yang harus dia hadiri seharian ini." terang Adrian saat Gresia bersiap pergi kesekolah.
"Dan.., ada berkas tuan yang tertinggal di laci kamarnya. Dia meminta nyonya mengantarkannya sepulang sekolah." sambung Adrian dengan ragu-ragu.
"Aku?" tanya Gresia sembari mengarahkan telunjuknya ke dadanya. Adrian mengangguk.
"Berkas seperti apa itu?"
"Berkas yang ada di laci bawah sebelah kiri. Dalam map berwarna merah." terang Adrian.
"Baiklah biar aku cari." ujar Gresia kemudian berlalu kekamarnya di lantai atas.
Lima menit kemudian Gresia turun dengan map berwarna merah di tangannya.
"Ayo, nanti aku terlambat." ujarnya pada Adrian. Lelaki tampan itu mengangguk lalu mengikuti langkah Gresia menuju halaman.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang padat merayap. "Kenapa bukan kamu saja yang mengantar berkas penting ini. Kenapa harus aku? Bukankah memakan waktu lama bila harus menungguku pulang sekolah." tanya Gresia sembari membolak balik berkas ditangannya, kemudian menatap punggung Adrian.
"Maaf nyonya, tuan tidak memberitahukan alasannya pada saya." jawab Adrian sembari tetap focus pada kemudinya.
"Hhh! Baiklah terserah Akeno saja." desah Gresia pasrah.
Seperti biasa sesampainya di halaman sekolah, Adrian akan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk nyonya mudanya. Gresia selalu melarang Adrian melakukannya tapi dia bilang dia di bayar Akeno untuk itu.
Gresia tak langsung keluar dari mobil, netra kelabunya menatap Adrian. "Bagaimana dengan ini?" tanya Gresia sembari menunjuk berkas di pangkuannya.
"Tinggalkan saja di mobil, aku akan menjaganya." sahut Adrian di barengi senyum.
"Ooo, baiklah."
__ADS_1
Gresia baru saja menginjakkan kakinya menyentuh tanah, dari jauh terdengar Ayana meneriaki namanya. Senyum Gresia mengembang sempurna saat melihat Ayana melambai kearahnya.
"Rindu!" pekiknya sembari memeluk tubuh Gresia.
"Kau kemana saja? Menghilang bak ditelan bumi!" imbuhnya sembari membulatkan matanya menatap Gresia.
"Ceritanya panjang."
"Ya udah ceritain."
"Lain kali deh."
"Dasar pelit. Kamu tau, Haris kelimpungan nanyain kabar kamu."
Gresia mengangkat bahunya tak perduli.
"Temani aku ke kantin, aku belum sarapan." ujar Ayana sembari menarik lengan Gresia mengikuti langkah kakinya. Gresia tak menyahut, tapi dia patuh mengikuti kemana Ayana menarik tubuhnya.
Pojok kantin jadi tempat favorit mereka. Dari sudut ini mereka bisa mengawasi pengunjung kantin dengan leluasa.
Sementara di sudut lain tampak Harisah memperhatikan Gresia dengan seksama. Ada yang tak beres dengan Akeno dan Gresia, menurut hasil penyelidikannya mereka tak memiki hubungan darah. Seperti pengakuan Gresia pada teman-temannya. yang lebih mengejutkan mereka tinggal serumah.
Haris menduga ada hubungan asmara di antara keduanya, melihat sikap Akeno padanya saat itu. Fakta itu sungguh mengejutkan Haris, dia tak menyangka Gresia yang begitu dia kagumi dan terlihat sangat lugu ternyata hanyalah wanita simpanan Akeno.
Tapi rasa di hatinya masih tetap sama, kenyataan bahwa Gresia jadi wanitanya Akeno tak merubah hatinya.
Setelah pulang sekolah Gresia meluncur ke kantor Akeno bersama berkas di tangannya. Sebelumnya Adrian membawa Gresia ke butiq untuk berganti baju. Awalnya Gresia menolak, tapi Adrian bersikeras mengatakan bahwa dia harus menganti baju seragamnya sebelum datang ke kantor Akeno.
Kini Gresia berada di depan gedung berlantai tiga puluh, yang menjulang tinggi milik suaminya. Sebelum masuk Gresia sejenak menatap kebangunan paling atas. Kata Adrian disanalah letak ruang kerja suaminya.
Adrian membawa Gresia naik ke lantai tiga puluh menggunakan lift khusus. Sesampai di atas mereka langsung di sambut oleh sekertaris Akeno dan langsung di bawa keruang rapat.
"Baiklah santai kami kesana." sahut Adrian sembari memberi isyarat pada Gresia agar ikut dengannya. Gresia terlihat bingung dan ingin bertanya, tapi Adrian sudah melangkah pergi mengikuti sekretaris Akeno.
Gresia membeku di depan pintu ruang rapat Akeno. Beberapa pasang mata para kolega Akeno kini tertuju padanya, tak terkecuali sepasang mata elang Akeno.
"Masuklah, jangan biarkan mereka menunggu mu lebih lama lagi." suara berat Akeno menyadarkan Gresia. Dengan gugup dia masuk dan duduk di sebelah Akeno. Sebab hanya kursi itu satu-satunya yang masih tersisa.
"Mana berkasnya?" tanya Akeno, begitu Gresia duduk disampingnya.
"Ini," sahut Gresia sembari menyerahkan berkas di tangannya. "apa tidak sebaiknya aku keluar saja?" sambungnya dengan suara pelan. Akeno menerima berkas ditangan Gresia sembari menggeleng tegas. Melihat itu bahu Gresia terkulai lemas.
Dalam rapat ini, mereka membahas tentang mengembangkan sebuah pulau milik Akeno. Sepertinya pulau itu akan di jadikan tempat singgah oleh Akeno. Sebab pulau itu tidak cukup luas kalau akan di jadikan tempat wisata.
Orang-orang yang hadir di sini adalah orang-orang yang nantinya dilibatkan dalam pengembangan pulau.
"Ada dua desain yang serupa dengan yang tuan inginkan, tuan bisa pilih salah satunya yang sesuai dengan keinginan tuan." ujar salah seorang pembicara pada Akeno, ditengah rapat mereka.
Akeno menatap Gresia lalu berkata. "Pilih satu diantar dua desain itu. Mana yang kau suka."
Mendengar itu semua mata sontak tertuju pada Gresia. Mereka menatap Gresia dengan penuh tanda tanya, siapa gerangan gadis muda ini.
"Aku?" tanya Gresia dengan hanya menggunakan gerakan bibirnya. Akeno mengangguk. Gresia menggeleng pelan sebagai penolakan. Itu proyek Akeno kenapa harus meminta pendapatnya?
"Memang harus kau yang memilih. Pulau itu akan aku hadiahkan untuk mu." ujar Akeno. Pria itu sepertinya dapat menebak pikiran Gresia.
__ADS_1
Gresia diam terpaku di tempatnya. Apa dia tidak salah dengar? Akeno menghadiahkan sebuah pulau untuknya.
"Cepat pilih, mereka sedang menunggumu." ujar Akeno mengingatkan. Aura Akeno yang begitu kuat membuat Gresia tak berani membantah.
Salah seorang datang padanya dengan laptop berisi desain yang di maksud. Saat membukanya Gresia terpana. Ini mengagumkan, desain yang sangat indah.
"Ini sangat indah." gumam Gresia. Matanya kelabunya berbinar menatap layar laptopnya. Melihat setiap detail pada desain yang diajukan padanya. Keduanya sangat indah tapi dia harus memilih salah satunya.
"Aku pikir yang ini lebih bagus." ujar Gresia sembari berpaling pada Akeno.
"Baiklah kita pilih yang itu." sahut Akeno pada peserta rapat. Gresia menatap wajah serius Akeno, hatinya berkecamuk tak menentu. Bingung, bahagia dan entah rasa apa lagi yang tengah berkecamuk dalam hatinya.
Selesai rapat Akeno membawa Gresia kedalam ruang kerjanya. Sementara Adrian entah pergi kemana.
Begitu masuk netra kelabu Gresia menggulir pandangannya kesuluh ruangan.
"Duduklah, sebentar lagi kita makan siang." titah Akeno sembari membuka jasnya meninggalkan kemeja putih di tubuhnya.
"Aku sudah makan tadi di sekolah." sahut Gresia sembari duduk di sofa.
"Kalau begitu, temani saja aku makan."
"Ini sudah jam berapa kenapa belum makan siang."
"Aku biasa terlambat makan kalau sedang banyak pekerjaan." sahut Akeno sembari menggulung lengan kemejanya, lalu duduk disamping Gresia.
"Ingin makan dimana?"
"Disini saja sekretarisku sedang memesannya untukku." sahut Akeno sembari membuka laptopnya dan mulai sibuk dengan benda pipih itu.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya sekretaris Akeno datang dengan seorang pramusaji restauran ternama dari restauran yang dipesan sekretaris Akeno.
Dengan telaten pramusaji dibantu sekretaris Akeno menyajikan beberapa menu yang menggugah selera.
Taapi mendadak seleranya hilang oleh pemandangan yang mengotori matanya.
Sekretaris Akeno yang berpakaian sangat seksi itu, memperlihatkan dengan sangat jelas benda kenyal yang menyembul dari balik seragam kantornya, saat membungkuk membantu pramusaji menata hidangan. Ini membuat Gresia meradang.
Dengan tatapan marah Gresia menatap Akeno. Jadi ini yang dia lihat setiap hari?
"Mita, kau boleh kembali keruanganmu. Biar dia saja yang melanjutkan menata hidangan." titah Akeno pada sekretarisnya.
"Sudah puas?" tanya Akeno sembari menatap wajah cemberut istrinya. Gresia tak menyahut hanya mencebik kesal.
"Kenapa kau kesal. Ada banyak yang seperti itu yang aku lihat setiap hari." ujar Akeno dengan senyum tipis dibibirnya.
"Ada banyak?!"
"Hmmm."
"Cepat makan aku mau pulang."
"Kau merajuk?"
"Iya!!"
__ADS_1
"Ohh manis sekali..."
Bersambung 🥰