
setelah melakukan rutinitas perawatan malam sebelum tidur, Mita membaringkan tubuhnya di kasur empuk dan memeluk boneka doraemon kesayangan nya, sudah hampir dua jam lamanya Mita belum juga bisa tertidur, perasaannya gelisah sejak sore tadi entah ada hal apa yang mengusiknya hingga membuatnya susah memejamkan matanya, hingga jam dua belas malam akhirnya Mita mulai terlelap tanpa di sadarinya.
ting ... tong... 3x
Mita yang sudah benar-benar berada di alam mimpinya sama sekali tak mendengar suara bel rumahnya.
CKLEK......
suara pintu terbuka, masih dengan wajah mengantuknya terpaksa bi Tini membukakan pintu, guna melihat dan ingin segera mengetahui tujuan si tamu tengah malam.
" maaf tuan cari siapa ya ?" tanya bi Tini
" Mita ?" tanya nya
" ada tetapi nona sedang istirahat tuan, tuan bisa kembali besok pagi" ucap bi Tini,
suara bel yang beruntun ternyata tetap membangunkan Mita, dengan kesal dia berjalan keluar kamar ingin memarahi orang yang mengganggu tidurnya, yang baru saja di dapatkannya setelah beberapa jam.
" siapa bi ?" tanya Mita dengan suara serak khas bangun tidur, rambut acak-acakan yang justru membuatnya terlihat imut dan lucu.
" bibi gak tau non, tapi dia menca----" ucapan bi Tini terputus saat pria yang baru saja membuat ketenangan tidur Mita kacau menerobos masuk kedalam.
" enak- enakan tidur ya kamu " ucap pria itu
Mita mengucek matanya memperjelas penglihatanya menatap pria yang kini berdiri di hadapannya dengan gaya angkuhnya.
" BIMO, KAK BIMO " ucap Mita terkejut menambah kesadaranya menjadi full
" KAGET " ucap Bimo dengan meninggikan suaranya
" ya ... iya kan ini jam berapa masih jam dua pagi kak, ada apa, gak mungkin karena ada pekerjaankan ?" tanya Mita, Bimo yang sejak tadi menahan emosinya langsung menarik tangan Mita dan menyeretnya keluar dari rumah.
" kak, apa-apaansih?, lepasin!, ada apa?, kak Bimo? " ucap Mita dengan suara cukup keras
" non, non Mita kenapa non ?" tanya bi Tini yang mulai panik melihat nona nya di tarik paksa oleh Bimo
" kak, lepasin, KAK BIMOOOO " teriak Mita sambil berusaha menahan langkahnya agar tidak terus terseret oleh tarikan Bimo.
" DIAM " bentak Bimo, membuat Mita bungkam seketika dan menambah rasa takut dihatinya
" bilang sama pembantu kamu, kamu pergi sama aku " sambung Bimo memberi perintah pada Mita
" bi, Mita keluar dulu ada urusan yang harus Mita selesaikan, bibi istirhat aja nanti Mita hubungin bibi " ucap Mita
" tapi non, non Mita kenapa ?" tanya bi Tini
" Mita gak papa bi, nanti Mita hubungi bibi " ucap Mita setengah berteriak karna sudah kembali ditarik oleh Bimo.
Bimo mendorong Mita masuk kedalam mobil, dengan cepat diapun ikut masuk kedalam mobil, menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
" kak Bimo, mau bawa aku kemana? jangan ngebut aku takut, " ucap Mita yang tak di perdulikan oleh Bimo, hingga beberapa kali Mita bertanya Bimo tetap diam, membuat Mita harus menyerah dengan usahanya.
mobil sudah berhenti tepat di area parkir apartemen milik Bimo, Mita yang masih bingung ingin menanyakan apa tujuan Bimo membawanya kemari, di urungkanya saat melihat Bimo menatapnya tajam.
Bimo turun dari mobilnya dan memutari mobil membuka pintu kembali menarik tangan Mita untuk segera mengikuti langkahnya, dengan tergesa-gesa Mita menyeimbangkan langkahnya dengan Bimo cukup membuatnya ngos-ngosan karna tubuhnya yang hanya memiliki tinggi 158 cm tidak dapat memiliki langkah lebar seperti Bimo yang tingginya 180 cm dengan langkah lebarnya.
Bimo maupun Mita sudah berada di dalam sebuah kamar dengan dekorasi warna putih dan hitam yang mendominan, Mita mulai merasa gelisah dan tidak tenang dia bingung dengan situasi yang di hadapinya sekarang.
" kenapa membawa aku kesini? " tanya Mita, Bimo masih tidak memberi jawaban pada Mita, justru dia memperlihatkan seringaian jahatnya, Mita yang melihat itu merasa ngeri dan semakin takut, Bimo berjalan mendekat kepada Mita, membuat Mita harus berjalan mundur, tanpa disadarinya dia sudah terpojok di sudut ruangan kamar Bimo.
" aku mau pulang, kalo ada masalah bisa kita bicarakan besok kak " ucap Mita berusaha menahan dirinya yang sudah mulai merasa takut, Bimo menarik Mita dan menghempaskannya di ranjang miliknya.
Brruuukkk...
" iiiisshh " keluh Mita, dan mencoba beranjak dari ranjang Bimo
__ADS_1
" BUKA BAJU MU " perintah Bimo dengan suara nyaring
" Apa !? " sahut Mita yang terkejut dengan perintah Bimo
" buka atau aku yang merobeknya " Bimo mendekat ke Mita, Mita memundurkan dirinya hingga berhenti di kepala ranjang, menatap Bimo yang terlihat seperti singa lapar dengan wajah yang sudah memerah entah karena apa.
" apa yang mau kakak lakukan, jangan bercanda seperti ini" ucap Mita dengan takut, dirasakan jika tubuhnya mulai gemetar menahan kegugupan akibat jantungnya berdetag sangat cepat.
" bukankah kamu bilang setuju untuk menikah dengan ku, maka sekarang layani aku, seperti kamu melayani pria-pria mu, wanita murahan " ucap Bimo menyeringai remeh, teringat Wahyu yang baru keluar dari rumah Mita ketika hari sudah malam, Bimo sangat tau dan mengenal bagaimana Wahyu pada perempuan tak berbeda dengan dirinya.
" enggak kita bahakan belum menikah kak, aku gak mau " ucap Mita dengan berusaha mendorong Bimo yang semakin menghimpitnya, tanga kecil itu sama sekali tak membuat tubuh Bimo bergeser.
" nanti ataupun sekarang sama saja " sahut Bimo
" JANGAAAAAAAAAANNN......" teriak Mita saat Bimo sudah berhasil merobek piyam Mita dan terlepas dari tubuhnya. Mita berusaha menutupi dirinya dengan bantal yang ada di dekatnya, dan meraih apa saja untuk di lemparkan kearah Bimo.
" PERGIIIIIIIIIIII, JANGAN DEKAT " teriak Mita yang sudah mulai menangis karna ketakutan, Bimo menarik kaki Mita hingga membuat Mita telentang diatas kasur, Bimo melihat tubuh indah di hadapannya seakan sudah gelap mata tak lagi memperdulikan teriakan-teriakan dan perlawanan yang di lakukan oleh Mita, karna hal itu sama sekali tak membuatnya berpengaruh untuk menerkam tubuh mungil di hadapannya.
Bimo menggigit dan mengecup hampir seluruh tubuh Mita dengan kasar hingga meninggalkan banyak tanda
merah keunguan pada tubuh Mita
" AAArrrrrrrrrgggggggggggghhhhhh" teriak Mita. " sa - kiiit " ucap nya dengan suara tertahan, air mata terus keluar semakin deras menemani awal penderitaannya, tatapan kosong yang mengarah kelangit-langit kamar Bimo dengan tubuhnya yang sudah lemah membuatnya harus menerima apa yang dilakukan Bimo padanya.
Bimo melebarkan matanya saat mendapati jika Mita memang masih murni, entah ada rasa bangga kemudian di hatinya, mendapatkan hak yang seharusnya memang akan menjadi miliknya atau bukan, Bimo menatap wajah Mita memucat menahan rasa sakit dengan isakan tangis yang nyaring, walau begitu ternyata tak menghentikan Bimo dari perbuatan breng*** nya, dia justru terus menikmati apa yang di lakukanya pada tubuh gadis yang ada di bawahnya.
.
.
.
kesokan paginya Mita terbangun dengan wajah sembab dan pucat, rambut berantakan, bibir yang pecah karna gigitan Bimo dan tubuhnya yang seakan hancur tak bertulang.
Mita berulang kali berusaha menenangkan dirinya sebelum dia berusaha untuk turun dari ranjang, tetapi sayang belum sempat dia melangkah Mita terjatuh kelantai akibat rasa sakit dan perih di area sensitifnya.
" berhenti menangis di situ, lebih baik bersihkan dirimu, atau kamu masih ingin mengulangi yang semalam?" ujar Bimo tanpa malu.
Bimo menatap Mita yang bergerak pelan dengan sesekali mengusap air matanya, Bimo semakin lekat menatap wajah pucat gadis di hadapanya, dan tubuh yang hanya berbalut selimut, " bagaimana apa kamu suka permainan ku semalam?, aku cukup ahlikan melakukannya untuk pengalaman pertama mu ? apa kamu puas ? " tanya Bimo dengan bangga akan perbuatanya, hal itu memang bukan sesuatu yang baru bagi Bimo, karna bagi seorang yang memiliki uang seperti bimo, wanita akan dengan mudah mendekat dan menyerahkan dirinya sendiri tanpa diminta.
dengan mata yang masih mengalirkan air mata Mita menatap Bimo yang berada di hadapannya. " keterlaluan, kamu keterlaluan,keterlaluan, hiks. ..hiksss.hhiksss" teriak Mita dalam isak tangisnya.
Bimo menyeringai " aku sudah bilangkan, jangan membuatku marah, atau melawanku, maka nikmatilah hukumanmu" ujar Bimo, Mita menggelengkan kepalanya berusaha menenangkan dirinya, sedangkan Bimo sudah kembali mendekatinya hasrat lelakinya kembali menginginkan Mita.
" kkyyyaaaaaaaaaaa" teriak Mita saat mendapati tubuhnya yang tiba-tiba melayang, Bimo kembali melemparkan Mita keranjang dan menindihnya mengulang apa yang di lakukanyanya semalam.
"BERHENTI, JANGAN LAKUKAN LAGI AKU MOHON" teriak Mita namun Bimo benar-benar menulikan telinganya.
setelah puas melakukanya lagi, Bimo membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk pergi bekerja, Bimo memandang wajah gadis yang sudah menjadi wanita, sangat kelelahan hingga terlihat lebih pucat dari sebelumnya, masih belum sadar dan tertidur di kamarnya, dengan seringai puas dia berjalan keluar apartemennya, meninggalkan Mita disana.
Bimo POV
( sebelum Bimo mendatangi rumah Mita )
Bimo yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya, mendapat panggilan telfon dari papahnya. " iya pah " jawab Bimo
" Bim, papah cuma mau ngasih tau kamu, pernikahan kamu dengan Mita sekitar 3 bulan lagi tepatnya di bulan juni, nanti tanggalnya kita tentukan bersama dengan om Hendra " ucap Ryan
" pah Bimo sudah bilangkan Bimo gak mau di jodohkan " sahut Bimo
" ini semua sudah ditentukan dan kamu hanya tinggal menjalaninya saja, jangan berbuat semaumu, ini semua papah atur " ujar Ryan
" tapi pah Bim----" belum sempat Bimo melanjutkan ucapannya panggilan telfon sudah di putus secara sepihak oleh Ryan.
Bimo melempar ponselnya hingga pecah, dan mengepalkan tangannya, menahan emosi dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
Bimo keluar dari ruangan dan menuju parkiran mobil, disana dilihatnya Mita yang sedang asik bercanda dengan Wahyu, kemudian mobil mereka melaju, Bimo terus mengikuti hingga mobil singgah di sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Mita, Bimo tetap berada di sekitar rumah Mita memperhatikan setiap kali ada pergerakan di sana, hingga Wahyu yang pulang malam dari rumah Mita.
" perempuan seperti ini yang papah katakan baik, cih " gumam Bimo, " lihat saja kejutan apa yang akan aku berikan untuk mu Mita, " sambungnya lagi, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mita.
.
.
.
saat Mita tersadar dari tidur atau pingsan, dilirikanya jam dinding yang ada di dalam kamar Bimo menunjuk ke angka dua siang, Mita membangunkan dirinya, turun dari ranjang dengan gemetar, dia tak memperdulikan rasa sakit yang ada diseluruh tubuhnya karna hatinya jauh lebih hancur dari tubuhnya sekarang.
Mita mencari apa saja yang dapat digunakannya untuk menutupi tubuhnya, hingga dia menemukan hoodie yang cukup besar di dalam lemari, dengan segera Mita menggunakan hoodie yang dapat menutup tubuhnya hingga setengah pahanya, Mita dengan cepat meninggalkan apartemen Bimo, setelah berada di luar gedung apartemen Mita mencari taksi, tak butuh waktu lama dia sudah mendapatkan taksi.
" pak ke alamat ......" ucap Mita
" baik non " jawab supir taksi
sesampainya di rumahnya Mita meminta supir taksi untuk menunggu uang ongkos yang akan di ambilnya di dalam rumah.
" biiiiii , bii Tiniiii " panggil Mita
" non Mita " kaget bi Tini melihat keadaan nona nya yang cukup kacau dengan wajah sembab dan berjalan pelan tertatih.
" bi tolong bayarin taksi di depan ya bi, cepetan ya bi kasian bapaknya nunggu " pinta Mita lalu meninggalkan bi tini begitu saja untuk masuk ke dalam kamarnya.
" ada apa dengan non Mita ya ?" bi Tini bertanya pada dirinya sendiri, kemudian keluar rumah untuk membayar taksi.
Mita yang sudah berada di dalam kamarnya langsung masuk kedalam kamar mandi, membersihkan dirinya.
"menjijikan, semua ini menjijikan hiks...hikss... ," Mita menggosok kasar seluruh tubuhnya apalagi di bagian tubuh yang terdapat tanda dari Bimo.
"AAAAAKKKKKHHHHHH.........Hikss....hhikkk......" tangisan yang memilukan daris orang yang baru saja akan memulai kehancuran di hidup nya.
lebih dari dua jam lamanya Mita berada di dalam kamar mandi hingga dia menyudahinya, mengganti pakaian dengan setelan piyama dan membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya, Mita kembali menangisi keadaanya yang sudah hancur, hanya itu yang bisa di lakukan sekarang menangis sebagai pelampiasan kebodohanya yang tak bisa menjaga dirinya sendiri.
.
.
Alif masuk kedalam kamar adiknya dilihatnya adiknya yang sedang tertidur, di perhatikan wajah adiknya yang sembab bahkan masih ada air mata di ujung matanya, Alif mencoba membangunkan adiknya, saat dia menyentuh kening adiknya terasa sangat panas, hingga membuatnya terkejut.
" ya Tuhan Mita, badan panas banget gini, untung aja bi Tini nelfon abang" ucap nya, Alif membenarkan posisi tidur adiknya dari posisi miring menjadi telentang, kemudian dia keluar kamar mengambil air hangat kuku dan handuk kecil untuk mengompres adiknya.
" bi, bi Tini " panggil Alif
" iya den, ada apa ?" tanya bi Tini
" panggil dokter ya, minta kesini" perintah Alif kemudian kembali kekamar adiknya, dengan telaten Alif merawat adiknya hingga akhirnya dokter datang dan memeriksa keadaan Mita
" bagaimana dok ?" tanya Alif
" adik anda mengalami syok dan tekanan yang sangat besar hingga membuatnya demam, dan sepertinya telah terjadi sesuatu pada adik anda" ucap dokter Feri
" terjadi sesuatu apa maksud dokter ?" tanya Alif bingung
" untuk memastikannya lebih baik bawa adik anda kerumah sakit agar dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh " ucap dokter
" baiklah dok, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk datang kemari, dan saya minta tolong jangan beritahukan dulu ini pada ayah, biar saya saja " pinta Alif
" baiklah, kalo begitu saya permisi, semoga nona Mita lekas sembuh " ucap dokter yang kemudian meninggalkan rumah Mita.
Alif terus terjaga sepanjang malam untuk menjaga adiknya, setelah sempat membangunkan adiknya untuk meminum obat dari dokter dan kembali tertidur.
********************"
__ADS_1
Trimakasih temen-temen pembaca jangan lupa dukunganya like, komen dan vote. 😘