
Entah ada angin apa Jenifer dan Maria mengunjunginya ketempat kerja. Yang lebih aneh lagi keduanya bersikap sangat baik.
Gresia datang dengan dua gelas teh di atas nampan. Dengan cekatan Gresia meletakkan dua gelas teh di depan kedua kakaknya.
Beruntung percetakan tidak terlalu ramai jadi bisa sedikit bersantai. "Ada perlu apa kakak datang mencariku?" tanya Gresia dengan sikap ramah. Baik dulu atau sekarang Gresia tak pernah bersikap buruk pada keduanya.
"Maaf menganggumu. Begini rencananya malam minggu besok Jenifer merayakan ulang tahunnya. Kami ingin kau datang ikut merayakan hari bahagia ini. Anggaplah sebagai momen memperbaiki hubungan keluarga. Kami ingin memulai hubungan baik dengan mu. " Ada bulir bening yang hampir tumpah di sudut matanya saat Maria mengucapkan kalimat itu.
"Aku akan izin dulu pada Akeno. Kalau di beri izin aku pasti datang."
"Terimakasih Gresi, aku harap Akeno mengijinkanmu pergi. "
"Semoga kak. "
Jenifer dan Maria tak lama di sana. Setelah menyampaikan maksudnya dia pun pamit pulang.
Setelah pulang dari percetakan, Gresia melihat mobil Akeno sudah terparkir di garasi. Itu pertanda dia juga sudah pulang.
Saat Gresia masuk dia menemukan Akeno dan Adam di ruang tengah. Mata kedua pria itu langsung tertuju padanya.
"Sudah pulang?" sapa Akeno.
"Iya, aku keatas dulu. " ujar Gresia lansung menuju lantai atas tanpa menunggu jawaban Akeno.
Samar-samar dia mendengar Akeno mengumpati Adam agar tak terus menatapnya.
Dikamar Gresia tak langsung mandi dia berbaring di ranjang sembari membuka poselnya. Siang tadi Barry terus mengirimi dia pesan. Begitu juga Harisah. Mungkin mereka janjian saat akan mengirimi Gresia pesan.
Mengutak atik ponselnya tak terasa Gresia tertidur dengan lelapnya. Dia bahkan tidak terbangun saat Akeno datang mengambil ponsel dari tangannya.
Di tarikanya kursi di sebelah tempat tidur Gresia. Sembari duduk dia memeriksa ponsel istrinya. Berbagai ekspresi terlihat di raut wajahnya saat memeriksa ponsel Gresia.
Dia sedang membaca pesan dari Barry. 'Gresia bisa kau temui aku di kafe depan percetakan?'
'Aku sudah menunggumu, kumohon datanglah. '
'Gresia, apa kau benar-benar tak bisa datang?'
'Baiklah aku tunggu lima menit lagi. Kalau kau tidak datang juga. Aku akan menemuimu di pantry. '
Akeno mengatupkan rahangnya erat sembari menatap Gresia yang terlelap. Kemudian dia beralih ke pesan Harysah.
'Gresia'
'Iya Ris. '
'Aku rindu. '
'Ngaco!'
'Aku serius. '
Akeno membanting ponsel Gresia di atas kasur dengan perasaan kesal. Meresakan ada pergerakan di kasurnya Gresia bangun, mengerjab berulang kali menetralkan pandangannya.
__ADS_1
"Jam berapa?" tanya Gresia sembari menatap wajah kaku Akeno. Matanya yang tajam seakan menusuk jantungnya hingga tembus kepada.
"Ada apa?"
"Gresia, aku memberimu ponsel bukan untuk meladeni cecunguk-cecunguk tidak jelas seperti Haris dan Bary." omel Akeno dengan wajah kakunya.
"Kau memeriksa ponselku?"
"Iya, Kenapa!"
"Tidak apa-apa. Kenapa galak begitu bicara padaku. Aku ini istrimu. "
"Justru karena kau istriku Gresia. Pria lain mengirimu pesan mengajak istriku bertemu, apa menurutmu aku bisa bersikap baik melihat semua itu!"
"Kau baca sendiri aku tidak menanggapi pesannya bukan?"
"Siapa tau setelahnya kau bertemu Barry di pantry!"
"Iya aku menemuinya!"
"Apa?!"
"Aku bilang aku menemuinya!"
"Bagus, aku pastikan besok pagi dia tidak ada di percetakan itu lagi!" ancam Akeno dengan penuh emosi.
Gresia mencibir. "Apa kau cemburu?"
Gresia termangu menatap reaksi Akeno. Jujur baru kali ini dia melihat ekspresi Akeno yang di penuhi aura membunuh sekuat ini. Hanya dengan tatapannya saja Akeno mampu membekukan jantung Gresia.
"Aku hanya bercanda, aku tidak menemui Barry. Aku juga tau aku adalah istrimu, tapi bukan itu yang terpenting. Kau juga harus tau, saat kau membawaku ke rumah ini. Hati ku sudah terikat erat padamu. Aku tak mampu melihat pesona pria manapun lagi tanpa membandingkan nya denganmu. Kau, ada di level paling tinggi di hatiku. " jelas Gresia dengan suara pelan. Ketakutan membuat suaranya yang tadi lantang mendadak hilang.
Akeno terdiam kaku. Dia sering mendengar ratuan dari banyak wanita. Tapi mendengar kalimat indah itu dari bibir Gresia dia kehilangan kata.
"B-benarkah." ujarnya gugup.
Gresia menyipitkan matanya menatap Akeno. "Tentu saja, apa aku terlihat sedang berbohong. "
Akeno menggeleng bodoh. Gresia nyaris tertawa melihat ekspresi Akeno. Dia hanya mengucap beberapa bait kata tapi Akeno tiba-tiba menjadi begitu bodoh.
Gresia tak pernah melihat ekspresi seperti ini di wajah Akeno sebelumnya. Dia terlihat linglung dan kehilangan kepintarannya untuk sesaat, itu benar benar menggemaskan.
"Aku lapar... " rengek Gresia, menyadarkan Akeno sepenuhnya.
"Mandilah dulu, aku tunggu di bawah. Adam juga ikut makan malam dengan kita. "
"Baiklah, " sahut Gresia sembari beranjak bangkit, menghampiri Akeno mendaratkan kecuali pan lembut sekilas di pipi Akeno lalu berlari masuk kamar mandi.
Akeno tertawa pelan sembari mengusap halus pipinya. "Dasar bocah, " gumamnya tanpa melepas senyum dibibirnya.
Gresia bergegas menuruni anak tangga. Di ruang makan tampak Adam dan Akeno sedag menatapnya. Dua pria tampan luar biasa sedang menatap takjub padanya. Andai wanita lain seumuran dia pasti sudah salah tingkah. Tapi Gresia terlihat biasa saja.
"Maaf membuat kalian menunggu. "
__ADS_1
"Tidak apa Gresi, " sahut Adam sembari terus mengikuti gerak Gresia dengan matanya. Sementara Akeno menatap Adam dengan tatapan tak senang. "Gresi? Sejak kapan kau panggil dia dengan kata itu?!" selidik Akeno dengan mata menyipit.
"Itu panggilan sayang ku pada dia, " ujar Adam bangga.
"Panggilan sayang? Apa kau ingin mati!" umpat Akeno sembari menarik kerah baju Adam dengan sangat keras hingga Adam seperti kehabisan nafas.
"Akeno!" pekik Gresia panik. "Dia hanya bercanda. Jagan di ambil hati. " bujuknya lagi.
"Aku tidak suka apa yang dia ucapkan! Jangan berani memikirkan wanita ku di kepalamu Adam. Aku tidak mengenal kata teman saat aku sedang marah kau itu. " Ancam Akeno. Sembari melepas cekalannya dengan kasar.
"Hey ayolah ini bukan sayang seperti yang ada dipikiranmu. Aku tidak akan berani memikirkan kearah itu percayalah. " ujar Adam yang sudah pucat wajahnya dia tak menyangka reaksi Akeno akan sebesar itu. Apa jadinya bila Akeno tau diam-diam dia menyukai Gresia. Sejak pertama kali bertemu dengan Gresia, gadis itu sudah memikat hatinya. Andai bukan Akeno lelakinya maka sudah pasti dia akan memperjuangkan perasaannya pada Gresia.
"Apapun itu aku tidak suka mendengarnya." tegas Akeno tak mau berkompromi sedikitpun.
"Baiklah-baiklah itu tadi yang pertama dan terakhir. Jangan tegang begitu, kau lihat Gresia ketakutan karena ulahmu. "
Akeno mendengus kesal, lalu beralih menatap Gresia yang terlihat pucat. Dia tau Akeno sangat mendominasi tapi kali ini Akeno terlihat menakutkan dan Adam seperti paham sifat Akeno. Dia tau kapan harus berheti
Lalu sikap lembut Akeno padanya apa hanya sebuah kepura-puraan. Tapi Gresia merasakan ketulusan pada setiap kelembutan sikap Akeno.
"Makanlah, maaf membuatmu takut." ujar Akeno dengan suara rendah. Gresia mengangguk lalu mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
Makan kali ini benar-benar di selimuti aura dingin yang meruar dari seorang Akeno.
"Trimakasih sudah mengijinkan aku makan malam di sini dan masalah tadi aku tak akan mengulanginya lagi. Kau mengenalku bukan, aku tak kan berani melewati aturan mu. " ujar Adam saat pamit pulang.
Akeno menatapnya dengan tatapan tajam seakan memastikan semua ucapannya tadi adalah benar.
Sementara Gresia yah menguping dari atas merasa kasihan pada Adam. Dia terlihat begitu takut pada Akeno.
"Sejak kapan kamu suka menguping pembicaraan orang?" Gresia terggaap saat tiba tiba Akeno sudah ada di dekatnya.
"S-siapa yang nguping?"
Akeno mencibir lalu menyeret tubuh kaku Gresia kedalam kamarnya.
"Kenapa? Apa kau benar-benar takut padaku?" tanya Akeno saat melihat Gresia meringkuk di sudut ranjang dengan wajah tertunduk.
Gresia mengangkat wajahnya lalu mengangguk pelan. "Bodoh! Kau istriku mana mungkin aku mampu melakukan hal jahat padamu. "
"Benar ya. "
"Tentu saja. "
"A-aku tidak punya seseorang yang begitu menyayangiku. S-selain kau Akeno. " lirih Gresia.
Akeno tersenyum tipis, netranya memindai wajah taku-takut Gresia. "Jadi, menurutmu aku menyanyi mu?"
Gresia mengangguk. "Anggap saja seperti itu. " sahutnya.
Akeno mencubit dagu runcing Gresia menarik wajahnya mendekat. "Kau benar, aku sangat sayang padamu. Hanya aku yang boleh memiliki mu." bisik Akeno.
Bersambung mak🙏🙏🥰🤭
__ADS_1