Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 50


__ADS_3

Akeno tersenyum miring menatap layar ponselnya. Berita jatuhnya beberapa perusahaan pagi ini menjadi trending topic di beberapa media online. Saham beberapa perusahaan tiba-tiba anjlok di bawah normal membuat mereka bangkrut dalam semalam.


Bahkan kelakuan aneh para istri dan pengusaha itu menjadi bahan pergunjingan di media sosial. Mereka di anggap gila oleh sebagian orang karena meneriaki Akeno dan memakinya dengan sangat kejam. Menuduh pria muda itu sebagai biang keladi kebangrutan mereka.


Tentu saja itu dianggap tak masuk akal. Untuk apa Akeno mengurusi perusahaan kecil seperti milik mereka. Bahkan tender Akeno tak kan pernah sampai kemeja mereka.


Sedang untuk Betrand selain cacat dia mungkin akan menjadi gila karena kehilangan pungsi kejantannannya yang paling berharga. Ditambah lagi semua harta yang dia punya ikut hilang dalam waktu semalam.


"Sudah selesai, " suara lembut di sampingnya mengalihkan perhatia Akeno seketika.


Gresia berdiri di sampingnya dengan pakaian rapi. Gaun sebatas lutut berwarna abu berlengan pendek membalut tubuh Gresia dengan sempurna.


Akeno tetpana tak mampu berkata-kata. Dia sungguh mengagumi pesona Istri kecilnya yang luar biasa.


"Apa ada yang salah?" tanya Gresia sembari meneliti pakaian yang dikenakan oleh nya.


"Tidak ada. Kau sangat cantik hari ini sayang. " puji Akeno dengan mata berbinar menatap Gresia.


Sayang?


Tubuh Gresia seperti mata rasa dan melayang ke udara saat ini oleh limat sayang Akeno.


"Mari berkencan. Kau boleh melakukan apa yang kau mau seharian ini. " ucap Akeno serius.


Gresia tampak mengerutkan keningnya. "Apa kau sedang menghukum ku karena kejadian semalam. " ujarnya khawatir.


"Gresia! Apa tadi malam kepalamu terbentur tembok hingga menjadi bodoh! Apa ada orang memberi hukuman dengan cara menuruti semua keinginannya?!" gerutu Akeno kesal.


"Aku hanya takut, Kau tiba-tiba sangat baik padaku. "


Akeno berdecak kesal sembari mendekat. "Jadi selama ini aku jahat padamu?" ucapnya sembari mencubit dagu Gresia membenamkan bibir tipisnya merasai aroma strawberry di bibir Gresia. Gresia terpaku di tempatnya sembari memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir basah Akeno yang menempel di bibirnya.


Akeno melepas pagutannya dengan sangat lembut. "Aku suka aroma bibirmu, wangi strawberry. Kenapa bibirmu memiliki rasa yang berbeda setiap harinya. Apa karena pemerah bibir ini?" tanya Akeno sembari menyentuh bibir merah Gresia dengan jarinya. Akeno benar, Gresia memiliki beberapa pelembab bibir dengan aroma buah. Kadang dia suka asal pakai, jadi aromanya bertukar setiap harinya.


"Ayo pergi, kenapa jadi membahas bibirku?" gerutu Gresia sembari menarik pergelangan tangan Akeno.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di tempat hiburan terkenal di kota A ini. Dengan kaca mata hitam dan wajah tertutup masker, Akeno bebas berkeliaran mengikuti langkah Gresia yang mendadak berubah aktif.


Dari naik Roller coaster sampai komidi putar di jabani Gresia. Dia benar-benar melakukan apa yang dia mau layaknya remaja seusianya. Seperti janjinya Akeno dengan sabar mengikuti di samping Gresia.


Gadis yang biasanya suka menyendiri dan asyik dengan dunianya sendiri itu, kini terlihat sangat ceria. Matanya penuh binar, senyumnya merekah indah dan sangat mempesona.


Pesona yang membuat mata lelaki tak mampu beralih dari sosok sempurnanya. Entah yang keberapa kalinya Akeno berusaha menahan hati, melihat tatapan penuh arti yang tertuju pada sosok istri mungilnya. Ingin rasanya dia mencongkel bola mata mereka lalu berkata. "Dia milikku dan hanya aku yang boleh menikmati keindahannya. hanya aku seorang!


Gresia duduk di bangku taman sembari menjilati gunungan ice cream di tangannya. Di sampingnya Akeno terlihat menatap ice cream miliknya yang hampir meleleh.


"Di jilat bukan di lihat," cibir Gresia saat Akeno masih diam sembari menatapi ice cream di tangannya.

__ADS_1


Akeno menoleh dengan senyum jahil. Netranya memindai bibir merah rasa strawberry disampingnya dengan penuh binar. "Bisa di jilat sekarang?"


Gresia yang tidak paham maksud perkataan suaminya mengiyakan ucapan Akeno."Bisa, lihat sudah mulai meleleh." ujar Gresia sembari menunjuk ice cream di tangan Akeno.


Akeno beralih pada ice cream di tangannya. Dia membuka masker di wajahnya sebelum menjilati ice cream dengan cepat hingga tak tersisa.


"Kau menghabiskan ice cream dalam hitungan detik?"


"Tidak secepat itu. "


"Tapi tetap saja, tadi itu sangat cepat. "


"Itu karena aku ingin menjilati yang lebih manis dari ice cream milik ku?" sahut Akeno sembari menatap Gresia.


Gresia melihat tangannya yang tak memegang apapun. "Milik ku juga sudah habis. "


"Itu rasa coklat, aku sedang ingin yang rasa Strawberry. " ujar Akeno sembari menyentuh bibir Gresia dengan jarinya. Menyadari tatapan penuh hasrat dari bola mata kelam Akeno, Gresia mencebik kesal.


"Ini tempat umum!"


"Aku tau."


"Kalau tau maka hentikan. "


"Tidak bisa. Kau tau bukan kalau aku sedang ingin tidak bisa menghentikannya. Ayolah... " bujuk Akeno dengan mimik manja. Mimik yang tak pernah Akeno perlihatkan sebelumnya.


"Lalu bagaimana aku sedang ingin... "


"Akeno! Apa kau tidak bisa menahannya?!"


"Kalau bisa aku tidak akan meminta. "


"Pokoknya aku tidak mau tau! Tahan sampai kita pulang. "


"Mana mungkin, dia terus melambai kearahku. "


Gresia celingu'an ke kiri dan kanan. "Siapa?" tanyanya sembari mencari cari di tengah keramaian


"Dia," sahut Akeno sembari menyentuh bibir Gresia dengan bibirnya sekilas. Gresia membeku di tempatnya. Bibir Akeno terasa lembut dan dingin tapi mampu memacu degup jantungnya.


Gerakan tubuh Akeno menimbulkan angin tipis yang menerpa wajah Gresia dengan lembut. Seperti belaian tipis di kulit leher jenjnagnya. Gresia meremanga. Aroma tubuhnya meruar memenuhi rongga penciuman Gresia. Dada Gresia semakin bergemuruh rusuh.


Tak bisa di pungkiri bahwa Akeno pria yang punya sejuta pesona. Setiap geraknya seperti maha karya tanpa cela.


Kata kencan yang di sematkan Akeno pada momen kali ini mempengaruhi perasaan seorang Gresia. Ada perasaan asing yang tak biasa menjalari relung hatinya.


Seperti kata Akeno mereka sedang berkencan bukan. Maka lakukanlah hal-hal romantis saat berkencan itu baru namanya kencan.

__ADS_1


Berjalan di samping pria jangkung ini membuat Gresia tak merasa nyaman. Dia menyesal memberi Ako ice cream hingga dia terpaksa harus melepas maskernya. Kini wajah tampannya mengundang perhatian banyak wanita. Bahkan di antara mereka ada yang sengaja memberi perhatian untuk Akeno.


Tapi tetap dialah pemenangnya Akeno sama sekali tak nganggap mereka ada. Kehadiran mereka seperti makhluk kasad mata yang tak terlihat.


Akeno berjalan di samping Gresia sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping Gresia. Kini mereka tengah menyusuri lorong-lorong penuh bunga di sebuah taman.


Langkah Akeno berhenti di depan gazebo di tengah tengah taman. Mata hari yang terik membuat keringat membasahi kemeja sutra nya. "Kita istirahat di sini saja. Kaki ku butuh istrahat sejenak." ujar Akeno sembari melepas sepatunya lalu naik ke gazebo. Gresia juga ikut naik.


"Aku suka tempat ini," ujar Gresia. Sembari duduk bersila netra kelabunya menatap kagum hamparan bunga di depannya.


"Aku juga suka, keindahannya menyerupai dirimu," ujar Akeno menimpali. Gresia mencebik.


Melihat itu membuat Akeno gemas, dia meraih tubuh Gresia yang sedang duduk bersila di depannya. Membawanya kedalam pangkuannya.


"Turunkan Akeno. Nanti dikihat orang!" Bukannya mengindahkan permintaan Gresia Akeno malah merengkuh tubuh Akeno semakin dalam. Membenamkan wajah lelahnya kedalam ceruk leher Gresia.


"Aku ingin memeluk tubuhmu agar lelahku hilang. Kaki kecilmu itu sudah mengitari taman ini sepuluh kali, membuatku kelah mengikuti mu. " keluh Akeno manja. Gresia tersenyum mendengarnya itu benar, saking antusias nya Gresia tak berhenti mengitari taman ini dari ujung ke ujung.


"Gresia, " panggil Akeno dengan suara pelan.


"Iya."


"Mari buat panggilan sayang untuk kita. "


*Panggilan sayang. "


"Iya."


Gresia berpikir sejenak. "Bagaimana kalau mas? "


"Aku belum setua itu. "


"Paman? "


"Itu bukan panggilan sayang, lagi pula aku bukan pamanmu. "


"Panggil pipi seperti anak anak jaman sekarang kedengarannya bagus. "


"Gresia. Apa kau benar-benar menyayangiku? Kenapa mencari panggilan sayang saja kau begitu kesulitan. " omel Akeno sembari menggigit ringan daun telinga Gresia.


"Geli, " de sah Gresia sembari menarik tubuhnya menjauh. Mendengar de sah manja Gresia dada Akeno berdetak tak karuan.


"Jangan mendesah. Apa kau ingin aku makan di tempat ini. " geram Akeno dengan suara bergetar. Entah mengapa berada di dekat Gresia membuatnya selalu merasa ingin.


"Menurutmu kalau kita melakukan di tempat seperti ini apa rasanya akan berbeda? " tanya Gresia dengan suara pelan. Sementara jemarinya merayap di paha Akeno.


"Dasar setan kecil! "

__ADS_1


Bersambung mak


__ADS_2