
empat tahun berlalu kini usia Faiz sudah tiga tahun dan mulai banyak berbicara menanyakan segala hal yang di lihatnya dan apapun yang di dapatnya bahkan dia lebih pandai saat berbicara menggunakan bahasa daerah banjar Kalimantan Selatan, paman dan bibi Mita sering mengajarkan pada Faiz bahasa dan beberapa kesenian daerah Banjar.
walaupun tidak tinggal di kota besar seperti Jakarta lagi Mita masih sering mendengar kabar dari daerah tempatnya tinggal, hingga kabar pernikahan Bimo dengan Via yang baru saja dilaksanakan secara sederhana tanpa ada pesta, menurut kabar itu merupakan keinginan keduanya.
.
.
.
setelah enam tahun berada di Kalimantan Mita akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta menerima tawaran ayah dan kakaknya untuk membantu mengelola perusahaan dan untuk usahanya di Kalimantan di titipkan pada paman dan bibi nya juga Ana, dia hanya memantau dari jauh.
setibanya di Jakarta Mita di sambut antusias oleh keluarganya dan tak tertinggal Wahyu yang selalu ikut bergabung bersama.
" kakek.... nenek.... " tariak Faiz sambil berlari kearah kakeknya yang sudah merentangkan kedua tangannya.
setelah berbincang-bincang dan bertukar cerita, mereka semua memutuskan untuk beristirhat.
.
.
Bimo terdiam dengan pandangan kosong yang mengarah ke pintu ruangannya, setelah mendapat informasi dari anak buahnya jika Mita telah kembali ke kota besar ini bersama seorang anak laki-laki, Bimo kemudian beranjak dari duduknya, berjalan menuju ruangan Wahyu.
setelah masuk kedalam ruangan Wahyu, Bimo menatap Wahyu tajam seakan meminta penjelasan yang tak di hiraukan oleh Wahyu.
" kenapa lo rahasiakan dari gue kemana Mita pergi selama ini ?" tanya Bimo, Wahyu hanya melirik kilas pada Bimo
" yu jawab gue" bentak Bimo
" emang apa yang mau lo lakuin kalo lo tau ? lo mau nyakitin dia lagi, atau lo mau ngerebut anaknya " ucap sinis Wahyu membuat Bimo menggeram kesal
" gue punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah gue " sahut Bimo yang kemudian keluar dari ruangan Wahyu.
.
.
Mita mulai bekerja di perusahaan ayahnya sebagai sekretaris abangnya untuk membantu abangnya karna sang ayah berkata sudah ingin istirahat dan bermain dengan cucunya.
hari pertama Mita bekerja sudah banyak menyita waktunya karna pekerjaan yang sangat menumpuk hingga seseorang membuatnya kesal.
" mba ... mbaa , mau kemana kok main nyelonong aja " ucap Mita mencegah seorang wanita yang akan masuk ke ruangan kakaknya.
" lo gak tau siapa gue, orang baru lo " sahut perempuan itu
" emang siapa ? perlu banget gitu aku tau kamu " sinis Mita
" eeh sopan dong kalo ngomong, gue ini kekasih Alif Danish Arion , tuh supaya kamu tau, nama gue Mery " jelas si Mery dengan gaya sombongnya, Mita mencebikkan bibirnya.
masa iya pacar abang model beginian, udah make up nya tebel banget, sombong lagi. batin Mita
" tapi pak Alifnya lagi rapat mba " ucap Mita
" mba tunggu di sana aja ya " sambung Mita dan menunjuk ruang tunggu
" berani banget lo ngelarang-larang gue, mau gue tampar lo, udah minggir lo " bentak Mery
" gak bisa, kamu tu ya kalo mau jadi tamu yang sopan, pakai tuh tata krama kamu " ucap Mita yang sudah mulai terpancing emosi
Plaaakk...
" sssttt" desis Mita saat merasakan pipinya panas akibat tamparan Mery
" rasain, mangkanya jadi orang baru jangan banyak tingkah " ucap Mery
__ADS_1
" siapa yang banyak tingkah " ucap seseorang dengan suara baritonnya dan menghampiri kedua wanita yang sedang berdebat.
Mery langsung melangkahkan kakinya dan bergelayut manja di lengan kekar Alif yang baru saja datang setelah menyelesaikan rapat bersama Yoga yang kini juga menjadi asistennya.
" sayang, tuh coba kamu liat karyawan kamu itu gak sopan, masa dia larang aku masuk ke ruangan kamu, tapi aku udah kasih dia pelajaran kok " adu Mery pada Alif, Alif menatap adiknya yang mencebikkan bibirnya ke arahnya
" apa yang kamu lakukan sama dia ?" tanya Alif pada Mery
" aku menamparnya, sebagai peringatan untuknya " sahut santai Mery, Alif melepaskan tangan Mery dan mendorong Mery ke pinggir lalu berjalan menghampiri Mita
" sakit " ucap Alif dan mengusap pipi adiknya yang di angguki oleh Mita
" sayang kamu kok malah belain dia sih " bentak Mery
PLAK
sebuah tamparan singgah di pipi Mery yang di lakukan oleh Alif membuat Mita dan Yoga tercengan melihat apa yang di lakukan oleh Alif
" kok kamu nampar aku, aku ini kekasih kamu Lif " ucap Mery
" sudah berapa kali aku bilang aku gak minat sama kamu, dan asal kamu tau perempuan yang kamu tampar itu, adalah hidup ku, jika kamu berani menyakitinya lagi maka aku sendiri yang akan membalas dengan hal yang sama, Ingat baik-baik " ucap Alif dengan nada dingin dan tatapan tajamnya.
" seberapa bagusnya perempuan itu dari aku sih Lif, kenapa kamu milih dia dari pada aku, dia hanya wanita rendahan " teriak Mita
" Yoga " ucap Alif yang langsung di mengerti oleh Yoga dan dengan cepat Yoga membawa Mery yang masih berteriak membuat keributan untuk keluar dari perusahaan.
.
.
.
sebulan sudah Mita tinggal di Jakarta, Faiz juga sudah bersekolah di taman kanak-kanak, dan karna hari ini merupakan hari minggu Mita mengajak Faiz untuk ikut berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka.
ibu dan anak itu sangat antusian memilih bahan-bahan makanan yang mereka inginkan, yang ada di supermarket.
" tentu sayang " jawab Mita
" mami Faiz lapar, mau ayam goreng " pinta Fiaz
" yuk kita bayar dan kita makan siang " ajak Mita
setelah membayar semua belanjaannya Mita mengajak Faiz untuk keluar dari supermarket, dengan saling bergandengan tangan, mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil tanpa sadar seseorang sejak tadi mengikuti mereka.
" Mita " panggil orang yang sejak tadi mengikutinya, Mitapun menolehkan kepalanya mencari sumber suara
Deg....deg....
jantung Mita berdetak lebih cepat, dengan spontan dia menarik Faiz agar berada di belakang tubuhnya untuk melindungi Faiz dan terus menatap pria di hadapanya.
" kak Bimo " ucap Mita
" apa kabar mu ?" tanya Bimo
" sangat baik, permisi " ucap Mita dan menyuruh Faiz untuk masuk kedalam mobil, lalu Mitapun berjalan cepat untuk masuk kedalam mobil juga, tetapi Bimo lebih cepat menarik pergelangan tangan Mita.
" tolong lepas " ucap Mita dengan wajah datarnya.
" kita perlu bicara, kasih aku waktu " pinta Bimo
" gak ada kak, semuanya sudah selesai, perjodohan itu juga sudah batal, jdi aku gak ada urusan apa-apa lagi sama kakak " jelas Mita dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bimo.
" ikut aku atau aku paksa kamu !" ucap Bimo
" dasar pemaksa, tidak pernah berubah " gerutu Mita
__ADS_1
" ya udah, aku sekalian mau makan, ikutin aku aja " sambung Mita.
di dalam mobil, pikiran Mita mulai berlari kesana kemari, dia takut jika Bimo akan merebut anaknya, tetapi dia juga bahagia akhirnya Faiz bisa bertemu ayahnya, hingga mereka sampai di salah satu rumah makan yang menyediakan tempat untuk lesehan.
kini Mita, Bimo dan Faiz duduk di salah satu meja dan sudah memesan makanan mereka, Bimo terfokus menatap Faiz dan sesekali menatap Mita yang sejak tadi hanya diam.
Faiz yang merasa terus di perhatikan sejak tadi akhirnya bertanya pada Mita tentang Bimo.
" mi, mami om itu siapa ? apa teman mami ?" tanya Faiz
" dia dulu pimpinan mami saat mami kerja, dan dia ..." ucapan Mita menggantung menatap Bimo, apa Bimo mau mengakui anaknya juga jika dia mengatakan bahwa Faiz anaknya?, Mita tak berani berharap lebih dia hanya ingin Faiz mengenal Bimo dan tau jika Bimo adalah ayahnya.
sedangkan Bimo juga berpikir akankah Mita mau memberitahukan siapa dia sebenarnya?, apakah Faiz mau menerimanya menjadi ayahnya? mungkin terdengar sangat gak tahu malu jika Bimo berharap Mita mau memaafkannya dan membiarkannya menerima pengakuan dari Faiz?.
" dan apa mi ?" tanya Faiz lagi yang memperhatikan dua orang tua di dekatnya.
" makanannya sudah datang kita makan dulu yu, tadi Faiz laparkan, nanti mami cerita sama Faiz ya " ucap Mita
" iya mi " jawab Faiz yang kemudian menatap Bimo tak suka, dia curiga jika pria di hadapanya memiliki kesalahan pada maminya.
kecerdasan Faiz bisa di katakan lebih dari anak-anak pada usianya dan dia sedikit sensitif, serta sangat menyayangi mami nya, mungkin kecerdasan ayahnya dan maminya menurun padanya hingga membuatnya mudah memahami situasi.
mereka bertiga makan dengan sesekali Mita yang menyuapi anaknya dan Bimo yang memperhatikanpun ikut tersenyum, jika di lihat mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
setelah selesai makan, Faiz kembali menanyakan siapa Bimo pada maminya.
" mami, sekarang kasih tau Faiz siapa om itu ? " tunjuk Faiz dengan jari kecilnya
" Faiz sayang mami ?" tanya Mita dan Faiz mengangguk
" Faiz janji gak akan ninggalin mami ?" kembali anggukan Faiz berikan sebagai jawaban
" Faiz sering tanya tentang papi Faiz kan ?" Faiz mengangguk
" om di depan Faiz sekarang ayah kandung Faiz " ucap Mita dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan Bimo yang terkejut mendengar ucapa Mita, menatap Mita dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa bahagian, kecewa, takut dan sedih di hatinya menatap wanita di hadapanya, dan anak laki-laki yang justru menatapnya tajam.
Faiz berdiri dari duduknya dan memeluk mami nya, saat dilihatnya Mita yang mulai menangis dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.
" maafkan Faiz mi, Faiz gak tau bakal bikin mami nangis karna Faiz menanyakan keberadaan papi, Faiz gak mau mami nangis, maafkan Faiz mi " ucap Faiz yang merasa bersalah pada Mita
" enggak sayang Faiz gak salah, Faiz berhak tau siapa papi Faiz, mami juga gak boleh terus menutupinya nak, maaf kan mami yang baru bisa mengatakan pada Faiz " ucap Mita
" kak Bimo, maaf jika aku mengatakan hal sejujurnya pada Faiz, jika kakak tidak suka maafkan aku tapi Faiz perlu tau siapa papinya, tolong jangan marah " ujar Mita menatap Bimo
" maafkan aku Mit, seharusnya aku cukup tau malu untuk menemui kalian, Terimakasih kamu masih mau memperkenalkan aku sebagai papinya Faiz, aku bahagia Mit jika Faiz dan kamu mau menerima ku di kehidupan kalian" ucap tulus Bimo
" Faiz boleh papi peluk kamu ?" tanya Bimo
" gak mau " jawab Fais
" Faiz gak boleh gitu sayang, ayo salim dan peluk papi " perintah Mita, dengan malas Faiz pun melakukan apa yang di minta Mita.
Bimo langsung memeluk tubuh kecil di hadapanya dengan erat, tanpa dia sadari air mata mengalir di wajahnya, tangis bahagia dan rasa lega yang terdapat dihatinya.
" Terimakasih sudah mau menerima Faiz, tapi tolong jangan ambil dia dari aku, aku cuma punya dia kak, aku gak akan larang kapanpun kakak mau ketemu faiz tapi jangan ambil dia dari aku, biar aku yang merawatnya " pinta Mita
" aku gak akan melakukan itu, justru aku sangat berterimakasih kamu izinin aku bertemu dan memeluk Faiz seperti ini, aku benar-benar bersalah sama kalian Mit " ucap Bimo tulus
" ini udah mau sore, aku pulang dulu, lain kali kalian bisa ketemu lagi" ucap Mita
" Terimakasih Mit, Faiz kita bertemu lagi nanti ya nak " ucap Bimo yang hanya di angguki oleh Faiz dan dengan cepat dia menarik Mita untuk segera pergi dari hadapan Bimo.
*M*ita aku janji bakal menebus semua kesalahan ku, terimakasih karna kamu mempertahankan, merawat dan menjaganya, Faiz papi janji akan jaga kalian, terimakasih mau menerima papi. batin Bimo.
********************
__ADS_1
terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini jangan lupa like, komen dan vote ya, karna dukungan kalian adalah semangat ku untuk terus menulis.❤