
Baskoro sudah tiba di bandara kota A. Dia dijemput langsung oleh Samy. Akeno memintanya agar tak mengabari siapapun prihal kedatangannya ke kota A ini.
Sebagai orang kepercayaan Akeno, dia tau bahwa ada sesuatu pada perintah kedatangannya kali ini.
Dari bandara, Baskoro dibawa menuju markas. Disana Akeno sudah menunggu kedatangannya.
Sudah sangat lama Baskoro tidak mengunjungi markas besar Akeno. Mansion mewah ini, terlihat banyak perubahan. Ada beberapa penambahan bangunan di beberapa sisi, yang bertujuan untuk kepentingan keamanan markas besar.
Baskoro langsung menemui Akeno di ruang pribadinya. Seperti akan bertemu pacar, jantung Baskoro berdebar kencang saat mengetuk daun pintu.
Tok !
Tok !
"Masuk." terdengar suara berat Akeno meminta Baskoro masuk.
Lelaki muda bertubuh tinggi tegap itu masuk dengan raut wajah senang. Baginya, Akeno sudah seperti ayah untuknya. Walau dia bekerja dibawah bendera kekuasaan Akeno, tapi mereka jarang bertemu. pertemuan ini menjadi pelepas rindu baginya.
"Ada apa, wajahmu terlihat begitu senang?" tanya Akeno, saat melihat wajah riang Baskoro.
"Itu karena aku menemui ayahku." sahut Baskoro lalu memeluk tubuh Akeno yang berdiri di depannya. Tubuh orang yang begitu dia dewakan laksana tuhan.
Akeno terkekeh sembari menepuk-nepuk pundak Baskoro. Bocah cilik yang di pungutnya kini hampir melampaui nya dalam segala hal.
"Adahal darurat apa, hingga tuan memanggilku pulang?" tanya Baskoro sembari melepas pelukannya.
Akeno tak langsung menjawab pertanyaan Baskoro, netranya menatap lekat bola mata tajam Baskoro. Bola mata yang selalu memandangnya dengan penuh rasa kagum.
"Istrahatlah dulu, kau baru saja menempuh perjalanan sangat jauh. Nanti malam datanglah ke Dragon, aku sudah lama tidak kesana. Oh ya, jangan beritahu siapapun kau ada di kota ini. Ingat, siapapun!" tegas Akeno.
"Siap bos!" sahut Baskoro, sembari mengangguk hormat.
"Istirahatlah di sini, aku pergi dulu. Ada beberapa pertemuan yang tidak bisa aku tangguhkan." imbuh Akeno.
"Silahkan tuan."
Akeno kembali menepuk pundak Baskoro, sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.
****
Akeno duduk bersilang kaki, di ruang tunggu sebuah butik milik desainer kenamaan di kota A.
Sementara Gresia sedang diruang ganti, mencoba beberapa baju yang dia pesan beberapa waktu lalu.
Sesekali Akeno menatap jam di pergelangan tangannya dengan resah. Ada pertemuan yang sangat penting yang harus dia hadiri saat ini.
"Mas ada pertemuan penting?" tanya Gresia, yang tiba-tiba sudah di depan Akeno.
Akeno menengadah, menatap Gresia yang sedang mengancingkan baju atasnya yang tampak terbuka. Akeno mengernyitkan alisnya, lalu menoleh ke kanan dan kiri. "Apa mereka mempekerjakan karyawan laki-laki?" tanya Akeno dengan ekspresi tak senang.
__ADS_1
Gresia menggeleng. "Cuma satpam sama karyawan gudang yang cowok, kenapa?"
"Kau membuka bajumu sembarang begini, aku kira ada laki-laki di sini." keluh Akeno. Dia bangkit berdiri, lalu membantu Gresia menautkan kancing bajunya.
"Jangan lakukan ini dekat Adrian." pintanya dengan mimik wajah serius.
Kini giliran Gresia yang mengernyitkan alisnya menatap Akeno. "Apa masih belum selesai juga dengan Adrian?"
Akeno tak menyahut, selesai menautkan kancing baju Gresia. Dia membungkukkan tubuhnya, mengecup puncak kepala Gresia dengan sangat lembut.
"Sudah selesai? Kalau sudah, mari pulang. Jangan sampai Samy menjadwal ulang pertemuan ku lagi." ujarnya dengan suara lembut.
"Sudah, mereka akan mengirimkan barangku besok." sahut Gresia. Lalu menautkan jemarinya pada jemari kokoh Akeno.
Ada senyum indah di bibir Akeno, saat merasakan jemari hangat istrinya menggenggam erat jemarinya.
Mobil berhenti di halaman Mansion mewah milik Akeno. Dia turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk istrinya.
Gracia tak langsung masuk, sebab Akeno menahan langkahnya. lelaki bertubuh tinggi tegap itu menatap Gracia lekat-lekat. kalau bentuk tubuhnya tak selangsing dulu, Gracia tetap memiliki daya tarik yang luar biasa.
"Aku pulang terlambat malam ini, Baskoro Baru saja sampai. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Sudah lama aku tidak mengunjungi Dragon, jadi malam nanti kami akan ke sana. Bolehkan aku pergi ke Dragon? aku janji akan Minum sedikit."
Gracia tak langsung menyahut, dia menatap lekat Akeno. ini pasti masalah penting, mana mungkin Gracia melarangnya.
"Tidak apa pergilah, tapi ingat aku tidak mau ada perempuan di antara kalian. Awas saja kalau sampai aku dengar kau bawa perempuan di sana."
Akeno terkekeh sembari mengajak rambut hitam Gresia. "Aku jamin tidak akan ada wanita di sana." ucapnya, lalu menciumi wajah Gracia dengan ciuman lembut.
" Tenanglah mereka tidak akan berani melihat ini."
Gracia tahu itu, Tapi tetap saja dia merasa risih kalau harus melakukan adegan mesra di depan orang-orang Akeno.
"Ya sudah aku pergi ya sayang."
"Iya, hati-hati di jalan."
Gresia menarik nafas dalam, sembari menatap mobil akindo yang melaju meninggalkan Mansion. Berat rasanya menjalani hidup seperti ini, tapi untuk hidup normal seperti yang dia inginkan juga tidak mungkin. dia hanya ingin hidup tenang tanpa ada musuh tanpa was-was sepanjang hari seperti saat ini. Tapi suaminya adalah Akeno. Mana Mungkin dia bisa menikmati hidup normal seperti yang dia inginkan.
Tepat jam sepuluh malam, Baskoro dan Akeno juga yang lainnya berkumpul di Dragon Club.
Seperti pinta Gracia tidak ada wanita di antara mereka, bahkan Bartender yang biasanya wanita malam ini diganti oleh pria.
Mereka mengeluh tidak bisa melihat pemandangan indah dari bartender cantik, yang biasanya melayani mereka. Apa boleh buat ini perintah nyonya Akeno.
pertemuan kali ini menyuguhkan banyak cerita, sembari ngobrol masing-masing dari mereka memegang gelas wine di tangan mereka.
"Baskoro Sudah berapa tahun kau bekerja denganku?" tiba-tiba Akeno bertanya seperti itu, membuat semuanya terdiam.
Baskoro tampak berpikir, lalu kemudian menjawab. "Entahlah aku lupa berapa tahun persisnya. Ada apa? Apa tuan ingin memecatku?"
__ADS_1
Mendengar jawaban Baskoro, Akeno tersenyum simpul. "Tergantung pilihanmu nanti." sahut Akeno, dengan ekspresi sangat tenang.
Semua yang ada di situ saling pandang, ada apa ini. Apa ada sesuatu yang urgent.
"Katakan tuan, apa ada masalah yang tidak aku ketahui." tebak Baskoro.
Akeno menarik nafas dalam-dalam, lalu menepuk pundak Baskoro pelan, sebelum menyerahkan Map di atas meja kepadanya.
"Bacalah." titahnya pada Baskoro.
Dengan sedikit ragu Baskoro mengambil map itu, kemudian membacanya dengan teliti.
Terlihat perubahan raut wajah Baskoro setelah membaca isi map yang diberikan Akeno.
Tapi perubahan ekspresi wajahnya hanya sebentar saja. Dia bahkan tertawa sembari menatap wajah cemas Akeno.
"Tuan takut aku membelot karena masalah ini?" ujarnya di sela tawanya.
"Bukankah kau menyukai wanita itu?" tanya Akeno, sembari mengernyitkan alisnya.
" Kenapa memangnya kalau suka? Kalau tuan memintaku membunuhnya. Aku bahkan tega melakukannya, Jangan ragukan aku. Tuan di atas segalanya bagiku." sahut Baskoro dengan tegas.
"Hais! Cinta seperti apa yang kau miliki. Aku bahkan rela menukar nyawaku demi Gresia. Tapi kau malah mau membunuhnya. Aku kira tadi kau akan pergi dengannya membangun kerajaanmu sendiri." ujar Akeno keheranan.
"kalau dia sama persis seperti Nyonya Gracia Mungkin aku akan melakukannya." sahutnya lirih, ada kekecewaan pada nada ucapannya.
Akeno menarik nafas dalam, kemudian menepuk-nepuk pundak Baskoro. "Aku akan mengeksekusinya dua hari lagi. Kalau kau berubah pikiran masih belum terlambat."
Baskoro tertawa sinis, kemudian menatap bola mata Akeno lekat-lekat. " Izinkan aku melakukannya tuan, aku tidak Sudi di permainkan oleh wanita seperti dia. Aku ingin memberi dia rasa sakit yang tidak akan bisa dia lupa sampai di kehidupan berikutnya." ujarnya penuh dendam.
"Baiklah." sahutnya sembari menarik nafas dalam. Dia tak menyangka Baskoro akan menerima penghianatan kekasihnya semudah ini. Dia kira perdebatan akan berjalan alot, nyatanya tidak.
"Ada apa ini? Kalian mengundangku, tapi aku sama sekali tidak dilibatkan dalam percakapan ini. Membuatku bingung saja." omel Adrian kesal.
Sementara Samy hanya senyum-senyum saja, sebab dia juga ikut dalam penyelidikan Ria.
"Aku mengundangmu untuk menengahi, kalau kalau kami tidak bisa menahan diri lalu membuat keributan." sahut Akeno.
"Cih! Wanita seperti itu tidak pantas diributkan." geram Baskoro.
" Baskoro benar hanya wanita seperti nona Gracia yang Layak mendapat perlakuan khusus," timpal Adrian.
Tak ayal ucapan Adrian membuat ekspresi Akeno yang tadi tenang berubah menjadi muram. Atmosfer di ruangan ini tiba-tiba berubah menjadi hangat.
"Aku sedang melatih penggantimu Adrian. Bagaimana menurutmu?"
"Itu sangat bagus, berada di samping istrimu membuatku tersiksa." sahutnya dengan sorot mata sedih.
"Oh ya, kalau bisa Tolong pindahkan aku bersama Baskoro di sana. Aku rasa Baskoro perlu teman, bisnis di sana sangat luas. Kalau aku ke sana pasti akan membantu Baskoro." imbuhnya lagi.
__ADS_1
mendengar percakapan mereka Samy menarik nafas lega. Dia tahu apa yang terjadi kepada ketiga orang ini. Dalam pertemanan mereka, hal-hal kecil saja tidak bisa disembunyikan, apalagi hal yang sangat besar seperti itu. Dia khawatir Itu akan memicu perselisihan dan mengancam pertemanan mereka yang sudah terjalin bertahun-tahun. Tapi nyatanya dugaanya salah, mereka pria yang sangat dewasa. sangat bijak dalam menyikapi masalah mereka.
Bersambung