Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part42


__ADS_3

Gresia mematut dirinya di cermin sembari mengolesi ruam merah dilehernya dengan alas bedak untuk menyamarkan warnanya. Sementara Akeno duduk di tepi ranjang mengawasi Gresia sembari tersenyum tipis.


"Aku sudah meminta orang mengantar baju berkerah tinggi untuk mu. Kau bisa memakainya untuk menutupinya. " ujar Akeno. Gresia menatap manyun bayangan Akeno di cermin. Bagaimana bisa dia memberi tanda di tempat yang terbuka begini apa dia tidak berpikir tentang perkataan orang kepadamya saat melihat tanda ini, gadis belia tapi sudah berani sudah berani tato cinta. Apa lagi bila dilihat oleh teman kerjanya habislah dia.


Tak berapa lama bibik datang mengantarkan baju Akeno dan milik Gresia yang di bawa oleh orang suruhan Akeno.


Akeno enggandeng jemari Gresia saat keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana terlihat ayah juga yang lainnya sedang menunggu mereka.


"Bagaimana tidurmu tadi malam Akeno? Semoga nyaman. Maklumlah rumah kami sangat sederhana. "ujar ayah. Wajah pucatnya berusaha tersenyum ramah.


Akeno memalingkan wajahnya menatap Gresia di sampingnya. "Bagiku tempat bukan masalah. Asalkan ada dia di sampingku tidurku sudah pasti nyaman. " ujar Akeno. Senyum tipis menghiasi bibir merahnya, terlihat begitu manis.


Gresia mencibir dalam hati, pantas saja dia selalu menempel padanya setiap malam seperti seekor lintah.


"Baguslah kalau begitu ayah senang mendengarnya. Akeno mari silahkan di cicipi masakan ibu mu. "


"Iya terimakasih ayah. " sahut Akeno lalu mengambil piring Gresia mengisinya dengan menu sarapan pagi lalu kembali meletakkannya di depan Gresia.


"Makan yang banyak," bisiknya lalu mengisi piringnya sendiri.


Sosok Akeno tak lepas dari perhatian kedua saudari tiri Gresia. Sosok yang begitu di puja-puja oleh wanita di seluruh negara ini tengah duduk di hadapan mereka. Ini adalah anugrah bagi keluarga mereka. Tapi juga menimbulkan rasa iri dan dengki di hati mereka. Kenapa bukan mereka yang berada di samping Akeno. Kenapa harus Gresia.


Kalau soal cantik mereka juga tak kalah cantik di banding Gresia.


"Ayah, aku sudah mengutus orangku untuk mengurus pelunasan tunggakan ayah di bank. Mungkin dalam waktu dekat pihak bank akan menghubungi ayah. " ujar Akeno memecah keheningan.


Ayah tampak terkejut, sebab dia tidak pernah mengungkit masalah tunggakannya di bank bersama Gresia. Apa Della yang sudah memberitahu Gresia?


"Apa Gresia memintamu melakukannya?" tebak ayah.


Akeno meggeleng . "Bukan dia. Ini ini siatif ku sendiri dan aku melakukannya karena ayah adalah ayah istriku. Jadi kedepannya kalau bisa perlakukanlah dia dengan baik."


Wajah ayah terlihat memerah oleh ucapan Akeno. Dia jadi merasa malu pada Gresia karena selalu memperlakukan dia dengan semena-mena.


Tapi tidak begitu dengan ibu dan saudara tiri Gresia. Wajah mereka terlihat sumringah tidak ada tersirat rasa sesal sama sekali di wajah mereka.


Selesai sarapan Gresia dan Akeno pamit pada ayah dan yang lainnya. Seperti kata Akeno dia akan mengantar Gresia berangkat kerja.


Mobil Akeno melaju meninggalkan rumah keluarga Gresia. Di jok belakang Akeno langsung sibuk dengan laptopnya. Sementara Gresia terlihat gelisah disampingnya.


"Berhenti bergerak bisa tidak. Kau sudah mirip ulat bulu. " gerutu Akeno sembari menatap Gresia.


"Ada apa?" ujarnya lagi melemparkan pertanyaan pada Gresia yang pasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Bekerja dengan baju seperti ini apa pantas? Aku lebih mirip ibu presdir ketimbang karyawan magang." sungut Gresia.


Akeno tak menyahut, dia meneliti Gresia sesaat. Apa yang di ucapkan Gresia benar, penampilannya tidak sesuai dengan statusnya yang hanya karyawan magang. Biasanya dia hanya memakai kemeja putih dan bawahan hitam.


"Terserah padamu saja. Kita bisa singgah ke butiq langgananku nanti kalau kau mau. "


"Baiklah antar aku kesana. Aku tidak bisa memakai baju ini saat kerja. Ini sangat mencolok. "


"Oke baiklah. Pak kita ke butiq langgananku ya. "


Sopir Akeno tampak sedikit ragu, dia menatap Akeno dari sepion tengah. "Bukankah butiqnya buka jam sepuluh tuan. "


"Aku sudah mengiriminya pesan. Kita bisa pergi ke sana sekarang. "


"Baik tuan. "


Akeno beralih menatap Gresia di sampingnya. "Sudah lega?"


Gresia tak menyahut dia tampak sedikit ragu.


"Kau akan terlambat kalau harus mengantarku ke butiq. "


"Aku bosnya. Siapa yang berani memarahiku. " Sahutnya dengan angkuh.


"Kenapa bibirmu terlihat menggoda saat mencibirku hah!" bisik Akeno sembari mendekat lalu melabuhkan ciu man hangat di bibir Gresia.


Gresia membulatkan matanya saat Akeno menyesap bibir bawahnya dengan kuat. Tak lupa jemarinya ikut beraksi menjamahi buah ranum yang bertengger didadanya. Gresia meronta sembari memukuli dada Akeno, tapi bukannya berhenti, sentuhan Akeno mala semakin ganas. Wajah Gresia sudah bersemu merah. Bukan karena sesapannya yang kuat dan penuh gairah tapi karena dia melakukannya di dekat supir mereka.


Akeno menyudahi ciu man nya dengan napas terengah. Dia sungguh tak mampu mengontrol hasratnya saat berada di dekat Gresia. Selalu apa yang lakukan Gresia mampu memicu gairahnya.


"Apa kau gila?!" umpat Gresia dengan berbisik.


"Mungkin," sahut Akeno dengan tatapan liarnya menyusuri tubuh Gresia. Melihat tatapan itu membuat Gresia merinding.


"Apa kau tidak bisa menahannya sampai nanti malam?!"


"Kalau bisa aku tidak akan melakukannya di sini. " cibir Akeno.


"Apa kau selalu bernafsu begini di dekat wanita?"


Akeno diam, tapi kemudian dia menyentil jidat Gresia dengan jarinya. "Apa kau pikir aku binatang yang gila kawin!"


"Mana ku tau."

__ADS_1


"Makanya jangan sok tau."


"Tapi kau selalu bernafsu saat di dekatku. Siapa tau di depan wanita lain juga begitu"


"Lalu, apa kau merasa bernaf su saat melihat Adrian telan jang di depanmu?"


"Apa?! Tentu saja tidak. A-aku hanya begitu saat melihat mu... " lirihnya dengan wajah bersemu merah.


"Benarkah," ucap Akeno dengan seringai. Manik hitamnya menatap Gresia penuh binar dan hasrat. Jantung Gresia berdetak kencang di buatnya ada glenyar halus menjalari aliran daranya.


"Tau ah. Bicaramu ngelantur. Dimana butiqnya kenapa lama sekali sampai. " ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Akeno terkekeh geli melihat sikap salah tingkah istriya. dengan lembut dia meraih tubuh Gresia dalam pelukannya lalu menge cup ubun-ubunnya penuh kasih sayang.


Satu jam kemudian Gresia sudah berada di tempat kerja dengan memakai kemeja putih dan celana kulot berwarna hitam. Dia tak perlu risau dengan tato cinta dari Akeno. Berkat keahlian dari karyawan butik tato itu tertutupi dengan sempurna. Walau harus mendegar bisik-bisik yang membakar telinganya. Mereka pikir Gresia adalah peliharaan sugar daddy berkepala botak berperut buncit.


Sementara Akeno di kantornya mendapat kunjungan dari neneknya. Akeno tau apa yang membuat nenek datang berkunjung.


"Berita kedekatan mu dengan Desi semakin tak terkendali. Kau sengaja membiarkannya ada apa?" Ada Aura yang sangat kuat saat nenek bicara.


Akeno mengangkat wajahnya menatap nenek lekat-lekat. "Desi hanya alat nek. Kami berdua saling memanfaatkan. " ujar Akeno hati-hati.


"Nenek tidak perduli semua itu selagi tidak menyakiti perasaan Gresia. Tapi berita yang berkembang belakangan ini sudah sangat keterlaluan. Nenek yakin Gresia pasti sedih karena berita itu. Dia istrimu Akeno, apa kau tidak ingin melindungi perasaanya. "


Akeno menarik nafas dalam, dia tidak punya pilihan selain mengatakan kebenarannya. Dia tak mau neneknya jatuh sakit karena terlalu banyak berpikir. "Justru Aku sedang melindungi dia nek. Aku sangat menyayanginya mungkin juga sudah mulai mencintainya. Nenek tau bukan, paman sangat ingin tau siapa wanita yang aku cintai. Aku tidak ingin orang-orang itu menyakiti wanita kesayanganku nek. Percayalah padaku setelah aku memiliki kekuatan yang cukup, aku akan memperkenalkan Gresia sebagai istri sah ku. "


"Mereka benar-benar keterlaluan. Bukankah kau sudah mengatakan tak ingin warisan dari kakekmu, apa masih belum jelas. "


"Masalahnya kakek tidak mengindahkan ucapanku. Sampai detik ini aku masih tercatat sebagai pemilik dari separuh aset yang kakek miliki. Kenyataan itu cukup membuat cacing di perut mereka ribut. "


"Begitu rupanya. Jadi apa kau sudah mengambil langakah?"


"Desi adalah langkah awal, selain mengelabui paman. Dia salah satu wanita yang di utus kakek untuk mendekatiku."


"Apa?! Bukankah dia sama saja seperti Hyun?"


"Latar belakangnya mungkin sama, tapi dia berbeda. Jangan khawatir nek. Desi dalam kendaliku penuh. "


Nenek menarik nafas panjang rasa khwatir jelas terlihat dari pancaran matanya. Dia ingin Akeno menjalani hidup seperti kebanyakan orang tapi nyatanya tuntutan keadaan memaksanya menjalani dengan cara yang berbeda.


Nenek sedikit lega mendengar penjelasan Akeno. Setidaknya dia tau Akeno sudah mulai mencintai Gresia.


Bersambung mak 🙏

__ADS_1


jangan lupa tinggalin dukungan ya readers tercinta 🥰🥰🥰


__ADS_2