
Malam ini langit terlihat begitu gelap. Angin bertiup sangat kencang memberi rasa dingin yang menusuk tulang.
Tapi di sini dalam ruang bawah tanah yang ada di markas Akeno. Udara terasa panas membakar kulit. Tempat dimana basis kekuatan pasukan malam milik Akeno bertumpu.
Akeno duduk di kursi kayu menghadap ke deretan orang yang duduk bersimpuh di lantai menghadap kearahnya. Tubuh mereka penuh luka yang menganga mengeluarkan darah segar, membuat ruangan pengap ini berbau anyir yang meruar dari genangan darah mereka.
Lebih dari dua puluh empat jam, lima pria bertubuh kekar ini di siksa oleh orang suruhan Akeno. Tetapi mereka tetap bungkam.
Kelima orang ini terbukti melakukan sabotase pada mobil yang di tumpangi oleh nenek.
Sekuat tenaga orang Akeno menekan mereka agar mengatakan siapa dalang dibalik kejahatan mereka, tapi mereka memilih bungkam.
Ini bukan hal baru bagi Akeno. Akeno tau, mereka adalah pembunuh profesional milik dunia malam. Bagi mereka lebih baik mati dari pada membocorkan siapa yang telah menyewa mereka.
Akeno menyesap benda ramping yang sedari tadi terselip di antara jari-jari kokohnya. Menyesapnya dalam lalu menghembuskan asap putih ke udara.
Manik hitamnya menatap lekat kelima wajah yang sudah tak terlihat rupanya itu dengan arogan.
"Baiklah, aku tau kalian tak akan mau bicara. Kalau begitu sampaikan salam ku pada Micel saat dia menyusul kalian ke neraka." ujar Akeno dengan suara rendah dan dalam. Dia menyebut Micel dengan senyum tipis dibibirnya.
Sekali lagi dia memindai wajah kaget kelima orang dihadapannnya dengan tatapan tenang.
"Bereskan mereka." titahnya lalu beranjak pergi.
Salah satu dari mereka sepertinya berubah pikiran, dia berusaha memanggil Akeno yang sudah menjauh dan hilang dibalik ruangan.
Akeno mendengar teriakan itu tapi sudah terlambat. Akeno memberi mereka kesempatan untuk hidup tapi mereka bersikap seolah tak ingin hidup.
Di luar ruangan Baskoro terlihat sudah siaga menunggu dia keluar.
"Bagaimana tuan?"
"Hancurkan aset Micel tanpa sisa. Biarkan dia dan seluruh keluarganya merasakan sakitnya kehilangan. Bukankah mereka begitu mencintai harta. Maka lenyapkan semua harta yang mereka punya. Aku mau dia hidup dalam penderitaan tanpa henti. Itu adalah hukuman dari perbuatannya." titah Akeno dengan wajah mengelam.
Awalnya dia berpikir akan memberi sedikit kelonggaran pada pamannya. Bagaimanapun mereka terikat pertalian darah satu sama lain. Dia juga tak berambisi mengusai klan Kenzo. Tapi hanya dengan cara itu dia bisa melindungi orang yang dia sayang. Walau akhirnya dia mengorbankan nyawa nenek atas tindakannya. Sesal pasti ada, tapi itu tak membuat segalanya kembali seperti semula, dan perbuatan Micel, Akeno tak bisa mentolerir.
***
Sudah pukul dua dini hari. Akeno masih berada di jalan menuju rumah. Netrannya terpejam erat dengan tubuh bersandar pada kursi belakang mobilnya.
Dia sangat lelah dan mengantuk, beberapa hari ini dia tak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mobil berhenti di halaman apartemen Akeno.
"Tuan, kita sudah sampai." suara supir pribadi Akeno terdengar ragu. Dia tau betapa sibuknya Akeno beberapa hari ini tak tega rasanya membangunkan Akeno yang sedang terlelap.
Perlahan Akeno membuka matanya, lalu terdengar tarikan nafasnya sebelum menarik tubuhnya pada posisi duduk tegak.
"Terimakasih pak." ujar Akeno sembari membuka pintu mobil.
Langkah lebar Akeno berhenti di ambang pintu kamarnya. Dia diam beberapa saat sebelum melangkah masuk kedalam dengan langkah perlahan tanpa suara.
Cahaya temaram dikamar ini, tak membatasi pandangan Akeno untuk mengenali lekuk tubuh Gresia di atas tempat tidur.
Perlahan dia naik keatas ranjang setelah membuka jasnya terlebih dahulu. Memeluk tubuh molek itu perlahan, menghirup aroma lembut yang meruar dari tubuh Gresia. Gerakan halus Akeno ternyata mengusik tidur Gresia. Apa lagi saat Akeno mulai menghujani tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan nakal.
Gaun tidur berenda hitam yang di kenakan Gresia membuat binar terpancar pada bola mata Akeno. Sekejap kemudian gaun tidur itu sudah acak-acakan oleh ulah Akeno.
Sentuhannya terpaksa terhenti saat Gresia menepis sentuhan Akeno sembari membuka paksa matanya yang terpejam.
"Apa wanitamu di luar sana tidak mampu memuaskan mu? Pulang selarut ini masih menggangguku." dengus Gresia, kesal.
Mendengar itu Akeno menghentikan gerakannya. "Wanita mana?" tanyaanya dengan mata menyipit. Sementara jemarinya meremas dagu Gresia gemas.
"Tidak tau, tapi berani menuduh suami mu? Aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan."
"Kalau iya juga aku tidak perduli," ucap Gresia berdusta. Dia bahkan kelimpungan seharian ini karena tak mendapat kabar dari Akeno.
Akeno terkekeh, ini kah tampang orang tak perduli? "Lain di mulut lain di hati." cibir Aakeno.
"Mana ada!"
"Oh, ya..."
"Tentu saja!"
"Mana berani aku bermain di belakang mu sayang. Aku sibuk seharian ini, baru selesai bekerja dan langsung pulang." bujuk Akeno sembari membelai puncak kepala Gresia.
"Kerja apa jam segini?" cibir Gresia masih tak puas dan masih memendam ke curigaan.
Akeno kembali terkekeh, melihat raut wajah Gresia yang merajuk manja membuatnya lupa pada masalahnya sepanjang hari.
"Kau manis saat merajuk."
__ADS_1
"Cih!"
Gresia tak lagi mendebat Akeno, hanya matanya saja yang meneliti setiap inci tubuh suaminya. Mencari jejak perselingkuhan, mana tau tertinggal di tubuh suaminya.
"Hahaha!" tawa Akeno pecah membahana. Ekspresi curiga itu terlihat begitu imut bak anak kucing yang berlagak memamekan kuku di cakarnya yang mungil.
"Kenapa tertawa?!"
"Kau lucu sayang..."
"Apa di matamu aku terlihat seperti badut?"
"Bukan, kau mirip anak kucing.."
"Oh ya? Jadi bidadarimu yang ada di luar sana?!"
"Astaga, kau cemburuan sekali."
"Aku tidak cemburu!"
"Oke, oke baiklah sayang. Jangan berdebat lagi. Aku yang salah, maafkan aku." bujuk Akeno. Dengan lembut dia meraih puncak kepala Gresia, menge cupnya dengan penuh cinta.
"Percayalah hanya kau satu-satunya bidadari di hatiku." rayu Akeno dengan suara rendah.
Gresia merengut, tapi hatinya berbunga. Dia tak ingin bersikap berlebihan, tapi dia sungguh tak mampu mengontrol sikapnya. Semua terjadi karena perasaan cemburu yang bersarang di hatinya.
Gresia tak menolak saat Akeno kembali menjamahi setiap inci tubuhnya. Sentuhan yang membuat imajinasinya bermain dengan nakal. Sentuhan yang sudah seperti candu olehnya.
"Aku sangat rindu padamu sayang." bisik Akeno di tengah cumbuan panasnya. Gresia hanya mende sah lembut, cum buan Akeno membuat Gresia tak sanggup berkata-kata. Menghabiskan malam dengan mereguk nikmatnya surga dunia dengan cara wajar dan kadang sedikit gila. Mengikuti naluri yang di tuntun oleh hasrat yang membara.
Rindu keduanya terbayar sudah. Tubuh lunglai tak berdaya dengan butiran keringat di sekujur tubuh, membuktikan betapa dahsyatnya permainan mereka malam ini.
Akeno menatap tubuh polos yang meringkuk di balik tubuhnya, dengan tatapan mendamba. Gadis muda ini sunggu memiliki kenikmatan tiada tara.
Tak berapa lama Akeno ikut terlelap, membawa bayang-bayang kenikmatan percintaan mereka masuk ke alam mimpi.
bersambung
Hay mak
Maaf ya lama baru up. Emak terpaksa absen nulis beberapa waktu kemarin. Emak lagi mendapat kemalangan. Buat readers setia emak yang masih setia menunggu kelanjutan kisah babang Akeno, emak ucapin banyak bnyak terimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1