Istri Tujuhbelas Tahun

Istri Tujuhbelas Tahun
Part 78


__ADS_3

Mobil mewah Akeno tiba di mansion satu jam kemudian. Begitu sampai dia langsung menemui Gresia di kamarnya.


Begitu masuk, Akeno langsung disambut pelukan hangat Gresia. Aroma tubuhnya yang lembut, membuat Akeno sangat candu ingin selalu memeluknya.


"Baru selesai mandi, sayang?" tanya Akeno, sembari mengusap punggung istrinya, dengan penuh kasih sayang.


"Hmmm," sahut Gresia, sembari menyusupkan wajahnya di balik dada suaminya. Mencari aroma tubuh Akeno, yang belakangan menjadi candu untuknya.


Hanya sekejab, dia menarik tubuhnya sembari mengernyit menap Akeno.


"Sayang, siapa yang kau temui tadi?" tanya Gresia.


Akeno berpikir sejenak. "Ada banyak orang yang aku temui tadi sayang." jelas Akeno.


Gresia mendekatkan tubuhnya, mengendus aroma yang melekat ditubuh Akeno, dia yakin ini adalah aroma tubuh seorang wanita.


"Sayang memeluk siapa tadi?!"


Akeno berusaha mengingat-ingat, apakah dia ada memeluk seseorang. Tidak. Dia hanya bersalaman dengan bebarapa kliennya.


"Kau bicara apa sayang. Aku tidak ada peluk siapa-siapa." tegas Akeno.


"Katakan siapa yang kau peluk!" tapi Gresia tak percaya.


"Tidak ada."


"Jangan bohong! Aroma wanita melekat di bajumu!"


"Aroma wanita?" tanya Akeno mulai panik. Dia benar-benar tidak memeluk siapa pun tadi, apa lagi seorang wanita. Lagi pula siapa yang bisa dia peluk selain Gresia.


"Bagaimana bisa aroma tubuh wanita melekat di bajumu, kalau kau tidak memeluknya."


Apa?!


Jangan-jangan aroma tubuh wanita yang dia tolong tadi.


"Ooh. ****!" umpatnya tanpa sadar


"Apa?! Dugaan ku benar bukan!"


"Bukan seperti itu sayang."


"Lalu seperti apa?! Yang jelas kau menyentuh tubuhnya kan?"


"Itu karena dia ingin bunuh diri, aku dan Samy berusaha menolongnya." jelas Akeno masih dengan mode lembut.


"Omong kosong! Kenapa tidak kau biarkan saja dia mati. Keluar!" pekik Gresia.


Akeno mende sah berat. "Kau benar sayang, harusnya aku biarkan saja dia mati." sahut Akeno setengah bergumam.

__ADS_1


"Sudah terlambat, aku membenci mu. Keluar!"


"Oke baiklah sayang aku akan keluar.Tapi janji kau tidak akan emosi lagi." bujuk Akeno.


Gresia tak menyahut, dia mendorong tubuh Akeno keluar dari kamar, kemudian mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.


Akeno menatap daun pintu kamarnya dengan nanar. Kalau sikap Gresia tadi bawaan bayi, seperti yang terulis di blog yang dia baca. Sembilan puluh persen sifat bayinya sangat mirip dengannya. Sebab Gresia adalah orang yang lembut.


"Oh, ****! Wataknya benar-benar mirip dengan ku. Aku harap dia laki-laki." gumam Akeno.


Dengan langkah malas, Akeno pergi ke ruang kerjanya. Menghubungi Samy untuk memastikan sesuatu.


Akeno menunggu sejenak, kemudian panggilannya tersambung. "Halo, ada apa Akeno?" tanya Samy di seberang telpon.


"Samy, apa wanita itu parfum?"


Samy tak laangsung menjawab, dia berpikir sejenak, kemana arah pertanyaan Akeno sebenarnya.


"Ada apa? Kau tidak bisa tidur karena wangi tubuhnya?"


"Jangan bercanda, Gresia mengunci dirinya di kamar. Itu, karena aroma tubuh wanita itu melekat dibajuku. Cepat minta rekaman CCTV rumah sakit. Aku akan membunuh wanita itu, kalau sampai Gresia tidak bisa di bujuk."


Samy terbahak senang, kapan lagi dia bisa mendengar Akeno di tindas seseorang.


"Aku sudah duga, menikah itu rumit."


"Oke, baiklah Akeno. Kau memang pandai mengancam orang." gerutu Samy, sebelum Akeno memutus panggilan.


Sementara Gresia di dalam kamar, terlihat resah. Ada apa dengan emosinya, kenapa bisa begitu meledak-ledak. Saat mencium aroma tubuh wanita lain di tubuh Akeno, emosinya langsung meluap. Yang ada di benaknya saat itu, apa yang di lakukan Akeno pada pemilik aroma lembut itu.


Biasanya dia tak begini, Gresia memiliki toleransi yang tinggi terhadap Akeno. Tapi tadi, kenapa bisa hilang kendali.


Setengah jam kemudian, Samy sudah mengirimi Akeno rekaman CCTV rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Akeno segera mengirimkan rekaman CCTV itu pada istrinya.


Dua puluh menit kemudian, pintu ruang kerja Akeno terdengar di ketuk oleh seseorang.


Tok!


Tok!


"Masuk." titah Akeno dengan intonasi rendah.


Pintu perlahan terbuka, terdengar ketukan langkah kecil pada lantai ruangan. Akeno tersenyum dalam hati, dia mengenali langkah kecil ini.


"Sayang, aku bawakan kopi untuk mu." terdengar suara lembut Gresia.


Akeno mengangkat wajahnya, menatap kopi di tangan istrinya. Ingin rasanya dia mengambil gelas kopi itu, lalu memeluk Gresia erat-erat. Tapi bukan itu yang dia dilakukan.


"Apa itu bisa di minum? Aku takut kau menaruh racun di kopiku." ucapnya dingin.

__ADS_1


Gresia mengerucutkan bibirnya, itu mustahil. Mana mungkin dia tega meracuni suaminya yang begitu tampan dan sangat kaya ini. "Kenapa bicara begitu.." lirihnya, sembari meletakkan gelas kopi ke atas meja kerja Akeno.


"Siapa tau, karena amarah mu yang begitu besar, jadi timbul niat meracuni suami mu." sahut Akeno dengan ekspresi dingin.


Mendengarnya wajah Gresia langsung berubah murung. Dengan langkah pelan dia berjalan ke belakang Akeno.


"Sayang, aku mengaku salah. Harusnya aku tidak langsung marah seperti tadi. Tapi saat mencium aroma tubuh wanita lain di baju mu. Emosiku langsung meledak-ledak, aku benar-benar tidak bisa menahannya.Tapi aku janji, lain kali aku akan menahannya." ujar Gresia, sembari memijit bahu Akeno dengan lembut. Mendengarnya Akeno tersenyum simpul.


Akeno mende sah berat. "Aku tidak percaya, nyonya Akeno tidak bisa mengendalikan emosinnya." keluh Akeno.


"Aku tau, aku minta maaf." lirih Gresia. Mendengar suaranya yang begitu terintimidasi, Akeno tak tahan lagi. Dia berbalik, meraih tubuh mungil di depannya, lalu merengkuhnya dengan penuh kasih sayang.


"Maafku tidak gratis." bisik Akeno.


"Sayang tega menindas ibu hamil?"


Akeno terkekeh. "Mana aku tega sayang." ucapnya, lalu melabuhkan ciuman kerinduan pada kedua pipi Gresia.


"Siapa wanita itu?" tanya Gracia penasaran, begitu Akeno melepas ciumannya.


Akeno menatap Gracia lekat. " salah satu pasien di rumah sakitku, Kenapa bertanya masih belum puas dengan jawabanku?"


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku merasa kasihan padanya, dia masih muda dan cantik. Kenapa ingin mengakhiri hidupnya."


"Sudah, Jangan berpikir terlalu banyak tidak penting mengurusi hidupnya. Mungkin besok dia akan baik-baik saja, setelah Samy mengunjunginya. Aku rasa Samy menyukai perempuan itu." ucap Akeno, sembari mengusap pipi Gresia dengan jarinya.


"Oh, ya?"


"Hmmm."


" Sayang banyak pekerjaan malam ini?"


"Sepertinya begitu, aku berniat mengajakmu lembur sampai pagi."


"Hei! Apa sayang lupa aku sedang hamil?!"


"Jangan khawatir aku mengerti batasan ku."


"Omong kosong, sayang selalu hilang kendali."


"Benarkah?"


"Apa perlu ditanya lagi?"


"Oke baiklah, aku berjanji kali ini hal seperti itu tidak akan terjadi." ucap Akeno, kemudian membopong tubuh Gresia keluar dari ruang kerja menuju kamarnya.


Akeno tak bisa menahan lagi, pertengkaran mereka tadi butuh pelampiasan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2