Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Pert 39


__ADS_3

Masih pagi percetakan sudah terlihat ramai. Anak magang seperti Gresia di saat seperi ini pasti sangat sibuk. Mereka harus siap menerima perintah dari karyawan lama melakukan ini dan itu.


Seperti hari ini Ayana dan Gresia harus rela melewatkan makan siang mereka demi pekerjaan yang menumpuk.Papa Ayana adalah pria yang sangat disiplin. Dia tidak akan mengistimewakan Ayana dalam pekerjaan, dia di perlakukan sama seperti siswa magang lainnya.


"Makan dulu," ujar Barry sembari menyodorkan kotak nasi yang dia bawa. Gresia menengadah menatap tubuh tinggi menjulang di hadapannya.


Wajah tampan Barry tanpak tersenyum menatapnya.


"Bentar lagi kak, nanggung," sahut Gresia sembari menunjuk tumpukan berkas di mejanya.


"Sudah lewat jam makan siang. Nanti kalau kamu sakit malah tambah numpuk pekerjaan kamu." sahut Barry.


Ayana yang berada di sebrang meja Gresia tampak berdiri lalu menghampiri Gresia dan Barry. "Kak Barry bener. Makan yok, aku udah laper banget. Laper juga bikin otak ku gak konek." ujar Ayana.


"Tuh Ayana tau, laper bisa nuruni kosentrasi kerja. Udah makan gih. Ini tadi kakak beli buat kamu berdua." ujar Barry sembari meletakkan kotak nasi yang dia bawa tadi.


Gresia dan Ayana lalu makan di ruang istrahat. "Gres, kayaknya kak Barry suka kamu deh." ujar Ayana sembari mengunyah nasi dimulutnya. Sementara Gresia tak menanggapi ucapan Ayana.


"Tampan, baik, dewasa. Sempurna, ya?" celoteh Ayana.


Gresia mengangkat wajahnya menatap Ayana. "Udah, makan. Gak takut kesedak tulang!"


"Issh galak amat sih lu Gres." protes Ayana Gresia hanya mencibir. Dia tau Barry tampan, baik dan dewasa. Tapi dia juga tau Akeno tidak suka pada Barry. Kalau sudah menyangkut Akeno dia angkat tangan.


Barry adalah karyawan kepercayaan papa Ayana yang meng-handle percetakan ini. Usianya lebih muda dua tahun dari Akeno. Wajahnya tampan, tubuhnya proporsional.


Kehadirannya bukan saja menarik perhatian karyawati percetakan tapi juga menarik perhatian pelanggan wanita yang kebanyakan dari mereka berasal dari mahasiswa juga karyawan kantor.


Tapi pesona Barry tidak akan mampu melewati pesona Akeno. Bukan saja di mata Gresia tapi di mata seluruh wanita kota A. Ada Akeno disetiap pandangan mata Gresia, detak jantungnya dan aliran darahnya bagaiman bisa dia tertarik pada lelaki lain. Itu mustahil.


"Gres kamu masih suka cowok kan?" tanya Ayana sembari mengemasi sisa makannya.


"Maksudmu?"


"Ya siapa tau?"


"Enak aja!"


"Abisnya, kamu kayak gak tertarik gitu sama cowok. Di sekolah ada Haris yang sangat popular. Lalu disini ada Barry yang cutie abis. Tapi kamu sama sekali gak tertarik sama mereka. Bikin curiga tau gak?"


"Terus kamu mikir aku suka sejenis gitu?"


Ayana ngangguk sambil nyengir. "Maklumlah lagi musim kan yang begituan."


"Ihh amit-amit! Aku masih normal tau gak?!" sentak Gresia sembari membulatkan matanya.


"Heee syukur deh."


Ayana memang cocok berteman dengan Gresia. Gresia yang jarang bicara di pasangkan dengan Ayana yang suka kepo.


Perhatian Barry tak berhenti hanya pada makan siang saja. Saat Gresia pulang Barry kembali menunjukkan perhatiannya pada Gresia. Wajah masam Adrian yang sengaja di perlihatkan Adrian untuk menghalau Barry sepertinya tak membuat niat baik Barry surut.


"Sepertinya kita searah, bagaimana kalau aku antar kamu pulang?" ujar Barry menawari tumpangan pada Gresia sementara Adrian sudah stand by sedari tadi di halaman parkir.


Melihat Barry begitu intens mendekati Gresia Adrian langsung ambil tindakan. Dia tak mau kehilangan bonus atau mungkin gaji bulanannya karena ulah Barry.


"Nona Gresia, saya sudah menunggu anda sedari tadi." sapa Adrian saat tiba di depan Gresia dan Barry. Barry mengalihkan pandangannya meneliti Adrian. Dia sempat melihat Adrian beberapa kali mengantar jemput Gresia. Apa hubungan pria tampan ini dengan Gresia? Yang jelas bukan pacar sebab dia memanggil Gresia dengan sebutan nona.


"Kamu siapa?" tanya Barry dengan sopan.


"Saya supir nona Gresia."


"Ooo. Begini, saya ingin mengantar Gresia pulang. Jadi kamu boleh pulang tanpa Gresia sekarang. Jangan takut, saya akan mengantarnya pulang dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun." titah Barry dengan gestur yang sangat sopan.


Adrian berdehem sebelum menjawab perkataan. "Nona apakah anda setuju dengan ajakan tuan Barry?" tanya Adrian penuh penekanan.

__ADS_1


Gresia yang paham akan sinyal peringatan dari Adrian segera menolak halus ajakan Barry.


"Maaf kak Barry, kali ini aku harus pulang bersama dia. Mungkin lain kali kita bisa pulang bareng." ujar Gresia. Terlihat raut kecewa dari Barry tapi dia tetap tersenyum dengan manisnya.


"Baiklah, hati-hati dijalan."


Gresia mengangguk pelan lalu kemudian mengikuti langlah Adrian menuju mobil.


"Nyonya sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Barry." ujar Adrian setelah mobil mereka melaju di jalan raya.


Gresia yang tengah memandang keluar jendela memalingkan wajahnya menatap Adrian. "Apa Akeno yang memintamu mengatakan itu?"


Adrian menggeleng tegas. "Tidak. Hanya saja tuan tengah menyelediki latar belakang Barry." jelas Adrian. Mendengar itu Gresia tampak mengangguk paham.


Iris kelabunya kini menatap keluar jendela mengamati pengendara lain di sepanjang jalan. Sedang pikirannya tertuju pada Akeno. Suami yang mengingkari janjinya akan kembali setelah tujuh hari di kota C. Nyatanya janjinya molor dua hari, itu juga masih belum cukup di lakukan Akeno. Setiap hari berita kedekatannya dengan Desi bertebaran di dunia maya membuat hatinya panas.


"Nyonya, tuan berulang kali menghubungiku. Dia ingin bicara pada nyonya ada hal penting yang ingin dia sampaikan." suara rendah Adrian membuyarkan lamunan Gresia. Gresia bergeming, dia seakan tak mendengar ucapan Adrian barusan.


Sementara Adrian hanya bisa menarik nafas panjang. Akeno sudah mencak-mencak tak karuan karena ulah istrinya dan sudah pasti Adrianlah sasaran amarahnya.


"Adrian kau bersekongkol dengan Gresia?!" tanya Akeno penuh emosi tadi malam, saat dia tak bisa menghubungi Gresia. Sementara dia tidak berani menghubungi neneknya menanyakan kabar Gresia.


"Apa aku berani?"


"Mana aku tau! Makanya berikan ponselmu pada Gresia, mungkin aku bisa berpikir lain."


Adrian mendengus kasar. " Jujur. saat ini, aku lebih takut pada istrimu. Kau tau dia seperti ingin menelanku dengan tatapannya beberapa hari ini. Jadi berhentilah berbuat skandal di sana. Istrimu sudah hampir berubah jadi moster di sini." keluh Adrian.


"Apa kau sudah kehilangan keahlianmu dalam membujuk orang. Apa kau tidak bisa mengatakan padanya agar tak mendengar berita bodoh itu!"


"Dia tidak bodoh Akeno. Fotomu yang memperlihatkan kau keluar masuk apartemen Desi lebih dari cukup menceritakan situasimu disana. Aku sudah peringatkan untuk bicara pada istrimu sebelum kau menemui Desi, tapi kau tidak dengar sama sekali. Dia wanita istimewa Akeno jangan sampai diammu membuat jarak diantara kalian terbentang luas." ujar Adrian menasehati.


Terdengar Akeno menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku tau." sahutnya lalu memutus panggilan.


"Adrian aku ingin pulang. Tolong telpon nenek beritahu dia kalau aku pulang ke mansion." suara lembut Gresia membuyarkan lamunan Adrian.


Gresia hanya diam sembari tetap menatap luar jendela. Melihat itu Adrian tak punya pilihan selain mengikuti kemauan nyonya mudanya.


Mobil Adrian berhenti di halaman mansion. Dengan ekspresi dingin Gresia keluar dari mobil lalu masuk kedalam mansion dengan langkah gontai.


Adrian meperhatikan nyonyanya dengan helaan nafas panjang. Dia salut dengan Gresia yang mampu menyimpan gundahnya seorang diri. Mengingat hubungannya dengan Akeno yang rahasia. Membuatnya tak memiliki teman untuk berbagi.


Gresia masuk kekamarnya, membersihkan diri lalu rebahan diatas kasur. Netranya terpejam erat, berada dirumah membuat hatinya sangat merindukan sentuhan Akeno. Terlepas apa yang dilakukan Akeno diluar sana. Gresia tetap tak mampu membenci Akeno.


Marah dan cemburunya tak lebih besar dari rasa rindu dan sayangnya terhadap Akeno. Dialah lelaki pertama yang mengetuk pintu hatinya yang terdalam.


Merasa rindu yang semakin menggebu Gresia beranjak bangkit dari tidurnya, lalu melangkah pergi kekamar Akeno.


Gresia masuk perlahan kedalam kamar. Setelah membuka kamar Akeno dengan kombinasi angka yang Akeno berikan padanya sebagai akses masuk.


Akeno pergi sudah hampir sepuluh hari. Tapi Gresia masih bisa mencium aroma tubuh Akeno yang tertinggal dengan sangat jelas.


Gresia meletakkan bobot tubuhnya diatas ranjang, perlahan merebahkan tubuhnya dengan hati-hati. Netranya menatap langit-langit dengan pikiran menerawang jauh ke pulau C mencari sosok Akeno.


Cukup lama dia menghayalkan suaminya sampai tak terasa dia pun terlelap tenggelam kealam mimpi.


Menjelang subuh, Gresia terbangun. Tubuhnya terasa hangat dalam dekapan seseorang. Aroma khas yang meruar disekitar begitu familiar di penciumannya. Ini milik Akeno...


Jantungnya berdetak tak karuan. Rasa senang menyeruak direlung hatinya. Ingin rasanya dia berteriak girang sembari menghujani Akeno dengan ciuman. Alih-alih melakukannya Gresia hanya diam membisu, menatap wajah Akeno dengan dada bergemuruh. Dia bahkan hampir menangis saking senangnya.


Lelaki ini memang sangat tampan, apapun yang dia lakukan pesonanya tak pernah hilang. Seperti saat ini, walau sedang tidur tetap saja pesonanya mampu memikat Gresia. Gresia menatap Akeno dengan gemas. Wajahnya terlihat begitu tenang tak seperti saat dia dalam keadan sadar. Sorot mata yang mendominasi juga ekspresi dinginnya terasa mencekam Gresia.


Gresia mengerjab berulang kali, meneliti wajah tampan Akeno. Dia tidur tanpa memakai baju hanya memakai boxser saja. Beberapa hari tak jumpa kulit tubuhnya terlihat sedikit gelap, tubuhnya juga terlihat sedikit kekar dari biasanya. Apa karena warna kulitnya yang sedikit gelap jadi memperjelas pahatan ototnya yang tampak begitu sempurna.


Tanpa sadar Gresia menyentuh wajah Akeno dengan satu jarinya. Mengukir wajah tampan itu dengan mata berbinar. Jemarinya terus bergulir diwajahnya memeta setiap centi tanpa ada yang terlewat. Hatinya berdebar kencang, ada letupan-letupan halus yang dirasa menghujam perlahan saat jemarinya menyentuh bibir tipis Akeno. Benda kenyal merah jambu itu menggoda Gresia untuk segera mencicipi aroma manisnya.

__ADS_1


Gresia hanya ingin menyentuhnya sekilas, menempelkan bibirnya, menghirup aroma manis yang sedari tadi menggodanya. Tapi...


Hap!


Akeno melahap bibir sensualnya, melu matnya dengan luma tan panjang dan dalam.


Gresia melotot sembari memukuli Akeno dengan kedua tangannya berusaha melepas pagu tan Akeno yang penuh nafsu.


"Berani menciumku saat aku sedang tidur?!" sentak Akeno saat melepas ciu man panasnya.


Gresia tak menyahut, dia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya mengisi paru-parunya yang tetasa kosong.


"Siapa yang menciummu?!" sentak Gresia sembari memalingkan tubuhnya memunggungi Akeno.


Akeno tersenyum, lalu memeluk tubuh Gresia dari belakang. Hatinya berbunga saat pulang tadi dia melihat tubuh molek tengah berbaring diranjangnya.


"Kau rindu padaku?" tanya Akeno dengan suara beratnya. Sembari membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Gresia. Sementara Gresia hanya diam menikmati sentuhan Akeno.


"Aku sangat rindu..." sambung Akeno lagi. Dia benar-benar merindukan bocah tujuh belas tahun ini. Rindu sangat sangat rindu...


"Ada wanita seanggun Desi di sisimu. Apa masih punya waktu merindukan istri bo'ongan sepertiku?" tanya Gresia dengan nada sinis.


"Dia hanya rekan bisnis."


"Iya aku juga berpikir begitu. Mengingat betapa seringnya kau hilir mudik ke apartemennya." gumam Gresia dengan suara rendah. Tapi Akeno mendengarnya dengan sangat jelas.


Mendengar itu Akeno terkekeh, lalu men ciumi punggung istrinya. "Kau cemburu?" Tanyanya ditengah cum buan hangatnya.


"Aku bukan batu. Asal kau tau..." sungut Gresia sembari menarik tubuhnya menjauh. Tapi Akeno menahannya.


"Tapi antara aku dan Desi tak ada hubungan special. Apalagi sampai terjadi sesuatu itu mustahil. Kau juga harus tahu itu! Hmmm!" Tegasnya dengan penuh penekanan.


"Dia cantik, gesturnya penuh daya pikat juga sukses. Kau yakin mampu mengabaikannya? Menurut berita kau didalam apartemennya berbilang jam. Dengan waktu yang begitu lama, dengan wanita yang begitu sempurna, apa benar tak terjadi apapun?" cecar Gresia. Entah mengapa mulutnya tak mau berhenti mendikte Akeno. Dadanya terasa panas membayangkan suaminya berdua saja di apartemen dalam waktu yang lama.


Terdengar hembusan nafas Akeno, lalu menarik pelan tubuh Gresia menghadap kearahnya. Gresia tak berontak dia mengikuti gerak tangan Akeno yang membalik tubuhnya Akeno.


Menatap bola mata Gresia penuh cinta lalu berkata. "Aku bersumpah demi nyawa nenek. Bahwa aku tak pernah menyentuh wanita lain selain dirimu semenjak aku menikahimu. Sekarang apa kau percaya?" tegas Akeno dengan sorot mata tajamnya.


Gresia terdiam. Haruskah dia bersumpah memakai nyawa nenek. Tapi ucapan Akeno membuat seluruh tubuhnya meremang.


"kau masih ragu?" tanya Akeno melihat Gresia hanya diam. Gresia menggelang pelan.


"Sudah bisa percaya?"


Gresia mengangguk. Ada binar di bola mata kelabunya.


Binar yang membuat jantung Akeno berdebar tak karuan. Rasa rindu yang menggunung membuat hasratnya meronta. Memintanya merasai manisnya tubuh molek di depannya.


Dia mulai menjamahi tubuh mulus itu sembari menyesap bibir merah merekah yang sedari tadi mengomelinya tanpa henti.


Tiada penolakan, yang ada hanya hasrat yang mengebu yang menuntut di bawah kungkungan tubuh kekar seorang Akeno. De sahnya lolos dengan sempurna membimbing mereka melayang menuju awan dengan berbalut gairah.


Dia ikut menjamahi tubuh yang selalu menjadi objek fantasinya belakangan ini.


Akeno berulang kali terpaksa dikejutkan oleh kegilaan istri belianya. Belum sepuluh hari dia meninggalkan istri kecilnya tapi banyak kejutan yang dia dapat.


"Kau sungguh membuatku gila sayang." geram Akeno sembari memompa tubuh molek di bawahnya. Jemarinya meremas benda kenyal yang terguncang indah oleh gerakannya.


"Ahhhh... aahhh." de sah merdu lolos dari bibir merah Gresia. Membuat Akeno semakin dalam memompa miliknya memenuhi tubuh Gresia.


Tak butuh waktu lama bagi Gresia menaklukan Akeno membuatnya menumpahkan lahar kenikmatan lebih cepat dari harapannya.


Dengan nafas memburu dia mengumpati dirinya sendiri. Denyut inti tubuh Gresia yang meremasi miliknya didalam sana membuatnya tak mempu bertahan lebih lama.


Gresia benar-benar sangat nikmat malam ini membuatnya KO dalam durasi yang sangat memalukan dirinya sebagai pejantan tangguh.

__ADS_1


To be continuous


__ADS_2