
Gresia mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Membuat bulu mata lentiknya berayun indah.
Diluar sana, tepatnya diambang pintu balkon bayangan tubuh Akeno yang terkena cahaya keemasan matahari pagi menghipnotis Gresia seketika.
Tak bisa dipungkiri bahwa Akeno sellau terlihat mempesona dalam suasana apapun. Tubuh rampingnya yang dihiasi otot yang terpahat indah benar-benar porsi yang sempurna untuk seorang pria.
Dibalik cahaya keemasan matahari pagi Akeno terlihat seperti dewa Agung. Tiba-tiba Gresia terkenang akan keintiman mereka tadi malam. Bahkan Gresia masih dapat merasakan sentuhan jemari Akeno di sekujur tubuhnya, membuatnya merinding seketika.
"Sudah bangun?" tanya Akeno sembari melangkah mendekat kearah Gresia yang masih diam terpaku di tempatnya.
"Hmm." gumamnya dengan bola mata masih terpatri pada sosok suaminya.
"Cepat mandi. Ayana sedari tadi menelpon mu. "
"Dia bilang apa?"
"Dia bertanya, apa kau tidak masuk kerja hari ini. "
"Aneh, kenapa bertanya begitu."
"Sudah sesiang ini kau masih belum datang. Tentu saja dia bertanya begitu. " timpal Akeno sembari beranjak ke ruang ganti.
"Siang? Memangnya sekarang jam berapa?" Gresia memutar tubuhnya kearah Akeno yang sudah masuk ke ruang ganti.
"Jam sepuluh. " seru Akeno dari ruang ganti.
"Apa! Aiish kenapa tidak membangunkan aku! " seru Gresia panik. Lalu bergegas kekamar mandi sembari menyeret selimut yang membalut tubuhnya.
Sementara Akeno tertawa sinis mendengar kegaduhan yang di buat Gresia saat masuk terburu-buru kedalam kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian Gresia terlihat menuruni tangga dengan tergesa-gesa sembari memasang sepatu di kakinya.
Akeno yang berada di ruang makan menggeleng pelan melihat kelakuan Gresia.
"Duduk yang benar saat memasang sepatu. Lagian kau mau kemana dengan pakaian seperti itu?" tegur Akeno sembari terus mengawasi gerak istrinya.
"Kerja."
"Tidak perlu pergi, Adrian sudah mengurusnya untuk mu. Hari ini kau libur. "
Gresia menatap Akeno bengong. Ayana saja anak pemilik percetakan tak berani bertingkah seenaknya lalu di mau libur?
"Aku sedang magang mana bisa libur seenaknya begini, " ucap Gresia sembari menurununi anak tangga terakhir lalu berjalan di samping Akeno.
Akeno tak menyahut dia menarik tubuh Gresia mendudukkannya tepat di sampingnya.
"Sarapan yang banyak. Kau sudah kehilangan banyak tenaga tadi malam" Ucapnya sembari mengisi piring Gresia dengan menu sarapan pagi.
Mendengar itu wajah Gresia langsung bersemu merah. Bagaimana bisa dia mengatakan itu, bukankah karena ulahnya Gresia kehabisan tenaga. Dia bercinta dengan rakus seperti orang kelaparan dan kehausan.
Setelahnya Gresia dan Akeno sarapan tanpa bersuara. Setelah sarapan Gresia masih ngotot ingin pergi kerja sementara Akeno juga bersikeras melarangnya.
"Tidak usah kerja disana lagi. " ujar Akeno sembari sibuk menatap ponsel di tangannya.
"Lalu mau kerja dimana? Lagi pula aku nyaman kerja disana. " sahut Gresia yang sedang berdiri tegak di depan Akeno.
Akeno mengangkat wajahnya, matanya mengerjab berulang kali membuat bulu matanya yang tebal berayun indah.
"Nyaman?"
"Iya."
"Tentu saja kau merasa nyaman karena ada Barry di sisimu, benarkan?" ucap Akeno dengan mata menyipit.
Kenapa jadi lari ke Barry? Bukannya tadi sedang membahas ijin kerja.
"Kenapa jadi lari ke Barry?"
"Karena pekerjaanmu berhubungan dengan Barry. "
__ADS_1
"Aneh! Bukankah sudah jelas berhubungan kami bekerja di tempat yang sama. "
"Gadis bodoh! Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
"Dia menyukaimu sebagai pria. Apa kau tidak melihatnya. "
"Lihat."
Akeno membukatkan matanya. "Lalu kenapa masih saja menempel padanya? Apa kau merasa masih single?"
Gresia tertawa sinis, Akeno benar-benar tak pandai berkaca. "Lalu apa bedanya denganmu? Sudah punya istri tapi masi dekat dengan banyak wanita!"
"Disini, yang di bahas adalah kamu!" tegas Akeno dengan mimik serius.
"Okay lalu?"
"Behernti bekerja!"
"Aku sedang magang apa kau lupa? Bagaimana aku mendapatkan nilaiku kalau aku tidak kerja. "
"Adrian akan mengurusnya. "
Gresia kehabisan kata. Dia benar-benar dewa yang mampu melakukan apapun tanpa kesusahan.
"Aku tidak mau main curang. Besok aku akan tetap pergi bekerja. " tegas Gresia sembari melangkah pergi.
"Gresia!" seru Akeno dengan suara lantang. Gresia tak perduli dia terus melangkah kekmaarnya tanpa memperdulikan Akeno.
Di kamar Gresia sudah berganti baju dan sedang melakukan panggilan suara dengan Ayana.
"Kau bilang Akeno melarangmu kerja karena Barry?" tanya Ayana di sebrang telpon.
Gresia mendengus kesal. "Hmmm."
"Apa alasannya?"
"Kalaupun iya kenapa dia marah? Jangan bilang dia menyukai kemanaannya sendiri. "
Gresia hanya diam, sebab dia juga tidak tau apa Akeno benar-benar suka padanya atau hanya sekedar melampiaskan naf sunya saat mereka berhubungan.
"Gresia kau masih disana?"
"Iya."
"Apa Akeno tidak bisa di bujuk?"
"Aku belum mencobanya. "
"Cobalah, mungkin dia takut kau terlena oleh masalah asmara di usia muda. Dia ingin kau lebih focus pada study ketimbang maslah cinta. "
"Mungkin saja. Nanti aku akan coba rayu dia. "
"Ya udah aku kerja dulu. Semoga berhasil ngerayu Akeno jangan lupa sampaikan salamku padanya. "
"Iya baiklah. "
Gresia menghela nafas panjang, haruskan dia merayu Akeno?
Sudah pukul sepuluh malam, tapi Akeno belum juga pulang dari kantor. Sementara mata Gresia sudah terasa sangat berat. Kalau tidak sedang ingin membujuk Akeno dia pasti sudah terlelap.
Di antara tidurnya Gresia mendengar seseorang mambuka pintu kamar Akeno. Dia sedang di kamar Akeno saat ini.
Kantuk yang begitu berat membuat Gresia tak bisa menggerakkan tubuhnya bahkan untuk membuka mata sekalipun.
Beberapa menit kemudian Gresia merasakan sentuhan Akeno di belakang tubuhnya. Hanya memeluknya tanpa melakukan apapun padanya dan Gresia pun terlelap hingga pagi. Saat sepasang tangan kokoh tengah menggrayangi tubuhnya. *******-***** benda kenyal di balik baju tidurnya.
"Akeno... " rintihnya saat Akeno menyesap daun telinganya yang sudah bersemu merah.
__ADS_1
"Hmmm." gumam Akeno di tengah cumbuan panasnya. Bibir tipisnya terus saja bergerak liar menyesapi setiap inci kulit tubuh Gresia meninggalkan ruam merah keunguan di area area tersembunyi di tubuh Gresia.
Akeno sudah sangat gairah dan siap menghujamkan miliknya keliang basah milik Gresia.
"No... " cegah Gresia sembari berusaha menarik tubuhnya. Tapi sayang tubuhnya terhimpit kuat dibawah Akeno.
"Ada apa?" tanya Akeno tak sabar. Suaranya terdengar serak.
"Kau harus beri aku ijin, baru kita bisa melakukannya. " sahut Gresia dengan mimik wajah penuh perlawanan.
Akeno terkekeh. Apa dia tidak tau, ekspresi memberontak nya ini sungguh menambah gairah Akeno samakin membuncah. "Kau bernegosiasi dengan ku disaat begini. Berani sekali kau!" serunya sembari menghujam miliknya dengan kasar.
"Ahhh!" lenguh Gresia. Akeno benar-benar menghentak miliknya begitu kuat dan dalam. Mebuat inti tubuhnya tetasa sakit sekaligus nikmat.
"Aku tidak suka Barry dan kau harus menjauh darinya. " ucap Akeno di tengah gerakannya menggempur liang kenikmatan Gresia.
"A-aku tidak mengurusi Barry. Aku hanya ingin bekerja. " balas Gresia dengan nafas terengah. Akeno menghujam nya dengan sangat keras dan dalam membuatnya ingin menjerit oleh rasa nikmat yang di berikan oleh Akeno.
"Bagus. Kalau berani mengurusi Barry, aku akan mencincang tubuhnya dan memberikannya pada anjing liar!" ancamnya sebari menghujam dalam.
"Ahhh..." lagi Gresia melenguh panjang lalu mengigit bibir bawahnya berusaha meredam suara rintihannya.
"Kau benar-benar nikmat sayang, " racau Akeno di tengah hujaman senjatanya. Liang Gresia yang terasa sangat sempit meremas miliknya dengan kuat, membuatnya ingin segera menumpahkan lahar kenikmatan di rahim Gresia.
"Shi t!" umpatnya saat tubuhnya tak mampu lagi menahan.
"Lebih kencang sayang aku sudah ingin keluar... " racau Gresia sembari meremas dada Akeno.
"Lakukan bersama, " titah Akeno sembari mempercepat tempo gerakannya. Terlihat tubuh Gresia semakin menegang, jeritan tertahan keluar dari bibir merahnya bersamaan dengan melehnya cairan hangat didalam sana. Sementara Akeno menikmati getaran indah tubuh Gresia yang sudah mencapai ******* sementara dia belum. Denyut inti tubuh Gresia terasa meremas miliknya yang sudah berada di ujung.
"Ahhh... " rintihan kembali terdengar saat Akeno kembali memompa tubuh Gresia dengan keras dan dalam lalu ikut terkulai di samping Gresia setelah pelepasan.
"Bersihkan tubuh mu baru tidur, " ujar Akeno sembari melirik Gresia yang masih terpejam.
"Malas... " lirihnya tanpa membuka mata.
"Tidak usah mandi, bersihkan bawahnya saja. " bujuk Akeno. Gresia tak menyahut dia masih saja terpejam. Melihat itu Akeno beranjak bangkit lalu membopong tubuh Gresia ke kamar mandi.
"Dingin!" sentak Gresia saat Akeno menyemprotkan shower ke selakangan Gresia.
"Jangan berisik. Cepat bersihkan. " titahnya sembari terus menyirami selakangan Gresia.
Lima menit kemudian keduanya sudah kembali ketempat tidur, karena hari masih sangat pagi.
Akeno sedang mendekap tubuh Gresia, mengusap surai peraknya dengan lembut. "Kau boleh bekerja tapi dengan syarat dariku. " bisik Akeno. Gresia membuka matanya menatap Akeno penuh harap.
"Katakan." Ucapnya tak sabar.
"Jangan menatapnya lebih dari dua detik. Jangan bicara padanya selain masalah pekerjaan. Jagan berdekatan dengannya dengan jarak di bawah satu meter. Jangan memberinya senyum... "
"Apa kau cemburu padanya?" potong Gresia walau bukan itu yang ada di benaknya.
"Iya. Kau harus ingat itu. Menjauhlah dari pria manapun di dunia ini. Kau hanya milikku dan hanya aku yang boleh dekat denganmu!"
Gresia ternganga benarkah Akeno mengucapkan kalimat itu?
"Lalu kau boleh seenaknya menyentuh wanita lain?" entah apa yang ada di benak Gresia hingga dia mengucapkan kata-kata itu.
"Aku sudah mengatakan padamu kau juga harus ingat itu. Hanya kau wanita yang aku sentuh setelah kita menikah. " ujarnya. Lalu melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Gresia.
"Tidurlah aku akan mengantarmu pergi bekerja nanti. "
Gresia mengangguk patuh lalu memejamkan matanya. Tapi dia tak dapat tidur sama sekali, perkataan Akeno mempengaruhi perasaannya. Ada bahagia, haru juga takut menjejali ruang hatinya.
Sementara dengkuran halus terdengar keluar dari bibir tipis Akeno.
Dulu dia selalu bertanya kesalahan apa yang telah di perbuat leluhurnya hingga dia menderita begini. Tapi kini dia bertanya tanya hutang budi apa yang di lakukan leluhur Akeno pada leluhurnya hingga dia menerima banyak kebaikan dari Akeno.
Yang pasti ini sudah garis Tuhan yang harus dia jalani. Kadang mulus tanpa hambatan tapi tak jarang berbatu dan penuh lubang. Apa pun itu Gresia menerimanya dengan ikhlas.
__ADS_1
Hay readers emak yang udah mampir mohon kasih dukungannya ya🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰