
Mita berjalan keluar dari toko roti yang baru saja dua bulan yang lalu di bukannya, saat Bimo memintanya bekerja di tempatnya untuk menjadi sekretarisnya dan mengatakan jika keputusan sudah di setujui oleh ayahnya, Mita lebih memilih untuk tidak bekerja di perusahaan, salah satu alasan Mita tetap ingin bekerja adalah untuk menghindari Bimo, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka usahanya sendiri dan rutin untuk langsung datang ke toko miliknya.
Tin..tin...tin...
suara klakson mobil membuyarkan lamunannya yang sedang berdiri di depan toko rotinya, membuatnya kesal setelah melihat orang yang berada di dalam mobil dengan santainya memamerkan cengerinnya dan turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Mita.
" kamu suka banget sih Yu bikin kaget aku " ujar Mita
" hehee pulang bareng aku yu " ajak Yahyu
" tapi aku mau ke supermarket dulu, mau belanja keperluan Faiz yang habis, kamu pulang aja " jawab Mita
" ya udah gak apapa, sekalian aku temeni belanja tapi nanti masakin aku ya " pinta Wahyu
" aku capek Yu, kalo kamu mau nemeni belanja sih ayo, kalo minta masakin gak mau " jawab Mita
" yaah padahal udah lama banget gak ngerasain makanan yang di masak sama kamu " ujar Wahyu dengan wajah yang di buat-buat cemberut
" udah lah, jadi mau anterin gak nih ?" tanya Mita
" ya udah ayo masuk, kita belanja sekarang " ajak Wahyu
Mita dan Wahyu sudah sampai di salah satu supermarket. mereka berdua berkeliling mencari segala kebutuhan sehari-hari dan beberapa kebutuhan untuk Faiz. Setelah selesai berbelanja dan membayar Wahyu mengantar Mita untuk pulang, sesampainya di rumah Wahyu juga membantu Mita membawa beberapa barang belanjaan yang di beli tadi hingga sampai ke dapur, Wahyu juga membantu Mita menyusun beberapa bahan makanan kedalam kulkas.
" Mit, masakin ya? kangen tau sama ayam balado buatan kamu " ujar Wahyu
Mita tersenyum mendengar rengekan Wahyu sejak tadi " iya aku masakin, tapi aku bersih-bersih dulu, kamu mau nunggu ?" tanya Mita dan dengan cepat Wahyu mengangguk dan mereka tertawa bersama.
" EEHHEMMMM ...." suara deheman dari arah belakang mereka yang juga melemparkan tatapan tajam pada Mita dan Wahyu, Mita merubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan begitu pula dengan Wahyu yang menjadi malas, saat melihat Bimo yang berjalan semakin mendekat kearah mereka.
" apa yang kalian lakukan ?" tanya Bimo
" gak ngapa-ngapain " jawab Mita
" Yu aku kekamar dulu, kalo kamu masih mau aku masakin tunggu aja, aku gak lama kok " ucap Mita pada Wahyu dengan senyum manisnya
" ya udah aku tungguin, sambil main sama Faiz " jawab Wahyu dengan lembut, Mita mengangguk dan berlalu meninggalkan Wahyu dan Bimo yang masih ada di dapur, tanpa mengucapkan kata pada Bimo, yang membuatnya Bimo semakin kesal.
" apa begitu menyenangkan mendekati istri orang lain ? " sindir Bimo
" cemburu ? tapi sepertinya Mita lebih nyaman sama aku ! " sahut Wahyu
" ck, bagaimanapun kenyataannya Mita istri ku, jadi jaga jarak kamu sama dia " tegas Bimo sambil melipat kedua tangannya didada
" gak perlu memperingati aku, seharusnya kamu yang sadar diri " ucap Wahyu dengan senyum tipis dan berjalan meninggalkan Bimo.
" Faiizz " panggil Wahyu saat melihat Faiz berjalan menuruni anak tangga bersama Via.
" Papaaaaa..." sahut Faiz dan langsung berlari ke arah Wahyu, dan Faiz sudah dalam gendongan Wahyu.
" apa Faiz lupa yang papa katakan sayang ? " tanya Wahyu
" maaf pa, Faiz kangen sama papa jadi Faiz lari " jawab Faiz
" oke kali ini papa maafkan, tapi cium papa dulu " pinta Wahyu, Faiz dengan segera memberikan kecupan pada pipi Wahyu hingga berulang-ulang karna permintaan Wahyu yang di akhiri dengan tawa keduanya.
" pa kita main yu ?" ajak Faiz
" siap pangeran " sahut Wahyu
" mamah Via mau ikut ?" tanya Faiz pada Via yang sejak tadi diam dengan posisi berdiri tidak jauh dari Faiz dan Wahyu.
" eh .. emm karna Faiz sudah sama papa Wahyu, mamah mau temani oma saja di taman belakang merawat bunga " jawab Via dengan sedikit canggung karna sejak awal Wahyu selalu menatapnya tajam.
__ADS_1
" iya mah " jawab Faiz
" papa tungguin mami ? tadi mami bilang mau masak untuk papa dan mami minta tolong Faiz untuk temani papa main, papa lapar nanti gak kuat main sama Faiz ? tanya Faiz dengan suaranya yang lucu.
Wahyu tersenyum mendengar setiap ucapan Faiz " papakan kuat sayang, kalo hanya menemani Faiz bermain papa masih sanggup, ayo sekarang Faiz mau main apa ? " tanya Wahyu
Wahyu dan Faiz sudah duduk di atas karpet yang memang di sediakan untuk tempat Faiz bermain " papi" panggil Faiz saat melihat Bimo berjalan ke arah mereka
" iya sayang, apa papi boleh ikut bermain ?" tanya Bimo yang langsung di setujui oleh Faiz.
Bimo, Wahyu dan Faiz sedang asik bermain tanpa sadar jika Mita sudah berada di dapur dengan kesibukanya yang sedang memasak, dan tak lama Via pun ikut bergabung untuk membantu.
" Mita masak apa ?" tanya Via
" ayam balado " jawab Mita
" aku bantuin ya ?" tawar Via
" aku sudah hampir selesai kak " tolak Mita secara halus
" Mit, aku kangen dengan keakraban kita dulu, aku kangen saat kamu bercerita tentang berbagai macam hal, aku juga kangen saat kamu manja sama aku, apa aku kembali keterlaluan jika aku meminta kamu bisa akrab lagi sama aku seperti dulu Mit ?" tanya Via dengan penuh harap.
Mita menatap Via sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya menyiapkan masakanya yang sudah jadi dan menatanya di meja makan dan kembali kedapur
" apa kakak tidak malu berharap seperti itu ? dan tolong berhentilah mendorong kak Bimo kepadaku, itu hanya akan semakin membuat aku membenci kalian, seharusnya sudah cukup dengan aku tidak membatasi untuk bersama Faiz " ucap Mita.
" Mita aku hanya ingin kalian bisa lebih dekat, aku tahu bagaimana hubungan kalian sebelumnya, aku ingin kamu bisa menerima Bimo, aku tahu kamu kecewa Mit, tapi tidak bisakah kamu mencobanya Mit ?" tanya Via dengan tatapan sayu pada Mita.
" kak kamu gak tahu apa yang aku rasakan, apa yang aku alami dan semuanya hanya bisa aku tahan, tanpa mengerti alasan jelas dari kalian semua, apa aku perlu mengatakan semuanya sama kakak? tentang bagaimana perasaan ku ? " tanya Mita dengan tatapan mata yang tak lepas dari Via.
" maafkan aku Mit, aku berharap kamu bisa menerima kami, agar kita semua bisa bersama dalam keadaan bahagia " ucap Via
Mita tersenyum kecut saat mendengar kata bahagia yang dengan mudah terlontar dari Via " Bahagia ?, aku bahkan lupa bagaimana rasanya " ucap Mita dan berjalan meninggalkan Via.
.
.
" iya sayang " jawab Wahyu dengan sengaja dan langsung melirik Bimo untuk melihat reaksinya, sedangkan Mita tengah tersenyum menatap Eahyu.
" ayamnya udah jadi, kamu mau makan sekarang atau sekalian makan malam nanti ?" tanya Mita
" malam aku ada janji sama temen ku,aku makan sekarang aja deh, tapi temenin ya, kaya dulu waktu di kantor akukan sering temenin kamu makan " ujar Wahyu yang semakin senang saat melihat wajah merah Bimo menahan kesal padanya.
" ya udah, Faiz mau makan bereng papa atau nanti malam, mami sudah masakin ayam goreng kesukaan Faiz ?" tanya Mita pada Faiz yang sibuk dengan mainanya.
" mau mi tapi di suapin papi, boleh ?" pinta Faiz yang menatap Bimo dengan mata bulatnya.
" boleh sayang, kalo gitu kita cuci tangan terus papi suapin Faiz makan " ucap Bimo dan langsung membawa Faiz tanpa melihat ke arah Mita dan Wahyu.
" yoo, aku udah gak sabar " ujar Wahyu
.
.
di meja makan Bimo sibuk menyuapi Faiz yang tak lepas dari perhatian Mita dan sesekali membuatnya tersenyum melihat Faiz yang begitu bahagia dan manja pada Bimo
" Mit, kamu udah cobain masakan kamu ini ?" tanya wahyu di sela-sela kegiatan makanya dan mencoba mengalihkan perhatian Mita dari Bimo sedang Bimo tentu langsung mengalihkan tatapanya pada Wahyu dan Mita
" nyicipin pas masak sih sudah, emang kenapa ?" tanya Mita
" aaaa, buka mulut mu, coba kamu rasain " ujar Wahyu yang menyuapkan sesendok makan nasi dan ayam yang di masak Mita.
__ADS_1
" enak kok " ujar Mita saat mengunyah makanan di mulutnya
" emang, ini enak banget, dan aaa lagi aku suapin kamu juga " perintah Wahyu
" enggak usah Yu, nanti aja aku bisa makan sendiri " jawab Mita karna merasa kurang nyaman dengan tatapan tajam Bimo padanya, sedangkan Wahyu semakin semangat menggoda Bimo semakin kesal.
" ck, pegel ni tangan ku, udah buruan " ucap Wahyu, Mitapun akhirnya mengalah menerima suapan kedua dari Wahyu.
" udah ya aku nanti aja makannya " ujar Mita
" ya udah aku habisin sendiri " sahut Wahyu dan Mita hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum manis.
" Faiz mau nambah gak ?" tanya Mita
" Faiz udah banyak makannya mi " jawab Faiz
" ya udah sehabis makan nanti diem dulu sebentar ya jangan langsung lari-lari " ujar Mita
" iya mi " jawab Faiz
" kak Bimo mau makan sekalian juga ?" tanya Mita
" nanti aja bareng sama kamu " jawab Bimo dengan memberikan senyum pada Mita.
" cih' berlagak " gumam Wahyu dengan lirih
.
.
setelah makan malam selesai dan Mita menidurkan Faiz, kini giliran dirinyalah yang masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, tetapi selalu saja ada hal yang menggangunya.
" apa lagi ?" tanya Mita pada Bimo yang sejak tadi menatapnya tajam.
" aku gak suka kamu terlalu dekat sama Wahyu, ingat kamu itu sudah bersuami " ucap Bimo
" gak usah berlebihan ya kak, Wahyu itu sahabat aku dari dulu" sahut Mita
" dia itu seorang pria Mit, dan kamu bisa begitu dekat dengan Wahyu, kenapa begitu menjaga jarak dengan ku ?" tanya Bimo
" kamu tahu alasan ku kak, dan kalian berdua itu berbeda, sudahlah jangan membahas hal yang tidak penting, lebih baik kakak keluar sekarang " ujar Mita
" jangan membandingkan aku" ucap tegas Bimo dengan helaan napas kasar, beberapa saat kemudian raut wajah Bimo berubah dengan senyum jahat dan berjalan mendekati Mita yang berdiri di samping ranjang, membuat Mita menjadi gugup.
" dan mulai sekarang aku tidak akan menahan untuk tidak menyentuh mu, cukup hampir empat bulan ini aku mengalah padamu " bisik Bimo tepat di telinga Mita dengan posisi Bimo yang mendekap erat tubuh mungil Mita.
Mita bergidik ngeri saat Bimo mengucapkan kata-katanya penuh dengan penekanan, dia mendorong Bimo agar melepaskannya, setetes air mata jatuh di wajahnya begitu saja, membayangkan ucapan Bimo yang terdengar mengerikan di telinganya, apakah dia mampu bertahan lebih lama jika Bimo terus saja menyiksa perasaan dan hatinya ? mampukah Mita menjalaninya?
" berhenti menekan ku kak !! orang seperti mu yang hanya mementingkan diri sendiri tidak akan pernah mengerti orang lain " ucap Mita
" lebih baik sekarang keluar dari sini " sambung Mita
" hari ini aku membiarkan mu, tapi ini untuk yang terakhir kali " ujar Bimo, dan berjalan keluar dari kamar Mita, dengan cepat Mita mengunci pintu kamarnya.
.
.
Bimo duduk diam di ruang keluarga rumahnya seorang diri.
apa aku keterlaluan berkata seperti itu pada Mita ? apa yang harus ku lakukan?, hati ku benar-benar tidak rela melihat dia nyaman dengan pria lain, sedangkan denganku dia selalu merasa tertekan, saat aku memberikannya ancaman seperti tadi wajahnya sudah terlihat pias, apa aku harus selalu seperti itu agar dia menurut ? ya Tuhan aku mohon bantu aku agar dia mau memaafkan ku, aku tahu dia masih menyimpan kekecewaan yang sangat besar di hatinya. batin Bimo
**************
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini, jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian dengan like, komen dan Vote ya ❤❤❤❤❤